BAB : 31

1151 Kata
Darrel mengantarkan Kinara pulang ke rumah saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Nara memintanya untuk mengantar sampai pagar saja, tapi tentu saja itu tak mungkin ia lakukan. Karena apa? Setidaknya ingin memastikan jika Marion ataupun Tiara tak mengomeli gadis itu karena pulang larut malam. Ya, memang tadi ia sudah menghubungi pasangan suami istri itu tentang Nara yang bersamanya. Hanya saja hatinya tetap tak tenang. Keduanya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dengan pintu masuk yang masih terbuka lebar. Kalau seperti ini, yakinlah baik Marion atau pun Tiara, sedang menunggu Nara pulang. “Pasti Mama Papa menungguku,” gumam Kinara saat melangkah masuk. Dan, ya ... benar sekali tebakannya. Saat menuju ruang keluarga, tampak sepasang suami istri itu berada di sana. “Ya ampun anak ini, jam segini baru pulang. Kamu mau jadi ap ...” Perkataan Tiara terhenti seketika saat mendapati ada Darrel yang bersama dia. Memasang raut wajah tak enak, karena Darrel malah memergoki ia mengomeli Nara. Darrel tersenyum simpul, berdiri di samping Nara yang masih memasang mode takut-takut. Jujur saja, ia bukan takut pada kedua orang tuanya, hanya saja dirinya takut jika mereka malah bersikap tak baik lagi pada Darrel. Lebih tepatnya, ia tak ingin jika orang tuanya bermuka dua. Saat di belakang Darrel, memberikan sumpah serapah padanya. Tapi ketika bersama Darrel, malah diberikan moment terbaik. “Mau mengatakan apa. Kenapa nggak dilanjutkan?” tanya Darrel pada wanita paruh baya itu. “Aku menunggu kalimat selanjutnya.” Nara mengarahkan pandangannya pada cowok yang ada di sampingnya itu. “Kamu langsung pulang saja. Sudah larut malam juga,” saran Kinara. Hanya menghindari percekcokan antara Darrel dan orang tuanya saja. Marion langsung mengumbar senyuman manis. “Kamu gimana, sih, Sayang. Darrel baru datang kok sudah disuruh pulang. Setidaknya minum dulu lah.” “Pa, daripada hal-hal yang diinginkan terjadi, lebih baik dia pulang saja. Ini sudah malam.” Males banget kalau mereka sampai mengobrol. Karena apa? Darrel saja sudah tahu niat orang tuanya apa, tapi mereka seolah masih menunjukkan sikap manis di depan dia. Maaf, bukan bermaksud jadi seorang anak yang durhaka. Hanya saja sebagai anak, dirinya merasa malu dengan semua kelakuan orang tuanya. Seperti sebuah rencana buruk sudah terdeteksi oleh korban, tapi tetap saja maju untuk lanjut. Menarik ujung baju Darrel, seolah sedang memberikan kode pada cowok itu agar tak mendengarkan papanya. Karena kalau tidak, dia pasti tetap akan lanjut. Darrel mengarahkan pandangannya pada Kinara. Bukan seorang yang suka mundur begitu saja dalam sebuah permasalahan, tapi kali ini sepertinya ia harus mendengarkan perkataan Nara. “Hmm.” Mengangguk. “Aku permisi.” Langsung berlalu dari sana, meskipun tak puas dengan keputusan ini. “Aku ke kamar dulu,” ujar Kinara pada Marion dan Tiara. “Kamu nggak mau memberikan penjelasan apa-apa pada kami, Sayang?” Pertanyaan Tiara membuat langkah Nara terhenti. Ketebak, kan, kalau orang tuanya tak akan memberikannya ketenangan walau hanya sejenak. Berbalik badan, menatap mereka dengan tatapan masam. “Bukankah Darrel sudah memberikan kabar.” “Ya, Darrel bilang pada kami bahwa kamu ada bersamanya,” ujar Marion. “Trus, apalagi?” “Tapi, apa benar hanya sekadar bersama?” Perkataan Marion seakan dengan sengaja memberikan sebuah sindiran. “Maksud Papa apa bicara begitu?” Paham apa maksud pertanyaan itu, hanya seolah tak percaya saja jika memang itu yang sedang mereka pikirkan tentangnya dan Darrel. “Kamu perempuan, Nara. Sedangkan Darrel laki-laki. Jangan bilang kalau kalian ...” “Mama mikir apa, sih?!” Tiara bersidekap d**a, berjalan menghampiri putrinya itu. “Kamu nggak melakukan hal yang tidak-tidak, kan, sama Darrel?” “Mama!” “Nara, Mama sama Papa nggak marah, kok, sama kamu,” ujar Marion buka suara. “Yang ingin kami ketahui, kamu melakukannya atau tidak? Itu saja. Hanya memastikan jika apa yang Mama dan Papa inginkan, bisa kamu lakukan.” Air matanya langsung mengalir begitu saja saat perkataan demi perkataan yang diutarakan kedua orang tuanya terasa menyakitkan. Berpikir mengkhawatirkan dirinya, justru malah berharap dirinya berada dalam kesesatan. “Kenapa menangis? Jangan bilang kalau apa yang kami pikirkan benar adanya.” “Aku nggak melakukan apa-apa sama dia, kenapa kalian berpikiran sampai sekotor itu tentangku? Aku ini anak kalian, loh. Harusnya menjagaku dari hal itu, tapi kini malah memberikanku peluang untuk jatuh ke jalan yang sesad.” “Kinara! Papa sudah bilang sama kamu, kan, dekati Darrel demi kelancaran bisnis keluarga kita. Jadi sekarang apa kamu masih belum paham tujuan kamu kami minta untuk bekerja sama dia?!” “Tapi Darrel sudah tahu, Pa.” “Papa tahu itu, tapi tidakkah kamu menyadari kalau sikap dia ke kamu itu berbeda. Kalau orang lain, mungkin akan memilih untuk menendang kamu dari kantornya, atau bahkan menghakimi kami. Lihat, apa dia melakukan itu? Justru malah sebaliknya, dia seolah terus mendekat sama kamu.” “Karena dia menggunakan cara yang lebih pintar dari yang kalian bayangkan. Bukan langsung depak saat tahu.” “Terserah! Yang jelas untuk saat ini posisi kami dan kamu aman. Terus lah dekati dia, hingga akhirnya apa yang kita inginkan tercapai.” Tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan papanya. Ia akui dirinya benar-benar bodoh sekarang. Karena apa? Justru tahu seperti apa asli orang tuanya, di saat usianya sudah segini. Selama ini diberikan kemewahan, hingga lupa mana yang benar-benar baik dan hanya memanfaatkan saja. Langsung berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Haruskah ia mengulangi jalan sesad untuk mengakhiri semua ini? Iya kalau berhasil, kalau tidak? Paling kena amuk papanya. Sampai di kamar, menghempaskan badannya di kasur. Menangis sejadi-jadinya dengan kepala yang ia sembunyikan dibalik bantal. Rasanya kepalanya mau meledak dengan semua masalah Ini. Kalau hanya dirinya saja nggak apa-apa, tapi ini sudah merembet ke Darrel. Takut saja jika kedua orang tuanya benar-benar nekad berbuat seburuk itu. Bagaimana dengan dirinya? Harus tetap jadi anak yang berbakti, atau justru melawan? Ponselnya berdering. Awalnya ia malas untuk menjawab, tapi karena berulang kali akhirnya ia cek juga. Menghapus air mata di pipinya. Kemudian menyambar benda pipih yang ada di dalam tas. Terlihat, nama Darrel yang menelepon. Ragu, mau menjawab atau tidak. Hanya saja kalau tak ia jawab, justru malah membuat dia berpikir aneh. Menenangkan perasaannya, kemudian baru menjawab agar dia tak curiga. “Ya?” “Baik-baik saja, kan?” “Ya, aku baik. Kenapa?” “Karena feeling ku mengatakan kalau kamu tidak baik-baik saja.” “Memangnya kamu punya indera ke sepuluh ... yang tahu kondisiku saat ini,” berengut Nara. “Ku yakini pasti orang tuamu habis marah-marah, ngomel. Dan ... membahas, apa kamu sudah berhasil mendapatkan aku?” Nara hanya berdecak kesal saat semua itu diketahui oleh Darrel. Enggak perlu indera ke sepuluh pun, dia juga bakalan feeling ke arah sana. “Harusnya ku bilang saja jika semua itu benar.” “Apanya?” “Aku sudah melakukan sesuatu padamu.” “Darell!” Darrel langsung memutus percakapan dengannya begitu saja. Sampai ia gregetan sendiri dibuatnya. Apa-apaan banget Darrel, malah berada di jalur yang sama dengan orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN