Darrel mendobrak pintu kamar dengan kuat, tapi seolah usahanya tak membuahkan hasil. Di saat yang bersamaan, Marion dan Tiara tiba-tiba datang dengan sedikit berlari dan menyodorkan sebuah kunci padanya. Langsung membuka pintu, bahkan tangannya saja seolah bergetar.
Pintu terbuka, tapi ia tak melihat Kinara. Yang ada hanyalah tetesan darah yang berceceran di lantai kamar. Matanya menelisik kemana arah darah itu menetes, hingga akhirnya sampai di pintu kamar mandi.
Berdecak kesal saat Kinara seolah dengan sengaja membuat semua orang, terutama dirinya tak memiliki waktu untuk segera menolong dia. Karena apa? Bahkan dia dengan sengaja mengunci pintu kamar mandi. Hanya saja tak seperti pintu kamar, karena dengan sekali hantam ... Darrel bisa membuat akses masuk kamar mandi itu terbuka dengan paksa.
Seperti dihadapkan pada kenyataan terburuk, itulah yang dirasakan Darrel ketika matanya mendapati gadis yang baru beberapa hari ia kenal, dalam kondisi yang mengenaskan.
“Ya ampun, Kinara!” histeris Tiara saat mendapati keadaan putrinya.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Geram sendiri dengan semua yang terjadi. Karena saat sampai, dia sudah tak sadarkan diri dengan darah yang memenuhi lantai kamar mandi. Bahkan wajah dia sudah tampak pucat.
Menyambar sebuah kain yang ada di sana, kemudian dengan cepat mengikat pergelangan tangan Nara yang masih mengeluarkan darah segar. Segera membawa dia dari sana, begitupun dengan Marion dan Tiara yang juga mengikuti.
Segera menuju rumah sakit. Bahkan saat mengemudikan mobil saja ia seperti kesetanan, tanpa memikirkan kecepatan. Bagaimana tidak, bahkan dari raut muka saja ia yakin kalau kondisi Kinara berada di kondisi yang kritis.
“Aku nggak akan memaafkan orang tuamu, kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu,” peringatkan Darrel dengan emosi yang seolah sedang menguasai hatinya.
Sampai di rumah sakit, Kinara langsung dibawa ke IGD. Ia hanya bisa menunggu di depan pintu masuk, saat dia berada dalam penanganan tim medis. Tak lama, saat khawatirnya sedang berada di titi paling atas, Marion dan Tiara datang dan menghampirinya dengan wajah cemas.
“Bagaimana kondisi Nara? Dioa baik-baik saja, kan?” tanya Marion.
“Katkan, Darrel,” tambah Tiara.
Darrel menatap meosi pada sepasang suami istri yang tengah berada dihadapannya. Memasang wajah khawatir, memberikan pertanyaan seolah-olah berharap yang terbaik ... apa mereka sedang melakukan drama.
Menahan emosinya agar tak semakin naik. “Aku tahu kalau kalian adalah orang tuanya, tapi ... untuk saat ini bisakah pergi dari sini?”
“Kinara itu anak kami. Kenapa malah melarang kami di sini?”
“Setelah semua yang terjadi, masih menganggap dia anak?”
“Tapi ...”
“Jangan berpikir kalau aku akan diam saja dengan semua kejadian ini. Ini rumah sakit, aku hanya menahan rasa marah. Daripada terjadi sesuatu yang tak terduga, ada baiknya kalian pergi.”
Marion dan Tiara masih diam di posisi masing-masing, meskipun raut takut sudah tercetak di wajah keduanya.
“Pergi!” hardik Darrel, hingga membuat pandangan mata beberapa pengunjung rumah sakit terarah padanya.
Akhirnya, Marion dan Tiara memilih untuk pergi. Pertama, memang khawatir dengan kondisi Nara, tapi lebih khawatir lagi kalau harus berhadapan dengan Darrel. Kedua, setidaknya keduanya tahu kalau Darrel mencemaskan Kinara.
Beberapa saat berlalu, ia masih berada di dalam kecemasan yang tak berujung. Lebih tepatnya, hingga dapat kabar tentang keadaan nara, ia belum bisa tenang. tiba-tiba pintu ruang IGD dibuka dari arah dalam, tampak dokter keluar dari sana.
“Bagaimana kondisi dia, Dokter?’
“Pasien kehilangan banyak darah hingga menyebabkan syok Hipovolemik. Bukan hanya satu titik, tapi dua pendarahan sekaligus. Saat ini kondisinya dalam keadaan kritis.”
Tak pernah merasakan sakit, bahkan ia sangat penasaran seperti apa rasa itu. Tapi sekarang, kabar tentang keadaan Kinara justru sukses membuat merasakan sakit di hati. Rasanya sangat sakit, hingga bingung harus mengungkapkannya.
“Pendarahan sudah ditangani, sekarang menunggu kondisi pasien agar ...” Menghentikan kata-katanya. “Lebih tepatnya, kita berharap semua akan baik-baik saja setelah melakukan tranfusi darah, hingga pasien bisa melewati masa kritis.”
Hanya memberikan anggukan sebagai responnya dengan semua penjelasan itu. Ingin rasanya berteriak, memaki, melampiaskan rasa yang sepetinya sedang tertahan ... hanya saja mencoba untuk tetap tenang.
“Maaf, jika saya salah orang. Bukankah Anda Darrel, pengusaha itu?”
Darrel mengangguk, mengiyakan tebakan dokter.
“Anda kekasihnya?”
Sedikit terdiam, awalnya. Tapi akhirnya ia mengangguk juga. “Iya, saya kekasihnya.”
“Bisa ikut saya untuk mengurus berkas-berkas pasien. Karena, selama melewati masa kritis, pasien akan berada dalam ruangan ICU.”
“Baik.”
Jadilah, Darrel mengikuti langkah dokter wanita itu untuk mengisi data-data tentang Kinara. Untungnya, ia sudah menelisik data diri Kinara beberapa kali, hingga saat mengisi data, tak harus membuatnya bingung.
“Maaf kalau boleh saya tahu, kemana orang tua pasien?”
“Dan asal dokter tahu, dia terluka seperti itu berkat ulah orang tuanya.”
Setelah mengatakan hal itu, Darrel segera berlalu dari ruangan itu. Bukan tipenya yang akan bicara panjang lebar dengan seseorang yang tak ia kenal. Mengisi data diri, kan ... toh, sudah ia berikan.
Kembali berjalan cepat melewati lorong-lorong rumah sakit. Kemudian duduk di kursi tunggu, yang berada di depan ruang ICU sambil menelepon seseorang.
“Hallo.”
“Masih di rumah sakit?”
“Jangan bilang kalau lo bikin luka lagi.”
“Gue lagi di rumah sakit sekarang. Ruang ICU.”
“Apa?!”
Darrel langsung saja menutup percakapan itu, kemudian kembali ke posisi duduk. Menyenderkan punggung di kursi, berusaha menenangkan detak jantungnya yang terasa tak karuan. Entahlah, pokoknya perkara Kinara ... pasti efeknya benar-benar terasa pada jantungnya.
Tak lama, tampak seseorang berlari cepat di lorong.
“Lo nggak apa-apa, kan? Luka di bagian mana?”
Saat sampai langsung khawatir dan memeriksa kondisi Darrel. Karena matanya langsung disuguhi darah yang sudah tampak mengering. Dari kepala hingga ... hingga akhirnya ia sadari kalau sobatnya ini dalam keadaan baik-baik saja.
“Lo bohongin gue?”
“Gue baik-baik saja, Za.”
“Lalu?” Reza memasang muka kesal sambil bersidekap d**a. Tentu saja, ia merasa di prank. Padahal ia berpikir kalau Darrel terluka parah. Tahu sendiri, kan, dia mau mati sekalipun karena luka, tak akan merasa sakit di tubuhnya.
“Kinara yang terluka, dia yang ada di ruang ICU.”
“Kinara?”
“Hmm.”
“Cewek yang ...”
“Iya.”
Tak bertanya lagi, Reza mengajak Darrel masuk ke dalam ruang ICU. Di dalam, bertemu dengan suster jaga. Reza meminta berkas hasil pemeriksaan dan kondisi Kinara.
Sementara itu, Darrel malah fokus pada gadis yang tampak benar-benar pucat, masih tak sadarkan diri di ranjang. Beberapa alat bantu pernapasan juga berada di tubuh dia.
Mendekati Kinara, tak tampak sama sekali tanda-tanda dia akan bangun dan membuka mata. Perlahan, menyentuh punggung tangan dia dengan lembut. Rasanya begitu dingin, tapi ia tak bisa memberikan rasa hangat. Perban juga melingkar di pergelangan tangan dia, di mana luka yang jadi pusat utama berada. Termasuk di bagian leher.
“Kamu tahu, Nara ... beberapa hari mengenal, tapi kamu sudah berada di titik terpenting dalam hati dan kehidupanku. Itu artinya, jika kamu tak baik-baik saja, itu juga yang tengah ku rasakan,” bisiknya.
Berjalan mundur, kemudian keluar dari sana di saat Reza masih sibuk meneliti hasil pemeriksaan Kinara. Tak lama, ia menunggu, Reza pun menyusul keluar dari sana. Duduk di sebelahnya yang menunggu di kursi tunggu.
“Kondisinya masih kritis. Penyebabnya adalah ... karena dia kehilangan banyak darah, bahkan sampai 40 persen. Telat sedikit lagi elo bawa dia ke rumah sakit, bisa-bisa nyawanya nggak bisa tertolong,” jelas Reza.
“Bagaimana dengan sekarang?”
“Masih kritis, tapi setidaknya kondisi dia tak seburuk seperti saat datang.”
Darrel kembali diam, tapi pikirannya melayang kemana-mana.
“Awalnya gue nggak percaya, tapi melihat ekspressi elo saat mendapati dia seperti itu .. gue percaya sekarang. Bukan hanya bisa membuat elo merasakan sebuah rasa, tapi lihatlah ... dia juga bisa membuat perasaan lo jadi nggak karuan, Darrel.”
Darrel tak membalas satu katapun dari semua pernyataan Reza. Entahlah, rasanya tak ingin mendebatkan sesuatu di saat ini. Karena fokus otaknya seolah tertuju pada keadaan Kinara.
“Ikut gue, ganti baju.”
Reza beranjak dari posisi duduknya dan berjalan lebih dulu. Sesaat kemudian barulah Darrel mengikuti langkah sobatnya itu.