Kejadian semalam membuatnya semakin merasakan bahwa ... dirinya tak dianggap sebagai seorang anak lagi. Kenapa? Karena mana ada anak yang dengan sengaja dijerumuskan oleh orang tua sendiri ke jalan yang buruk. Mana ada orang tua yang malah mendukung anaknya untuk melakukan tindakan yang bahkan dianggap menjijikkan.
Ada hal lain yang pagi ini membuatnya lega saat bangun tidur. Efek dipijitin oleh Darrel semalam, membuat kakinya terasa mulai membaik. Ya, meski masih terasa ngilu, tapi langkahnya tak terseok-seok lagi seperti sebelumnya.
Menuruni anak tangga, menuju ruang makan dengan tas yang ia teteng. Pagi ini ada kelas, makanya bangun pagi-pagi. Berpikir kalau orang tuanya masih di rumah, tapi ternyata salah. Saat sampai di meja makan, terlihat jelas kalau mereka sudah tak ada di rumah. Karena Bibik sedang membereskan meja makan.
“Non kuliah, ya?” tanya Bi Asih.
“Iya, Bik.”
Duduk di kursi, dengan sarapan yang sudah disiapkan wanita paruh baya itu untuknya.
“Gimana kakinya, Non? Udah membaik?”
Mengangguk perlahan, dengan makanan yang mulai ia lahap.
“Harusnya pas kejadian mesti diurut, Non. Cuman pas Bibik kasih usul, malah kena semprot sama Nyonya. Jadi, ya gitu deh.”
“Semprot balik harusnya, Bik,” canda Nara.
Terkekeh mendengar balasan Kinara. Yakali ia bisa melakukan itu, membantah saja kadang kena omel. Jangankan dirinya, Kinara saja yang berstatus sebagai seorang anak seolah tak bisa memberikan komentar, apalagi bantahan. Apalagi dirinya yang hanya pembantu di rumah ini. Derajatnya masih berada jauh di bawah.
“Non semalam kemana?” tanyanya makin penasaran.
“Hmm, aku ke rumah teman.”
“Non serius, mau lakuin apa yang diinginkan Tuan sama Nyonya?”
“Lakuin hal apa?”
Sebenarnya ia paham kemana arah pembicaraan Bik Asih, hanya saja mencoba untuk pura-pura tak paham.
“Mendekati pengusaha muda itu?”
“Maksud Bibik, Darrel?”
Bik Asih mengangguk. “Orangnya tampan, ya, Non,” pujinya cengengesan ... menunjukkan gigi yang bahkan masih sempurna untuk seorang yang sudah paruh baya.
Nara tak langsung membalas, ia kembali melanjutkan adegan makannya hingga akhirnya selesai. Meneguk air minum untuk mendorong semua makanan yang ia lahap barusan.
“Kira-kira, aku harus jadi anak yang baik atau jadi anak yang durhaka, ya?”
“Lah, Non gimana, sih. Tentu saja seorang anak harus jadi anak yang baik. Memangnya Non mau, jadi batu kayak Malin Kundang, karena melawan orang tuanya?”
“Orang tuaku menjerumuskanku ke jalan yang nggak benar. Jadi, aku termasuk anak yang bagaimana?”
Terdiam. Harusnya ia paham dengan pertanyaan Kinara dari awal.
“Seorang anak wajib menuruti apa yang diinginkan orang tuanya, jika masih di jalan yang benar. Jadi, Non paham, kan, harus bagaimana?”
Sekarang giliran Kinara yang justru diam tak membalas lagi. Beranjak dari posisi duduknya, kemudian menyambar tas.
“Aku berangkat ke kampus dulu, Bik.”
Langsung berlalu pergi dari sana dan berangkat kuliah dengan Pak supir yang mengantar. Sedikit kesal, ya, karena ia tak diijinkan membawa mobil. Padahal sebelum-sebelumnya bebas saja. Makin ke sini, akses kehidupannya seolah mulai berubah satu-persatu.
Sampai di kampus, duduk di sebuah kursi taman yang berada di area kampus, kemudian menelepon seseorang.
“Ya, Ra?”
“Lo di mana, Zil?” tanya Kinara pada Zila.
“Toilet.”
“Toilet?” tanya Kinara dengan ekspressi bingung.
“Toilet kampus.”
Memutar bola matanya. “Pantesan suara lo menggema.”
“Udah nyampe?”
“Udah. Gue tunggu di taman depan, ya.”
“Oke.”
Tak lama, mungkin sekitar lima menit kemudian ... tampak Zila dan Faye yang berjalan menghampirinya. Keduanya langsung duduk saat sampai.
“Bu Nadine nggak masuk hari ini. Cuman kita ada tugas, sih,” ungkap Faye langsung saat sampai.
Menghela napasnya panjang. “Kalau tahu gini mending gue tidur aja di rumah. Asli, ini mata masih ngantuk berat.” Menyenderkan kepalanya di meja, dengan lengan sebagai bantalan.
“Lah, orang kita dapat info juga tadi. Ya, kan, Zil.” Melirik ke arah Zila, untuk menyetujui apa yang ia katakan.
“Hooh,” sahut Zila akan perkataan Faye.
“Lo kemana kemarin?”
“Kapan?”
“Semalam.”
“Kemana? Gue nggak kemana-mana.”
“Jujur aja kenapa, sih? Itu orang tua lo sampai ngebet nuduh gue nyembunyiin elo. Heran deh, perasaan mereka jadi berubah gue rasa.”
Nah, kan ... jangankan dirinya sebagai seorang anak. Bahkan Zila saja bisa merasakan perubahan yang terjadi pada orang tuanya.
“Berubah gimana?”
“Makin emosian lebih tepatnya.”
Menarik napasnya panjang, kemudian kembali duduk dengan menyenderkan punggung di kursi.
“Dari rumah elo kemarin, gue mampir ke club,” ungkapnya dengan senyuman.
“Ya ampun. Elo ...” Zila sampai geregetan sendiri. “Elo gimana, sih. Kan udah gue bilang, kalau ke club jangan sendirian. Bahaya, loh. Mau, badan lo digrepe-grepe sama cowok-cowok kurang belaian? Ish, ngeselin deh.”
Jangankan Kinara, bahkan ia sendiri kalau ke club pasti ngajak-ngajak. Enggak berani sendirian. Karena kalau sampai mabuk, setidaknya ada yang bisa bantuin. Lah, kalau sendirian? Bisa habis diterkam cowok yang nggak benar. Karena pada kenyataannya yang masuk ke area itu adalah cowok nggak benar, kan.
“Habisnya gue bingung mau ngapain dan mau kemana. Apalagi kemarin gue bukan hanya bermasalah sama orang tua gue, tapi juga sama Darrel.” Bersidekap d**a dengan muka cemberut.
“Hello ... lo serius? Bukannya kemarin lo anteng-anteng aja sama tu cogan,” komentar Faye menanggapi.
“Masa gue di ...” Langsung menghentikan kata-katanya seketika saat menyadari, yakali ia bilang dirinya dicium? Bisa-bisa malah diledekin ini.
“Lo diapain?”
“Ra, jangan bilang ke kita kalau dia udah ...” Zila menunjuk pada badan Kinara.
“Lo serius?!” Faye ikut-ikutan memiliki pikiran seperti Zila.
Kinara malah menyentil jidat kedua sobatnya itu bergantian, karena sudah berpikiran negative tentang dirinya.
“Sakit tahu, nggak,” umpat Zila.
“Anjir, jidat gue,” berengut Faye menggosok-gosok bekas sentilan Kinara.
“Makanya, jangan mikir aneh-aneh dulu. Orang gue juga belum selesai bicara, malah main nebak aja. Tebakannya bikin kesal lagi.”
“Elo mah bukannya belum selesai bicara, Sayang. Tapi memang nggak mau cerita ke kita. Ya jelaslah, kita berdua mikirnya ke arah sono. Dan tadi elo bilang juga ke club. Jangan-jangan kalian berdua habis dari club, terus ke ...”
Zila menghentikan perkataannya. Takut, jika dilanjut jidatnya malah dapat sentilan yang kedua. Ini saja masih merah.
“Gue bukannya digituin, tapi dicium!” Auto ngegas. Tapi seketika langsung sadar dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bukan itu saja, ia menyenderkan kepalanya di meja, saat keceplosannya nggak ada etika.
“What!”
Zila dan Faye sampai kaget begitu mendengar pengakuan Kinara. Karena apa? Meskipun pergaulan yang rada sedikit melenceng dan mainnya ke club, tapi nggak yang sampai ke adegan ciuman. Lah, ini ... Kinara malah mengakui dicium oleh Darrel. Jadi, gimana keduanya nggak mode shock.
“Lo serius ciuman sama Darrel?” tanya Zila makin dibuat penasaran.
“Gue bilang enggak, apa lo sekarang percaya?”
“Ya kagak! Kan lo yang ngaku barusan, Markonah.”
“Gue pengin ngakak, tapi situasinya lagi mode serius,” respon Faye menahan tawanya.
“Nggak sinkron banget, sih, lo sama keadaan gue,” berengut Nara.
“Lo udah berapa kali pacaran, sih, dari SMP? Kenapa justru malah Darrel yang dapetin itu ciuman. Sepertinya emang jodoh sama dia, Ra.”
Hanya menghela napasnya panjang, ketika mendengar ocehan Faye yang menurutnya aneh. Jodoh, dikira ia dan Darrel punya hubungan khusus, hingga akhirnya berjodoh. Yakali. Ini saja kalau bukan karena paksaan orang tuanya, mungkin nggak akan sampai mengenal Darrel di kehidupannya.
“Asal lo pada tahu, ya ... itu nggak sengaja terjadi. Yakali gue lakuin itu dengan sengaja. Meskipun mode bebas, tetap saja gue menjaga yang namanya first kiss di setiap hubungan. Meskipun akhirnya Darrel yang ngambilnya.”
“Nggak sengaja terjadi, atau justru sebaliknya?” tanya Zila tampak tak yakin.
“Gue serius, Zila.”
“Lah, kan gue nanya. Elo bilang memang nggak sengaja, tapi dia sengaja. Nah, Bisa saja, kan?”
Berasa gatal kepalanya kalau Zila sudah bicara panjang lebar. Intinya, sobatnya yang satu ini suka sekali menelisik sebuah permasalahan sampai ke akar-akarnya. Dan kali ini, adegan ciumannya lah yang jadi fokus utama dia.
“Dia yang dengan sengaja,” balas Kinara mode lemas.
“Nah, kan. apa gue bilang.”
“Jangan-jangan si Darrel beneran suka sama elo, Ra. Makanya makin ke sini, dia tuh makin mendekat sama elo. Apalagi dia udah tahu niat orang tua lo sama dia, tapi masih aja seolah tampak biasa saja. Apalagi coba, kalau bukan rasa suka,” terang Faye dengan wajah mode mikir.
“Gue setuju sama pendapatnya Faye,” respon Zila. “Kalau nggak pake hati, pasti saat ketahuan dia udah bikin keluarga lo habis dalam satu kali tepukan, terutama dalam bisnis. Nah, sampai sekarang masih baik-baik aja.”
“Yuk, ke kelas,” ajak Nara.
“Ya ampun, Ra. Ini kita berdua lagi ngebahas perkara ciuman elo sama Darrel, loh. Malah main ngajak pergi aja.”
Kinara mencubit pipi Zila gemas. “Ya ampun Zila. Ngapain perkara ciuman lo pikirin, sih. Lo pengin? Ntar deh, gue bilangin sama kak Rendra. Oke.”
Langsung berlalu dari hadapan Zila dan Faye, melangkah menuju lorong-lorong kelas.
Faye tertawa mendengar perkataan Kinara, sementara Zila malah kesal. Yang benar saja ia minta ciuman. Jangan berharap, kalau nggak ingin tabokan melayang.