Darrel menyusul Kinara ke kediaman orang tua dia. Berharap mendapatkan hasil, tapi apa yang terjadi? Menurut asisten rumah tangga, gadis itu justru belum pulang. Jadi, sekarang kemana lagi akan ia cari?
Kembali masuk mobil, mencoba menelepon dia. Hanya saja panggilan teleponnya tak mendapatkan respon apa-apa. Hp nya aktif, tapi seolah dengan sengaja tak menjawab.
“Ck, angkat dong, Ra,” gumamnya gregetan sendiri.
Jujur, ya ... ia baru kali ini menghadapi ngambeknya seorang cewek. Jadi bingung harus ngapain.
Beberapa kali ia mengulangi, hasilnya tetap sama. Nara tak menjawab panggilan teleponnay. Tapi, seketika kaget saat panggilan teleponnya direspon, tapi yang menjawab malah seorang cowok.
“Anda siapa? Mana Kinara?!” tanya Darrel langsung. Bagaimana nggak emosi, karena yang menjawab panggilan teleponnya adalah seorang cowok.
“Maaf, Mas ... saya pelayan bar. Pemilik ponsel mabuk berat. Bisa tolong ke sini untuk menjemputnya?”
“Kirim alamat, saya segera ke sana.”
Memijit pelipisnya yang seketika terasa sakit. Bisa-bisanya dia pergi ke club sendirian. Kalau terjadi hal buruk gimana?
Segera menuju ke alamat yang sudah dikirimkan padanya. Bahkan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dengan segera sampai di lokasi. Sampai di parkiran, langsung turun dari mobil. Hanya saja saat masuk, langkahnya dihalangi oleh dua orang penjaga berbadan kekar di pintu masuk.
“Tanda pengenal?”
Darrel bukannya menunjukkan kartu akses untuk masuk, tapi justru menyodorkan kartu namanya. Alhasil dua laki-laki itu saling lirik dan memberikan izin untuk masuk. Iya, nama yang bahkan mungkin semua kalangan bisnis akan mengenal dengan pasti.
Seperti perkiraannya, isi tempat ini justru kebanyakan adalah cowok. Adapun cewek, mungkin hanya sebagai objek untuk melampiaskan hal yang tidak-tidak. Dan parahnya Kinara malah terjebak ke tempat seperti ini.
Mencari keberadaan dia ke sekeliling ruangan. Tapi matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang duduk di kursi dengan kedua lengan yang dia jadikan bantalan.
Menghampiri, kemudian dengan cepat menanggalkan kemeja yang ia kenakan dan menutupi badan dia. Bisa-bisanya dia datang ke sini dengan pakaian yang mengundang mata kaum adam. Bawahan rok mini dengan atasan tanktop, ayolah ... bukankah itu merupakan godaan.
“Mas yang barusan menelepon, ya?” tanya bartender itu pada Darrel yang tiba-tiba datang dan bersikap seperti itu pada Kinara.
“Iya,” jawabnya.
Merasa ada sentuhan di badannya, Kinara yang barusan memejamkan mata kini bangun. Tampak sekali dia dalam keadaan mabuk. Bahkan menatap Darrel saja seolah tak sepenuhnya mengenal.
“Ngapain ke sini, sih?” tanya Darrel lembut sambil menangkup wajah dia.
Nara mengelakkan tangan Darrel yang berada di wajahnya. Kemudian tersenyum. “Darrel.”
Darrel mengancingkan kemeja yang ia kenakan di badan Kinara. “Hmm, ini aku. Kita pulang, ya.”
“Aku nggak mau,” tolaknya. “Kamu jahat!”
“Ra ...”
“Kamu ngeselin.” Memukul Darrel dengan tangannya. Meskipun tak ada tenaga karena mode mabuk berat. Tapi wajah Darrel, bisa ia lihat dengan jelas.
Darrel menyambar ponsel milik Nara dan memasukkan ke dalam tas.
“Makasih ya, Mas,” ucap Darrel pada bartender itu, kemudian cepat membawa Nara dari sana dengan cara menggendongnya. Meskipun terus menolak, tetap saja tak bisa lepas dari pangkuannya.
Sampai di mobil, mendudukkan dia di kursi depan. Berniat memasangkan sabuk pengaman, tapi Nara malah memeluknya. Tahu tidak, saat dia menyentuhnya, itu seperti sentuhan itu langsung masuk ke dalam hatinya.
Membelai lembut pucuk kepala dia, seolah sedang memberikan rasa nyaman.
“Maaf, jika karena aku kamu seperti ini.”
Tiba-tiba merengek dalam keadaan memeluk Darrel. “Kakiku sakit,” gumamnya.
“Kita pulang, ya. Nanti aku obati.”
Melepaskan Nara dari pelukannya, kemudian lanjut memasangkan sabuk pengaman itu di badan dia.
Segera meninggalkan tempat itu. Kebiasannya ketika berkendara di saat mode khawatir dan panik adalah tanpa sadar justru melajukan mobil dengan kecepatan yang menakutkan. Hingga waktu yang dibutuhkan untuk sampai di rumah pun jadi makin cepat.
Sampai rumah, langsung turun dari mobil. Membuka pintu, berpikir jika Kinara dalam keadaan tidur ... ternyata tidak. Bahkan kedua mata itu menatapnya dengan fokus.
“Bisa jalan?” tanya Darrel.
Tak menjawab pertanyaan Darrel, Kinara malah langsung saja turun. Hanya saja tampak sedikit meringis ketika kaki dia menyentuh lantai. Tapi tetap lanjut dan masuk ke dalam rumah begitu saja dengan langkah perlahan.
Darrel terus mengikuti langkah Nara yang terseok-seok karena mabuk, menelusuri ruang utama. Sesekali memegangi agar dia tak jatuh, meskipun pegangannya sering dielakkan. Untuk seorang gadis muda, jujur saja dia termasuk parah ketika mencoba menghilangkan masalah dengan cara seperti ini.
“Darrel, kita akan kemana? Aku mau pulang.” Langsung berbalik badan, hingga jatuhnya malah di pelukan Darrel.
Kedua pandangan itu saling beradu. Meskipun saat ini Kinara dalam keadaan mabuk yang artinya tak sadar, tapi tatapan dia mampu menusuk hatinya. Ditambah lagi soma kemerahan di pipi dia, menambah efek manis yang sayang untuk dilewatkan.
Kinara tersenyum simpul, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Darrel. “Aku suka kamu,” ucapnya berbisik.
Setelah mengatakan hal itu, Kinara langsung saja berlalu dari hadapan Darrel dengan langkah mabuknya dan menuju ke sebuah kamar yang terletak tak jauh dari sana. Sedangkan yang diberi ucapan justru masih diam membisu.
Tersadar, kemudian tersenyum tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Lanjut berjalan cepat menyusul Nara yang sudah menuju salah satu kamar. Parahnya lagi saat sampai di pintu kamar, malah mendapati hal mengagetkan. Langsung berlari cepat menghampiri dia.
“Apa yang kamu lakukan.” Menahan tangan Kinara yang posisinya sudah menarik tanktop yang dia kenakan hingga sudah menampakkan bagian punggung dan perut. “Jangan berpikiran aneh-aneh, Nara.”
Kemeja yang dikenakan tadi, sudah dia tanggalkan dan buang di lantai begitu saja. Dan sekarang malah mau menanggalkan tanktop yang menutupi badannya. Benar-benar, ya ... Kinara kalau mode mabuk justru bikin jantungan.
“Kamu mau ngapain, hem?” Kembali membenarkan pakaian dia yang nyaris saja membuat otaknya sebagai cowok normal ikutan stress.
“Panas,” rengeknya. “Di sini panas.”
Darrel menyambar remote AC yang ada di nakas, kemudian menambah suhu ruangan agar lebih dingin.
“Sekarang istirahat, ya.”
Menggeleng cepat, kemudian melepaskan diri dari pegangan Darrel. Melangkah mundur, kemudian naik dan berdiri di atas tempat tidur. Tersenyum, sekaan sedang merasakan sebuah kebebasan.
“Awas, jatuh.”
Tertawa puas, saat mendengar perkataan Darrel. Kemudian mengarahkan telunjuknya pada cowok itu.
“Harus selalu ada di sampingku. Harus bersedia menjagaku, saat aku sedih dan bahagia.”
Darrel hanya bisa diam mendengar kalimat-kalimat itu. Bingung, karena posisinya dia sedang mabuk. Jadi, tak berpikiran sampai jauh dan berharap itu semua nyata.
Seketika Kinara menangis. “Nggak ada yang mau membantuku, kan. Nggak ada yang sayang padaku. Aku sendirian.”
Darrel merentangkan kedua tangannya dihadapan Nara yang tengah berdiri di atas tempat tidur.
“Aku janji akan melakukan semua yang kamu mau.”
Tersenyum dalam tangisnya saat mendengar perkataan Darrel. Berniat memeluk dia, tapi semua justru tak terjadi karena tubuhnya tiba-tiba ambruk dan jatuh tepat di pangkuan Darrel.
Capek pikiran, emosi dan rasa kesal ... mungkin itulah yang sedang dirasakan gadis yang ada dalam pangkuannya ini.
Menidurkan dia di kasur, kemudian menutupi tubuh itu dengan selimut. Mata dia tertutup rapat, dengan kedua pipi yang tampak masih memerah.
“Kamu tahu, Ra ... kejadian ini membuatku berharap, jika suatu saat nanti kamu ada masalah, akulah yang kamu cari.”