Keputusan Fabian

1368 Kata
[Gue udah putusin, kalau anak itu harus di gugurin. Gue gak mau tanggung jawab. Kalau lo tetep kekeh pertahanin, rawat bayi itu sendiri] Mata Fio berkaca-kaca saat membaca pesan yang dikirim oleh Fabian. Malam ini, setelah tadi sore ia mendatangi kantor cowok itu, malamnya Fio mendapatkan pesan dari Fabian. Perempuan itu tidak menyangka jika Fabian memutuskan hal ini. Fio kira, Fabian akan mau bertanggung jawab. Tapi ternyata tidak. “Kenapa lo sejahat itu Fabian,” gumam Fio dengan suara lirih. Mengusap perut yang berisi bayinya itu. Fio bingung, dan takut. Apa yang harus ia katakan pada orang tuanya, dia harus memulai dari mana nanti? Mengatakan jika dirinya hamil, lalu pria yang menghamilinya itu enggan bertanggung jawab? Ah, tidak sepertinya. Fio nanti akan terlihat menyedihkan jika mengatakan itu. Dia juga takut akan respon ayah dan ibunya nanti, akan menerimanya atau justru malah memakinya? “Gak, gak mungkin. Papa gak mungkin lakuin hal itu sama gue, mama juga. Mereka sayang sama gue kan?” gumam Fio meyakinkan dirinya sendiri, ya dia berpikir seperti itu karena perlakuan ayah dan ibunya selama ini, membuat Fio yakin jika kesalahan apa pun yang ia perbuat, akan dimaafkan oleh kedua orang tuanya. Namun, kenyatannya ... entahlah, kita lihat saja nanti. Ting! Fio dengan cepat membuka handphonenya saat terdengar berbunyi kembali, membaca pesan yang lagi-lagi ternyata dari Fabian. Dengan perasaan yang tidak karuan, Fio membuka pesan tersebut. [Besok datang ke kantor gue, temui gue di sana] “Argh!! b******k lo Bian!!!” jerit Fio setelah membaca pesan tersebut. Kenapa di sini seolah dirinya yang salah. Bukannya Fabian yang menemuinya ke rumah, justru malah dia yang disuruh ke kantor cowok itu. Dengan sisa tangisnya, Fio membenamkan wajahnya di dengkul yang ia peluk, menangis tergugu di sana. Keadaan rumah yang sepi membuat Fio bisa menangis sepuasnya tanpa khawatir akan ada yang tahu. “Mama, papa, Fio butuh kalian. Erzhan ....” Karena ya, nyatanya hanya keempat orang itulah yang menjadi penyemangat hidup Fio dari dulu. Dan sekarang, saat Fio sedang terpuruknya semuanya pergi secara bersamaan. *** Setelah memikirkan semalaman keputusan yang ia ambil — tentang dirinya yang akan datang ke kantor Fabian atau tidak — akhirnya Fio pun memutuskan untuk datang. Tidak seperti kemarin, dia yang memakai masker dan lain sebagainya, kini Fio terlihat membuka diri. Wajahnya yang cantik itu membuat karyawan-karyawan yang berlalu lalang langsung menghentikan pekerjaan mereka. Dari mereka semua, ada yang berpikir seperti ini. 'Siapa wanita cantik ini' untuk yang belum tahu siapa Fio, dan untuk yang sudah tau siapa Fio. Pasti mereka akan berpikir 'untuk apa perempuan itu kemari' karena mereka semua yang sudah tahu siapa Fio, otomatis akan tahu juga Erzhan. Karena di mana ada Fio, di situ juga ada Erzhan. “Maaf, mbak ada keperluan apa ke sini?” tanya salah satu pegawai di sana. Menatap Fio tak suka, masa bicaranya juga sangat sinis. Sepertinya dia tau tentang Fio, Erzhan dan Fabian. Fio meneliti perempuan di depannya dan tanpa menjawab perempuan itu langsung berlalu membuat si perempuan yang bertanya tadi tersulut emosi. “Heh, jaga kelakuan lo di kandang musuh! Dasar gak punya attitude,” maki si perempuan itu. Ya, perusahaan Fabian dan Erzhan yang saling bermusuhan, membuat para karyawannya juga ikut bermusuhan. Ah tidak ... sepertinya hanya sebagian. Dan sepertinya perempuan ini salah satunya, buktinya melihat Fio yang dikenal pacar dari musuh bosnya itu. Perempuan tersebut marah. Dan menyebut kandang musuh. Sontak perkataan itu membuat Fio menghentikan langkahnya, berbalik dan hendak menghampiri perempuan itu dengan emosi. Ingatkan mereka karena saat ini Fio sedang hamil, membuatnya tidak bisa mengontrol moodnya. Namun sebelum itu terjadi, sebuah suara menghentikan aksi Fio. “Eh, stop, stop!” Semuanya langsung terdiam saat seorang perempuan dengan rok span selutut dengan blouse putih itu menghampiri Fio dengan nafas yang terengah-engah. Seperti habis berlari. “Maaf mbak Fio, maaf atas tindakan karyawan kami tadi. Mari, mbak Fio sudah ditunggu di ruangan pak Fabian,” ujar perempuan tersebut yang ternyata adalah sekretaris Fabian. Fio melihatnya kemarin saat ia datang ke sini. Tentu saja perkataan itu membuat karyawan yang tahu akan Fio membulatkan matanya tak percaya. Wow ... jadi perempuan itu diundang oleh bos mereka? Hem, perempuan yang tadi hendak bertengkar dengan Fio pun sudah menundukkan kepalanya takut. “Wow, bos kita ada hubungan apa tuh sama dia.” “Ih, bukannya itu pacarnya pak Erzhan ya. Kok dia ke sini sih? Apa jangan-jangan dia selingkuh sama pak bos.” Tanpa mempedulikan gosip-gosip yang ia dengar sepanjang perjalanan menuju lift, Fio terus berjalan dengan ditemani sekretaris Fabian. “Di sana Fabian sendiri kan?” tanya Fio yang entah kenapa berbicara seperti itu. Sekretaris itu menunduk, tidak tau dan bingung untuk menjawab apa. Apalagi saat tatapan Fio, membuatnya merasa terintimidasi. Apalagi saat di lift, mereka hanya berdua. Namun justru hal itu membuat Fio sedikit curiga. “Sepertinya ada yang gak beres,” gumam Fio dalam hati. Lalu mengalihkan pandangannya. Ting! Lift berhenti, dan terbuka begitu saja. Dan hal itu dimanfaatkan Fio untuk segera keluar, berjalan dengan cepat menuju ruangan Fabian yang sudah pernah ia datangi. “Bu, tunggu Bu!” teriak si sekretaris panik. Pasalnya ia mendapatkan tugas dari bosnya, jika ingin masuk katakan lebih dulu. Namun ... ceklek! Terlambat! Fio membuka pintu ruangan tersebut, matanya membulat tak percaya saat melihat Fabian yang sedang ... ah, tidak bisa Fio katakan! Yang jelas, entah kenapa ada perasaan sakit di hatinya saat melihat Fabian yang seperti itu. Bukan karena cinta, tapi mungkin karena ikatan perasaan bayinya dengan sang ayah. “Lo!!” seru Fabian tidak terima. Argh! Hampir saja dia!!! Melepaskan diri dari perempuan tersebut, Fabian pun berlalu dari sana dan merapikan kembali penampilannya. Sementara Fio, masih mematung dengan pandangan yang terus terarah pada sosok perempuan yang bersama Fabian tadi. “Sarah!!” Suara menggelegar Fabian, membuat perempuan bernama Sarah yang tidak lain adalah sekretarisnya itu langsung masuk dengan terburu-buru. “Udah saya bilang, kalau mau masuk kasih tau saya dulu!! Kamu ini –” “Stop, ini bukan salah dia! Ini salah lo Fabian, ini semua salah lo!!!” jerit Fio memotong ucapan Fabian. Jengah sendiri melihat Fabian yang malah menyalahkan orang lain. Fabian menghela nafas kasar, “oke kalian berdua boleh keluar,” usir Fabian pada sekretarisnya dan juga perempuan tadi. Yang dituruti oleh keduanya, hingga saat ini hanya ada Fabian dan Fio di dalam ruangan tersebut. “Apa itu maksud lo suruh gue ke sini? Mau lihat kelakuan b******k lo itu? Hah?! Dasar gak tau diri! Gue lagi hamil, dan lo gak mau tanggung jawab, terus lo malah sama perempuan lain? Gitu hah!!” teriak Fio setelah terdiam beberapa lama. Fabian tersenyum, sinis senyumnya. “Marah lo liat gue kayak gitu heh? Inget, kita gak ada hubungan apa-apa, kita cuma bertemu terpaksa, karena ada bayi di dalam kandungan lo itu,” balas Fabian yang benar-benar menusuk perasaan Fio. Tanpa menghiraukan wajah Fio yang memerah, dengan mata yang berkaca-kaca hendak menangis, Fabian berjalan dengan angkuh menuju meja kerjanya. Mengambil sebuah amplop entah berisi apa, namun sangat tebal, dan membawanya ke hadapan Fio. Membuat Fio mengernyit dan menatap pria itu bingung. “Ini uang, seratus juta dari gue buat lo. Terserah mau lo pakai apa aja, mau lo pakai buat gugurin kandungan lo sesuai yang gue perintahkan, atau mau buat kebutuhan lo selama hamil, bebas lo pakai, tapi dengan satu syarat jangan pernah ganggu hidup gue lagi,” ujar Fabian panjang lebar, membuat Fio menganga tak percaya. Sesantai itukah Fabian tentang kehamilannya ini? Cowok itu justru malah memberikannya uang? Kurang ajar! “Gue orang kaya, gak butuh uang dari lo,” ujar Fio dengan tatapan tajamnya dan melemparkan uang tersebut ke d**a Fabian. “Ambil itu uang, gue juga gak akan pernah ngemis lagi sama lo. Dan suatu saat nanti, kalau lo mau ketemu sama anak ini, gak akan pernah gue biarin!” Fabian terkekeh kecil. “Gue gak akan pernah mau ketemu sama anak itu. Silakan, sekarang keputusan ada di tangan lo. Dan gue minta, sekarang lo keluar,” usir Fabian dengan tangan kanannya yang menunjuk pintu masuk. Dengan perasaan marah, Fio pun keluar dari sana. Mulai sekarang, ia mengerti jika Fabian memang benar-benar b******k! Fio berjanji, suatu saat nanti jika Fabian mau menemui anaknya, jangan harap dia akan mengizinkan. Dan sekarang, Fio harus memikirkan kehidupannya juga anaknya ke depannya. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN