Sekitar satu jam kemudian, acara selesai. Di saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Iya, anggap saja ini bukanlah acara ulang tahun, melainkan pesta malam.
Faye dan Zila sudah pulang dengan menggunakan mobil masing-masing. Minta antar bukanlah hal yang baik, karena takut jika kedua sobatnya malah ikut kena imbas kemarahan orang tuanya.
Nara mulai berjalan perlahan di pinggiran jalan dengan langkah yang tak bersahabat. Ya, bagaimana tidak, ini posisi dirinya sedang mabuk, loh. Bisa dikatakan tingkat kesadarannya hanya tersisa beberapa persen saja. Duduk di pinggir jalan, menanggalkan hels yang masih membalut kakinya dan melempar begitu saja.
“Hidup yang membosankan,” gumamnya masih dengan efek alkohol yang sedang mengendalikan pikirannya. “Berharap mati saja kalau terus begini.”
Menelungkupkan wajahnya dengan kedua kaki sebagai penopang, kemudian menangis di suasana tengah malam yang tampak sepi. Iya, sepi ... karena posisinya bukanlah di tengah perkotaan. Tapi justru sejenis area villa yang mungkin hanya digunakan sebagai tempat pertemuan ataupun acara.
“Nasib gue benar-benar terlahir buruk. Punya orang tua, tapi hampa. Saat dewasa, bukannya bisa menentukan pilihan, justru malah tetap berada dalam aturan.”
Hujan tiba-tiba turun. Membasahi semua yang ada di bawahnya tanpa terkecuali, termasuk Nara. Berharap, air hujan yang turun bisa membawa dan menghilangkan semua masalah yang ada dalam dirinya. Iya, hanya sekadar sebuah harapan yang pastiin ya tak akan pernah terkabul.
Berniat untuk berdiri, tapi baru juga mengumpulkan niat, ternyata badannya malah berasa mau oleng. Salahnya memang, sampai harus ikut-ikutan minum tadi. Ditambah lagi dengan dinginnya hujan yang sudah seperti melumpuhkan tulang belulangnya untuk bergerak. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Membuat matanya mengarah pada sosok yang turun itu.
Tersenyum sinis saat mendapati siapa yang ada dihadapannya kini. Kemudian mencoba untuk bangkit dari posisi duduk, karena begitu malas menghadapi dia. Hanya saja keadaan justru tak bisa menyeimbangkan. Belum juga berdiri tegak, tubuhnya sudah sempoyongan duluan dan kembali terduduk.
“Kamu mabuk, ya?”
“Jangan sok perduli padaku.”
“Aku antar pulang.”
“Menjauh dariku!” pekiknya saat dia berniat membantu.
“Ini sudah larut malam. Orang tuamu mencemaskan keadaanmu, Kinara.”
“Apa? Mencemaskanku?” Memperlihatkan raut wajah tak percaya. “Tahu apa kamu tentang orang tuaku, Darrel!
Yap, yang ada dihadapannya kini adalah Darrel. Cowok yang bahkan baru satu hari ia kenal dan sekarang tiba-tiba muncul bak sosok pahlawan. Ayolah, ia memang hanya seorang mahasiswi yang baru menginjak bangku perkuliahan. Tapi kehidupan yang ia jalani, membuatnya jadi sosok yang keras kepala.
“Mereka berbeda, mungkin tak seperti orang tuamu. Aku hanya berstatus sebagai seorang anak yang harus mengikuti aturan yang sudah tertulis. Semuanya diatur, bahkan mungkin saja saat aku bernapas, sudah berada dalam aturan.”
Darrel terdiam mendengar kata-kata yang diucapkan Kinara. Tiba-tiba ia merasa miris dengan keadaan gadis ini. Tadinya hanya datang untuk sekadar membantu Marion dan Tiara karena mereka bilang Kinara kabur, tapi ternyata justru rasanya ingin lebih mengetahu tentang dia.
“Ikut aku, ini sudah malam. Hujan-hujan begini kamu bisa sakit.” Mencoba membujuk lagi, tapi sepertinya hasilnya masih sama. Tak menjawab dan memberikan balasan apa-apa, dia malah berlalu pergi begitu saja dari hadapannya dengan langkah sempoyongan.
Darrel yang awalnya memegang sebuah payung, melepaskan benda itu begitu saja hingga dirinya akhirnya benar-benar basah di bawah guyuran hujan. Langsung saja mengikuti langkah Kinara yang menjauh darinya, kemudian dengan cepat mengangkat tubuh dia.
“Darrel, lepasin aku! Lepasin!” teriak Kinara ketika sikap Darrel membuatnya kesal.
Tak merespon penolakan dan teriakan Nara, Darrel segera membawa dia menuju mobil, kemudian memaksa untuk masuk. Berhasil, meskipun butuh tenaga juga menghadapi gadis kecil ini. Setelah itu, ia pun ikutan masuk.
Maaf, bukannya ia sok perduli, hanya saja merasa tak baik jika seorang gadis berjalan sendirian di tengah malam. Ditambah lagi sekarang status Kinara merupakan karyawannya.
“Lepasin aku! Keluarkan aku dari sini, Darrel!” Terus berteriak tak terima atas sikap dan perilaku Darrel. Siapa dia, berani-beraninya memaksanya untuk masuk.
Ayolah, seorang darrel yang notabennya hidup dikelilingi oleh ketenangan tanpa teriakan ... tiba-tiba dihadapkan pada seorang Kinara yang laksana sebuah bom yang meledak tepat dihadapannya. Itu benar-benar menguji sebuah nyali.
Darrel masih mode diam, karenag ia paham, gadis sejenis Kinara jika dibalas ataupun dilawan, pasti bakalan makin heboh.
Menyambar sebuah sweater di kursi belakang, kemudian menutupi badan gadis yang kedinginan di sampingnya. Bahkan bibir dia sudah pucat pasi, karena kelamaan di bawah guyuran hujan.
“Aku nggak mau!” mendorong darrel yang sedang menutupi badannya dengan sweater.
Yang namanya Darrel, meskipun mode kalem, tapi hatinya justru bisa keras kalau merasa benar. Ketika Nara mendorongnya, ia justru menahan kedua tangan gadis itu. Tapi apa yang terjadi? Seketika jantungnya dibuat seakan mau berhenti berdetak. Iya, rasa ini muncul lagi. Dan Kinara adalah orang yang sama.
Darrel terdiam, mengarahkan pandangan fokus pada tangannya yang memegang pergelangan tangan Kinara. Yang harusnya tanpa rasa, kenapa tiba-tiba rasa hangat itu seolah ia rasakan?
“Lepaskan tanganku!”
Darrel tersadar, kemudian spontan melepaskan pegangannya di tangan Kinara. Masih dengan perasaan yang tak karuan.
“Buka pintunya sekarang,” pinta Nara.
“Aku antar pulang.”
“Buka pintunya sekarang karena aku nggak mau pulang! Tolong ngertiin aku dong Darrel.” Menangis dan memukuli Darrel dengan tas, saking kesalnya ia pada cowok ini. Tapi sepertinya dia seolah membiarkan dirinya menjadi bahan amukannya. Hingga saat tasnya hendak menyentuh kepala dia, spontan tangannya terhenti. Sadar, saat masih ada plester yang menempel di dahi dia akibat sikapnya tadi siang.
“Sudah melepaskan semua rasa kesalmu?” tanya Darrel memastikan jika serangan Kinara sudah terhenti. Biasa saja, paling beberapa badannya biru-biru efek pukulan tas itu. Tak apa, toh juga tak akan terasa.
Kinara terdiam, dengan napasnya yang benar-benar terasa sesak, kepalanya pusing, pandangannya antara nyata dan tidak. Ini situasi di mana dirinya yang dalam keadaan mabuk, tapi memaksakan diri untuk berada di kondisi sadar.
Memejamkan kedua matanya, kemudian menangis tersedu-sedu. “Bunuh saja aku, bunuh saja aku,” gumamnya pelan. Hingga akhirnya benar-benar terdiam tanpa suara.
“Kinara, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Darrel khawatir, di saat dia yang tadinya mengamuk-ngamuk dan menagis, seketika diam.
Menyentuh tangan Nara perlahan, dan hasilnya tak ada respon. Melilitkan sweater di badan dia, kemudian langsung membawa pergi dari sana.
Dalam perjalanan, pandangan Darrel seolah tak bisa lepas dari Kinara yang tak sadarkan diri di sampingnya. Perlahan, menyentuh wajah dia. Berpikir jika tak akan merasakan apa-apa, tapi hatinya kembali diliputi rasa khawatir dan penasaran. Khawatir, karena suhu badan dia yang panas. Dan rasa penasaran, kenapa ia selalu bisa merasakan apa yang ada di tubuh gadis ini? Begitupun sebaliknya. Sentuhan dia, benar-benar terasa. bahkan saat perasaan itu ia rasakan, jantungnya seolah berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Siapa kamu? Kenapa membuatku merasakanmu?” pertanyaan singkat itu terlontar begitu saja dari mulut Darrel.