BAB : 30

1228 Kata
Di saat Kinara tidur, ponsel milik dia berdering. Darrel mengambil benda pipih yang ada di dalam tas ransel itu. Tadinya ia berpikir jika yang menelepon adalah orang tua Kinara yang khawatir karena belum pulang di jam segini, tapi ternyata tebakan itu salah. Karena sebuah nama yang tertera di layar, seolah membuatnya kesal saja. Awalnya tak menjawab, tapi ia penasaran seperti apa reaksi dia saat ia yang menjawab panggilan di ponsel milik Kinara. Menggeser layar datar itu, sambil duduk di samping Nara yang tengah tertidur ... dengan satu tangannya yang menyentuh lembut wajah dia. “Hallo.” “Ini siapa? Nara di mana?” Terdengar agak kaget saat Darrel yang menjawab. “Kamu siapanya Kinara?” tanya Darrel balik. “Harusnya aku yang bertanya. Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba ponsel Nara ada padamu? Cepat katakan di mana Kinara!” Darrel tersenyum sinis, seolah sedang meledek sikap dia yang menurutnya terlalu berlebihan. Tidak, lebih tepatnya ia merasa tak suka dengan sikap cowok itu. “Tenang saja, jangan terlalu khawatir. Kinara ada bersamaku. Itu artinya, ku jamin keamanannya.” “Aman apanya! Orang tuanya sedang khawatir.” “Orang tuanya, ya. Hmm, baiklah. Kalau mereka menghubungimu lagi, katakan saja kalau Nara ada bersamaku. Katakan, Kinara ada bersama Darrel.” Setelah mengatakan hal itu, Darrel langsung saja menutup percakapan sepihak dengan si penelepon. Bisa ditebak, kan, siapa yang barusan bicara dengannya? Yap, Vano. Cowok yang dipanggil Kak oleh Nara. Meletakkan ponsel milik Nara di nakas. Bukan hanya itu, ia sengaja menonaktifkan benda pipih itu agar tak ada lagi yang mengganggu. Perlahan beranjak dari posisinya, keluar dari kamar itu meninggalkan Nara yang tengah tidur. Setidaknya jika di sini, dia bisa tenang untuk istirahat sesaat. Karena yakinlah, ketika dia bangun, akan ada serangan dari Nara untuknya. Apalagi kalau bukan perkara ciuman yang ia lakukan tadi, hingga membuat dia marah. Berjalan menuju ruang kerjanya yang terletak di sebelah kamar Kinara sedang istirahat. Sampai di ruangan itu, ia mengirim pesan singkat pada orang tua Kinara agar tak perlu khawatir akan kondisi dia. Kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Sesekali berjalan keluar dan mengecek keadaan Nara di kamar sebelah. Takut jika gadis itu tiba-tiba bangun dan heboh lagi. Hingga waktu menunjukkan pukul tujuh malam, semua masih aman. Tapi baru juga menghela napas panjang setelah menyelesaikan semua pekerjaan, sontak langsung kaget mendengar suara tangisan yang sayup-sayup terdengar. “Nara,” gumamnya langsung beranjak dari kursi dan bergegas menuju kamar sebelah. Benar sekali, saat pintu terbuka, ia mendapati gadis itu sedang menangis duduk di tempat tidur ... dengan kedua kaki ditekuk dan menutupi wajah dengan telapak tangan. Darrel segera mendekat dan duduk di samping dia. “Sudah bangun.” Nara langsung mengelakkan tangan Darrel yang menyentuhnya, kemudian menatap cowok itu dengan tatapan dingin. Darrel bisa melihat dengan matanya sendiri, saat air mata itu membasahi wajah dia. Ap hatinya yang terlalu rapuh? Entahlah. Hanya saja melihat dia sedih, kenapa hatinya sakit. “Aku kesal sama kamu, aku marah sama kamu dan kenapa membawaku ke sini? Sudah ku bilang, kan, jangan temui aku dulu!” “Ra ...” “Jangan menyentuhku!” pekik Nara saat Darrel hendak menyentuh wajahnya. “Aku khawatir sama kamu. Tadi pelayan bar menghubungiku lewat ponselmu. Jadi, menurutmu aku akan apa?” “Biarkan saja! Apa pedulimu padaku!” “Aku benar-benar minta maaf atas sikapku tadi. Tolong, jangan marah padaku. Terserah, kamu mau memukulku juga boleh. Asalkan jangan bersikap seperti ini padaku.” “Percuma aku memukulmu, percuma aku menyakitimu ... toh kamu nggak akan merasakannya juga.” Menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Kemudian beranjak dari tempat tidur dengan langkah yang masih terpincang-pincang. “Jangan lupa, saat kamu menyentuhku, aku bisa rasakan itu.” Mendengar perkataan Darrel, langkah Kinara yang sudah mencapai