BAB : 28

1597 Kata
“Darrel!” Teriakan penuh kekesalan itu membuat Kinara tersentak dari posisi dan pikirannya. Langsung beranjak dan menjauh dari atas badan Darrel. Sayangnya itu lagi-lagi hanya niatnya belaka, karena dia justru dengan sengaja menariknya kembali ke dalam dekapannya. “Lepasin aku!” “Sudah ku bilang, kan, aku butuh bantuanmu,” bisik Darrel masih menahan Nara agar tak menjauh. “Aku benar-benar kesal padamu, Darrel!” Ini semua perasaannya sedang bercampur aduk. Kesal, marah, emosi dan ... tak bisa berbuat apa-apa saat dirinya berada dalam cengkeraman Darrel. Seorang wanita dengan gaya yang bisa dikatakan berbanding terbalik dengan Kinara datang dan langsung marah-marah. Menarik paksa dan kasar Kinara yang berada dalam pelukan Darrel, hingga menjauh. “Apa-apaan kamu! Berani-beraninya mendekati Darrel! Dasar w*************a!” Lihat, kan, udah ketebak apa yang akan ia terima dari wanita yang ada dihadapannya ini. Tadinya masih bingung dengan permintaan Darrel, tapi sekarang ia sangat paham saat dirinya seolah dianggap w*************a. Rasanya kepalanya begitu panas, hatinya juga terasa sakit mendapatkan kata-kata seperti itu. “Mbak, kalau bicara yang benar dong. Siapa juga yang sedang merebut kekasihmu!” Pandangan Kinara mengarah pada Darrel. “Tanya sama dia, apa yang sedang dia lakukan padaku!” Di saat seperti ini, kemarahannya bukan tertuju pada wanita menyebalkan ini, tapi justru tertuju pada Darrel yang bersikap seenaknya padanya. Di pikir ia cewek apaan, yang dengan gampangnya diberikan sikap seperti itu. “Jangan bersikap begitu padanya!” Marah Darrel saat Kinara diberikan kata-kata buruk oleh wanita yang tengah ada dihadapannya. “Dia lebih baik daripada kamu, Adel. Paham!” Tanpa basa-basi dan meninggalkan sepatah kata, Nara memilih untuk segera pergi dari sana. Jujur, ia lebih kesal pada Darrel daripada wanita itu. Kesal, karena merasa sikap Darrel tadi seolah merendahkannya sebagai wanita. “Ra, kamu mau kemana?” Menyambar tangan dia, hingga membuat langkah itu terhenti. Hanya saja dengan cepat pegangannya dia elakkan. “Aku mau pulang. Silahkan selesaikan urusanmu dengan dia.” “Tapi ...” “Dan jangan temui aku.” Darrel tahu pasti Kinara marah atas sikapnya barusan. Terlihat, kali ini dia benar-benar serius. Matanya memerah, begitupun ekspressi wajah saat menatapnya tak seperti biasa, meskipun sedang marah. “Aku minta maaf, Ra.” Tak membalas perkataan Darrel, Kinara berlalu dari hadapan dia dengan langkah cepat. Meskipun menahan ringisan ketika kakinya terasa sakit saat dipijakkan, tapi lebih sakit lagi ketika Darrel membuatnya marah. Menyambar tas miliknya yang ada di sofa dan lanjut berlalu dari sana. Serius, ya ... ia bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa sikap buruk Darrel begitu terasa sakit di hatinya. “Aku ada di sini dan kamu malah terus mengharapkan dia!” Otaknya sekarang dipenuhi oleh dua orang wanita yang sedang berada di dua tempat dan posisi yang berbeda. Berpikir untuk menyusul Nara, tapi sepertinya urusannya dengan wanita bernama Adel ini harus segera diselesaikan. Kalau tidak, semua ini akan terus berlanjut dan akan terulang lagi nantinya. “Apa hak mu malarangku?!” “Jangan lupa, kita sudah dijodohkan.” Darrel tersenyum sinis di sudut bibirnya saat mendengar pengakuan Adel yang seolah dirinya sudah berada dalam jerat sebuah perjodohan