BAB : 34

1408 Kata
Hatinya benar-benar sakit saat berhadapan dengan Vano. Lebih tepatnya dengan kata-kata yang dia berikan untuknya. Tapi, setidaknya dengan adanya hal seperti ini membuatnya menyadari seperti apa dia sebenarnya. Berjalan menuju gerbang kampus dan berdiri di pinggir jalan, berniat menunggu taksi yang lewat. Darrel sudah menghubunginya tadi, karena sudah telat masuk kantor. Menyeka kedua matanya dengan tangan, saat genangan air bening itu seolah sudah tertumpuk di sana sedari tadi, hendak keluar. Tapi jika dia mengalir saat berhadapan dengan Vano, itu membuktikan kalau dirinya begitu rapuh. “Gue nggak sedih, kok, kehilangan satu orang terdekat. Cuman ... kenapa dia sampai berpikir seburuk itu tentang gue,” gumamnya tertahan. Kembali mengarahkan pandangan ke jalanan dan berusaha agar tampak baik-baik saja. Tapi pandangannya malah tertuju pada sosok yang berdiri tak jauh darinya, bersandar di dekat pintu mobil yang terparkir dengan tatapan fokus mengarah padanya. Tersenyum simpul, kemudian berjalan dan menghampiri dia. Berdiri berhadap-hadapan dengan cowok yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya yang menyebalkan dan banyak masalah. Ketebak, kan, siapa makhluknya. Yap, siapa lagi kalau bukan si Bos besar yang terkadang bikin kesal. “Kenapa ke sini?” “Habis ketemu sama klien.” Darrel menyentuh wajah Kinara dengan jemarinya. “Habis nangis pasti,” ujar Darrel langsung menebak. Kinara mengelakkan tangan Darrel dari wajahnya. Bersikap terlihat baik-baik saja. “Siapa yang nangis,” berengutnya. “Yakin?” Kinara mengangguk. “Tapi aku nggak yakin,” ujarnya menarik gadis itu ke pelukannya dan melingkarkan kedua lengannya di badan dia. “K-kamu mau ngapain, sih?” Berusaha melepaskan diri, tapi malah semakin ditahan. “Mau nangis, kan, silakan.” “Aku nggak mau nangis, Darrel.” “Yasudah, kalau begitu cerita padaku.” “Aku hanya kesal,” gumamnya. “Lebih tepatnya, sedih aja.” “Karena?” Tadinya menolak dipeluk Darrel, sekarang malah seolah ingin mengeluarkan masalahnya dalam dekapan dia. “Ternyata dia nggak sebaik yang ku pikir selama ini. Padahal sudah kenal lama, nggak menutup kemungkinan ternyata ... orang yang kita pikir baik dan dekat pun, aslinya malah bikin sakit hati.” “Dan bodohnya kamu malah menangisinya.” Kinara mendongakkan kepalanya, seakan kesal dengan respon Darrel. “Dan bodohnya kamu selama ini karena dibodohi,” lanjutnya. “Aku butuh tempat curhat loh, ini. Kenapa malah mengomeliku balik.” “Agar kamu menyadari, enggak semua orang yang baik menurutmu, itu benar-benar baik. Kehidupan ini kejam, Nara. Banyak orang yang terlihat baik, tapi aslinya malah menusuk.” “Termasuk kamu,” timpal Kinara langsung. “Iya,” jawab Darrel. “Kamu menyadari sesuatu?” “Heh, jadi beneran ada sesuatu yang kamu sembunyikan?” Menuntut. Melepaskan Kinara dari pelukannya. Kebiasaan, dia tahu kelemahannya, pasti bakalan menonjok atau mencubitnya habis-habisan kalau lagi kesal. “Aku lapar, ayo makan,” ajaknya menarik tangan Nara dan memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil dengan supir yang sudah stanby di kursi kemudi. “Aku lagi nanya, loh, ini. Ih, nyebelin banget, sih, kamu, Darrel,” kesalnya. Sampai saat keduanya sudah berada di dalam mobil saja, Kinara masih terus menuntut Darrel untuk berkata jujur. Bukan apa-apa, takut saja jika untuk kedua kalinya ia malah tertipu oleh kebaikan seorang cowok. Sampai di sebuah restoran, muka Kinara masih mode kesal saat menatap Darrel. “Ayo makan.” “Aku nggak mau.” “Kamu nggak lapar?” “Aku nggak mau makan sebelum kamu jujur padaku.” Darrel malah tersenyum manis menanggapi perkataannya. Ini antara mau kesal atau justru mau baper dengan senyuman itu. Dua rasa tengah bercampur aduk di otaknya. Hingga akhirnya ia malah memilih untuk mengalah dan makan. “Tadi orang tuamu menemuiku,” ujar Darrel saat satu suapan makanan baru masuk ke dalam mulut Kinara. Raut penasaran langsung terpancar di wajah Nara saat mendengar pernyataan dari Darrel. Entahlah, ia selalu berpikiran buruk jika orang tuanya sudah menemui Darrel. Seakan-akan mereka mencari penyakit sendiri dengan cowok ini. “Mereka mau ngapain?” “Penasaran?” ‘Katakan padaku,” kesalnya. “Habiskan makananmu, setelah itu akan ku beritahu,” ujar Darrel lembut. “Bohong pasti.” “Aku serius. Ada hal penting yang mereka ingin aku lakukan. Kalau kamu nggak mau makan, silakan tanya orang tuamu langsung. Tapi kalau percaya padaku, makan makananmu ... setelah itu kita bicarakan.” Tahu tidak, perbedaan Darrel ketika dia