BAB : 38

1499 Kata
Darrel menuju mobilnya di parkiran. Ya, apalagi kalau bukan menelepon balik mamanya yang katanya akan kembali ke Indonesia. Jujur, ya ... ini bukan waktu yang tepat untuk mereka kembali, di saat fokusnya pada Kinara. Mencoba menghubungi, tapi sepertinya kedua orang tuanya sudah berada di dalam pesawat, karena kedua nomer ponsel tak aktif saat ia hubungi. Memutuskan kembali masuk, untuk terus menemani Kinara selama masa perawatan. Entah perasaan apa sebenarnya ini, hingga gadis itu tiba-tiba saja jadi orang yang terpenting dalam hidupnya. Sampai di salah satu lorong, tampak salah seorang bawahannya menyusulnya dengan sedikit berlari. “Ada apa?” “Dokter mencari Anda, Bos.” Lanjut melangkah dengan lebih cepat. Takut saja jika dokter mencarinya karena ada sesuatu yang membahayakan Kinara. Bukan apa-apa, hanya saja ia terlau khawatir. Sampai di depan ruang ICU langsung berhadapan dengan dokter yang menangani Kinara. Memberikan senyuman hangat padanya. “Kondisi pasien sudah membaik. Dia sudah melewati masa kritis.” Seperti baru saja lolos dari medan perang dengan keadaan hidup tanpa luka. Itulah yang dirasakan Darrel saat ini. bahkan, saking cemasnya ia akan kondisi Nara, otaknya seolah tak bisa berpikir jernih lagi. “Meskipun kondisinya masih terlalu lemah, tapi kondisinya cepat sekali membaik. Jadi, kemungkinan untuk segera sadar juga akan besar.” “Makasih, Dokter,” ucapnya. Dokter wanita itu tampak bingung, ya. Antara percaya dan tidak, kalau Darrel adalah kekasihnya Kinara. Karena ekspressi dia terlalu biasa ketika mendengar kabar bahagia ini. “Tapi, ada satu hal yang sepertinya akan jadi masalah saat dia tersadar nanti.” Dahi Darrel berkerut saat mendengar peringatan Dokter yang ... jujur saja, tiba-tiba rasa khawatirnya kembali muncul. Karena dari pernyataan yang dia berikan, membuktikan kalau hal yang itu sedikit tak bagus. “Apa itu?” “Sepertinya dia mengalami hal yang tak baik beberapa waktu terakhir. Seperti sebuah tekanan bathin dan mental yang terus tertahan, hingga menyebabkan sebuah serangan di otaknya. Karena saya yakin, ini bukanlah tindakan pertama yang pernah dia lakukan.” “Dokter benar.” Perkataan itu membuat Darrel dan Dokter itu mengarahkan pandangan pada asal sumber suara. Yap, terl;ihat Zila yang kembali datang menghampiri. “Masih di sini ternyata,” gumam Darrel. “Dokter benar,” ujar Zila lagi. “Sebenarnya Nara udah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, bersyukurnya tak pernah berhasil. Karena nggak senekad sekarang juga. Dan itu bukan dia lakukan akhir-akhir ini, tapi saat duduk di bangku SMA dia mulai lakukan itu.” “Ku pegang penjelasanmu,” peringatkan Darrel akan pengakuan Zila. “Itu serius, karena aku dan dia udah kenal semenjak kecil,” balas Zila meyakinkan Darrel. “Kita dekat, tapi tak bisa sembarangan dan bebas seperti pertemanan anak-anak yang lain. Banyak batasan dalam kehidupan dia. Dan karena masih berpikiran layaknya anak remaja itulah, ketika dia melakukan tindakan untuk mengakhiri hidupnya, tak pernah berhasil. Tapi kini ...” Zila menghentikan kata-katanya. “Ini adalah yang paling berakibat fatal.” Dokter mengangguk, seakan mulai memahami situasi dan kondisi terdalam dari Kinara. “Bisa kita ambil kesimpulan, bukan ... kalau ada masalah dalam pikiran dan perasannya. Jadi, kemungkinan terburuknya ketika dia sadar adalah ... tingkat depressi akan semakin tinggi. Itu artinya, menjaga perasaan, emosi, dan ketenangan adalah hal yang paling utama.” Dan kini Darrel yang merasa otaknya seakan frustasi berat. Bagaimana tidak. Pelaku utama dalam permasalahan yang dihadapi Kinara adalah orang tua dia sendiri. Marion dan Tiara. Jadi, bagaimana caranya dia hidup di tengah-tengah orang seperti itu. “Saya bukan menakuti, tapi memang begitulah kondisi dia saat ini. jadi, kesehatan dan keadaan dia selanjutnya, tergantung orang-orang di sekitarnya.” “Terimaksih infonya, Dok. Saya usahakan,” respon Darrel singkat. Apalagi yang akan ia katakan kalau bukan itu. Karena di sini posisinya bukan siapa-siapa bagi Kinara. Jadi, makin dibuat bingung harus melakukan tindakan apalagi. “Bisa temui pasien di ruang perawatan satu jam lagi, ya.” Dokter berlalu pergi, meninggalkan semua. Darrel menjauh saat mendapatkan telepon dari seseorang. Mungkin sekitar sepuluh menit berlalu, Darrel kembali pada Zila dan juga Reza. “Kenapa?” tanya Reza melihat raut tak mengenakkan di wajah Darrel. “Ada masalah?” “Ada masalah di kantor.” Reza memutar bola matanya. “Dan masalahnya gue nggak bisa bantuin, jika itu masalah kerjaan,” respon Reza. Otaknya tak bisa berjalan sempurna kalau sudah perkara dunia bisnis, kecuali kalau dihadapkan pada sebuah penyakit, atau ilmu kesehatan, bisalah ia bantu. “Ish, ish ... sahabat macam apa yang nggak bisa bantuin temannya di saat susah,” ejek Zila seolah sedang menyerang reza dengan sengaja. “Diam, mulut menjengkelkanmu itu,” umpat Reza tak terima. Heran, ini cewek seolah tercipta sebagai musuhnya saja. Padahal dia yang memberikan sebuah masalah buruk di awal, hingga akhirnya sampai berlanjut hingga detik ini. Darrel melirik waktu di jam yang ada di pergelangan tangannya. tampak waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. “Gue ke kantor bentar, bisa tolong jaga dia?” “Siap!” Zila paling semangat. “Aku, bukan kamu,” komentar Reza saat Zila malah yang merasa diberi tugas oleh Darrel. “Baiklah, kalian berdua saja. itu lebih baik.” Zila tersenyum puas, setidaknya ia bisa ketemu dan memastikan kondisi Nara. Tapi tidak dengan Reza, yang justru memberikan muka masam. Bisa-bisanya Darrel memasangkannya dengan bocil bar-bar ini. Darrel langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Sejujurnya ia tak ingin pergi, meskipun baik Reza ataupun Zila, bahkan beberapa orang yang ia minta jaga standby di sini. Tapi, urusan di kantor kali ini memang harus dirinya sendiri yang mengurus. Dan yap, kali ini sesuai permintaan darrel, Zila dan Reza menemani Kinara yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Selang oksigen, selang tranfusi darah dan juga selang infus ... semua itu masih stay di badan dia. Seperti penjelasan Dokter, kondisi dia memang sudah membaik, tapi bukan berarti seketika pulih. Reza sibuk dengan ponselnya dan duduk di sofa, sedangkan Zila duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Kinara. Tapi tiba-tiba dia beranjak dari posisi duduknya dan berpindah duduk di sofa, samping Reza. Mata Reza yang awalnya fokus pada benda pipih itu, kini melirik ke arah gadis yang sedang menatapnya fokus. “Jangan melihatku seperti itu.” “Nggak merasa melakukan sebuah kesalahan padaku?” “A-apa?” Zila memutar bola matanya kesal. Rasanya ingin berkoar-koar, tapi sayang semuanya tertahan. Yakali ia mengamuk di saat Kinara masih belum sadar. Bisa-bisa ia diamuk oleh darrel, kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada kekasih dia. Eh, kekasih? Sebuah pertanyaan besar sedang menghantui pikirannya. “Apa hubungan Nara dan Darrel?” ‘Tak perlu ku jawab. Bukannya kamu sudah dengar sendiri Darrel mengakui Kinara sebagai apa saat Dokter bertanya?” “Iya, tapi ... masa iya Darrel dan Nara, jadian gitu?” Reza menghela napasnya kesal. “Dasar! Bocah. Kamu pernah pacaran nggak, sih? Pernah ngerasain jatuh cinta nggak, sih? Kenapa hal sesimple itu tak bisa kamu pahami?” Zila memasang muka masam. “Dasar! Dokter m***m. Aku bukan bocah. Meskipun bodyku nggak se-big size cewek yang ada di wallpaper ponselmu, setidaknya aku bisa jaga diri dari hal yang buruk. Bisa nggak, sih, beranggapan sedikit baik padaku. Aku nanya juga baik-baik, loh.” Berasa hal privasinya diketahui, Reza seketika mode ciut. Bisa-bisanya dia tahu wallpaper ponselnya. Kapan dia mengintip? “Jadi gimana? Darrel serius jadian sama Nara?” “Aku nggak tahu.” “Dokter Reza, kenapa, sih, kamu ngeselin banget!” “Begini, ya ... bocil.” Ingin rasanya menabok kepala Reza, saat dirinya dberi panggilan menyebalkan itu. “Jangankan kamu, aku saja juga baru tahu tadi. Iya, perkara perasaan Darrel pada Kinara, sedikit banyak aku memang tahu. Karena aku yang jadi tempat dia curhat. Hanya saja, dia nggak pernah bilang kalau jadian sama Nara. Jadi sekarang, apa ini salahku juga di matamu?” Menghembuskan napasnya lega, ketika penjelasan panjang baru saja ia akhiri dan semoga Zila paham. Dan jika dia masih belum paham, akan ia benturkan kepala dia ke tembok. Keduanya hening, tapi tiba-tiba pendengaran mereka malah terusik oleh suara sesuatu. Apalagi kalau bukan cacing-cacing di perut Zila yang minta jatah makan. Maklum, dia dari sore di sini dan sekarang sudah malam. Gimana nggak lapar. Apalagi berhadapan dengan Reza, efek lapar makin bergejolak. Sama seperti rasa kesal dan ingin menonjok. “Kamu lapar?” Zila mengangguk dengan tampangnya yang dibuat semenyedihkan mungkin. “Kenapa nggak bilang dari tadi.” “Sebagai seorang cowok, harusnya bisa peka dong.” “perutmu, kenapa juga aku yang harus peka. Aneh.” Reza beranjak dari posisi duduknya. “Dokter mau kemana?” “Nyari kursi roda, buat bawa kamu ke kamar mayat.” “Heh!” “Nyari makan lah. Bukannya dirimu lapar. Aku ini baik hati, meskipun kamu kasih serangan ciuman tiba-tiba pun, aku tetap baik. Jadi, jangan kemana-mana dan tetap di sini. Ingat, kan, pesan Darrel. Terjadi apa-apa sama Nara, kepalamu jadi tumbal.” Alhasil, jadilah Reza keluar pergi mencari makanan untuk Zila. Sedangkan Zila sendiri, menunggui Nara yang masih belum sadarkan diri. “Baru tahu gue, kalau seorang dokter ternyata bar-bar. Padahal di mata gue, dokter itu pake mode kalem semua. Ternyata, selama ini merasa dibohongi oleh sikap pas pemeriksaan,” pikir Zila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN