Kelas usai saat jam menunjukkan pukul dua siang. Ketiganya berjalan sambil ngobrol menuju parkiran. Karena Zila yang akan mengantarkan Nara menuju kantor Darrel. Mau apalagi kalau bukan melakukan tugasnya sebagai seorang karyawan yang tak digaji sesuai keinginan orang tuanya.
Langkah ketiganya terhenti saat sampai di parkiran, saat dihadang oleh seseorang.
“Kak Vano,” gumam Kinara bingung saat Vano tiba-tiba muncul dihadapannya dan menghentikan langkahnya dengan sengaja.
“Aku nggak bawa mobil, anterin aku, ya,” ujar Rendra pada Zila yang saat itu datang bersama Vano.
Tak menunggu persetujuan Zila, Rendra malah langsung saja menyambar tangan gadis itu dan membawa dia masuk ke dalam mobil. Kemudian berlalu pergi begitu saja.
Kinara bingung dong dengan apa yang sedang terjadi. Kini dihadapannya ada Vano dan Faye yang masih ikut bingung.
“Gue ...”
“Lo anterin gue,” ujar Nara langsung menimpali perkataan Faye dan memegangi lengan sobatnya yang sudah bersiap untuk pergi.
Jujur, ya ... ini Faye merasa ada masalah dengan Vano. Terlihat sekali raut kesal yang tercetak di wajah cowok itu. Bahkan, selama ini ia merasa dia tak pernah memasang wajah seperti itu jika berhadapan dengan Kinara.
“Ada apa, Kak?” tanya Kinara pada vano yang ada dihadapannya.
“Bisa kita bicara berdua?”
“Tenang saja, Faye sahabatku. Jadi, Kakak mau bicara apapun, silakan.”
Berasa jadi seekor nyamuk berada di antara Kinara dan Vano. Jadi nggak enaka, apalagi Vano justru tampak tak setuju jika ia ada di antara keduanya.
“Ra, mending gue tunggu di mobil aja deh.”
“Elo di sini!”
Jadilah, kena gas sama Kinara, membuatnya mau tak mau ya hanya menurut saja.
“Jadi, Kak. Ada apa?”
“Kemarin kamu kemana?”
“Kemana?”
“Saat makan siang di cafe, ada cowok yang menjemputmu, kan?”
Kinara mengangguk. “Iya, ada. Kenapa?”
“Dia siapa?”
“Teman.”
“Darrel kah?” Faye ikutan nimbrung. Tapi malah mendapatkan sikutan dari Nara yang ada di sampingnya.
“Yakin temanmu?”
“Sampai detik ini, iya. Ke depannya aku nggak tahu. Karena aku hanya manusia, bukan sang pengatur alur kehidupan, termasuk jodoh.”
Faye malah menutup mulutnya, mencoba menahan tawa saat mendengar penjelasan Kinara. Jangan-jangan beneran lagi, kalau Nara dan Darrel ada hubungan khusus. Kalau tidak, mana bisa dia bicara seperti itu pada Vano, yang jelas-jelas mendekati dia sejak lama.
Vano terlihat emosi mendengar penjelasan Kinar. Bagaimana tidak, ia yang jelas-jelas mengejar dari awal kenalan, tapi malah dia berakhir dengan cowok lain.
“Maksud kamu apa, Ra? Kamu mau bilang kalau sekarang hanya temenan, tapi besok akan lebih. Begitukah?”
“Kak, kan sudah ku bilang. Itu bukan dalam aturanku. Kalau memang dia jodohku, aku bisa apa? Berlaku buatmu juga, kan. Kalau kamu memang jodohku, juga akan seperti itu.”
“Tapi sepertinya kamu menghindari itu.”
“Apa buktinya aku menghindar? Apa saat bersamamu, aku mengusirmu dan bilang untuk jangan dekat-dekat lagi?”
“Kamu sekarang berubah.”
“Iya, ku akui aku memang berubah. Pertama, enggak mungkin hidupku stay di satu posisi. Kedua, kehidupanku akan terus maju, termasuk orang-orang yang lalu lalang di sekitarku, Kak. Kamu tahu tidak, kenapa sampai sekarang aku belum bisa membuka hati untukmu? Itu karena aku belum menemukan apa yang ku cari dalam dirimu.”
“Jadi, selama ini apa?”
“Apa? Ya, sama seperti aku berhadapan dengan Kak Rendra.”
“Nggak ada rasa yang ...”
“Rasa seorang teman lebih tepatnya. Dan itu nggak mungkin berubah, Kak.”
“Kamu bilang seperti itu padaku yang bertahun-tahun mengenal dan berada di dekatmu. Apa semua itu sama dengan yang kamu rasakan ketika berada di dekat dia!?”
“Dia siapa?”
“Laki-laki yang bersamamu kemarin.”
“Kenapa, sih, Kakak hubungkan semua ini sama Darrel?”
“Karena selama ini nggak ada cowok yang dekat denganmu selain aku ataupun Rendra. Tiba-tiba sekarang kamu berubah, dan ternyata karena ada laki-laki lain.”
Kinara menghela napasnya berat, saat Vano terus saja menghubunkan semua kekesalan dia dengan Darrel. Jangankan bicara, bahkan ketemu saja dia enggak sama Darrel. Bisa-bisanya malah menjudge seburuk itu.
“Jadi, Kakak sekarang maunya apa?”
“Pilih aku atau dia?”
“Waduh.” Faye sampai kaget saat Vano memberikan pilihan itu pada Kinara.
Ponsel milik Kinara berdering. Segera merogoh tas nya untuk mengecek siapa yang menelepon. Saat ia lihat, ternyata Darrel yang menghubunginya.
Tak menjawab, tapi Nara malah meriject panggilan itu. kemudian mengirim pesan singkat. Pesan terkirim, kembali fokus pada Vano yang masih menuntut penjelasan darinya.
“Pasti dari dia.” Vano tersenyum sinis.
“Lo balik duluan aja, ya.” Suruh Kinara pada Faye, yang langsung diangguki oleh sobatnya itu.
Sekarang tinggal dirinya dan Vano yang sepertinya perdebatan ini harus diselesaikan. Lebih tepatnya, agar cowok ini tak lagi berharap banyak padanya.
“Kak, kita udah mengenal beberapa tahun lamanya. Selama itu, aku suka loh sama Kak Vano. Tapi, rasa sukaku bukan seorang cewek pada cowok ... apalagi dengan rasa cinta. Bukan itu. Tapi aku respect padamu, sebagai seorang adik pada kakaknya.”
Tangan Vano mengepal, saat mendengar penjelasan Kinara. Merasa dipermainkan selama ini. berpikir kalau lama-kelamaan dia akan mencintainya, tapi tidak.
“Itu artinya kamu memilih dia yang baru kamu kenal?”
“Penjelasanku barusan, itu tentang perasaanku padamu. Tapi dengan Darrel, justru berbeda. Aku memang baru mengenal dia, bahkan baru beberapa hari. Pertemuan pertama kami sangat buruk. Sikap arogant dan memerintah. Tapi justru aku nyaman berada di dekat dia. Saat aku butuh, dia muncul tiba-tiba. Saat aku marah padanya pun, seolah merah itu redam begitu saja.”
“Kamu ...” Vano sampai kesal saat mendengar perkataan Kinara yang seolah benar-benar mendewakan Darrel dihadapannya.
“Jujur, aku takut saat mendapatkan sikap manis dari kamu, kak. Karena aku tak bisa membalas sikap itu. Aku nggak bisa memaksakan hatiku, jika benar-benar tak suka.”
“saat sama aku, kamus seolah benar-benar menjaga sikap. Tapi kenapa dengan dia kamu justru sebaliknya. Aku bahkan tak mendapatkan ijin terlalu dekat denganmu, tapi dia! Kamu dan dia sudah sampai ke tahap apa?!”
“Apa maksudmu?”
“Kemarin kalian habis ngapain?!”
“Apa, sih? Aku cuman nemenin dia.”
“Nemenin sampai ke kamar?”
Langsung, sebuah tamparan mendarat di pipi Vano. Di rumah, orang tuanya yang mendesak untuk berbuat demikian. Dan sekarang? Vano yang tak tahu kehidupannya, yang tak tahu masalah hidupnya, dengan seenaknya menuduhnya jadi seburuk itu.
Gemetar, saat apa yang ia dengar justru malah dari Vano yang ia anggap baik selama ini.
“Dengar ya, Kak. Hidupku, masalahku ... itu nggak ada hubungannya denganmu! Tapi, jika kamu nggak tahu apa-apa, jangan berpikir untuk menebak. Aku tahu kamu kesal, tapi bisakah bersikap dewasa layaknya usiamu? Sorang cowok harus bersikap gentle saat menghadapi masalah. Bukannya malah memberikan tuduhan palsu saat merasa kesal.”
“Jangan mencoba mengguruiku!”
“Kamu memang pantas diberikan kata-kata seperti itu. Agar nggak terjadi di kemudian hari.” Tersenyum getir. “Mungkin aku bukanlah wanita terbaik, tapi aku bersyukur karena nggak jatuh di pelukanmu!”
Langsung berlalu dari hadapan Vano dengan wajah penuh emosi. Rasanya isi kepalanya mau meledak, saat berhadapan dengan Vano yang ternyata mulut dia begitu lemes. Bicara pada wanita, malah tak ada sopan-sopannya.