serius dan ketika dia bercanda? Tentunya tak akan ada senyuman saat dia bicara. Kalau saat di kantor, itu tingkat seriusnya makin parah. Jadi lebih tegas. Makanya karyawan dia, nggak ada yang berani dekat-dekat, meskipun dengan tampang dia yang memukau. Bahkan bisa dikatakan mode datar. Dan sekarang, bicaranya benar-benar lembut. Saking lembutnya, ia sebagai cewek saja merasa insecure karena suka koar-koar nggak jelas. Intinya, suara Darrel itu benar-benar ngademin otak, tapi tegas. “Kenapa?” tanya Darrel saat Nara malah menatapnya tak berkedip. Tersentak dari mode bengongnya ketika suara Darrel membangunkannya. “Cuman lagi mikir, kenapa kamu bisa semenyebalkan itu.” Kembali fokus pada makanannya. Darrel malah menahan senyum dengan sikap Kinara yang menurutnya mode labil. Ya, sebentar-sebentar dia marah dan kesal tanpa sebab ... hingga dirinya yang jadi pelampiasan. Tapi kadang justru begitu manis. Hanya saja menurutnya dia lebih banyak sedih, apalagi kalau sudah berhadapan dengan orang tua dia sendiri. Meskipun kadang melawan, tapi ujung-ujungnya dia sedih sendiri. “Jadi?” Baru juga selesai makan, Kinara langsung menuntut sebuah penjelasan dari Darrel. “Biarin aku napas dulu.” “Lah, dari tadi kamu nggak napas?” Pokoknya, kalau adu argument dengan dia, sampai mulutnya berbusa pun seolah kalah saing. Memang benar kata orang, wanita tak pernah salah. Mereka di atas segalanya, meskipun salah sekalipun. “Ayo ngomong. Orang tuaku bilang apa sama kamu?” “Janji dulu jangan marah padaku.” “Ya tergantung,” respon Nara. “Pliss deh, jangan bikin tingkat kekesalanku padamu jadi meningkat. Bisa, kan, lansgung kasih penjelasan?” Darrel bukannya langsung bicara, tapi malah menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Jujur, ia bingung bagaimana cara memberitahukan semua ini pada Kinara. Lebih tepatnya takut jika dia marah dengan semua yang akan ia sampaikan. “Darrel!” “Tadi pagi orang tuamu datang menemuiku. Awalnya aku nggak mau ketemu, cuman mereka memaksa untuk masuk.” “Serius?” “Kali ini terserah kamu mau percaya atau tidak. Karena aku hanya berusaha berkata jujur.” “Lalu?” “Ku pikir mereka akan membahas masalah bisnis atau kerjaan, tapi ternyata tidak. Kemarin kamu bilang orang tuamu memintamu untuk dekat denganku, kan ... tapi tadi justru lebih membuat kaget lagi.” “Apa?” “Siapkan pendegaranmu untuk mendengar apa yang akan ku beritahu.” “Masih sempat-sempatnya bercanda, ih.” Darrel bersidekap d**a, menatap fokus pada Kinara yang tampak serius mendegarkan penjelasan darinya. “Ra, kamu bilang apa sama orang tuamu semalam setelah aku pergi?” Kinara seketika memasang wajah bingung. “Aku ... bilang apa? Aku nggak ada bilang apa-apa.” “Kemarin kamu mabuk, trus aku bawa ke rumahku. Nggak berpikir kalau aku sudah melakukan sesuatu sama kamu, saat kamu nggak sadar, kan?” Tiba-tiba Nara kaget mendengar pertanyaan Darrel. “Ya enggak lah,” balasnya. “Aku tahu kalau kamu menyebalkan, tapi sampai melakukan hal yang ...” Menghentikan kata-katanya. “ Aku juga nggak percaya.” “Yakin?” Kinara memutar bola matanya jengah dengan pertanyaan Darrel. “Kenapa harus bertanya seperti itu, sih ... kalau memang kamu nggak lakuin itu.” “Masalahnya sekarang adalah ... orang tuamu memintaku untuk bertanggung jawab.” “A-apa?!” Seketika Kinara dibuat kaget. “Mereka mengatakan kalau aku pasti sudah melakukan sesuatu sama kamu. Ditambah lagi dengan kamu sering bersamaku beberapa waktu terakhir.” “Kamu serius, mereka bilang begitu?” “Hmm,” angguk Darrel. Jujur, ya ... kali ini hatinya benar-benar sakit. sampai segitunya orang tuanya sendiri merendahkannya di depan Darrel. Terlihat sekali bukan, posisi harta dan materi jauh lebih berharga daripada anak sendiri. Kinara menelungkupkan wajahnya di meja, dengan kedua tangan sebagai sandaran. Darrel menyentuh pucuk kepala Kinara. “Ra, kamu jangan nangis.” “Gimana aku nggak nangis coba. Itu yang bertindak dan ngomong begitu orang tuaku sendiri, loh. Itu artinya mereka nggak percaya padaku, Darrel.” Menegakkan kepalanya, kemudian menghapus air mata di pipinya dengan tisu. “Aku pergi dulu.” Darrel menyambar tangan Kinara, membuat langkah gadis itu terhenti seketika. “Kamu mau kemana?” “Aku perlu bicara sama orang tuaku.” Mengelakkan tangan Darrel dari tangannya, kemudian berlalu dengan langkah cepat dari sana. Ingin rasanya mengamuk di depan kedua orang tuanya. Tega sekali memberikan tuduhan seburuk itu padanya. Dan lagi, bisa-bisanya menemui Darrel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN