BAB : 4

1073 Kata
Tak lama berselang, Kinara yang ia pikir tadi sudah melarikan diri pulang, ternyata kembali lagi. Bahkan itu membuat dirinya bingung. Tersenyum licik di sudut bibirnya mendapati dia yang berdiir dihadapannya. “Bukannya sudah pulang? Kenapa balik lagi?” “Siapa yang pulang?” tanya Nara balik dengan dahi berkerut. Pulang katanya, yang benar saja. Jujur, ia belum sanggup jika harus menghadapi sikap papanya yang nanti akan menyerangnya dengan ancaman dan mamanya dengan omelan. Sudahlah, bertahan sedikit lagi untuk hari ini adalah jalan terbaik. Nara yang tadinya berdiri di dekat meja Darel, kini berpindah tempat menuju kursi dia. Meletakkan kotak yang ia bawa dari luar barusan. “Mau ngapain?” “Masih bertanya aku mau ngapain?” “Tentu saja. Tahu, kan, sikap yang baik seorang bawahan pada atasan? Mau, sikap burukmu mnegurangi nilai yang ku berikan pada papamu nanti?” Nara sampai heran dengan pemikiran cowok bernama Darrel ini. Serius, ya ... dari awal bertemu hingga detik ini keduanya bersama, bahkan tak sekalipun dia bisa sedikit bersikap baik padanya. Pamaksaan, suka merintah dan sekarang? Memberikan ancaman. “Bapak Darrel yang terhormat, udah deh jangan berpikiran buruk terus padaku,” ujarnya mengeluarkan beberapa benda dari dalam kotak obat. Sebuah kapas, cairan antiseptik dan juga sebuah salep ia letakkan di meja. Sedangkan Darrel, hanya memberikan tatapan bingung padanya. Meskipun dia menyebalkan, tapi ada satu point yang membuat dia tampak berlebih. Apalagi kalau muka dia yang begitu manis. Iya, memasang mode kalem dan dingin ... tapi kelihatan manis saja jika dia diam. Nara sedikit membungkukkan badannya, hendak menyentuh dahi Darrel ... hanya saja si coewok ini lah sung menahan sikapnya. “Kamu mau apa?” “Dahi mu luka, makanya ini mau ku obatin. Paham?”| Diam, seolah Darrel itu ingin mengeluarkan banyak kata dari bibirnya, tapi seolah tertahan sikap dingin. Darrel kembali memutar kursi menghadap mejanya. “Tak apa, hanya sedikit. Toh, semua juga kamu yang lakuin.” Dengar, kan ... kata-kata dia itu suka ngajakin gelud. Awalnya bilang tak apa, oke dan ia mulai senang. Eh, akhirnya malah bilang semua karena kamu. Lah, tetap saja ternyata dia memang menyalahkan dirinya. “Maka dari itu, sini aku obatin.” Darrel diam, kembali fokus pada layar laptop dihadapannya. Seakan sengaja mengabaikan perkataan Nara yang kukuh di sampingnya. “Darrel, aku lagi bicara loh ini.” Langsung menggeser kursi cowok itu dan memutar agar kembali menghadapnya. Langsung, di saat yang bersamaan, ia fokus pada dahi dia yang memar. Perlahan, dengan sesekali meniup objek itu agar sedikit mengurangi rasa sakit ketika tangannya menyentuh. Iya, harusnya luka lembam ketika tersentuh rasanya memang nyeri, kan. Darrel yang awalnya menolak, tapi ketika tangan nara menyentuhnya ... seakan waktu ikut terhenti saat itu juga. Ada perasaan aneh yang sedang dirasakannya, membuat aliran darahnya saja ikut terhenti. Tatapan matadan sentuhan itu, menimbulkan sebuah rasa yang bahkan sekian lama tak ia rasakan, kini datang lagi. “Apa rasanya sakit?” Darrel masih berada di mode diam. Diamnya dengan tatapan mata yang mengarah pada Nara yang tepat berada dihadapannya, mengobati luka di dahinya. “Darrel,” ulang Nara ketika pertanyaannya tak mendapatkan jawaban. Tangan Darrel mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, keringat mulai tampak membasahi wajah dia. Sementara nara, seolah ikut dibuat terdiam dengan penampakan sikap yang ditunjukkan Darrel. “Darrel, kamu nggak apa-apa, kan?” Bahkan pertanyaannnya kali ini juga tak mendapatkan jawaban. Menyentuh wajah Darrel yang terlihat mengeluarkan keringat, tapi di saat yang bersamaan kedua mata dia langsung terpejam. Dengan ekspressi yang menurut Nara benar-benar sulit diartikan. Dia kenapa? Apa luka yang ia ciptakan rasanya benar-benar sakit? “Kamu kenapa, sih?” tanya Nara mulai cemas. “Apa rasanya sakit?” Napas Darrel seolah memburu, mata dia terpejam seolah sedang menahan sesuatu perasaan yang bahkan Nara pun jadi bingung dengan penampakan itu. Anehnya ini adalah awal pertemuannya dengan Darrel, tapi mendapati diak seperti ini justru membuat dirinya juga cemas. Di saat saat bersamaan, tangan Darrel dengan cepat menyambar tangannya. Ia, kaget. Bahkan sangat kaget. Bukan apa-apa, tapi pikirannya sudah buruk saja. Tapi itu semua solah kalah dengan rasa cemas akan kondisi dia. Membiarkan tangannya berada dalam genggaman Darrel. Kini satu tangannya menyentuh wajah itu dengan lembut, seolah sedang memberikan sentuhan agar dia sedikit lebih tenang. “Darrel, kamu kenapa? Kamus sakit, atau apa?” Masih belum ada jawaban yang ia dapatkan, tapi pegangan di tangannya mulai sedikit mengendor. Barulah setelah itu ia sedikit ,mejauh dari dia. Taku, nanti dia malah berpikiran buruk lagi padanya. Meskipun sekarang justru dia yang tampak jauh lebih buruk, karena bersikap aneh padanya. Napas Darrel masih tampak memburu, seolah habis berlari sekian puluh kilometer. Mata yang awalnya terpejam itu, mulai terbuka perlahan. Dan yang pertama kali dilihat dihadapnnya adalah Kinara. “Kamu ...” “Apa yang kamu lakukan?” tanya Darrel memotong perkataan Kinara. “Apa yang ku lakukan?” tanya nara balik. “Kan aku hanya ingin mengobai lukamu. Tapi kamu malah ...” menghentikan kata-katanya. “Kamu baik-baik saja, kan?” “Kamu ngapain barusan?” Jujur, ya ... ini dirinya makin dibuat kesal oleh sikap Darrel yang tiba-tiba jadi aneh dan suka berubah-ubah. Barusan dia tampak seperti orang ketakutan dan kesakitan. Dan sekarang? Justru kembali ke mode asli. Nyebelin. “Kamu benar-benar nggak menyukai aku di sini, ya?” “Dari awal juga memang begitu, kan?” “Jawaban yang bagus!” berengut Nara. “Aku sudah berusaha bersikap baik, selayaknya atasan dan bawahan, tapi kamu terus saja bersikap buruk padaku. Dan aku juga bisa kesal. Silahkan dan aku minta tolong ... tolong bilang sama papaku kalau aku dipecat.” Menyambar tas dan sepatunya setelah mengatakan hal itu. Kemudian langsung berlalu dari sana dengan langkah cepat dan sedikit berlari. Bahkan ia dengan sengaja menutup kembali pintu dengan kuat, sebagai penunjuk rasa kalau dirinya benar-benar kesal. Darrel tak fokus pada kepergian dan sikap Kinara, tapi ia justru memikirkan perasaannya sekarang yang tiba-tiba jadi aneh. Menyentuh luka di dahinya, yap dan hasilnya masih sama ... tak terasa. Tapi, kenapa saat dia yang menyentuh justru benar-benar terasa. Ia bisa rasakan hangat ketika menggenggam tangan dia, dan juga sentuhan di wajahnya. Benar-benar tak bisa dipercaya dengan apa yang terjadi. jangankan memar, bahkan luka tersayat pun tak akan ia rasakan sakitnya seperti apa. paling hanya melihat darah itu mengalir dari pusat luka. Tapi kini, hanya sentuhan singkat justru begitu terasa. Di saat yang sama, ponsel miliknya yang ada di meja berdering. Terlihat sebuah panggilan telepon menghampirinya. Yang awalnya fokus pada kejadian barusan, kini mencoba untuk kembali bersikap tenang, meskipun kepikiran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN