BAB : 3

1016 Kata
Mobil berhenti, sopir membuka pintu untuk keduanya turun. Darrel sudah turun, tapi tidak dengan Kinara yang masih duduk diam. "Ayo, keluar," perintah Darrel. "Ngapain?" "Membuat anak ayam, jadi induk ayam." Pelototan tajam Nara menusuk langsung ke arah Darrel. Bikin kesal banget, kan, ini orang. Dikira dirinya sejenis ayam ayaman. "Jangan membuatku kesal di hari pertamamu bekerja denganku, Nara!" tegasnya menarik Kinara turun dari mobil. Tak sampai  di situ, Darrel malah membawa paksa dia memasuki sebuah butik. Seorang pegawai butik menghampiri keduanya dengan ramah. "Tumben Bapak Darrel datang di jam kerja?" tanya wanita itu dengan sopan. "Ganti pakaiannya," suruh Darrel. "Ganti?" tanya Nara. "Aku nggak mau," tolak Nara. Menatap horor ke arah Nara. "Ganti atau aku yang gantiin?" Nara kaget. Ia langsung saja menyambar tangan pegawai butik untuk segera mencari pakaian ganti untuknya. Yang benar saja Darrel mau menggantikan pakaiannya. Bukan hanya nyebelin, ngeselin, sok berkuasa, tapi dia juga m***m. Beberapa saat kemudian, Nara kembali pada Darrel dengan pakaiannya yang sudah berubah. Masih dress selutut, mungkin hanya berbeda model dengan yang tadi. "Sengaja mau membuang buang waktuku?" Seakan tahu maksud Darrel, Nara langsung balik ke bilik ganti untuk kembali berganti busana. Lagi, Nara keluar dan berdiri dihadapan Darrel. "Gimana dengan yang ini?" Untuk kedua kalinya Darrel seolah jadi juri. Kali ini ia tak berkomentar, tapi justru menarik lengan Nara menuju deretan pakaian. Mendapatkan apa yang dicari, langsung saja ia dorong gadis itu masuk ke bilik ganti. Menunggu untuk yang ketiga kalinya, ini yang terakhir. "Nara cepetan!" "Yakin, nih ... aku pake pakaian ini?" Darrel tak menjawab pertanyaan itu, tapi malah langsung saja membuka tirai penutup di mana Nara ada di dalamnya. Terlihat raut kaget di wajah Nara saat sikap Darrel yang tak tahu sopan santun. "Astaga! Keterlaluan banget, tahu nggak. Untung aku udah pake pakaian," umpatnya kesal. Apa kabar jika saat Darrel membuka tirai dan ia masih ... tak bisa dibayangkan. Tatapan menelisik ditujukan Darrel pada Nara. Bahkan dia seolah meneliti dari atas kepala gadis itu hingga ujung kaki. "Bapak Darrel, jangan bilang kalau Anda sedang terpesona?" Goda Nara melihat tampang diam Darrel yang menatapnya. Darrel tersadar, berbalik badan dan mencari sesuatu. Yap, sebuah hels 12 centi berwarna perak disodorkannya pada Nara. "Haruskah mengenakan hels?" "Wajib," jawabnya cepat. Perubahan yang signifikan, bukan. Tadi di rumah ia menolak dengan keras saat mamanya memberikan stelan pakaian kantor. Tapi pada akhirnya ia malah dibuat pasrah oleh seorang Darrel. Selesai mengubah anak ayam menjadi induk ayam, kata Darrel ... kini keduanya kembali ke kantor. Di perjalanan Nara hanya diam, tapi tangannya malah sibuk menutupi paha hingga kaki jenjangnya yang terbuka begitu saja. Sumpah, rok span ini membuatnya tak leluasa bergerak. Apalagi berada di dekat Darrel. Berasa nggak aman tahu nggak. Apalagi sikap dia tadi, yang membuka begitu saja tirai saat ia berganti pakaian. "Bisa duduk diam, kan?" "Sengaja memaksaku mengenakan rok sempit begini. Aku susah napas," keluhnya. Alasan doang, sih ... agar Darrel merasa bersalah saat ia dipaksa berganti pakaian. Biasanya ia mengenakan rok pendek juga, hanya saja model span ini benar benar karet yang ketat. Darrel mengambil sweater ... kemudian meletakkan di atas pangkuan Nara. "Aku juga tak akan tergoda, jadi jangan takut," gumam Darrel seakan meledek penampilan Nara. Meskipun ia akui jika penampilan gadis ini berubah pesat saat berbeda pakaian. Apa ini sebuah ledakan? Tentu saja. Karena tipe Darrel itu adalah jenis manusia yang sering bikin sakit hati. Mobil berhenti, saat Nara akan keluar Darrel menghentikan niatanya. "Apa ada yang salah lagi, Bapak Darrel yang terhormat?"  Bicara formal dengan nada manis ala ala bawahan pada bos nya. Darrel dengan sengaja menarik kunciran rambut Nara, hingga rambut panjang hitam sepinggangnya tergerai begitu saja. "Haruskah begini?" Mau kesal, tapi takut juga kalau diamuk. "Hmm," angguk Darrel. Tadi ia datang ke kantor dengan dress selutut, sepatu kets, dan hand bang di punggungnya. Tapi sekarang saat kembali, malah mengenakan rok span  pendek, blus, hels, dan rambut digerai. Auto saat memasuki area kantor dan berjalan bersama Darrel, semua mata memandang fokus padanya. Darrel berhenti di tengah tengah lobi. "Perhatian semuanya!" Semua karyawan yang berada di sana, berfokus pada bos besar itu. Dia menarik Nara untuk berdiri di sebelahnya. "Namanya Kinara," ujar Darrel. Nara sedikit mengumbar senyum. Jujur saja, saat jadi pusat tatapan banyak orang, itu adalah hal yang menegangkan. "Mulai detik ini dia akan menjadi sekretaris pribadi saya. Jadi ..." "Sekretaris pribadi?" tanya Nara memasang tampang kaget. Darrel menatap fokus pada Nara, seakan akan sedang bertanya, kenapa? Kamu nggak setuju? Menghela napas berat, mau komentar tapi tatapan Darrel seakan langsung menusuk jantungnya. "Baiklah," keluhnya. Selesai pemberitahuan dadakan di Loby, kini Darrel segera menuju ruangannya dengan Nara. Sampai di ruangan yang sekelilingnya tertutup kaca, Nara mengempaskan bokongnya di sofa seakan melepas penat. "Ke sini mau apa?" "Kerja." "Belum apa apa sudah mengeluh. Atau, mau ku kembalikan sama papamu?" "Aku di sini tanpa gaji, pakaianku diatur olehmu, dan sekarang kamu sedang berniat agar papaku meblokir semua akses pemasukan. Jahat, tahu nggak!" Umpatnya kesal. "Itu deritamu, tak ada huhungannya denganku," balas Darrel mulai fokus pada pekerjaannya. Karena kesal, Nara malah menanggalkan hels di kakinya dan reflek melempar pada Darrel. Padahal ia berpikir kalau cowok itu akan mengelak, karena niatnya pasti jelas terbaca. Hanya saja malah sebaliknya, karena benda itu tepat mengenai dahi Darrel. Tak ada respon dari Darrel, padahal Nara berpikir dia akan mengaduh kesakitan. Merasa bersalah, Nara segera menghampiri Darrel dan meminta maaf. Kemudian memeriksa dahi cowok itu, yang dengan nyata terlihat jelas bekas membiru. "Aku minta maaf, bukan bermaksud bikin kamu terluka," ucapnya merasa bersalah. Darrel masih belum bereaksi apa apa, justru ia malah fokus pada Nara yang berada begitu dekat dihadapannya. "Kotak obat mana?" tanya Nara pada Darrel. "Buat apa?" tanya Darrel bingung. Tentu saja pertanyaan Darrel membuat Nara kesal. "Ternyata benar, ya, kamu memang ada perasaan sama sekali. Membuatku kesal tanpa mikirin perasaanku, dan sekarang kamu itu terluka, seolah olah mati rasa." Selesai bicara Nara berlalu pergi dari ruangan dengan kaki tak beralas. Pandangan Darrel masih fokus menatap gadis itu hingga hilang dari pandangannya. Mengambil ponsel, kemudian mengecek dahinya dengan mengaktifkan mode kamera. Terlihat bekas membiru di sana. "Tak punya perasaan, mati rasa," gumamnya. Kemudian tersenyum di sudut bibirnya dengan paksa. "Kamu benar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN