Zila kembali dengan sedikit berlari. Jujur, ya, ia benar-benar ngeri pada kedua orang tua Nara. Pantas saja jika sobatnya itu seakan tertekan, aslinya mereka begitu kasar.
Di salah satu lorong, karena tak melihat jalan ia malah bertabrakan dengan seseorang. Langsung meminta maaf, karena merasa ini memang salahnya. Karena berlari, tapi tetap mengarahkan pandangan ke belakang. Takut jika Marion ataupun Tiara mengikuti.
“Kamu ngapain di sini, lari-lari begitu?”
“Ya ampun Dokter ... ternyata kamu.”
Lega, ternyata ia malah tak sengaja bertabrakan dengan Reza.
“Kenapa, sih? Dikejar setan, suster ngesot atau apa?”
Bisa-bisanya ini cowok bercanda di waktu yang tak tepat. Dia nggak tahu saja, kalau dirinya habis berhadapan dengan moyangnya setan.
“Aku tadi ketemu sama orang tuanya Nara.”
“Serius?”
“Iya,” jawabnya. “Gila, sih ... baru kali ini aku tahu sifat aslinya mereka. Lihat tanganku.” Menunjukkan telapak tangannya yang berdarah karena luka terhempas dan mengenai batu. “Tante Tiara kesal padaku, trus mendorong dengan seenaknya.”
Reza melihat luka yang tampak lebar di kedua telapak tangan Zila. Jelas sekali kalau itu bekas seperti menahan pada batu jalanan.
“Ayok, ku obati.”
Reza langsung saja menyambar pergelangan tangan Zila dan membawa gadis bar-bar itu untuk mengikuti langkahnya. Keduanya sampai di depan pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. hanya saja Zila tampak memasang muka was-was.
“Ini di mana?” tanya Zila.
“Korea,” jawab Reza asal.
“Korea hidungmu,” berengut Zila kesal.
“Kemarilah, ku obati lukamu.”
Zila yang tadinya masih berdiri di dekat pintu masuk, akhirnya setuju dan duduk di kursi yang ada dihadapan Reza.
“Tanganmu,” pinta Reza.
“Mau diapain?”
“Bisa tidak, berpikiran layaknya manusia normal?” tanya Reza. “Yakali aku tanganmu mau ku potong.”
Akhirnya Zila menyodorkan telapak tangannya ke arah Reza untuk diobati. Memang perih, sih. apalagi ini lukanya masih baru. Benar kata orang, luka jatuh di bebatuan, hanya gores sedikit saja rasanya perih bercampur panas. Beda lagi jika luka itu tersayat pisau.
“Ini saja lukanya terasa perih, bagaimana dengan Nara, ya. Apa tangannya begitu sakit. ngebayangin disayat. Aduh, ngilunya.”
Tiba-tiba saja perutnya seakan diobrak-abrik karena membayangkan darah itu merembes. Karena urat nadi, itu otomatis membuat darah akan keluar dengan deras.
“Penasaran?”
“Hmm,” angguk Zila.
Reza menyambar sebuah pisau carter di kotak atk yang ada di meja, kemudian menyodorkan pasa Zila.
“Buat apa?”
“Katanya penasaran dengan rasanya. Jadi, silakan mencoba sendiri.”
Nara menendang kaki Reza karena kesal. Apaan banget cowok ini, masa ia disuruh bunuh diri untuk mencoba sensasi rasa saat pergelangan tangan disayat.
“Jangan ditarik,” omel Reza.
“Perih, loh, ini,” berengutnya.
“Yang nggak perih itu, ketika ditembak sama cowok.”
Lelucon macam apa yang dia katakan. Tapi, kalau dilihat dari dekat sepeti ini Reza lumayan juga. Tidak, tidak ... bukan lumayan lagi. Tapi justru sempurna untuk level seorang cowok. Berperawakan tinggi, body memadai untuk seorang pria dewasa, ditambah lagi dengan profesi dia yang seorang dokter. Idaman emak-emak sebagai calon mantu banget lah.
“Jangan menatapku seperti itu? Karena aku nggak akan melakukan itu padamu.”
“Apaan banget, sih ... ini cowok. Siapa juga yang sedang berpikir dan berharap begitu. Aku juga masih ingat dan sadar, kalau seorang dokter Reza, adalah dokter yang mesum.”
Reza tak membalas lagi perkataan Zila. Ia lebih fokus mengobati luka di kedua telapak tangan dia, dengan sesekali meniup agar saat sentuhan itu terjadi, bisa mengurangi rasa perih.
Selang beberapa saat, akhirnya itu selesai.
“Yok, cepatan.,” ajak Reza menyambar lagi pergelangan tangan Zila, dengan satui tangan lagi yang meneteng satu box makanan.
“Kenapa juga harus cepat-cepat,” komentar Zila.
“Jangan biarkan Darrel duluan datang. Siap kepalamu dijadikan tumbal?”
Seketika Zila langsung teringat akan hal itu. Auto digorok barengan keduanya oleh Darrel saat tahu kalau Kinara mereka tinggalkan sendirian di kamar perawatan. Ya meskipun ada penjagaan di depan kamar, tetap saja itu mengerikan. Tak sengaja melakukan itu, hanya saja kalau Darrel mode kesal, apapun kesalahannya akan dia anggap besar.
Menghembuskan napas lega, ketika sampai ternyata Darrel juga belum kembali. Kinara pun juga belum sadarkan diri. Pada akhirnya Zila lanjut untuk makan, karena perutnya benar-benar mode lapar banget. Mungkin durasi setengah jam belum dapat makanan, ia akan pingsan.
“Jangan berpikir kalau aku akan menyuapimu, ya. Nggak akan!”
Kinara memutar bola matanya jengah dengan perkataan Reza.
“Aku juga tak berharap hal itu, Dokter. Anda tenang saja.”
Selesai makan, keduanya kembali ke posisi masing-masing. Mode dingin, tenang, diam tanpa suara. Sibuk dengan ponsel masing-masing. Sesekali Reza memeriksa denyut nadi, suhu dan tekanan darah Kinara. Untuk memastikan kalau kondisi dia makin stabil.
“Harusnya dia sudah sadar, sih,” ujar Reza sesaat setelah memeriksa kondisi Nara.
Baru juga bicara begitu, seketika mata keduanya tertuju pada titik yang sama. Tak sampai di sana, perlahan terjadi pergerakan pada kedua mata Kinara. Iya, perlahan hingga akhirnya pandangan itu terbuka seutuhnya.
Zila tersenyum haru ketika sahabat yang ia sayangi kembali membuka mata.
“Ra,” panggil Zila perlahan. Justru lebih terdengar seperti bisikan. “Lo udah sadar.”
Tak ada tanggapan dari Kinara akan pertanyaan dan perkataan yang diutarakan Zila. Pandangannya tampak kosong ke depan. Tapi sesaat kemudian, matanya mulai berkedip. Yang tadinya seolah diam menatap langit-langit kamar, sekarang memutar pandangannya ke arah samping.
Zila tersenyum. “Lo baik-baik aja, kan, Ra?”
Barulah, wajah Nara berubah. Tadinya seolah menataP kosong, sekarang justru dia menangis. Air mata itu langsung mengalir di sudut mata dia secara MEMbabi buta.
“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja,” ujar Reza ikut membuat Kinara tenang. Hanya saja ia juga tak yakin dengan dirinya sendiri. Karena jujur saja, ia bukan dokter yang bertugas sebagai seseorang yang bisa membuat hati tenang, apalagi pasien dengan tekanan mental. Fokusnya adalah di meja bedah.
Terus menangis, hingga suara komputer yang merekam kondisi jantung dia seolah mengikuti dekatan cepat itu.
“ Zil, mereka jahat sama gue! Mereka jahat!”
Menangis tersedu-seduh, hingga air mata itu membasahi bantal.
“Udah dong, Ra ... jangan nangis. Gue tahu apa yang lo rasain sekarang. Tolong dan gue mohon untuk jangan memikirkan itu lagi.”
“Iya, mati.” Memutar pandangannya ke sekeliling seolah tanpa fokus dan berputar tak menentu.
“Mati, mati mati.”
Terus saja kata itu yang dia ucapkan tanpa henti. Seperti otaknya hanya didoktrin untuk menekankan kalimat itu.
Berniat untuk bangun dari posisi tidurnya, tapi dengan cepat Zila menahan. Begitupun dengan Reza yang ikut menahan pergerakan dia.
“Kamu nggak boleh bersikap begini. Ada kalanya masa kita jaya. Ada kalanya kita diserang penyakit miskin. Terutama untuk harta.”
“Aku nggak mau hidup lagi, aku capek. Aku nggak sanggup jadi boneka lagi.”
Di saat yang bersamaan, pintu dibuka dari arah luar. Mendapati Kinara dengan posisi yang seperti itu, dia langsung menghampiri. Rasa khawatirnya meningkat tajam. Siapa lagi kalau bukan Darrel.