BAB : 27

1716 Kata
Darrel menyodorkan tisu ke arah Nara, saat minuman yang dia minum malah disemburkan lagi. “Kalau minum yang bener dong, Ra,” komentar Darrel dengan wajah tak berdosa. Menerima tisu yang disodorkan Darrel dengan wajah kesal. Bisa-bisanya dia bicara begitu. Tak tahukah ia tersedak efek mendengar omongan random dia barusan. Nara berpindah duduk ke kursi yang ada di samping Darrel. Menatap horor pada cowok yang ... serius, ya. Ini si Darrel di matanya nggak ada mode kalem-kalemnya lagi. Dia super duper nyebelin. “Apa?” Mencubit pinggang Darrel dengan kekesalan tingkat tinggi, hingga dia meringis kesakitan. Tiba-tiba ia merasa bersyukur karena dia bisa merasakan apapun yang ia lakukan di badan dia. “Ra, Ra ... kamu ngapain, sih. Sakit tahu, nggak.” Menggosok pinggangnya yang terasa perih berkat cubitan yang diberikan Nara. “Ya ampun, cewek bar-bar.” “Makanya, kalau ngomong yang bener,” umpatnya masih mode singa betina yang sedang mengamuk. “Lah, kamu yang tersedak dan aku yang salah. Gitu?” “Omonganmu, Darrel. Omonganmu!” “Yang mana?” Untuk kedua kalinya Kinara mencubit Darrel. “Bikin gregetan tahu nggak.” Kembali ke kursinya. Asli, ya. Sudah beberapa hari kenal dengan Darrel, ini adalah moment yang paling bikin otaknya seketika panas. Melebihi rasa kesalnya saat pertama bertemu dengan dia. Hanya perkara sebuah panggilan, membuat pikirannya berkeliaran kemana-mana. Beberapa saat diam, dengan muka kecut. Darrel malah jadi bingung harus mengembalikan mood gadis itu dengan cara apa. “Oke oke, aku yang salah. Aku minta maaf,” ucapnya. Menghadapi kolega bisnis yang seperti sebuah serangan peperangan saja, tak membuatnya takut dan berpikir keras. Tapi ketika Kinara kesal dan memberengut padanya, rasanya seolah ia merasa bersalah. Bingungnya cara agar membuat dia kembali mood, “Tahu nggak apa salahmu?” “Hmm,” angguk Darrel tersenyum tipis. “Aku kan hanya bercanda. Tapi itu, kan, kamu yang ngasih ide. Aku hanya mengiyakan saja.” Kinara memakai mode diam. Menyambar makanannya dan kembali melahap seolah tak terjadi apa-apa. Baru sadar kalau mulutnya lah yang bicara random begitu. Eh, malah menyalahkan Darrel. Selang beberapa saat kemudian, akhirnya selesai makan. Setelah membayar, keduanya keluar dari restoran tersebut dan menuju mobil. “Jadi, mau kemana?” “Hmm, bentar. Aku mikir dulu.” Memasang wajah seolah sedang mencari ide untuk tujuan. Sesaat kemudian menatap darrel dengan tatapan tenang. “Aku bingung.” “Capek kah? Atau mau ku antar pulang saja?” “Main ke rumahmu,” respon Nara menaik turunkan alisnya penuh harap. “Ngapain?” “Numpang tidur.” Muka Darrel seketika menunjukkan raut bingung. “Yang benar saja, sih. Tidur di rumahku, bayarannya mahal.” “Ayok, cepetan.” Langsung mengenakan sabuk pengaman. “Ya ampun. Aku malas di rumah, sementara dia malah mengajakku ke rumah,” gerutu Darrel yang mau tak mau malah mengikuti apa yang diinginkan Nara. Padahal Darrel tadinya berpikir akan mengabulkan keinginan Kinara yang mungkin memiliki suatu tempat yang ingin dituju. Makanya bela-belain mau menemani. Ya, daripada sendirian di rumah, karena hari ini kerjaan tak banyak. Eh, ujung-ujungnya tetap saja dirinya kembali ke rumah. Mobil berhenti di halaman rumah yang tampak begitu luas itu. Saat turun, Nara lah yang paling antusias. Entah apa yang membuat menarik, hingga endingnya malah main ke rumahnya. “Jadi, apalagi?” tanya Darrel saat keduanya sudah turun dari mobil. “Nggak ada apa-apa lagi. Kan sudah ku bilang, mau numpang tidur di rumahmu.” “Ra, serius kamu ke sini hanya mau numpang tidur?” Kinara malah tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Darrel padanya. “Numpang main lebih tepatnya. Aku malas di rumah. Capek berdebat terus sama Mama Papa.” Nah, kan, ketebak olehnya. Yakali dia mau numpang tidur ke sini. “Ayo, masuk. Mau tidur, mau istirahat, mau main ... terserah kamu.” Menyodorkan tangannya agar disambut oleh Kinara sebagai pegangan. Kaduanya masuk ke dalam rumah, disambut oleh seorang asisten rumah tangga. “Maaf, Den ... tadi Non Adel ke sini. Katanya mau bertemu sama Aden,” ujar wanita paruh baya itu dengan sedikit menunduk saat menghadap Darrel. “Kapan?” “Satu jam yang lalu, Den.” “Ya sudah. Makasih.” Wanita paruh baya itu segera berlalu dari hadapan Darrel, kembali pada pekerjaannya. Kembali membawa Nara masuk ke dalam rumah, menuju ruangan yang biasa digunakan untuk bersantai. Di sampingnya terdapat sebuah teras yang di sana juga ada kolam renang. “Adel siapa?” tanya Nara. Bukan penasaran, tapi kali ini jujur sana ia sangat penasaran. Darrel tak menjawab pertanyaannya. Malah seolah tak berniat memberikannya sebuah penjelasan apapun tentang nama yang ia yakini adalah seorang wanita itu. “Mau di sini atau ke atas? Kalau ke atas, biar ku antar.” “Di sini saja.” “Tunggu, ya ... aku ganti baju dulu.” Nara mengangguk paham. Saat menunggu Darrel di sana, matanya terarah pada teras yang berada di samping. Meletakkan tas dan ponselnya di kursi, kemudian menanggalkan cardigan yang ia kenakan. Berjalan perlahan keluar dari sana. “Wah,” gumamnya tampak kagum dengan penampakan yang ada di depan matanya. Bagaimana tidak, di pikir di sini hanya ada sebuah kolam berenang saja, tapi saat pintu dibuka, malah pemandangan menyegarkan mata langsung ia saksikan. Bukan hanya terlihat luas dari depan, tapi area rumah Darrel ini memang luas di segala arah. Di sini memang ada kolam berenang, tapi lanjut di sebelahnya malah ada mini garden gitu. Tidak, tidak ... ini bukan mini lagi, lebih tepat untuk area kumpul satu keluarga besar. Kakinya ngilu saat berjalan kelamaan, tapi saking penasarannya ia sampai juga di objek tersebut. Terdapat beberapa tanaman hijau dan bunga-bungaan, begitupun sofa yang sudah disediakan untuk duduk. Heran, dia hanya tinggal sendirian di rumah seluas ini, tapi malah menyediakan area dan tempat-tempat untuk sebuah keluarga besar. Terdengar panggilan dari dalam rumah, siapa lagi kalau bukan Darrel yang sedang berteriak memanggilnya. Untuk ke sekian kalinya list kebiasaan buruk Darrel di matanya bertambah. Apalagi kalau bukan berteriak. “Ya!” Terlihat, Darrel keluar dari rumah dan berjalan perlahan menghampirinya. Parah, bikin mood nya jadi kacau saja dengan penampilan santai dia kalau di rumah. Tak menunjukkan sisi seorang pemimpin perusahaan, tapi malah terlihat seperti sad boy kelas kakap yang suka bikin maba klepek-klepek. “Ada yang nelepon,” ujar Darrel menyodorkan ponsel milik gadis itu yang ia bawa dari dalam. Kinara mengambil benda yang diberikan Darrel. Panggilan telepon itu sudah berhenti berdering, kemudian mengecek siapa yang menelepon. Berdecak saat melihat nama yang tertera. “Dari siapa?” tanya Darrel merebahkan badannya di sofa. “Mama.” “Telepon balik lah. Mungkin beliau khawatir karena kamu belum pulang.” “Tumben sekali kalau memang mengkhawatirkanku.” “Itu normal. Karena kamu anaknya.” Nara duduk di kursi yang bersebelahan dengan Darrel. Sibuk dengan ponsel di tangannya. Hingga beberapa menit berlalu, matanya tetap fokus dan sibuk dengan benda berlayar datar itu. Merasa diacuhkan, Darrel bangun dan merebut ponsel yang standby dihadapan Nara. “Ih, Darrel. Balikin, nggak.” Kesal dong. Orang dirinya lagi chatan, malah diambil gitu aja. Darrel melihat chat yang berentet panjang di layar itu. Kesal saja, ketika Nara ada di sampingnya, tapi dia malah sibuk dengan seseorang di hp. Lebih kesal lagi ternyata dia malah chat dengan Vano. Cowok yang tadi bersama dia di cafe. “Pantesan fokus di hp terus,” gerutu Darrel, kemudian mengembalikan hp milik Nara dengan wajah tak suka. “Kan hanya chat doang.” “Iya, chat doang,” respon Darrel. Heran, ini Darrel kenapa jadi aneh begini. Ia kan hanya chat dengan Vano, kenapa seolah-olah dirinya diberikan sikap seolah ia sedang selingkuh dengan cowok lain. Kembali ke mode rebahan. Memejamkan kedua matanya, seolah mengabaikan semua itu. Ada yang aneh pada dirinya. Bisa-bisanya tingkat kekesalannya naik seolah sedang memergoki dia selingkuh. Padahal siapa lah dirinya bagi Kinara. “Darrel,” panggil Nara. “Chatan aja dulu. Aku tungguin,” balas Darrel masih dnegan kedua matanya yang terpejam, tapi pikirannya malah kemana-mana. “Kenapa malah tiba-tiba jadi kesal gitu, sih.” “Bukan kesal, aku kan hanya memberikanmu waktu untuk cowok yang ...” Belum juga Darrel selesai bicara, sebuah tabokan di kaki menghentikan perkataannya tiba-tiba. “Ra, serius, ya ... ini pukulanmu sakit, loh.” Dia seolah dengan sengaja mengambil kesempatan karena hanya dia yang bisa membuatnya merasakan sakit itu. “Ya habisnya, kamu kesal begitu padaku.” “Kesalku di bagian mana? Coba katakan.” Nara diam, tapi tatapan matanya seakan sedang menyelidiki sesuatu. Iya, dia bilang nggak kesal. Tapi sikap yang ditunjukkan Darrel seolah sedang menunjukkan kekesalan padanya. Menyentil dahi Kinara, ketika dirinya diberikan tatapan penuh curiga seperti itu, hingga dia mengaduh memegangi dahinya bekas sentilan. “Sakit, tahu nggak,” umpatnya. Di saat yang bersamaan, terdengar sayup-sayup mobil yang memasuki area pekarangan rumah. Ayolah, sebagai si pemilik rumah, Darrel mengenal siapa saja yang diberikan ijin masuk oleh Pak satpam di pos jaga. Setidaknya, beliau akan memberikan ijin orang-orang yang dikenal. “Kenapa?” tanya Nara penasaran dengan raut muka Darrel yang seakan sedang memikirkan sesuatu. “Mau membantuku?” “Ngapain?” Darrel yang posisinya masih rebahan di sofa, menyambar tangan Kinara dan menarik gadis itu dengan cepat hingga jatuh di atas badannya, dengan posisi keduanya berada di jarak terdekat. “Jangan bertindak aneh-aneh, Darrel,” umpat Nara hendak berniat bangun, tapi malah dia tahan. “Diam di posisimu,” bisik Darrel malah semakin mengeratkan rengkuhannya di badan gadis itu, hingga dia tak bisa kemana-mana. Jujur, ya ... entah niat apa yang sedang nongkrong di pikiran Darrel sampai bersikap seperti ini padanya. Tapi sebagai seorang gadis normal, saat cowok bersikap aneh begini tentu saja ia rada takut juga. “Bantu aku sekarang.” “I-iya, tapi ngapain?” Pake mode cemas. Serius, ya ... otaknya sudah mulai tak beres dihadapkan pada Darrel dalam jarak yang sedekat ini. “Ada cewek gila yang akhir-akhir ini sedang merecoki kehidupanku. Aku mendengar mobilnya datang. Bisakah berbuat sesuatu agar dia kapok dan tak lagi muncul?” “Aku harus ngapain?” tanya Nara ikut berbisik. Darrel sejenak berpikir, begitupun dengan Kinara yang masih stay di dekapannya, seolah ikut berpikir. Tapi di saat bersamaan sebuah panggilan spontan membuatnya malah tiba-tiba nekad berbuat sesuatu. Seakan waktu ikut terhenti, ketika Darrel melakukan itu padanya. Iya, membantu ... tapi kenapa juga harus melakukan tindakan yang segila ini. Hal yang paling ia hindari ketika berhubungan dengan cowok, sekarang dengan gampangnya diambil oleh seorang Darrel yang tak ada hubungan dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN