Bibir Fabian mengulas senyum sinis setelah mendengar perkataan Fio yang ternyata gadis itu sedang hamil. Jujur saja, meskipun wajahnya yang terlihat tenang, tapi dalam hatinya Fabian sudah ketar-ketir mengetahui fakta itu. Hamil? Itu artinya dia akan menjadi ayah? Oh, s**t! Dia tidak mau itu terjadi.
“Dan gue mau lo tanggung jawab akan hal ini,” ujar Fio membuat Fabian yang sedari tadi melihat ke tespek di tangannya langsung menoleh. Tatapannya seolah meremehkan Fio.
“Tanggung jawab sama kehamilan lo?” Cowok itu tertawa meremehkan. “Yakin anak dalam kandungan lo itu anak gue?” tanya Fabian membuat emosi Fio yang sedang hamil itu langsung menguar.
Kalian tau lah yang namanya ibu hamil, apalagi di trimester pertama pasti mengalami yang namanya morning sickness, dan itu juga terjadi pada Fio. Belum lagi seorang ibu hamil sering juga mengalami yang namanya mood swing, itu pun terjadi pada Fio, hingga saat mendengar perkataan Fabian itu otomatis Fio langsung emosi.
Lain halnya dengan Fio, Fabian justru semakin melebarkan senyum sinisnya melihat kemarahan Fio. Cowok itu semakin gencar memancing emosi Fio, menanyakan hal-hal yang membuat Fio bertambah emosi. “Atau jangan-jangan, bayi yang ada di dalam kandungan lo itu, anaknya Erzhan?”
Plak!
Suara tamparan menggema jelas di ruangan yang penuh dengan map-map tersebut. Pelakunya adalah Fio, yang merasa tidak terima jika sahabat terbaiknya, pria yang disukainya dituduh begitu saja oleh Fabian.
Fabian memejamkan matanya, meresapi rasa perih di pipi bekas tamparan Fio tersebut. Bahkan saking kerasnya, kepalanya sampai menoleh ke samping.
“Jaga ucapan lo b******k! Erzhan gak seberengsek lo sampai dia ngelakuin hal yang enggak-enggak sama gue! Dan lagi ....” Fio menjeda ucapannya, memejamkan mata karena merasa malu untuk mengatakan apa yang di pikirannya ini.
Fabian terkekeh sinis. “Apa lo –”
“Dan gue cuma lakuin itu sama lo, malam itu! Gue gak pernah lakuin hal itu sama cowok siapa pun, jadi otomatis ini anak lo!” teriak Fio memotong perkataan Fabian yang pastinya akan semakin menyakiti hatinya.
“Yakin?” Pertanyaan santai itu semakin membuat Fio terbakar emosi, gadis itu maju mendekati Fabian dan memukul-mukul d**a cowok itu melampiaskan amarahnya.
“Lo jahat, jahat, jahat, ini anak lo b******k! Lo harus tanggung jawab!!” teriak Fio dengan tangisan yang mulai meraung-raung, membuat ruangan yang tidak terlalu besar itu penuh dengan suara Fio.
Fabian memejamkan matanya, mencekal kedua pergelangan tangan Fio, menghentikan gadis itu. “Denger.”
Fio menggeleng dengan tangis yang semakin pecah. “Lo jahat, lo orang paling jahat Fabian. Tanggung jawab!!” teriak Fio membuat Fabian lah yang kini emosi.
Cowok itu memejamkan matanya menahan emosi, kepalanya yang pusing karena pekerjaan di perusahaannya yang kian hari kian menurun kinerjanya, belum lagi sekarang teriakan dan tangisan Fio membuatnya sangat emosi. “DIAM!!”
Berhasil.
Bentakan Fabian yang menggema itu membuat Fio seketika menghentikan tangisnya, juga teriakannya. Takut? Ya, jelas. Siapa yang tidak takut saat seseorang berteriak keras di depan kita. Apalagi ini kali pertamanya untuk Fio, orang tuanya sangat memanjakan Fio, jadi mereka jarang bahkan sepertinya tidak pernah berkata dengan nada tinggi pada Fio.
“Dengerin gue baik-baik, Fio,” ujar Fabian dengan suara yang rendah, terdengar sangat menyeramkan bagi Fio.
Cowok itu menarik dagu Fio dengan kedua jarinya, membuat Fio mendongak menampilkan wajah sembab karena sehabis menangis itu. Menarik sudut bibirnya membentuk seringaian yang membuat Fio takut.
“Udah gue ingetin, saat malam itu. Setelah gue lakuin hal itu, gue bilang sama lo, jangan lupa minum obat pencegah kehamilan.” Ingatan Fio terbang, mengingat kejadian saat malam terlarang itu.
“Gue pergi, jangan lupa minum obat pencegah kehamilan.”
Seketika perkataan Fabian saat cowok itu akan pergi dari kamar waktu itu terngiang di kepalanya. Fio memejamkan matanya, sialan dia lupa meminum itu. Tapi meskipun begitu, Fabian harus tetap bertanggung jawab 'kan?
Mata gadis itu kembali menatap Fabian, yang kini menatapnya dengan tatapan seolah berkata. “Liat, siapa yang salah.”
“Tapi lo harus tetep tanggung jawab sama kehamilan gue Fabian, gue takut ... gue takut orang tua gue tau, dan mereka marah sama gue. Gue mohon tanggung jawab Bian,” pinta Fio bahkan memohon dengan suara yang bergetar. Namun sama sekali tidak membuat Fabian kasihan sama sekali.
Justru cowok itu semakin menyeramkan saat ini. “Denger Fio, mau orang tua lo marah, atau apa pun itu, mau mereka ngusir lo juga, gue gak peduli,” jawab Fabian semakin membuat Fio menangis. Ketakutan karena Fabian yang tidak mau bertanggung jawab, lalu kehamilannya yang semakin membesar tanpa ada seorang suami, menghantui pikiran Fio. Pasti dirinya akan membuat orang tuanya malu, dan Fio tidak mau itu.
“Atau ... lo gugurin aja kandungan lo itu, gimana? Biar kita berdua sama-sama gak dirugikan.” Perkataan Fabian tersebut sontak membuat Fio yang tadinya terlihat menyedihkan kembali menatap cowok itu dengan tajam.
“Lo gila? Sama-sama gak dirugikan?” Gadis itu terkekeh, kekehan sini lebih tepatnya. “Dasar cowok gak punya otak!” maki Fio yang membuat Fabian melebarkan matanya tidak terima. Namun sebelum cowok itu marah, Fio kembali mengeluarkan kata-katanya.
“Ya, emang gue sama lo gak ada yang dirugikan. Tapi bayi ini ....” Fio menunjuk perutnya sendiri, dan Fabian menatap arah tunjuk gadis itu. “Anak gue, anak gue yang dirugikan Fabian. Anak gue, anak kita. Dia gak bersalah, tapi dia malangnya malah mau dibunuh sama ayahnya sendiri.”
Fabian cukup terkejut dengan perkataan Fio, saat Fio mengatakan 'anak kita' entah kenapa ada sedikit getaran di dalam hatinya membuat Fabian sedikit menyesal menyuruh Fio menggugurkan kandungan itu. Tapi keegoisan kembali menguasai dirinya.
“Tapi dengerin gue Fi, nyokap gue pasti kecewa sama gue, gue gak mau nyokap sedih saat tau kalau gue hamilin anak orang,” ujar Fabian dengan nada yang terdengar putus asa. Dan perkataan itu membuat Fio terperangah tidak percaya. Jadi, senakalnya Fabian, dia tetap tidak bisa menyakiti ibunya?
Tapi ... tapi tetap saja dirinyalah korban saat ini, mau tidak mau Fabian harus bertanggung jawab.
“Bian, tapi gue? Gue juga gak mau kalau orang tua gue kecewa, lo harus ngerti itu.” Fabian memejamkan matanya, jujur saja saat ini dia sedang pusing karena kehamilan ini.
“Oke, untuk sekarang biar gue pikirin dulu apa ke depannya, lo pulang. Gue masih banyak kerjaan saat ini,” usir Fabian.
Fio menggelengkan kepalanya tak percaya, tidak menyangka jika Fabian akan malah memikirkan pekerjaan dari pada hal sepenting kehamilannya.
Dengan perasaan kecewa, Fio pun keluar dari ruangan Fabian. Isak tangis kembali keluar dari mulut gadis itu seiring berjalannya dia di lorong kantor Fabian. Kecewa, sedih, marah, menjadi satu.
“Fabian jahat.”
***
Bersambung