gila. “Apa? Perjodohan? Siapa yang akan menerimamu?” “Orang tua kita sudah ...” “Apa maksudmu mengatakan orang tua kita? Jangan lupakan, orang tuaku nggak pernah melakukan itu. Mereka hanya memperkenalkan kita, itupun kalau cocok. Kalau enggak? Apa menurutmu aku akan terus lanjut? Itu sama saja mengorbankan kehidupanku untukmu!” ”Darrel!” pekik Adel saat apa yang dikatakan Darrel memang benar adanya, hanya saja tentu ia tak akan terima keputusan itu. Karena apa? Dirinya benar-benar mencintai cowok ini. Meskipun tak cinta, setidaknya materi yang dia miliki bisa hidup tentram. “Memang benar begitu, kan. Jadi, jangan berpikir terlalu jauh, apalagi sampai berpikir kalau aku akan menerimamu, Adel.” “Apa salahnya, sih, mencoba?! Bahkan aku lebih baik dari dia!” “Untuk perkara hati, aku nggak akan coba-coba. Dan lagi, apa katamu ... lebih baik? Asal kamu tahu, di dunia ini yang bisa ku rasakan hanya dia. Paham kamu!” Setelah mengatakan kalimat itu, Darrel berlalu pergi dari sana dengan langkah cepat. Kemana lagi tujuannya kalau bukan menyusul Kinara. Entah seperti apa kemarahan dia padanya nanti. Iya, salahnya juga bersikap seenaknya begitu. Berlari menuju halaman depan, berharap dia masih ada ... hanya saja harapannya musnah sudah. Dia ternyata sudah pergi. Segera menuju mobil dan masuk. Yap, meminta maaf adalah hal yang harus dilakukan. Sementara Kinara, ia tak berpikir akan pulang. Karena pulang bukan tempat yang paling tenang. Apalagi dengan pikirannya yang sedang kesal begini. Bukannya lebih baik, justru malah makin menimbulkan masalah. Karena orang tuanya pasti akan merecoki sikapnya. Turun di depan sebuah rumah dengan pagar besi yang menutupi area pekarangan. Langsung membuka, karena di sana tak ada penjagaan layaknya di depan rumahnya. Kemudian langsung masuk menuju pintu utama. Baru juga mau menekan bel yang ada di pintu, tapi justru seseorang dari dalam rumah lebih dulu membuka akses masuk rumah itu. “Loh, Nara. Lo ngapain ke sini?” “Lo mau pergi, ya?” tanya Nara pada Zila yang terlihat sudah rapi seperti akan pergi. “Iya, gue mau jalan sama Kak Rendra.” Zila membawa Kinara menuju kursi yang ada di teras. Karena ia tahu pasti, kaki sobatnya ini masih belum pulih. Keduanya duduk di kursi, dengan Zila yang menatap penuh telisik pada Kinara. Meskipun tak mulai bercerita, tapi dari raut wajah dia tampak sedang ada masalah. “Ada masalah lagi sama orang tua lo?” Kinara menggeleng cepat. “Trus?” Ia bingung harus memberikan penjelasan seperti apa. Masa iya mau bilang kesal karena Darrel menciumnya. Bukannya prihatin itu malah justru membuat Zila menertawakannya. “Ra, lo kenapa, sih?” “Gue habis berantem sama Darrel.” “Darrel yang si ...” “Iya, itu. Yakali ada Darrel lain yang gue kenal.” Zila malah tertawa mendengar pengakuan Kinara. Entahlah, akhir-akhir ini sobatnya suka sekali membahas cowok bernama Darrel itu. Iya, memang pesona dia seolah tak bisa dikasih minus sedikitpun. “Ra, gue masih ingat tadi siang dia jemput elo di cafe. Dan gue juga melihat dengan mata sendiri, gimana sikap dia sama elo. Sekarang tiba-tiba datang kayak gini dan bilang berantem sama dia. Gue bingung harus percaya atau tidak,” jelas Zila mengeluarkan pendapatnya. Kinara memasang muka cemberut, saat apa yang ia rasakan seolah tak dipahami Zila. Iya, salahnya karena memang tak memberikan penjelasan pasti. Tapi yakali bilang ia dicium sama Darrel. “Nara!” Kinara tersentak saat panggilan Zila membuyarkan bengongnya. “Lo mau kemana, sih?” “Kan udah di bilang barusan, gue mau jalan sama Kak Rendra. Mau ikut? Ayok.” “Yakali gue jadi obat nyamuk.” Kinara menghela napasnya berat, seberat pikirannya yang sedang kesal. Yang jelas, ia malas pulang ke rumah. Karena justru itu bikin masalah makin runyam. “Yaudah, gue pergi lagi deh.” “Pulang?” “Males.” “Trus lo mau kemana? Jangan berpikir untuk bunuh diri, ya.” Bukan apa-apa, ya ... karena pengalaman buruk membuatnya dan Faye terkadang suka cemas akan kondisi Kinara. Dia pernah melakukan aksi bunuh diri saat ada masalah. Hanya saja selalu gagal. Seolah otak sobatnya itu tak diciptakan untuk menghadapi sebuah masalah. Karena akan langsung down seketika. Kinara beranjak dari posisi duduknya. “Mau menenangkan diri dari masalah dunia.” “Kalau lo lakuin hal gila lagi, awas lo.” “Nggak lah,” sahut Nara. “Tapi biar gue minta supir untuk nganterin, ya. Seenggaknya lo aman.” Kinara menyetujui perkataan Zila. Akhirnya pergi dari sana dengan supir keluarga Zila. Bunuh diri? Sudahlah, rasanya ia capek. Karena berkali-kali mencoba, selalu gagal. Mungkin memang belum saatnya ia pergi dari dunia ini. “Maaf, Non ... ini kita mau kemana, ya? Atau saya antar pulang?” tanya supir pada Kinara dalam perjalanan. “Hmm, berhenti di pertigaan depan, Pak.” “Non Nara mau kemana?” Tampak diam sesaat. “Mau ketemuan sama teman,” jawabnya asal. Sampai di pertigaan depan, Kinara turun dari mobil. Yang benar saja ketemu teman, itu hanya alasannya saja. Karena yang sebenarnya adalah ia menuju ke sebuah club yang tak jauh dari sana. Tempat di mana dirinya sering menghindari sebuah masalah. Masuk ke dalam sebuah bangunan yang ... dari luar saja sudah terlihat jelas orang-orang seperti apa isinya. Hanya saja ini lebih terkesan mewah, karena yang bisa masuk justru harus memiliki akses khusus. Ya, hanya untuk kaum level atas. “Wah, sudah lama nggak ke sini?” tanya seorang cowok yang merupakan bartender. Pertanyaan itu sudah jelas menunjukkan bahwa Kinara memang merupakan pengunjung yang sering datang, bukan. Tak memberikan jawaban apa-apa. Bahkan ia sedang tak berniat mengeluarkan sepatah kata pun saat ini. Seakan tahu apa yang diinginkan, bartender itu segera menyiapkan dan menyodorkan pesanan untuk Kinara. ‘Semoga bisa lebih tenang.” Ayolah, yang namanya club, apalagi kelas kakap. Sudah ketebak, kan, isinya seperti apa? Yap, tak jauh dari orang-orang dengan pemikiran mereka yang 90% adalah buruk. Satu tegukan, dua tegukan. Masih aman. Lanjut ke gelas-gelas berikutnya, pandangannya mulai tak baik-baik saja. yakinlah, sebentar lagi dirinya akan merasakan lenyap dari dunia ini. Hendak menyambar gelas berikutnya, taapi ternyata sudah kosong. “Berikan lagi,” pintanya pada bartender itu. “Anak di bawah umur dilarang minum sampai mabuk.” Kinara malah tersenyum mendengar itu. “Lalu, apakah anak di bawah umur juga dilarang untuk bermasalah?” Menyambar dengan paksa botol yang ada di tangan cowok itu. “Itu ...” Belum selesai bicara, Kinara sudah langsung meneguk minuman itu. Tak tahu saja kalau minuman yang dia minum memiliki kadar alkohol yang tinggi. “Hei ... kenapa rasanya berbeda?!” Ia bertanya, tapi lama kelamaan justru rasanya malah semakin enak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN