“Dari siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan Darrel. Yang katanya nyebelin di awal, ngeselinnya tingkat masterchef ... eh, sekarang seolah berbanding terbalik.”
Faye membaca pesan yang tertera di layar ponsel milik Nara.
'Nanti sore bisa temani aku?'. Itulah pesan singkat yang diterima Nara.
“Sumpah, ya ... elo yang dichat, kenapa gue yang berasa kesemutan,” ujar Faye bereaksi. “lebih tepatnya, hati gue terasa deg-degan.”
“Ya ampun, kalian berdua apa-apaan, sih. Dia ngechat gitu doang dan kalian malah bapernya kelewat tragis.” Mengambil alih HP miliknya yang berada di tangan Faye.
“Masalahnya ini yang lagi buchin sama elo adalah seorang Darrel. Tahu, kan, siapa dia? Ayolah, Nara. Mimpi aja kita belum tentu bisa dekat dengan dia. Lah, ini ... sekarang dia malah ngebet sama elo.”
Entahlah apa yang sedang dipikirkan oleh kedua sobatnya, hingga sampai bicara seperti itu. Iya, Darrel memang tak seburuk yang ia kira di awal. Tapi untuk sebuah perasaan, sepertinya enggak mungkin sampai sejauh itu melangkah.
Pesan dari darrel tak ia balas, hingga dalam hitungan menit kemudian sebuah panggilan telepon datang menghampiri. Yap, ketebak, kan ... siapa pelakunya.
”Nah, kan ... elo, sih, nggak balas pesan dia. Ditelepon kan sama doi,” tawa Zila melihat mimik wajah nara yang sedikit tak mengenakkan.
Menggeser layar datar itu untuk menjawab panggilan dari Darrel.
“Hmm, apa?”
“Kenapa pesanku cuman diread?”
“Lah, kamu nungguin balasanku?”
Seketika tawa Faye dan Zila menyembur mendengar pertanyaan yang diberikan Kinara pada Darrel. Bisa-bisanya sobat mereka memberikan sikap seperti itu pada cowok yang dianggap paling wah di dunia bisnis.
“Kamu ...”
“Maaf, kan aku nggak tahu.” Mencomot kripik kentang yang ada di piring dan melahapnya.
Terdengar helaan napas Darrel yang sepertinya sedang menahan kesal karena kelakuannya.
“Jam berapa?”
“Sekarang saja. Berhubung aku masih kesal padamu, setidaknya kekesalanku bisa segera ku lampiaskan dalam waktu dekat.”
“Heh ... aku masih di kampus.”
“Share location, aku susul.”
“Tapi ...”
Belum juga bicara, dia dengan seenaknya menutup sambungan telepon dengannya. Nah, kan ... bisa dilihat kalau Darrel itu mudah sekali terbawa emosi. Padahal ia kan hanya bercanda tadi, malah dibawa serius banget.
Memasang wajah cemberut, kemudian mengetikkan sebuah pesan di layar ponselnya dan mengirim pada Darrel.
“Ehem,” dehem Faye. “Apakah doi membuat dirimu kesal, wahai sobat?” menaikturunkan kedua alisnya seolah sedang menunggu respon dari Kinara.
“Iya, bikin kekesalan gue meningkat tajam. Masa dengan seenaknya dia ngajakin gue tanpa konfirmasi dulu. Maksa lagi.”
“Lah, tanpa konfirmasi gimana? Itu tadi bukannya dia udah chat elo dan elonya malah nggak balas. Jadi, sekarang siapa yang salah di sini?”
Nara memberengut, ketika apa yang dikatakan Faye ada benarnya juga.
“Nah, nggak bisa membela diri,” tambah Zila ikut-ikutan.
Saat ketiganya sedang membicarakan perihal Darrel, tiba-tiba seseorang datang menghampiri. Bukan seseorang, sih, lebih tepatnya dua orang cowok.
“Kita boleh gabung?” tanya salah satu di anatar keduanya.
“Iya, silahkan, kak,” respon Kinara.
Ini antara senang dan rasa bingung seolah sedang berada di posisi yang sama dirasakan Kinara Karena apa? Dia yang datang adalah seseorang yang bisa di bilang dekat dengannya dari saat pertama masuk kuliah. Siapa lagi kalau bukan Vano.
Sebenarnya keduanya bukanlah satu tingkatan, tapi Vano merupakan kakak kelasnya. Dia sudah semester empat, sedangkan dirinya baru menempuh semester awal.
Sementara teman Vano yang bernama Rendra, dia langsung saja duduk di kursi yang ada di sebelah Faye, karena apa? Status dia adalah pacarnya Faye. Lebih tepatnya lagi, keduanya sudah pacaran semenjak Faye masih duduk di bangku SMA.
“Kok belum pada pulang?” tanya Vano pada ketiga gadis itu. Tapi, pertanyaan itu lebih tepatnya ia berikan khusus untuk Kinara.
“Ini habis makan juga pulang kok, Kak. Sekalian makan siang juga, sih,” jelas nara dengan senyuman manisnya.
Vano mengangguk paham, kemudian mengarahkan pandangannya pada kaki Nara.
“Gimana kaki kamu?”
“Udah lumayan membaik.”
“Duh, Kak Vano ... khawatirnya mode akut. Harusnya kemarin tuh nanyanya. Ini udah mau sembuh, baru ditanyain. Masa kalah sama ...”
“Zil.”
Teguran cepat Nara membuat perkataan Zila terhenti seketika. Menyadarai akan apa yang sedang ia bicarakan ... dengan cepat seolah mengalihkan kata-katanya dengan menyeruput cepat minumannya.
“Kalah sama siapa?”
Nara tersenyum berat mendengar pertanyaan Vano. “Bukan siapa-siapa kok, Kak. Biasalah, Zila mode nggak jelas.”
Vano hanya menanggapi penjelasan Nara dengan balasan senyuman pertanda mengeti. Ya, meskipun adalah rasa curiga akan perkataan Zila barusan.
“Hmm, kak Vano mau pesan makanan?” tanya Nara mengalihkan pembicaraan.
“Sebenarnya aku mau ngajakain kamu makan siang di luar tadi, tapi ternyata kamu sudah makan duluan di sini.”
“Maaf, Kak. Lain kali bisa kasih kabar dulu, biar aku nggak duluan makan.”
“Salahku juga,” respon Vano. “Makan di sini saja lah.”
Jadilah, Vano yang tadinya berniat mengajak Nara makan siang di luar, berakhir dengan makan bersama. Moment yang ia niatkan akan romantis tadi, sekarang malah jadi makan rame-rame.
Vano mengobrol dengan Nara, sedangkan Faye sibuk dengan Rendra. Biasalah, mereka berdua bertemu kalau nggak berantem, ya sama-sama buchin. Hanya Zila di sini yang sendirian, tanpa ada yang jadi pasangannya.
“Sering-sering aja, ya, kayak gini. Gue dikacangin,” berengut Zila menggosok-gosok kursi kosong yang ada di sebelahnya. berharap ada pangeran yang tiba-tiba jatuh dari atas langt dan nemplok di situ.
Perkataan yang membuat semuanya terkekeh geli. Sebenarnya Zila itu banyak yang suka, cuman masih berpikir untuk menjalin sebuah hubungan yang bernama pacaran. Bukan apa-apa, ia hanya mencoba menjaga hatinya untuk satu orang cowok di satu kehidupannya. Baginya, yang akan jadi pasangannya adalah dia yang akan jadi suaminya. Tahukah dari siapa ia belajar? Yap, dari Kinara.
Lihat, kan, betapa gercep nya Vano mendekati Nara, bahkan dari awal masuk kuliah. Hanya saja seolah tak terlalu digubris oleh Nara. Karena dia memegang prinsip itu. Padahal, dari segi apapun Vano itu unggul. Perkara tampang, materi dan status di kampus ... dia bisa diandalkan. Tapi tetap, tak meluluhkan hati Kinara.
Di saat semua sedang ngobrol, ponsel Nara yang ada di meja berdering. Pandangan Vano seketika mengarah pada nama yang ada di layar.
Kinara menyambar benda pipih itu, kemudian menjawab panggilan telepon yang siapa lagi kalau bukan dari Darrel.
“Ya?”
“Di mana?” tanya Darrel.
“Udah sampai?”
“Udah. Ini aku udah di dalam cafe.”
Mendapatkan pernyataan seperti itu, Nara beranjak dari kursinya. Kemudian mengarahkan pandangannya ke area cafe guna mencari keberadaan Darrel.
“Aku lihat kamu, tunggu di situ,” ujar Nara pada Darrel dan langsung menutup percakapan.
“lo udah mau pergi?” tanya Zila pada nara saat sobatnya itu menyambar tas.
“Hmm,” angguknya.
Tampak raut tak senang yang ditunjukkan Vano dengan sikap Nara. Padahal ia di sini kan karena dia, sekarang malah pergi begitu saja.
“Ada acara, ya?” tanya Vano bersikap seolah baik-baik saja.
“Maaf ya, Kak. Aku harus pergi duluan. Soalnya ada janji.”
“Sama?”
“Teman.”
“Oke.”
Mengarahkan pandangannya pada Faye dan Zila. “Gue duluan ya, gaes.”
“Hati-hati, ya.”
“Mau aku antar ke mobil?” tanya Vano menawarkan.
“Ah, enggak usah, kak. Aku bisa sendiri, kok,” tolak Nara. Yang benar saja, bisa-bisa Vano malah ketemu sama Darrel dan semuanya kacau.
Jadilah, ia segera berlalu dari sana. Meninggalkan kedua sobatnya bersama Vano dan Rendra. Melangkah secara perlahan, menuju pintu keluar cafe. Iya, kakinya baik-baik saja, katanya. Aslinya mah masih sakit.
“Kinara ada acara, ya?” tanya Vano pada Zila maupun Faye.
“Hmm, begitulah, kak,” sahut Faye perlahan. Bingung mau jawab apa. Ia juga tak ingin membuat masalah di hubungan Kinara, Vano dan Darrel.
Awalnya Vano masih mode percaya saja, tapi seketika pandangannya terhenti pada sosok laki-laki yang keluar dari cafe bersama Nara.