BAB : 5

1271 Kata
Kesal? Jangan ditanya lagi seperti apa tingkat kekesalannya saat ini. Kalau dalam permainan game, tingkat kesalnya sudah setara dengan serangan damage. Bisa-bisanya ia memiliki hubungan ... ah, tidak, tidak. Lebih tepatnya, bisa-bisanya ia memiliki rekan kerja seperti Darrel yang nyebelinnya bikin sakit jantung. Tadinya menolak perintah papanya, hingga akhirnya mau tak mau ya harus jalani saja. Tapi sekarang, terserah apa yang mau dikatakan papanya. Jujur saja, ia tak tahan jika harus berhadapan dengan Darrel setiap hari. Laksana melawan ajakan setan ke jalur sesad. Segera menuju parkiran dan langsung bergegas pulang ke rumah. Anggap saja hari ini adalah hari sialnya dalam satu dekade kehidupan. Beberapa menit perjalanan, ia sampai di rumah. Bergegas turun dan langsung masuk ke dalam rumah. Awalnya berniat langsung ke kamar, tapi ternyata saat sampai di ruang utama, terlihat kedua orang tuanya sedang mengobrol. “Loh, kok kamu sudah pulang, Nak?” tanya Tiara pada putrinya. “Bukannya dari kampus kamu langsung ke kantornya Darrel?” Malas, sih, sebenarnya. Tapi kalau tak ia jawab dan beri penjelasan, bisa-bisa dirinya disalahkan lagi. Padahal kan di sini posisinya sekarang justru dirinya yang jadi korban. Menghempaskan bokongnya di sofa, kemudian memasang muka cemberut. “Jangan bilang kalau kamu nggak melakukan apa yang papa dan mama perintahkan.” Marion langsung menebak. Karena apa? Kebiasaan putrinya seolah sudah berada di dalam otaknya, hingga dengan mudahnya ia tebak. Kinara langsung memberengut mendengar tuduhan papanya yang kali ini tak sinkron dengan biasanya. “Pa, aku biasanya memang salah. Ku akui itu. Tapi kali ini aku benar-benar di jalan yang lurus.” “Sering belok, tiba-tiba sekarang jadi lurus,” gumam Tiara seolah sedang meledek putrinya. “Pa, Ma ... aku lakuin kok apa yang kalian suruh. Dari kampus, langsung ke kantornya Darrel. Aku lakuin itu. Bahkan dia mengajak lembur di hari pertama kerja, oke aku setuju meskipun terpaksa. Tapi ...” “tapi kamu bikin sebuah masalah di kantor. Begitu?” Menghela napasnya panjang ketika kata-katanya langsung disanggah oleh papanya. “Dia yang bikin masalah, bukan aku.” Tampak kaget dengan perkataan Kinara. Entahlah, di mata kedua orang tuanya terlebih papanya, sosok Darrel itu selalu benar ... apapun itu. “Tadi aku nggak sengaja ngelempar dia pake sepatu,” ungkap Kinara mulai memberi penjelasan. “Apa?!” Lihat, kan ... kedua orang tuanya segitu kagetnya dengan berita itu. padahal kena lempar sepatu doang, bukan dilempar kenyataan pahit. “Kamu ...” Gregetan dengan sikap Kinara. “Papa benar-benar marah, loh, sama kamu perihal masalah ini. Kamu kira Darrel itu siapa, bisa-bisanya kamu lempar pake sepatu.” Sebenarnya pengin ngakak kalau ingat kejadian lemparan sepatu itu, jujur saja ia tak berniat begitu. Serius. Cuman tadi kebawa suasana yang rada kesal aja. Jadinya reflek melempar. “Dianya nyebelin, Pa. Jadinya aku ikutan kesal. Tapi herannya, dia justru membuatku semakin kesal. Aku tahu salah dan mencoba mengobati luka di dahi dia, tapi responnya malah jadi aneh.” “Bukan aneh, tapi dia kesal dan marah karena sikap tak terpuji kamu itu, Nara!” Emosi Marion. Kinara berdecak kesal, saat penjelasan apapun yang ia berikan seolah tak membuat kedua orang tuanya paham sedikitpun. Darrel sudah melekat di otak mereka sebagai tipikal pria baik-tanpa cacat sedikitpun. Beranjak dari posisi duduknya. “Sudahlah, percuma aku jelasin. Toh, Mama sama Papa tetap saja nggak akan paham. Aku selalu salah dan salah di mata kalian, terutama jika permasalahannya dengan Darrel.” Langsung saja berjalan meninggalkan kedua orang tuanya dan lanjut menuju kamar. “Nara, Papa belum selesai bicara loh, ini!” teriak Marion yang justru diabaikan begitu saja oleh putrinya. “Ya ampun, anak ini benar-benar bikin masalah,” tambahnya gregetan sendiri. “Sudahlah, mending sekarang cari aman. Telepon Darrel, atau sekalian samperin ke kantor dia. Minta maaf atas sikap Nara yang keterlaluan itu,” saran Tiara pada suaminya. “Kamu benar,” respon Marion. “Sebaiknya aku menemui ke kantor dia, nggak enak juga kalau lewat telepon. Bisa-bisa karena sikap Nara, bisnis kita yang kena imbasnya.” Perkara dunia bisnis bukan segampang yang orang-orang pikirkan. Karena setiap sikap dan perbuatan, seolah jadi bahan pertimbangan di manapun dan kapanpun. Terutama bagi perusahaan yang berada di level atas. Bahkan kalau bisa berbohong, semua akan dilakukan orang-orang demi mendapatkan simpati dari perusahaan level atas. Sedang Kinara, ia memilih untuk tidur. Biasanya pulang kuliah ia juga tidur siang kalau nggak ada kegiatan. Ini malah harus mengekori langkah Darrel yang nggak jelas itu. “Semoga saja kejadian tadi adalah awal sekaligus akhir dari sebuah kesialan. Gue nggak mau lagi berurusan sama Darrel. Oke, gue akui dia tampan dengan level atas, bikin kaum hawa menjerit. Tapi sikap dia seolah berada di level 1. Menyebalkan!” teriaknya kesal, kemudian menyusupkan kepalanya dibalik bantal. Herannya yang biasanya bisa tidur saat nemplok di bantal, ini tiba-tiba saja matanya malah tak bisa dibawa tidur. Dan parahnya lagi, otaknya malah memikirkan wajah Darrel. Langsung bangun dari posisi rebahan dan duduk bersila. “Jangan bilang kalau otak gue juga udah dipenuhi oleh sosok Darrel. Aih, jangan sampai.” Meninju bantal guling, seolah sedang meninju muka tampan Darrel. “Udah cukup Mama sama Papa yang terobsesi sama dia, gue enggak mau.” Di saat yang bersama, ponsel miliknya berdering. Menyambar benda pipih yang ada di dalam tas ranselnya. Terlihat, nama Faye di sana. Siapa lagi kalau bukan sobatnya. Segera menggeser tanda bergambar gagang telepon berwarna hijau itu. “Ya, Fay.” “Lo di mana?” “Rumah.” “Nggak lupa, kan ... ntar malam ada undangan ke pesta ulang tahun Erika. Pas elo ulang tahun, dia juga datang, loh,” jelas Faye mengingatkan. Tak langsung memberikan jawaban pasti, karena ia pun tak tahu dikasih ijin atau tidak oleh kedua orang tuanya. Ditambah lagi dengan masalah tadi, membuat hidupnya seakan rumit saja. “Nara!” Sontak, teriakan Faye membuat Nara tersentak dari pikirannya. “Kaget tahu, nggak,” umpatnya kesal. “Ya elo, gue lagi ngomong malah bengong.” “Gue nggak yakin bisa ikut ntar malam. Bukan, bukan nggak mau ikut ... lebih tepatnya gue nggak yakin bakalan dikasih ijin sama Papa,” terang Nara langsung, takut jika Faye berpikir dirinya yang tak mau ikut. “Lo bikin masalah lagi?” “Kali ini lebih berat.” “Trus, gimana?” “Nggak tahu,” responnya pasrah. Keduanya mode diam beberapa detik. “Baiklah, ntar gue coba minta ijin dulu. Tapi kalau nggak diijinin, gue pake mode biasa. Kabur.” “Serius?” “Ya gimana lagi. Kalau nggak datang, berasa nggak enak hati.” “Bener, sih.” “Ntar malam gue kabarin, ya.” “Ok. Bye.” Menutup percakapan dengan Faye. Tadi mikirin kekesalannya pada sosok Darrel, dan sekarang pikirannya fokus memikirkan bagaimana cara minta ijin untuk ke undangan ulang tahun salah satu teman kampusnya pada orang tuanya. “Mau minta ijin aja berasa horor banget dah,” gumamnya. “Dan lagi, gue nggak yakin bakalan dapat ijin. Tapi kalau kabur, otomatis hukuman lebih berat pasti menunggu di depan pintu saat pulang.” Kembali menghempaskan badannya di kasur dengan kasar. “Kabur, enggak, kabur, enggak, kabur enggak.” Menghela napas panjang setelah melakukan ritual nggak jelas itu. “Oke, seperti biasa. Kabur adalah jalan ninja untuk mencapai target yang diinginkan.” Terserah deh ntar bagaimana respon yang ia dapatkan saat kembali ke rumah, yang jelas berhasil kabur adalah fokus utama. Hasil pas pulang, nanti dipikirkan lagi. Melirik waktu di jam yang ada di layar ponsel. Terlihat angka menunjukkan pukul lima sore. Setidaknya ada waktu untuk tidur sekitar satu jam lebih, sebelum melarikan diri dari kamar. Tak perlu pikir panjang bagaimana caranya kabur, karena hal ini sudah ia lakoni semenjak duduk di bangku SMP. Jalan-jalan tikus seolah sudah berada di dalam otaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN