BAB : 8

1230 Kata
Darrel melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, menerobos suasana malam kelam dengan guyuran air hujan yang saat itu lumayan deras. Di saat semua orang sudah tidur nyenyak, ia malah seperti kurang kerjaan saja mencari gadis ini. Hanya saja, ada rasa yang aneh jika menyangkut dia. Padahal kenal juga baru tadi siang. Sampai di gerbang sebuah rumah, pagar setinggi dua meter dibuka dari arah dalam oleh seorang satpam. Membuka akses masuk itu terbuka. Langsung memarkirkan kendaraan di garasi. Langsung turun, kemudian lanjut membuka pintu mobil di bagian sebelah. Ya, apalagi kalau bukan membawa Kinara untuk segera masuk rumah. Menggendong dia dan segera membawa masuk ke dalam rumah. “Dingin,” gumamnya yang berada dalam pangkuan Darrel. Awalnya Darrel tak mengubris dan tetap melanjutkan langkahnya memasuki rumah, tapi rengkuhan Kinara di badannya yang mengerat, membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, ditambah lagi ... pegangan dia membuatnya makin diliputi rasa penasaran. “Aden, gadis ini siapa?” Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Darrel yang masih bengong berdiri dengan tatapan menelisik pada Kinara yang ada dalam gendongannya, tersentak kaget. “Dia salah satu karyawanku, Bik,” jawab Darrel. “Bik, bikin minuman hangat, ya. Nanti langsung bawa ke kamar atas.” “Baik, Den,” Jawabnya. “Maaf, maksudnya ke kamar Aden?” “Bukan.” Darrel kemudian melanjutkan langkahnya menuju lantai atas. Memasuki sebuah kamar dengan pintu bercat cream. Sikap Darrel jujur saja membuat wanita paruh baya bernama Bik Marni itu sedikit bingung. Karena apa? Tak biasanya sang majikan bersikap seperhatian itu pada orang lain. Dan sekarang, malah sampai membawa pulang ke rumah. Sampai di dalam kamar, Darrel menidurkan Kinara di kasur. Tapi ketika hendak beranjak dari posisinya malah tertahan, ketika tangan dia malah memegang tangannya. Kedua mata itu terbuka perlahan. Menatapnya dengan tatapan fokus. Padahal ia berpikir jika dia akan heboh, karena mendapati dirinya dihadapannya begini. Tapi ternyata justru hal yang membuatnya kaget malah terjadi. Kinara menariknya, hingga ia tak bisa menahan karena tiba-tiba. Jatuh, tepat dia atas tubuh dia. Untung saja dengan cepat menahan dengan kedua tangannya, kalau tidak, mungkin sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi. Menatap dia dalam posisi yang benar-benar dekat. Ia tahu ini salah, tapi kenapa rasanya begitu aneh saat berhadapan sedekat ini dengan Nara. “Aku kedinginan,” gumam nara kembali memicingkan mata. Di saat yang bersamaan, pintu dibuka dari arah luar. Tentu saja itu membuat Darrel kaget. Spontan, langsung beranjak dari posisinya yang masih berhadapan dengan Nara. “Maaf, Den ... i-ini, minumannya.” Siapa lagi yang datang kalau bukan Bibik. Dengan sebuah baki berisi minuman hangat yang sudah ia pesan tadi. Kemudian meletakkan di nakas, yang ada di samping tempat tidur. “Iya, Bik. Makasih,” ucapnya. “Oiya, Bik ... bisa aku minta tolong gantiin pakaian dia. Soalnya basah.” “Bisa, Den.” Darrel beranjak dari posisi duduknya, berjalan menuju lemari pakaian yang tak jauh dari sana. Memilih beberapa pakaian ganti yang mungkin bisa dia kenakan untuk sementara. Setidaknya bisa membuat dia hangat. Kembali pada Bibik, menyodorkan pakaian itu pada beliau. “Ini, Bik. Aku tunggu di luar, ya.” “Baik, Den.” Jadilah, Darrel keluar dari sana, karena Bik Marni akan menggantikan pakaian Nara. Berdiri di luar, lebih tepatnya di depan pintu masuk kamar. Merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Lanjut menghubungi seseorang lewat benda pipih itu. “Hallo.” “Kinara bersama saya.” “Syukurlah. Tapi dia nggak apa-apa, kan?” “Hmm.” “Terimakasih sudah membantu mencari dia.” “Tapi sepertinya malam ini dia nggak pulang.” “Iya, iya ... tak apa. Sebagai orang tua, saya yakin dia berada di tangan yang tepat.” Darrel tak membalas ataupun merespon lagi kata-kata itu. Langsung menutup pembicaraan di telepon begitu saja. Kemudian berjalan menuju kamarnya yang ada di sebelah, mengganti pakaiannya yang basah. Sekitar beberapa menit kemudian, kembali menuju kamar di mana Kinara berada. Berniat menunggu di depan pintu, tapi di saat itu juga pintu dibuka dari arah dalam. Bibik segera keluar dan menghampirinya. “Sudah, Den.” “Makasih, ya, Bik,” ucapnya kembali masuk ke dalam kamar, sedangkan wanita paruh baya itu berlalu pergi menuju lantai bawah. Penasaran memang dengan sosok gadis bernama Kinara yang diakui Darrel sebagai karyawan dia. Hanya saja untuk mencari tahu lebih jauh, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Karena apa? Akhir-akhir ini mood majikannya sedang tak baik. Darrel menghampiri Nara yang tampak tertidur pulas. Awalnya biasa, tapi bibir dia yang tampak pucat malah membuatnya penasaran. Duduk di samping dia, kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi gadis itu. “Jangan bilang kalau malam ini kamu akan membuatku begadang sampai pagi, Kinara,” gumamnya. Sebenarnya tak berharap banyak kalau apa yang terjadi beberapa kali padanya, akan kembali terjadi. Tapi, saat tangannya menyentuh dahi dia, lagi-lagi itu ia rasakan. Hangat terasa di tangannya. Kali ini tak memikirkan bagaimana itu bisa terjadi, tapi yang penting adalah jangan sampai dia sakit. Menghela napasnya panjang. “Bagus. Ini adalah hari pertama aku mengenalmu dan kamu ... justru memberikan salam perkenalan yang membuat malamku jadi terbuang sia-sia.” Beranjak dari posisi duduk dan melangkah menuju kamar mandi yang masih berada di dalam kamar itu. Mengisi sebuah baskom dengan air hangat dan memasukkan handuk kecil ke dalamnya. Kemudian kembali pada Nara. Duduk di samping dia, meletakkan baskom di nakas. Lanjut memeras handuk itu hingga hanya meninggalkan kelembaban dan mulai mengompres dengan hati-hati. Berkali-kali ia ulangi, dan sesekali ia periksa suhu tubuh Kinara dengan termometer. Tak sia-sia ternyata begadang hingga mencapai subuh saat melihat angka yang tertera di alat ukur suhu itu. Duduk di samping Kinara, bersandar pada sandaran tempat tidur. Awalnya masih menatap fokus pada wajah tidur itu, tapi efek kurang istirahat beberapa terakhir dan mengantuk, membuat matanya tak bisa lagi bertahan. Hingga akhirnya terlelap juga. Nara melakukan pergerakan, tapi tangannya spontan beralih ke kepalanya saat rasa sakit dan pusing itu muncul bersamaan. Mata yang awalnya berat untuk terbuka, seolah dipaksa untuk melek sempurna mendapati hal-hal asing di sekitar. Ia yakini ini bukan kamarnya. Dan juga, ada sebuah handuk kecil yang berada di dahinya. “I-ini di mana?” tanyanya bingung sendiri. Baru mau bergerak, tapi kali ini ia justru dibuat kaget. Karena apa? Ternyata ada sosok Darrel di sampingnya, yang tengah tertidur dengan posisi duduk bersandar. Bukan itu saja, hal yang paling membuatnya kaget adalah sikap dia padanya. Tangan Darrel, menggenggam erat tangannya. Rasanya ingin sekali mendorong dia dari sampingnya, tapi kenapa malah tak berani. Ini perasaan antara rasa kesal dan kasihan jadi satu. Perlahan melepaskan genggaman itu, setidaknya jangan sampai dia terbangun lah. Karena saat dia bangun, pasti akan membuat dirinya kesal lagi. “Ya ampun, ini dia …” Baru juga mencoba melepaskan, tapi ternyata sikapnya langsung membuat Darrel merespon. Hingga spontan tangannya yang berada di genggaman dia, ia tarik dengan cepat. Darrel terbangun dari tidurnya, saat mendapatkan sikap seperti itu dari Kinara. Seketika matanya berasa kliyengan saat melihat ke sekeliling. Kalau manusia normal, mungkin akan merasa sakit, tapi tidak dengannya. Paling hanya pandangannya saja yang jadi patokan ketika ia tak baik-baik saja. Efek begadang, kurang istirahat, ditambah lagi semalam juga kena hujan. Tak berharap jika dirinya yang akan oleng selanjutnya. Melirik ke sebelah, tampak Kinara sudah bangun. “Kamu sudah bangun?” “Kamu ngapain di sini?” Langsung ngegas. “Menurutmu, aku ngapain di sini, hem?” Baru juga bicara, langsung bersin-bersin nggak jelas. Beranjak dari posisi duduknya, berjalan perlahan menuju kamar mandi. Sudahlah, ini fiks sekali kalau dirinya yang akan ambruk selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN