BAB : 6

1372 Kata
Seperti yang sudah dipikirkan tadi sore, alarm yang sengaja ia setel di angka enam berdering. Membuat tidurnya yang rasanya baru separo jalan seketika harus terhenti. Mau lanjut tidur, tapi teringat akan undangan pesta. Beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan gontai menuju pintu kamar dan keluar. Menuruni anak tangga, saat sampai di bawah tak ia lihat penampakan kedua orang tuanya di setiap sudut rumah. “Mama Papa kemana, sih,” gumamnya bingung. Berjalan menuju dapur, menghampiri Bik Asih yang saat itu sedang memasak. Menyambar satu buah gelas dan mengisi dengan air minum hingga penuh. “Bik, Mama sama Papa kemana?” “Ah, itu, Non ... kalau Ibu ada di kamar, tapi kalau Bapak kan tadi sore pergi.” “Pergi? Pergi kemana?” “Pergi nemuin Darrel yang udah kamu bikin terluka.” Jawaban itu langsung membuat Kinara mengarahkan pandangan ke asal sumber suara. Yap, siapa lagi yang bicara kalau bukan mamanya. “Papa serius nemuin Darrel, Ma?” “Tentu saja, Sayang. Kamu mau, Darrel membuat masalah yang kamu lakukan jadi melebar kemana-mana?” “Tapi aku nggak ...” “Dan harus ingat, Nara ... keluarga kita itu bergelut di dunia bisnis,” timpal Tiara memotong perkataan Kinara. “Jadi, kalau mau bikin masalah, harusnya kamu pikir panjang dulu. Terutama dengan Darrel. Karena itu sama saja dengan kamu bikin anjlok pemasukan keluarga kita.” Kinara menghela napasnya kesal karena mendengar penjelasan mamanya yang seolah-olah di sini dirinya dijadikan sebuah tumbal. “Mama tahu apa yang sedang ku pikirkan sekarang? Aku seperti kalian tumbalkan demi kelancaran sebuah bisnis. Sengaja melemparkanku pada Darrel, agar bisnis keluarga kita lancar.” “Kamu itu anak kami, bagaimana mungkin Mama sama Papa melakukan hal seburuk itu.” Tersenyum sinis. “Tapi buktinya memang begitu, Mama.” “Awalnya aku memang berpikir jika Papa sama Mama berniat mengubah kebiasaanku, tapi dari penjelasan Mama barusan ... aku baru sadar jika ternyata aku justru jadi sebuah umpan.” “Kamu salah, Nara.” “Iya, aku salah karena percaya begitu saja.” Langsung berlalu begitu saja dari hadapan mamanya, ketika kekesalannya membuat otaknya terasa mendidih. Sebagai seorang anak, siapa, sih, yang tak ingin jadi anak yang baik di mata kedua orang tua. Dirinya pun juga begitu. Tapi sekarang, rasanya ingin jadi seorang anak yang membangkang saja rasanya. “Makan dulu, Nara!” teriak Tiara pada putrinya yang sudah berlalu pergi. “Aku sudah kenyang mendengar penjelasan barusan!” Kembali menuju kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mendinginkan otaknya dengan cara berendam di dalam bathup adalah hal yang lebih tepat. Daripada terus berdebat dengan mamanya yang bahkan tak pernah mengerti apa yang ia mau. Ada kali sekitar setengah jam berada dalam kamar mandi, hingga akhirnya keluar dari sana dengan kondisi yang sedikit segar. Melirik jam di dinding, ternyata sudah malam aja. Yang tadinya berpikir untuk duduk santai sejenak, kini segera berganti pakaian. Kemana lagi tujuannya kalau bukan ke acara ulang tahun teman satu kampusnya. Mengenakan dress selutut, sebuah hels berwarna hitam yang membalut kakinya, serta tas selempang mini sebagi pelengkap. Awalnya sudah mengenakan hels, tapi kembali ia tanggalkan benda itu. Lupa, mau kabur ... kalau ketahuan kan susah juga mau lari. Keluar dari kamar dengan perlahan. Mengendap-endap sambil celingak-celinguk kiri kanan. Sebenarnya aman, sih ... apalagi saat ini papanya tak berada di rumah. Ya, otomatis sosok paling horor tak ada. Menuruni anak tangga perlahan, sampai di bawah berlari cepat menuju teras samping. Karena kalau lewat pintu depan, pasti ketahuan. Karena apa? Di atas pintu ada CCTV yang sengaja dipasang oleh si Tuan rumah. Sedangkan pintu samping mah aman, bahkan terbuka lebar. Sampai di luar, berniat langsung menuju pintu keramat untuk kabur yang posisinya ada di ujung tembok pagar, tapi langkahnya seketika terhenti dan pasang mode sembunyi. Karena di saat yang bersamaan tampak sebuah mobil yang baru memasuki area pekarangan rumah, dengan pak satpam yang membukakan pagar untuk akses masuk. “Duh, Papa pulang,” gumamnya mengintip, yang terlihat justru papanya yang turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Di saat aman, langsung lah ia lanjut melarikan diri. Membuka pintu berukuran kecil di sudut tembok ... dan sampai di luar dengan aman. Tak lama, taksi yang sebelumnya ia pesan akhirnya tiba. Menghela napasnya saat sudah berada di dalam taksi. Kemudian mengarahkan supir taksi pada sebuah alamat. Lokasi pesat sekitar lima belas menit perjalanan dari rumahnya. Untungnya ngga macet, karena kalau macet, justru butuh waktu dua atau tiga kali lipat. Sampai di lokasi, segera turun dari taksi. Ternyata kedua sahabatnya sudah berada di sana. Menunggunya di depan pintu masuk acara. “Ya ampun, lo beneran datang, Ra,” ujar Faye sedikit ragu tadinya, ketika Nara bilang mau datang. “Seperti kata elo ... gue nggak enak nggak datang.” “Papa lo tahu?” tanya Zila. “Hmm, nggak tahu,” jawabnya dengan sedikit berat. “Tapi, udahlah. Ntar dipikirin lagi cara ngadepin orang tua gue. Dan lagi, tadi juag lagi ada masalah. Hingga berpikir ini nanggung. Biar sekalian aja kena omelnya.” Jadilah, ketiganya masuk ke dalam sebuah gedung, yang di mana di dalamnya diadakan sebuah pesta ulang tahun Erika, salah satu teman kampus mereka. Memberikan ucapan selamat, dan menyerahkan kado sebagai hadiah pada Erika. Kemudian lanjut dengan acara inti. Yang namanya anak muda, apalagi kalau bukan sebuah pesta yang sedikit menghebohkan. Tadinya masih mode formal, tapi semakin larut malam, sekarang seolah berganti dengan kebebasan. Bisa disamaratakan dengan sebuah pesta di dalam club malam. Ponsel milik Nara yang ada di dalam tas, bahkan berkali-kali berdering, tapi karena suasana ramai dan bising, panggilan itu ia abaikan saja. Ketebak lah siapa yang sebegitu hebohnya menelepon. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya yang tak mendapatinya di rumah. Kinara duduk di sofa, diikuti oleh Zila dan Faye. Padahal ia sudah mewanti-wanti kedua sahabatnya untuk tidak minum-minuman beralkohol, tapi sepertinya mereka mengabaikan. “Ya ampun, kepala gue berasa pusing.” “Siap-siap aja digorok sama bokap lo,” ledek Nara. Kinara tak hanya menakuti. Karena apa? Papanya Zila, itu lebih kasar daripada papanya sendiri. Kalau papanya hanya main ucapan dan perkataan, tapi Zila justru sering kena amuk dan main fisik. “Gue menantikan hari itu malah. Hari di mana laki-laki paruh baya itu, berani melenyapkan anaknya ini dengan tangan dia sendiri.” Bukan bersikap jadi anak yang durhaka, hanya saja dia seolah sudah capek selama ini hidup dalam sebuah kelurga yang tak melihat dirinya ada. Oke, perkara materi Zila memang terpenuhi. Tapi tidak dengan rasa kekeluagaan ataupun kasih sayang. Intinya, di saat ada masalah, dirinya jadi bahan serangan. “Lo ada masalah, kan?” tanya Faye pada Nara. Kinara mengangguk, kemudian menyenderkan punggungnya di sofa. Kemudian tersenyum di sudut bibirnya, mengingat aturan papanya. “Gue dipaksa untuk kerja di sebuah perusahaan, tanpa gaji.” Pandangan Zila dan Faye seketika terarah pada Nara, menatap lekat pada sobat mereka. “Dunia memang aneh, ya. Elo yang nyatanya orang kaya aja, bisa-bisanya dipaksa kerja, tanpa digaji lagi,” respon Faye. Yang tadinya tak berniat mengikuti faye dan Zila menikmati minuman beralkohol itu, tiba-tiba saja sekarang malah tak tahan godaan. Tangannya menyambar sebuah botol dan menuangkan minuman itu hingga memenuhi gelas. Kemudian meneguk hingga habis. “Tadinya berpikir kalau mereka mau ngajarin gue cara bertahan hidup dengan usaha, tapi nyatanya apa? Gue dijadikan tumbal untuk mendekati pemimpin perusahaan itu.” “Maksud lo?” tanya Faye makin tak paham. Tapi di saat bersamaan, ponselnya lagi-lagi berdering. Masih pelaku yang sama, pastilah orang tuanya. Dengan berat hati merogoh benda pipih yang ada di dalam tas dan tanpa melihat nama yang tertera di layar datar itu, langsung saja ia jawab dengan kedua mata terpejam dan posisi bersandar. Oke, sepertinya ia mulai mabuk. “Iya, aku tahu salah, Pa,” ujarnya langsung dengan nada berat. Memijit pelipisnya yang terasa nyeri. “Nanti di rumah, silakan mengomeliku sepuas kalian.” “Kamu di mana?” Mata Kinara melek, seolah berpikir saat mendengar suara itu. Yang jelas bukan suara papanya, apalagi mamanya. “Siapa ini?” “Darrel.” Tak pikir panjang lagi, langsung saja ia tutup percakapan itu dengan sengaja. Kemudian melempar ponselnya di meja dengan malas. Dikira orang tuanya, tapi ternyata si biang masalah, Darrel. Ada urusan apa da sampai meneleponnya? “Bersiaplah kita menerima hukuman saat sampai di rumah,” gumam Zila menelungkupkan kepalanya di meja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN