BAB : 35

1275 Kata
Memang benar kata orang, cewek kalau lagi kesal atau marah nakutin. Kinara tak marah padanya. tapi malah ia yang ngeri. Apalagi melihat saat dia pergi barusan. Seolah akan terjadi sebuah peperangan antara dia dengan orang tuanya. “Pulang pakai taksi, ya. Saya mau pergi sebentar,” suruh Darrel pada sang supir. “Baik, Pak,” sahut laki-laki itu atas perintah atasannya. Segera memasuki mobil, kemana lagi arah tujuannya kalau bukan menyusul Kinara. Setidaknya dengan adanya ia di sana, baik Marion ataupun Tiara tak bisa seenaknya dengan gadis itu. Ya jelas, memangnya berani mencari masalah dihadapnnya. Padahal sudah jelas-jelas ia katakan dari sebelumnya, untuk tak mendoktrin Kinara. Tetap saja keduanya seolah mengabaikan. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ia yakin jika Nara sudah sampai di rumah. Dan benar sekali tebakan Darrel, karena saat ini Nara sedang berhadapan dengan pasangan suami istri itu. Dan kebetulan sekali keduanya berada di rumah, padahal biasanya mereka hanya pergi pagi pulang malam. Hingga ia lupa kapan terakhir bertemu. “Papa sama Mama benar-benar keterlaluan, ya!” Marion dan Tiara yang posisi mereka sedang sibuk membahas pekerjaan, dibuat tersentak dengan sikap Kinara yang datang tiba-tiba dengan marah. “Maksud kamu apa bersikap seperti ini, Kinara!” Emosi Marion. “Kamu udah nggak menghargai kami sebagai orang tua lagi, hingga dengan bebas bersikap?!” “Aku menghargai. Bahkan aku sadar jika Mama sama Papa adalah orang tuaku, tapi tolong ... hargai juga posisiku sebagai seorang anak. Jangan membuatku bersikap seperti anak yang durhaka, karena melawan kalian.” Marion beranjak dari posisi duduknya, kemudian beridiri dihadapan gadis yang masih belum genap dua puluh tahun itu. “Dan sekarang, apa menurut kamu ... kamu nggak bersikap buruk pada orang tuamu?!” “Itu karena sikap kalian juga!” “Lancang kamu, Nara!” “Papa sama Mama yang lancang padaku!” geramnya. “Itu karena kamu nggak bisa kami andalkan untuk melakukan apa yang kami mau, Kinara!” Tak ingin menangis, bahkan ia tak ingin menunjukkan rasa sedih dihadapan kedua orang tuanya. Ia lebih memilih menunjukkkan rasa sakit hati, tapi air matanya seolah tak bisa dilarang untuk menentes. “Apa salahku, hingga membuat kehidupanku seolah diputar balik sampai sejatuh ini secara tiba-tiba? Kemana orang tuaku yang dulu. Kemana mereka yang memberikanku batasan-batasan untuk bertindak. Kenapa sekarang aku malah sengaja dilempar pada larangan itu?” “Harus kamu tahu, Kinara. Setiap anak, itu nggak selamanya berada di usia anak-anak. Dulu, kamu masih kecil. Enggak mungkin kami paksa untuk melakukan sesuatu yang dilakukan orang dewasa. Dan sekarang apa menurutmu kamu masih anak-anak?” “Tapi bukan dengan cara kalian menjualku. Aku Ini anak kalian, loh ... punya harga diri,” respon Nara langsung. Marion malah tertawa mendengar balasan putrinya. “Siapa yang menjualmu, sih?” “Memaksaku mendekati Darrel, demi sebuah bisnis. Apa itu namanya kalau bukan menjual. Dan sekarang malah menuduhku dan dia melakukan sesuatu yang ...” Menghentikan kata-katanya. “Papa sama Mama keterlaluan banget, sih!” “Sudah Papa katakan dari awal, kan, apa alasan kamu masuk ke kehidupan Darrel. Dan kamu setuju.” “Aku nggak pernah bilang setuju, Pa. Papa yang memaksaku!” “Oke, mungkin awalnya kamu terpaksa. Tapi sekarang apa? Sepertinya kamu menikmati semua itu. Lihat, kan ... saat kami tak meminta kamu ketemu sama Darrel, tapi diam-diam kalian ketemuan. Jadi, untuk saat ini bukan salah Mama ataupun Papa lagi.” Nara diam dengan penjelasan papanya yang ia akui memang benar adanya. Tapi kenapa harus ada kata menikmati? Bahkan ia dan Darrel hanya seperti teman saja. Setidaknya saat ini dia layaknya seperti seorang kakak yang jadi tempat mengadu. Tiara yang tadinya masih duduk di kursi, beranjak dari posisi duduknya. Menatap fokus pada putrinya itu. “Dan sekarang apa? Kamu masih mau mengelak dengan apa yang papamu katakan? Silakan, Nara ... tanya pada orang lain. Mungkin mereka akan berpikiran yang sama, saat tahu jika kamu dan Darrel terlalu dekat hingga lupa diri. Apa yang kamu dan dia lakukan?” “Mama!” Langsung, sebuah tamparan menyerang pipinya. Bahkan membuat tubuhnya terdorong ke sofa. Sakit? Bukan bekas tamparan itu yang sakit, tapi justru hatinya. Ini adalah pertama kali dalam seumur hidup mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya. Dan lagi, yang melakukan adalah mamanya sendiri. Seorang Ibu yang melahirkannya ke dunia ini. “Mulai sekarang, kamu hanya cukup jadi anak yang baik dan patuh dengan apa yang orang tuamu inginkan, Nara! Dekati Darrel, hingga apa yang kami inginkan bisa segera didapatkan. Tahu, kan, seorang anak akan hidup tenang jika mendapatkan restu dari orang tuanya. Jika kamu menolak, kami nggak akan merelakan apapun yang sudah kamu makan selama ini.” “Aku anak kalian atau bukan, sih?” “Karena kamu anak kami, makanya kami ingin yang terbaik untuk kamu. Pertama, lakukan tugasmu,. Setelah itu, hidupmu juga akan ikut enak, kan.” “Bunuh saja aku. Karena aku nggak akan mau lakuin hal sekotor itu!” pekiknya. Beranjak dari posisi duduknya, kemudian menyambar sebuah gelas yang ada di meja. Kembali pada orang tuanya dan menyodorkan benda itu. “Kalau aku nggak ada, kalian nggak akan ngelakuin hal ini, kan?” Dengan sengaja memukul gelas itu di meja, hingga pecah menjadi beling. Mengarahkan benda tajam itu di lehernya, hingga mulai menggores dan mengeluarkan darah segar dari sana. “Apa yang kamu lakukan!” Marion hendak menyambar benda tajam itu, tapi bukannya berhasil, malah Nara semakin menekan hingga terlihat jelas ringisan di bibir dia dan darah itu semakin menetes. “Selama ini aku berusaha jadi anak yang baik, loh, untuk orang tuaku. Bahkan saat aku merasa tertekan pun, tetap ku lakukan. Tapi sekarang bukan tertekan lagi, aku justru merasa kalau hadirku hanya sebagai alat yang diciptakan untuk mencapai kesuksesan sebuah materi.” Saat Marion dan Tiara mendekat, Kinara malah menghindar. “Jangan gila kamu, Nara!” “Iya, aku gila! Aku udah gila karena orang tuaku sendiri!” teriaknya dalam tangisan. “Dan sekarang, aku ingin mati karena ulah orang tuaku sendiri! Tahu, kan, sudah berapa kali ini ku lakukan, tapi berhasil diselamatkan. Tapi sekarang, nggak akan lagi!” “Apa yang kamu lakukan?!” Pertanyaan itu sontak membuat ketiganya kaget. Terutama Kinara yang kondisinya sudah terlihat parah, karena cairan kental itu terlihat terus menetes di lehernya. “Darrel,” gumam Nara. Darrel berjalan cepat menghampiri Kinara, saat matanya disuguhi pemandangan yang membuatnya kaget. Kinara yang mendapati Darrel muncul, justru malah menghindar dan dengan cepat pergi dari sana. Berlari menuju lantai atas masih dengan luka di leher dan benda tajam di tangannya yang sudah berlumuran darah. “Kinara!” Teriakan dan panggilan Darrel tak membuat dia berhenti hingga akhirnya sampai di kamar. Langsung, mengunci pintu dari arah dalam. Melihat tangannya yang sudah penuh dengan darah dan juga tetesan di lantai. “Ra, buka pintunya! Kamu jangan bodoh!” Menangis dibalik pintu, saat mendengar suara Darrel di luar sana. “Iya, aku memang bodoh. Karena itulah, mereka membuatku begini. Aku nggak mau lagi Darrel, aku capek! Setidaknya dengan begini, kamupun akan aman.” Darrel mendobrak pintu untuk memaksa masuk, tapi percuma ... pintu seolah tak bergerak saat dihantam. Nara berjalan dengan langkah gontai dan darah yang bercecer mengikuti langkahnya. Menuju ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam. Duduk di lantai, kemudian bersandar karena merasa sangat capek. Menatap benda tajam yang masih ia genggam, kemudian meletakkan benda itu tepat di pergelangan tangannya. Ini bukan yang pertama kali ia lakukan, tapi cara ini adalah yang pertama baginya. Berharap, tak ada yang bisa menolongnya hingga akhirnya mati dan hilang dari kehidupan dunia ini. Meringis, saat benda tajam itu menyayat pergelangan tangan ... lebih tepatnya urat nadinya. Matanya terpejam, ketika darah segar mengalir deras dari luka yang dengan sengaja ia ciptakan. Iya, sakit ... seolah menarik paksa napasnya untuk berhenti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN