Tak pernah merasakan yang namanya kekhawatiran dalam hidupnya. Seolah sentuhan fisiknya tak berfungsi, hingga berlarut ke perasaan bathin. Tapi sekarang, Semua rasa itu muncul dalam waktu bersamaan. Khawatirnya ia pada Kinara, seolah mengobrak-abrik kehidupannya dalam satu kali tepukan.
“Lo masih mau di sini?”
“Menurut lo gue bakalan pulang?”
“Trus, guna orang-orang yang lo suruh berjaga di depan pintu masuk untuk apa?” Bukan hanya di depan pintu masuk, bahkan di depan pintu masuk rumah sakit pun dia letakkan beberapa orang suruhannya.
“Untuk memastikan, kalau tak akan ada Marion ataupun Tiara yang tiba-tiba muncul di sini.”
“Dan lo harus sadar, kalau mereka adalah orang tuanya KInara."
“Lo nggak tahu seperti apa asli dan bentukan sepasang manusia yang berstatus orang tua itu. Gue tahu aslinya dan gue paham isi otak mereka.”
Reza berdiri dihadapan Darrel yang duduk di kursi, kemudian bersidekap d**a. “Iya, Darrel. Dan gue juga tahu, kok ... perasaan lo pada Kinara seperti apa. Tapi yang harus gue peringatkan, jangan terlalu membuka hati pada seseorang yang baru dikenal. Karena apa? Orang yang sudah lama dikenal saja bisa menusuk, bukan nggak mungkin pada dia yang baru lo kenal.”
Baru beberapa detik Reza bicara, tiba-tiba seseorang yang entah datang dari mana, menabraknya hingga jatuh. Bukan hanya jatuh, tapi posisi jatuh itu membuat dirinya seakan berniat mati saat itu juga.
Sepasang mata itu sama-sama membola, dengan apa yang tengah terjadi.
“Lo nggak kenal cewek ini, kenapa malah ciuman?” tanya Darrel dengan wajah santainya, melihat sebuah adegan di depan matanya.
Sontak adegan yang tak dikehendaki itu tiba-tiba terlepas. Bukan itu saja, seorang gadis yang kini berada di atas badannya dengan membabi buta menghajarnya layaknya sebuah samsak.
“Dasar! Cowok m***m. Mengambil kesempatan dalam kesempitan! Rasakan ini.”
“Menyingkir dari badanku!”
Gadis itu langsung beranjak saat teriakan itu menghampiri telinganya. Lupa di mana posisinya.
Reza meringis memegangi pipinya yang kena amukan gadis gila yang sepertinya jatuh dari atas plafon. Mimpi apa dirinya semalam, hingga malah berhadapan dengan manusia tak punya sopan santun seperti ini. Parahnya lagi malah kejadian di rumah sakit, hingga dirinya jadi bahan tawa pengunjung dan beberapa perawat. Dan bisa-bisanya malah dihadapan Darrel, habislah ia kena ledekan.
Saat sudah puas menghajarnya, kini dengan cepat dia berniat kembali melampiaskan hal itu padanya. Tentu tak terjadi, karena ia langsung menahan serangat itu.
“Di sini saya yang jadi korban, kenapa malah Anda yang mengamuk kesetanan?!”
“Saya sebagai seorang cewek menuntut pertanggung jawaban atas sikap Anda ...” Menghentikan kata-katanya, kemudian menelisik pakaian yang dikenakan Reza dari bawah hingga atas, hingga nama yang tertera di seragam. “Ya ampun, Dokter Reza. Anda seorang dokter dan ... jangan-jangan Anda sering melakukan pelecehan terhadap ...”
Perkataan gadis itu seketika terhenti saat tangan Reza dengan cepat membekap mulut dia. Serius, ya ... baru kali ini dirinya ketemu cewek yang bisingnya melebihi knalpot bajai.
“Apa yang kamu katakan!”
Tapi mata gadis itu malah fokus pada Darrel yang duduk diam di tengah pertengkarannya dan Reza. Dengan kuat menyingkirkan tangan Reza di mulutnya.
“Darrel, aku sahabatnya Nara. Dia di mana?”
Iya, dan gadis yang jadi korban tabrakan dengan Reza adalah Zila. Sahabat Kinara sendiri.
Dahi Darrel berkerut mendengar itu. Bukan apa-apa, ya ... cuman ia memang nggak mengenal teman Kinara. Hanya saja ia pernah mendengar kalau dia punya dua orang sahabat dekat dan sekadar tahu nama saja.
“Lepasin dulu dong,” kesal Zila pada Reza yang terus saja berniat menutup mulutnya. Nyebelin banget ini cowok, kalau bukan karena khawatir tentang Kinara, sudah ia perkarakan dia ke jalur hukum karena sudah menciumnya tanpa ijin.
“Nama?”
“Aku Zila.”
Darrel meminta Reza untuk melepaskan Zila dari cengkeraman sobatnya. Karena meyakini kalau dia benar-benar sahabatnya Kinara.
Saat lepas, karena masih mode kesal ... langsung saja Zila menendang tulang kering Reza dengan sengaja hingga cowok itu mengaduh dan terduduk di kursi menggosok-gosok kakinya.
“Kamu ...” Bingung harus berekspressi. Rasa sakit di tulang keringnya masih lebih sakit.
“Kinara ada di mana? Kondisinya baik-baik saja, kan?” langsung menyerang Darrel dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Jujur, ia cemas. Dan kecemasannya itu bukan pertama kali. Tapi sudah beberapa kali.
“Kondisinya masih kritis.”
“A-apa?!”
“Dia kehilangan banyak darah. Hingga detik ini kondisinya masih belum membaik.”
“Dan kalau kamu di sini hanya untuk bikin heboh, mending pulang sana! Nggak habis pikir, ada cewek bar-bar kayak gini,” umpat Reza masih dendam kesumat pada Zila.
“Dokter gadungan, ya? Cerewet banget, sih,” respon Zila.
“Siapa yang memberitahumu?”
“Itu, tadi mau nganterin buku ke rumah dia, tapi malah ketemunya sama Tante Tiara. Trus beliau ceritain semuanya,” jelas Zila. “T-tapi, semua itu nggak benar, kan?”
“Menurutmu?”
“Enggak,” jawab Zila.
“Dia bilang apa?”
“Bilang Nara bunuh diri karena kesal padamu.”
Reza malah terkekeh mendengar perkatan Zila.
“Dengar, kan, sob. Seperti apa tipe manusia yang bakalan jadi calon mertua elo.”
Darrel menatap Reza tajam, saat perkataan dia terlalu membuka semua permasalahan di depan Zila. Kinara saja belum tahu semua ini, dengan santainya Reza malah mengumbarnya.
“Calon mertua?” tanya Zila penasaran dengan perkataan Reza. “Maksudnya, Kinara dan kamu ...”
“Abaikan perkataan Reza. Otaknya terbentur di lantai saat kamu tabrak,” respon Darrel seolah mengalihkan pertanyaan penasaran Zila.
Menarik napasnya panjang, saat lagi-lagi malah dirinya yang jadi bahan keburukan Darrel. Dan sebagai sahabat yang baik, ia hanya bisa memasang muka pasrah.
Di saat yang bersamaan, ponsel milik Reza berdering. Ia seegra merogoh saku untuk melihat siapa yang menelepon di jam kerja begini.
“Lo nggak bawa HP?” tanya Reza pada Darrel.
“Mungkin ketinggalan di mobil.”
“Tante Inggrid sampai nelepon gue. Itu artinya ada hal yang penting,” ujar Reza memperlihatkan layar datar itu pada Darrel.
“Jawab aja.”
Sementara Zila, berasa berada dalam percakapan makhluk-makhluk yang tak dikenal.
“Hallo, Tante.”
“Darrel mana, Za? Tante telepon nggak dijawab-jawab sama dia.”
Reza melirik ke arah Darrel, seolah tahu saja apa yang diperintahkan padanya. Apalagi kalau berbohong. Kebiasaan sobatnya ini, pasti kalau ada masalah yang tak ingin diketahui oleh orang tua dia, meminta dirinya untuk ikut andil.
“Masih jam kerja, Tante. Biasanya dia juga nggak akan merespon di jam segini, kan.”
“Iya, Za. Tante cuman mau bilang, kalau hari ini Om sama tante akan pulang. Sekarang kami sudah di bandara, mau cek ini.”
Mata Darrel membola, kemudian mengarahkan pandangan horornya ke arah Darrel. Sementara sobatnya itu hanya bingung dengan ekspressi yang ia tunjukkan.
“Tante pulang ke Indonesia?” tanya Reza.
Seketika Darrel baru sadar dengan raut muka Reza barusan. Ternyata orang tuanya malah mau balik sekarang.
“Iya, Za. Dadakan, sih ... makanya sesempatnya Tante hubungi Darrel. Tapi anaknya malah nggak jawab-jawab.”
“I-iya, Tante ... nanti aku kasih tahu dia.”
“Makasih ya, Za.”
Menutup percakapan dengan mamanya Darrel di telepon. Kemudian menatap ke arah sobatnya yang memasang muka stress.
“Dengar, kan, barusan. Orang tua lo balik hari ini. Jadi ...”
“Harusnya lo bilang gue ada tugas ke luar kota atau apa gitu.”
Reza menarik napasnya panjang, sepanjang kekesalannya saat ini. Pertama, Zila. Kedua, Darrel. Kenapa dua manusia ini sukses membuatnya kesal di waktu yang bersamaan?
Di saat dua cowok dewasa sibuk adu argument dan pendapat seolah tak menemukan titik terang, Zila merogoh tasnya untuk mengambil ponsel miliknya yang berdering.
“Tante Tiara,” gumamnya.
Bersiap untuk menjawab, tapi semua gagal karena Darrel dengan cepat meriject panggilan yang berasal dari mamanya Kinara.
“Loh, kok diriject. Itu dari mamanya Nara, loh.”
“Aku tahu, makanya ku riject,” balas Darrel.
“Kenapa? Kan beliau juga penasaran sama kondisi Nara.”
“Pertama, aku nggak membiarkan mereka tahu menahu lagi dengan keadaan Kinara. Kedua, Karena ulah mereka lah Nara sampai seperti ini. Ketiga, kalau kamu memang sahabat Nara, harusnya tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Keempat, kamu mengaku sahabat, tapi pernahkah perduli dengan keadaan dia? Pernahkah bertanya, apa masalah yang dia hadapi sebenarnya?”
Darrel beranjak dari posisi duduknya, menarik napas panjang. Menunjuk ke arah Reza yang masih duduk di kursi.
“Dia sahabatku, dia juga sepupuku. Daripada orang tuaku sendiri, mungkin jauh lebih tahu tentang kondisi dan keadaanku. Itu perbedaan antara sahabat, dengan seseorang yang hanya mengaku-ngaku jadi sahabat.”
Setelah mengatakan hal itu, Darrel berlalu pergi dari sana.
Zila masih diam karena dibungkam oleh kata-kata yang diucapkan Darrel. Karena apa? Secara tidak langsung apa yang dia katakan memang benar adanya. Merasa sebagai seorang yang mengaku sahabat, tapi baik dirinya maupun Faye seolah tak tahu apa masalah yang dihadapi Nara sebenarnya.
“Tiba-tiba seorang sahabat ragu akan arti sahabat,” ujar Reza menyindir.
Zila melemparkan tatapan tajam pada Reza yang seperti sedang meledeknya karena mendapat ocehan panjang dari Darrel.
Reza berniat pergi, tapi langkahnya terhenti saat Zila menarik tangannya hingga ia kembali terduduk di kursi.
“Kamu ...”
“Aku boleh masuk untuk melihat kondisi Nara?”
“Nggak boleh,” jawab Reza langsung. “Dengar, kan, apa yang dikatakan Darrel barusan. Atau, silakan saja kamu hadapai orang-orang suruhannya Darrel di depan pintu sana. Siapa tahu kamu beruntung dan bisa masuk.”
Kembali beranjak dan melangkah pergi dari sana. Cukup sudah beberapa waktunya terbuang karena menghadapi cewek sejenis Zila. Berharap bertemu cewek kalem dan tahu tata bersikap, ini malah ketemunya sama Cewek bar-bar yang malah memberikannya sebuah ciuman di awal pertemuan. Kan, bikin darah tingginya jadi naik.
“Dokter, ijinin dong.” Zila malah mengejar Reza yang pergi meninggalkannya. “Janji deh, aku nggak akan berbuat yang aneh-aneh.”
“Jangan mengikutiku! Pergi sana.”
“Pliss, dokter Reza yang baik hati dan tidak sombong. Ayolah.”