Kinara masih bingung dengan posisi dirinya sekarang, sampai-sampai ia turun dari tempat tidur dan menuju ke balkon kamar itu. Kaget, saat mendapati lokasi yang bahkan tak ia kenal sama sekali. Kembali masuk ke dalam kamar, menghampiri Darrel.
“Ini aku di mana?”
“Rumahku,” jawab Darrel.
“Kok bisa?”
“Baru beberapa jam yang lalu, kamu udah lupa apa yang terjadi?” tanya Darrel bersidekap d**a di hadapan Nara. “Yakin, nggak mengingat apapun?”
Kinara sampai memutar otak rasanya, mengingat apa yang telah terjadi. Ini sepertinya ada masalah dengan pikirannya yang bahkan seolah tak mengingat apapun. Tapi, di saat yang bersamaan, seketika dirinya dibuat shock mendapati dirinya sendiri.
“Kok aku pake pakaian ini?” Sebuah kaos yang bisa di bilang over size untuk body nya yang mini size.
Sepertinya Kinara memang tak mengingat kejadian semalam. Hingga akhirnya Darrel memutuskan untuk menceritakan semua.
“Semalam kamu mabuk,” ungkap Darrel.
Baru juga bilang mabuk, Nara sudah memberikan reaksi tak percaya.
“Serius aku mabuk?”
“Aku dapatin memang kamunya lagi mabuk. Makanya, lain kali kalau nggak kuat minum, jangan dipaksakan. Karena apa? Itu akan berdampak pada isi otakmu yang bahkan kamu nggak ingat apapun yang udah dilakukan semalam.” Akhir kalimat, berikan satu kali sentilan di dahi gadis yang tampak bodoh dihadapannya.
“Trus, bajuku?”
“Menurutmu?”
“Darrel! Kamu ...”
“Ini masih subuh, jangan berteriak. Kamu mau membuat warga satu kompleks ini kaget dengan teriakanmu?”
“Apa yang udah kamu lakuin padaku?!” Udah mode kesal ini. Dari tadi bahkan Darrel tak memberikan penjelasan dari awal hingga akhir. Tentu saja itu membuat pikiran buruk sudah bersarang di otaknya.
Darrel tak menjawab, justru malah berlalu begitu saja dari hadapan Nara. Serius, ya ... pandangannya sedikit tak baik. Itu pertanda badannya sedang kurang baik. Tak merasakan rasa sakit, tapi penglihatannya bisa merasakan.
“Darrel!” Pekik Nara menghalangi langkah Darrel yang hendak keluar dari kamar itu. “Aku butuh penjelasan.”
“Nanti ku jelaskan. Sekarang istirahat dan aku juga mau istirahat.” Hendak membuka pintu, tapi Nara malah menyambar tangannya.
“Sudah ku bilang, aku mau istirahat.”
Nara tak fokus pada keinginannya yang menunggu penjelasan lagi, tapi malah fokus pada tangan Darrel yang terasa panas saat berada dalam pegangannya.
“Kamu demam?”
“Kecapean,” jawa Darrel terlihat gugup. Menyingkirkan tangan Nara yang memegang tangannya, kemudian berlalu dengan cepat dari sana.
Tak ada rasa yang ia rasakan, tapi pandangannya saat ini terasa tak baik-baik saja. Segera masuk ke dalam kamar, kemudian mengambil kotak obat yang ada di dalam lemari. Mengeluarkan termometer untuk mengecek suhu tubuhnya.
Hanya bisa berdecak kesal, saat melihat angka yang tertera pada benda itu. Pantas saja pandangannya tak baik dan reaksi Nara saat bersentuhan dengannya tadi.
“Ada banyak pekerjaan dan sakit ini muncul di saat yang tak tepat,” gumamnya perlahan.
Naik ke atas tempat tidur, membaringkan badannya di kasur. Hanya itu yang bisa dilakukan, karena perasaannya yang lain justru seakan mati. Hingga saat melakukan pengobatanpun, seolah membingungkan.
Baru juga beberapa menit, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka begitu saja dari arah luar. Sontak, itu membuatnya kaget. Bagaimana tidak, jangankan orang lain, bahkan kedua orang tuanya saja tak seberani itu masuk kamarnya apalagi tanpa ketuk pintu.
“Darrel, aku mau bicara.”
Darrel yang masih memasang muka kaget atas sikap tiba-tiba itu, semakin dibuat kesal karena yang masuk ternyata adalah Kinara. Benar-benar, ya, gadis ini. Membuat emosinya seakan naik dalam waktu sekejap.
“Bisa tidak, untuk jaga sikap dan kesopananmu?”
“Engga, jika padamu,” balas Nara langsung.
Darrel yang awalnya masih berada di posisi tidur, segera bangun dan beranjak dari sana. Menghampiri Kinara, menyambar tangan gadis itu dan memaksa dia untuk keluar.
“Aku mau bicara, Darrel!”
Sampai di pintu kamar. “Iya, nanti. Sudah ku katakan, kan ... aku mau istirahat.”
Bukan Kinara namanya kalau enggak bikin sebuah kasus ataupun hal yang menghebohkan. Saat Darrel lengah, ia langsung saja kembali menerobos masuk ke dalam kamar Darrel. Maaf, bukan tak sopan. Tapi ia sedang kesal karena butuh penjelasan, tapi Darrel malah seolah mengelak.
“Keluar sekarang!”
“Nggak akan!”
Saat sesama api saling tabrakan, efeknya jangan ditanya lagi, ya. Kebakaran. Tapi sekarang posisinya Darrel sedang tak mood untuk adu argument ataupun berdebat dengan Nara. Kondisi sedang tak baik.
“Aku nggak mau main-main denganmu saat ini. Sekarang, mending kamu keluar atau ...” Darrel tak melanjutkan perkataannya. Jujur, penglihatannya makin memburuk. Kebayang aja ia ambruk di situasi macam ini.
“Kenapa? Kamu takut ya, karena memang sudah melakukan kesalahan.”
Tak membalas lagi, darrel memilih untuk berjalan menuju tempat tidur. merebahkan badannya di kasur, dengan bagian kepalanya yang ia tutupi dengan bantal.
“Terserah, apa yang mau kamu lakukan. Tapi jangan menggangguku,” peringatnya pada Nara.
Seorang Darrel yang tadinya selalu mode ngegas dan menang sendiri, sekarang tiba-tiba malah kebalikannya. Tentu saja itu membuat Kinara kaget. Apa yang terjadi pada cowok ini, kenapa dia bisa berubah?
“Darrel, kamu baik-baik aja, kan?” tanya Nara mencoba menghampiri.
Tak ada jawaban. Iyalah, toha barusan ia sudah dapat peringatan sebuah kata ‘terserah’. Ingin semakin mendekati, tapi seketika matanya tak sengaja melihat sebuah benda yang berada di nakas, samping tempat tidur. Menyambar dan mengecek.
“Ya ampun,” gumamnya tertahan.
Tadinya masih ragu-ragu untuk mendekat, tapi sekarang justru langsung menyingkirkan bantal yang menutupi kepala Darrel. Kemudian meletakkan telapak tangannya di sana.
“Kamu beneran demam,” paniknya saat merasakan suhu panas di kulitnya ketika menyentuh dahi Darrel.
Nara panik dengan kondisi Darrel, sedangkan Darrel sendiri justru kembali tak percaya dengan apa yang dia rasakan. Untuk ke sekian kalinya sentuhan Nara bisa dirasakan Darrel.
“Kamu ...”
“Tunggu di sini.”
Kinara hendak beranjak dari posisinya, berniat pergi mencari obat-obatan. Hanya saja niatnya tak terlaksana, ketika hendak melangkah pergi, Darrel malah menahannya.
“Kenapa bisa? Kenapa aku bisa merasakan itu darimu? Apa yang terjadi?”
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Darrel, tak ditanggapi serius oleh Kinara. Karena berpikir, efek demam membuat dia jadi ngawur saat bicara.
“A-aku akan ambilkan obat untukmu,” ujar Nara sedikit gugup.
Sudah ia katakan, kan ... untuk perkara wajah dan ketampanan, Darrel itu berada di peringkat paling atas. Dan sekarang dia malah bersikap begini padanya. Gimana dirinya tak dibuat jadi salah tingkah.
Berniat melepaskan pegangan tangan Darrel di tangannya, tapi yang terjadi justru tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Karena apa? Dia justru malah menariknya ke dalam pelukannya.
Seperti dihadapkan pada sesuatu hal yang mustahil terjadi, itulah yang dirasakan Nara saat ini. Bahkan saking kagetnya dengan sikap Darrel, ia masih diam tanpa ekspressi ketika dirinya jatuh dalam dekapan dia.
“Kenapa bisa? Kamu, kenapa bisa ku rasakan?”
Masih bisa ia dengar gumaman perlahan yang telontar dari mulut Darrel. Entah apa yang dia katakan, tapi untuk dirinya saat ini, jujur saja ia dalam situasi yang tak baik.
Awalnya masih bisa merasakan tangan Darrel yang melingkar di badannya, tapi lama kelamaan semua itu hilang. Beriringan dengan hembusan napas cepat yang terasa menerpa lekukan lehernya.
Tersadar dan langsung beranjak dari posisi yang membuat darah dalam tubuhnya seolah mengalir deras menuju otak. Menimbulkan pikiran aneh yang bahkan ia sendiri menolak memikirkan itu.
“Apa yang kamu lakukan, Darrel!”
Langsung berteriak heboh saat terlepas dari rengkuhan Darrel. “Kamu mau mempermainkanku, ya!”
Hanya sesaat, karena Darrel tak merespon apapun sikapnya. Tubuh itupun tampak lemah, dengan kedua mata yang terpejam.
“Darrel, kamu kenapa?”
Pertanyaannya tak mendapat jawaban. Langsung khawatir dan mendekati. Dan ya, ternyata dia tak sadarkan diri.