pintu terhenti. Jujur, ia sebenarnya tak ingin marah pada dia. Hanya saja sikap dia yang seenaknya padanya, membuat hatinya terasa sakit. Darrel berjalan mendekati dia yang masih berdiri di posisinya. “Ra, aku tahu kalau kamu marah. Dan aku tahu jika sikapku salah. Sekarang terserah kamu mau memberikan hukuman seperti apa padaku, asala jangan menjauhiku.” Nara berbalik badan, berdiri berhadap-hadapan dengan dia. “Kamu tahu, kita baru mengenal. Bahkan di awal perkenalan pun, kamu sudah membuatku kesal. Tapi, entah kenapa aku seolah melupakan sikap burukmu itu. Darrel, aku bukan tipe orang yang begitu gampang dekat dengan seseorang. Tapi denganmu, itu termasuk cepat. Sekarang kamu malah membuat kepercayaan dan kenyamananku berubah jadi hal yang menyakitkan.” Darrel melangkah maju satu langkah, membuat posisi keduanya makin dekat. “Silahkan, mau tampar aku juga boleh,” ujar Darrel pasrah dihadapan Kinara. “Karena sentuhanmu, bisa ku rasakan. Jadi, tamparanmu pasti akan ku rasakan sakitnya.” Nara membuang wajah saat berhadapan dengan Darrel. Bingung dengan hatinya sendiri. Kesal, marah, emosi ... tapi melihat dia seperti ini malah meluluhkan hatinya. Apa ini efek karena dirinya merasa terlalu nyaman di dekat dia? Darrel memejamkan kedua matanya, saat bersiap mendapatkan tamparan dari Nara. Setidaknya dalam seumur hidup, ia bisa merasakan sakitnya kena tampar. Dan yang bisa memberikannya rasa itu hanya Kinara. Toh, ini juga semua terjadi karena memang salahnya sendiri. Ia akui itu. Nara menatap fokus pada Darrel yang berdiri dihadapannya dengan kedua mata terpejam. Jangankan menampar, bahkan marah pada dia saja itu begitu sulit. Hanya saja sikap Darrel tadi yang membuat kekesalannya jadi meningkat. Ditambah lagi itu terjadi betepatan dengan masalah yang sedang dihadapi. “Anggap saja ini balasan dari sikapmu tadi.” “Hmm.” Darrel sudah mode pasrah. Ini lebih baik daripada harus didiamkan dan mendapatkan sikap dingin dari dia. Ditampar, mungkin sakitnya hanya sesaat. Tapi didiamkan dan diberikan sikap dingin, sakitnya justru seolah membuat mood nya ikutan hancur. Baru juga berpikir seperti apa sakit yang akan ia rasakan saat tamparan itu menerpa wajahnya, karena tahu pasti Kinara kali ini serius marah padanya. Tapi, semua pikiran menakutkan itu seketika buyar, seperti api yang tiba-tiba disiram oleh guyuran air hujan. Bukan tamparan yang ia dapatkan, tapi justru sebuah pelukan. Hangat terasa, ketika dia memeluknya erat. Terasa, rengkuhan tangannya di badannya. Padahal ia sudah mempersiapkan mental ditampar, tapi malah sebaliknya. “Ra, kamu ...” “Kapan-kapan saja ku tampar, tapi sekarang aku butuh kamu. Aku butuh tempat untuk berkeluh kesah, aku butuh seseorang yang bisa mendengarkanku.” Ayolah, bukan senang lagi yang dirasakannya ... tapi justru bahagia ketika mendapatkan sikap dan perkataan barusan dari Kinara. “Itupun kalau kamu bersedia,” lanjut Nara. “Tentu saja,” respon Darrel langsung girang. “Jangan memelukku.” Padahal Darrel benar saja mau memeluk Kinara, tapi mendengar itu tangannya yang sudah bersiap malah terhenti seketika. “Kenapa melarangku?” “Hanya aku yang boleh melakukannya. Kamu nggak boleh.” “Aturan macam apa itu?” “Terserah aku. Kamu marah?” “Iya, aku nggak terima,” balas Darrel yang langsung saja memeluk Kinara erat. “Ih, Darrel. Jangan memelukku.” Melepaskan tangan Darrel di badannya. “Enak saja. Itu namanya enak di kamu nggak enak di aku dong.” Malah makin mengeratkan pelukannya pada Kinara. Hingga gadis itu seakan ia bekap dalam rengkuhannya. Jadilah, yang tadinya seakan baku hantam, kini malah jadi seperti adegan paksaan dalam sebuah pelukan. Kinara memang kesal pada Darrel, tapi dia sadari jika nyaman bersama Darrel. Sedangkan Darrel sendiri, ia masih bingung dengan perasaannya. Tak ingin dia sedih, tak rela dia bersama laki-laki lain, dan tak tahan jika dia marah. Apa itu yang dinamakan dengan rasa cinta? Mengalir bagai air, mungkin itulah yang lebih tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN