BAB : 26

1412 Kata
Menunggu di posisinya, akhirnya ia menemukan Kinara yang sedang berjalan mengarah padanya. Segera menyusul, karena tahu kalau kaki dia masih tak baik-baik saja. Berjalan sambil sesekali berpegangan pada meja yang ia lalui. Hingga saat Darrel sampai dihadapannya, spontan saja tangannya malah berpegangan di lengan cowok itu. Bukan berniat apa-apa, ya ... ia hanya merasa tak tahan menahan badannya, dengan kaki yang terasa sakit. “Sakit kah?” “Hmm,” angguknya menjawab dengan jujur. Darrel akhirnya membantu Nara berjalan keluar dari sana, hingga menuju mobil yang berada di parkiran dengan seorang supir yang sudah menunggu. Saat sampai, pintu mobil langsung dibukakan oleh supir untuk akses keduanya masuk. Tak langsung naik, Nara malah menghentikan langkahnya dan menatap darrel. “Ayo, naik,” suruh Darrel. “Kita mau kemana?” “Makan siang.” “Lagi?” Darrel menatap dingin ke arah Nara. “Sudah ku bilang tadi, kan, kenapa kamu malah makan duluan.” “Kamu banyak kerjaan hari ini?” “Enggak, makanya mau ajak kamu keluar.” Senyuman tergurat di bibir Nara ketika mendapatkan jawaban dari Darrel. “Ada uang cash?” “Ada.” “Mana?” menengadahkan telapak tangannya dihadapan Darrel. Bingung, gadis ini minta duit buat apa? Tapi dengan bodohnya ia mengeluarkan dompet dari sakunya dan menyodorkan benda itu pada dia. Nara membuka dompet milik Darrel dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana, kemudian mengembalikan benda itu pada Darrel. Tak sampai di situ, ia menyodorkan uang yang ada di tangannya pada supir yang sudah standby mengantar keduanya. “Bapak balik aja pake taksi. Ini ongkos taksinya.” “T-tapi, Non ...” “Kamu mau aku yang jadi supir?” Seketika taring Darrel mencuat. “Kamu nggak mau? Yaudah, aku nggak jadi nemenin kamu makan siang.” Balik mengancam. Memutar bola matanya dengan malas karena merasa dibodohi oleh Kinara. Hanya saja, ia malah pasrah. “Kamu balik ke kantor,” suruh darrel pada supir yang segera dia lakukan. Lihatlah, tampang puas Nara saat berhasil membuat seorang Darrel mengikuti apa yang ia mau. Bukan berniat jahat, hanya saja ia risih jika harus disupiri. Berasa ada yang mengintai setiap pergerakannya. Ya, meskipun tak melakukan apa-apa, hanya saja tertahan untuk bersikap. Darrel membukakan pintu mobil di bagian depan untuk Kinara. Setelah dia masuk, barulah ia masuk di bagian kemudi. “Begini lebih baik, kan,” ujar Nara tersenyum puas saat keduanya sudah berada di dalam mobil. “Iya, sangat baik,” respon Darrel masih dengan muka kesalnya. “Lain kali kalau jalan denganku, jangan pake supir. Aku risih.” “Berharap ku ajak jalan lagi, ya. Hem?” “Aku turun lagi, loh, ini,” ancam Nara saat merasa terdesak oleh kata-kata Darrel. Daripada harus bersitegang dengan Kinara, Darrel hanya membalas ancaman itu dengan senyuman. Kemudian mulai melajukan mobilnya, meninggalkan area parkiran. “Mau makan di mana kita?” tanya Darrel. “Terserah kamu lah, kan kamu yang ngajakin. Toh, aku juga udah makan barusan. Jadi, sekarang statusku hanya menemani Anda Bapak Darrel yang terhormat.” Lengkap dengan senyuman di akhir kata-katanya. “Baiklah. Kalau gitu, habis makan nggak jadi jalan.” “Malah ngancem balik,” gerutu Kinara memukul lengan Darrel. Keduanya sampai di sebuah restoran yang situasinya justru berbanding terbalik dengan cafe tempat ia dan sahabatnya nongkrong tadi. Yang tadi tergolong ramai, karena posisinya memang dipenuhi oleh anak-anak kuliahan. Tapi di restoran ini, pengunjung bisa dihitung dengan jari, saking sedikitnya. Tapi jujur, untuk suasana memang restoran ini jauh lebih baik. Darrel membantu Nara berjalan dari saat turun dari mobil, hingga sampai di meja tempat mereka duduk. “Kenapa? Kamu nggak suka tempatnya? Kalau gitu, kita cari restoran yang lain saja.” “Eh, bukan,” ujar Nara langsung. “Bukan nggak suka, malah ini terlalu bagus.” Darrel tersenyum menanggapi perkataan Kinara yang menurutnya erlihat asing dengan tempat ini. “Ra, kamu anak dari seorang pengusaha, loh. Jangan bersikap seolah-olah kamu baru memasuki area elit.” “Orang tuaku yang pengusaha, trus apa hubungannya denganku?” “Anak seorang pengusaha, kehidupannya akan terjamin dari segi apapun. Pergaulan, circle pertemanan dan tentunya tingkatan dalam hal apapun pasti berbeda dengan anak biasa.” “Mungkin bagi anak lain memang begitu, tapi aku enggak. Lebih tepatnya, aku nggak tahu tuh seperti apa kehidupan asli orang tuaku. Karena mereka berkeliaran di sekitarku hanya beberapa detik dalam satu hari. Sisanya? Anggap saja aku hanya hidup sebagai anak dalam sebuah status,” jelas Nara. Darrel menyenderkan punggungnya di kursi, emanatp fokus pada Kinara yang terlihat sekali raut gusar di wajah dia. “Sebelumnya pasti kamu nggak pernah mikirin ini, kan? Mungkin jadi pikiran utama bagimu baru beberapa hari ini, sata tahu apa sebenarnya ingin mereka.” Apa yang dikatakan Darrel memang benar adanya. Hanya saja ia seolah berat saja harus semakin terbuka pada cowok ini. Entahlah, rasanya tak enak ... baru kenal, sudah memberikan masalahnya pada orang lain. “Jangan membahasnya lagi,” ujar Nara. Dua orang pelayan restoran datang dengan beberapa pesanan yang sudah dipesan oleh Darrel sebelumnya. Kemudian menyiapkan di meja. “Aku udah kenyang,” ujar Nara saat makanan itu dihadapkan padanya. “Sebagai seorang karyawan, kamu harus menurut apa perinta dari atasanmu. Benar begitu, kan?” “Ini bukan jam kerja,” gerutu Nara. “Anggap saja bentuk perhatian atasan pada bawahannya.” “Bisa menggunakan kalimat yang lebih bagus lagi nggak?” Darrel sedikit mencondongkan badannya ke arah Nara, hingga membuat posisi keduanya semakin dekat. “Anggap saja ini bentuk perhatianku padamu,” ujar Darrel mengulangi kata-katanya jadi lebih baik. “Makanan ini bagus untuk kesembuhan tulangmu yang cedera.” Barusan mengomentari kata-kata Darrel, sekarang diberikan kata yang lebih baik lagi, malah ia yang jadi salah tingkah sendiri. Dasar hati, ada apa denganmu? Haruskah bersikap sememalukan itu di depan Darrel? Nara tersenyum, berusaha bersikap biasa saja. “Makasih,” ucapnya. Tadinya tak berniat makan, bahkan perutnya saja sudah merasa kenyang. Tapi sikap darrel membuatnya harus memutar otak agar bisa lepas dari tatapan dia. Keduanya makan dengan tenang, tak ada percakapan apa-apa. Hingga ponsel milik Darrel tiba-tiba berdering. “Bukannya nggak ada pekerjaan lagi? Bisakah menghindari mata dan pikiranmu dari ponsel dulu?” Padahal tangan Darrel sudah hendak menyambar benda pipih yang ada dihadapannya. Hanya saja, mendengar kata-kata Nara membuatnya menghentikan niat. “Kenapa malah kamu yang terus mengomeliku,” berengutnya. Sebagai seseorang yang hanya hidup penuh dikelilingi oleh pekerjaan, sekarang malah merasa jadi manusia normal. Jujur, ia bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini. Terutama pada Nara yang ... apa dia merasa kalau sikapnya terlalu berlebihan, ya? “Siapa yang makan bersamamu tadi?” “Yang mana?” “Yang cowok.” Sebenarnya Nara bingung siapa yang di maksud oleh Darrel. Entah Vano atau justru Rendra. Tapi toh kedua cowok itu memang berada di posisi yang sama, ya. “Teman di kampus. Kakak tingkat atas, sih, lebih tepatnya.” “Yang duduk di sampingmu.” Padahal tadi ia berharap Darrel tak melihat, tapi ternyata ia salah. Buktinya, dia tahu kalau posisi Vano ada di sebelahnya. “Namanya Kak Vano. Anak semester empat,” ungkap Nara. “Kak?” tanya Darrel memastikan. “Hmm,” angguk Nara. “Kan usia dia ada di atasku.” Darrel berdecak dengan senyuman di sudut bibirnya. Raut tak suka langsung dia tunjukkan atas tanggapan Nara. “Kamu panggil dia, Kak, karena usianya ada di atasmu. Lalu aku bagaimana?” Seketika Nara terdiam. Ayolah, kali ini ia bingung harus membalas seperti apa. Padahal dari awal pun ia tahu kalau usianya jauh lebih muda dari Darrel, tapi bisa-bisanya bersikap sok dewasa. Manggil Darrel tanpa embel-embel rasa hormat. Ya, paling kalau mode hormat ia panggil dengan panggilan Bapak. Itupun karena statusnya di di kantor. Nara mengumbar senyuman tak enak. Hanya saja, kenapa Darrel jadi kesal begitu perkara panggilan. “Kan hanya sekadar panggilan,” respon Nara. “Tapi itu penting.” “Ya, maaf,” ucap Nara. “Jadi?” Menopang kedua dagunya dengan tangan, menatap fokus pada Darrel yang masih tampak cemberut. “Mau ku panggil, Kak juga?” tanyanya. “Enggak,” jawab Darrel. Menghela napasnya berat, saat sikap Darrel makin aneh-aneh saja padanya. “Trus, mau ku panggil apa?” “Aku nggak mau disamakan dengan yang lain.” Dahi Nara sampai berkerut mendengarnya, tapi seketika ia tersenyum simpul. “Ya sudah, kalau gitu aku panggil dengan panggilan sayang saja. Gimana?” Setelah mengatakan hal itu, ia malah tertawa sendiri dengan kata-kata yang ia lontarkan. Menyambar satu gelas jus dan menyeruputnya. “Boleh juga,” respon Darrel. Seketika Nara tersedak minumannya sendiri saat mendapatkan respon dari Darrel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN