Beberapa hari berlalu namun keadaan tidak kunjung membaik. Fio yang masih dalam kebingungannya tentang bayi yang sedang dikandungnya, dan juga Fabian yang tidak mau bertanggung jawab. Lalu bertambah mama dan papanya yang akan pulang dua hari lagi. Membuat Fio takut akan semua ini. Dalam pikirannya, dia terus berpikir apa yang akan ia katakan nanti? Argh!!
“Fio!!! Fio, Fio!!” Fio yang sedang melamun tersentak kaget saat mendengar suara teriakan sahabatnya. Dapat ia lihat di koridor kampus Juwita yang sedang berlari menghampirinya.
Dan tidak lama kemudian, Juwita datang dengan terengah-engah, membuat Fio berdecak melihat kelakuan b****k sahabatnya itu. “Kenapa sih, heboh banget?” tanya Fio lalu duduk di tempat duduk yang berada di sana.
Juwita ikut duduk, menghirup nafasnya heboh. “Lo tau gak ada kabar berita, gosip terpanas, terakurat, terhits, tertajam setajam silet!!” Fio memutar bola matanya malas, lebih memilih membuka bukunya yang ia pinjam dari perpustakaan.
Ucapan Juwita barusan adalah slogan saat gadis itu membawa topik hangat alias gosip di kampus. Dan dapat Fio duga jika saat ini sahabatnya itu akan mengatakan gosip terbaru saat ini. “Tau gak sih, ada anak fakultas ekonomi, ada yang ditemuin tewas di kost-an, katanya sih dia hamil, tapi cowoknya gak mau tanggung jawab, terus orang tuanya juga marah.”
Deg!
Ucapan Juwita yang 80% sama dengannya membuat Fio langsung menoleh dengan raut wajah yang terlihat kaget. “Apa? Bunuh d-diri?” tanya Fio yang tiba-tiba gagap. Membuat Juwita mengernyit, ada apa dengan sahabatnya itu?
“Iya. Kasihan banget tau, mana hamilnya udah besar. Makanya bokap sama nyokapnya marah besar, terus ngusir dia,” lanjut Juwita bercerita. Fio berdehem pelan, dia tidak boleh berlaga mencurigakan, karena jujur saja mendengar cerita dari Juwita dia menjadi takut kalah hal itu terjadi pada dirinya.
Takut jika mama dan papanya tidak menerima kehamilannya nanti. “Kenapa ya, kok orang tuanya jahat banget sampai kayak gitu,” tanya Fio yang dihadiahi jitakan keras di keningnya, dan pelakunya adalah Juwita.
“Ya lo mikir lah, ege. Orang tua mana yang gak malu saat tau anaknya udah hamil gede, apalagi kata anak-anak tadi ya, dia itu rantauan,” ujar Juwita dengan kesal. Saat ini gadis itu seperti seorang pembawa acara sebuah acara gosip, semuanya dia tahu.
Namun jawaban itu membuat Fio justru semakin khawatir. Apa orang tuanya akan berbuat hal serupa? “Gue juga sih kalau jadi nyokap bokapnya, ogah banget. Punya anak terus anaknya hamil di luar nikah, ih. Udah gue usir deh,” dumel Juwita yang ikut-ikutan emosi dengan gosip ini.
Gadis itu terus mengomel, tanpa menyadari jika Fio terus melamun sedari tadi. Membayangkan nasibnya, dan berpikir dimulai dari mana dia akan mengatakan kehamilan ini pada orang tuanya, lalu apa yang akan dia lakukan jika orang tuanya tidak menerima kehamilan itu?
***
“Iya pa, Fio gak mau apa-apa. Asal papa cepet pulang aja kok.” Suara manja Fio yang sedang berteleponan dengan ayahnya terdengar di dalam kamar tersebut. Tadi Fio ditelepon oleh papanya, dan menanyakan oleh-oleh apa yang Fio mau, dan ternyata itulah jawabannya.
Di seberang sana Nicolas terkekeh kecil. “Oke dear, tunggu papa dan mama pulang ya. Papa ada kejutan buat kamu,” ujar Nicolas membuat Fio tersenyum tipis, dalam hati gadis itu bergumam jika dialah yang akan memberikan kejutan yang lain.
“Iya pa, ya udah Fio tutup teleponnya ya. Fio mau makan siang dulu,” ujar Fio berpamitan. Dan setelah mendapatkan jawaban 'ya' dari papanya, Fio pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
Dengan pelan Fio menyimpan benda pipih tersebut di kasur yang sedang ia duduki. “Arghh!! Gimana, gimana besok gue bilang sama papa? Gimana?!!” jerit Fio merasa bingung dengan keadaan ini.
Dari kemarin, setelah mendapatkan gosip tentang kehamilan itu. Fio terus kepikiran respon ayah dan ibunya nanti. “Gimana kalau papa nanti marah, terus gue diusir? Gak, gak mau. Gue gak mau hal itu terjadi.”
Fio mulai menekuk kedua kakinya, dan memeluk lututnya dan menangis terisak di sana. “Tapi gimana nanti kalau mama sama papa kecewa sama gue? Gue gak tega liat muka mereka nanti,” gumam Fio memikirkannya lagi.
Tiba-tiba saja tercetus ide gila di benaknya. “Apa gue harus kabur aja, biar papa gak kecewa sama gue? Terus, gue balik lagi setelah lahiran nanti?” Entah kenapa otak itu tiba-tiba ada di benaknya, membuat Fio kini justru malah berpikir gula tadi.
“Iya, gue harus kabur dari rumah. Jadi gue gak harus bilang nanti pas papa pulang, iya.” Dengan gilanya lagi, Fio malah turun dari tempat tidurnya, lalu mengambil sebuah koper di samping tempat tidur. Meletakkannya di kasur, lalu mengambil baju-baju di dalam lemari. Tidak banyak, hanya beberapa.
“Tapi gimana kalau papa lebih kecewa kalau gue kabur,” gumam Fio saat dia memasukkan bajunya. “Semoga ini keputusan baik, gue gak mau buat papa kecewa untuk saat ini. Dan semoga nanti Fabian bakal berubah pikiran. Ya, gue yakin itu terjadi,” gumam Fio dengan harapannya.
Fio pun beranjak untuk mengganti pakaiannya, dan satu jam kemudian dia sudah siap untuk pergi. Tas berisi dompet dan handphone juga yang lainnya ia bawa. Katakanlah Fio bodoh karena dia kabur namun tetap membawa barang-barang milik orang tuanya.
Dengan perasaan yang sebenarnya masih bingung, Fio pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Dalam hatinya dia berdoa semoga saja keputusannya ini sudah tepat, dengan hal ini semoga saja papanya tidak terlalu kecewa nantinya.
***
Seorang perempuan berdiri di depan rumah Fio, perempuan itu membawa sebuah rantang kecil di tangannya. Dia mengetuk pintu besar tersebut, “assalamualaikum, Fio?! Kamu di dalam kan?” teriak perempuan tersebut.
Sementara itu di dalam, Fio yang baru saja turun dari tangga menegang mendengar suara tersebut. “Tante Agnes,” gumam Fio dengan mata membulat kaget.
Perempuan itu dengan buru-buru menyimpan kopernya di salah satu sudut ruangan. Dan berlari ke arah pintu utama. Dan membuka pintunya. “Waalaikumsalam, hai Tante,” sapa Fio pada perempuan yang sudah berumur namun tetap terlihat cantik itu.
Agnes, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibunda dari Erzhan, sahabat Fio. “Ya ampun, maaf ya Tante baru nemuin kamu, Tante baru pulang dari Bandung, dan baru tau tadi pagi kalau kamu ditinggal sendirian sama papa mama kamu, makanya Tante ke sini,” cerocos Agnes dengan nada khawatir.
Ya, seperti Erzhan dan orang tua Fio, dia pun dekat dengan orang tua Erzhan. Seperti tadi. Fio membukakan pintu untuk masuk, dan Agnes yang peka pun langsung masuk. “Gak papa kok Tante, Fio kan ditemenin sama bibi,” jawab Fio dengan senyuman tipisnya.
Agnes tersenyum lembut, “ya udah, ini Tante bawain makanan buat kamu. Dimakan ya, maaf setelah ini Tante harus pergi lagi, soalnya ada urusan gak papa kan?” Fio mengangguk cepat, lagi pula dia ingin cepat-cepat pergi.
Dan setelah Agnes pergi, Fio pun segera memasukkan kopernya ke dalam mobil lalu menjalankan mobil tersebut meninggalkan rumah.
***
Bersambung