BAB : 41

1573 Kata
Melihat kondisi Nara, tentu saja Darrel langsung khawatir. Dia tersadar, tapi kondisinya justru tampak memperihatinkan. “Kenapa, apa yang kamu rasakan?” Mata Nara yang sedari tadi seolah sedang berkeliaran tak tentu arah, mendapati Darrel muncul dihadapannya membuatnya seolah merasa terlindungi. “Darrel, aku takut,” gumamnya. “Tenang, jangan panik.” “Aku takut, aku capek ... aku nggak mau hidup lagi.” Darrel berusaha membuat Nara tenang, sementara Reza menahan agar selang infus dan selang tranfusi darah tetap stay di posisinya. Iyalah, dalam keadaan seperti ini, ia bisa merasakan bagaimana keadaan Kinara. Dia benar-benar tertekan. Tapi di dekat Darrel, seolah malah merasa berada di tempat yang tenang. Kinara yang awalnya masih di posisi tidur, kini dengan cepat bangun. Sontak, Reza yang awalnya menahan agar selang infus itu tetap berada di posisi aman, langsung dibuat ketar-ketir. Bukan hanya selang infus, tapi juga selang transfusi darah seketika copot dengan paksa. Darrel menarik Kinara ke pelukannya agar membuat dia semakin tenang. Tidak, bukan hanya itu saja. Ia juga berpikir jika Nara tenang, Reza bisa dengan mudah memasang kembali dua selang itu. Sedangkan Zila, dia yang tipe tak kuat akan darah, langsung terduduk lemas di lantai. Ayolah, cairan berwarna merah itu membuatnya mabuk seketika. Pakaian Darrel juga ikut kena imbasnya, karena darah yang berasal dari dua tempat. Reza memasang kembali selang infus, tapi tidak dengan selang tranfusi darah. Ia hanya merapikan bekas jarum itu, hingga darah tak keluar dari bekas tusukan. Setidaknya untuk saat ini kondisi Nara agak membaik, nanti kalau kembali bermasalah, akan dipasang kembali. Selesai, Reza segera membersihkan tangannya dan kembali pada Zila yang masih terduduk lemas di lantai dengan wajah pucat. “Kamu baik-baik saja, kan?” Tak menjawab, tapi Zila hanya menggeleng ... mengatakan kalau perasaan badannya saat ini benar-benar tak enak. Matanya kliyengan, mual dan aroma darah itu seolah masih menghantui indera penciumannya. “Ikut aku,” ajaknya membantu Zila untuk keluar dari sana, meninggalkan Nara dan Darrel berdua. Sekeluarnya Reza, barulah Darrel merasa bebas harus bersikap pada Kinara. Mengelus lembut pucuk kepala dia yang berada dalam pelukannya. “Bisa, kan, tak memikirkan hal yang membuat kondisimu semakin buruk?” “Aku nggak mau hidup,” gumamnya masih sesegukan menangis. Kemudian melingkarkan kedua lengannya, memeluk Darrel erat. Tak hanya itu, ia juga menenggelamkan wajahnya dalam dekapan Darrel. Seakan menghilangkan semua masalah yang saat ini seperti sedang menyerang otaknya. “Aku capek, aku capek. Aku nggak mau hidup lagi.” “Kalau kamu nggak hidup, bagaimana denganku? Tahu, kan, untuk saat ini aku mulai merasa membutuhkanmu, Nara. Jadi, jangan berpikir untuk melakukan hal gila lagi. Karena justru itu akan membuatku merasa kalau kamu meninggalkanku di saat aku sedang merasa nyaman.” Nara tak berkata apa-apa lagi. Dia seolah meluapkan semua rasa sedih dalam dekapan Darrel. “Kamu boleh menangis sepuasmu, boleh kesal ataupun marah saat kamu tak suka ataupun tak setuju. Tapi jangan mencoba menahan, karena semua itu justru akan menyakiti dirimu sendiri.” “Pikiranku sudah nggak bisa dikontrol lagi. Aku harus berbuat apa? Aku harus kemana? Apa yang seharusnya ku lakukan?” “Ada aku,” sahut Darrel langsung. “Sebelumnya mungkin kamu memang tak punya tempat untuk berbagi masalah, tapi tidak dengan sekarang dan sampai kapanpun. Aku janji dan pastikan kalau aku selalu ada saat kamu butuh. Terserah, kamu mau meluapkan kemarahan padaku juga silakan. Yang terpenting perasaanmu jangan terpendam terus.” “Kenapa mereka membuatku jadi seperti ini? Apa aku sudah gila?” “Tidak sama sekali.” “Benar, kan, aku sudah gila.” “Enggak,” jawab Darrel. “Kamu baik-baik saja. Justru aku yang sepertinya akan gila karena terlalu mengkhawatirkanmu, Nara.” “Kamu bodoh.” Darrel melepaskan Kinara dari pelukannya, kemudian menghapus air mata yang membasahi kedua pipi dia. Tak hanya itu, bahkan kedua mata dia tampak memerah dan sembab. “Kamu sukses membuat aku gila. Iya, itu benar. keadaanmu seperti ini, aku khawatir, aku takut kamu kenapa-kenapa, dan aku nggak rela jika kamu merasa sakit, apalagi sampai disakiti.” “Jangan bicara begitu.” “Aku benar-benar khawatir, bahkan kalau bisa memilih, lain kali kalau kamu kesal, lampiaskan saja padaku. Tahu, kan, aku nggak akan bisa merakan saat tubuhku terluka, meskipun kamu tusuk dengan pisau sekalipun. Aku rela, jika mati di tanganmu.” Air mata Nara kembali mengenang, bersiap untuk mengalir. “Kenapa kamu bicara begitu?” “Ingin tahu kenapa?” Nara diam, pandangannya fokus pada kedua bola mata Darrel, mencari jawaban terlebih dahulu sebelum dia mengutarakan, tapi ternyata sulit juga menebak. Hingga Darrel kembali menariknya ke dalam pelukan dia. “Kenapa?” Tahu tidak, apa yang ia rasakan saat berada dalam dekapan Darrel? Seperti berada dalam sebuah tempat di mana tak ada yang bisa menyentuhnya. Ia merasa begitu aman, bahkan tak berniat untuk pergi. “Saat aku mengatakannya, apa kamu akan tetap bersikap begini padaku?” Kinara diam. Bagaimana ia menjawab, toh ia juga tak tahu apa yang akan dikatakan Darrel. “Tapi meskipun kamu nggak suka dengan apa yang ku katakan, berjanjilah untuk tak pergi dari sekitarku, Ra. Aku tahu ini salah, tapi aku hanya sekadar ingin berharap lebih dari kamu. Bisa, kan?” “Maksudnya apa?” “Jadilah milikku.” “Hah?” berniat melepaskan diri dari dekapan Darrel, tapi tak bisa. Karena Darrel justru dengan sengaja menahan niatnya itu. “Darrel ...” “Nara, aku mau kamu jadi milikku. Jadi hal yang ku utamakan dalam keadaan apapun. Jadi seseorang yang bisa memberikan sebuah rasa yang berbeda padaku.” Kinara yang sedari tadi dibuat bingung, tapi makin mendengar perkataan demi perkataan yang diutarakan dan diakui Darrel, membuatnya semakin paham kemana arah pembicaraan dia. Yang tadinya berusaha melepaskan, kini seolah pasrah untuk mencoba mendengarkan. “Maaf, jika aku seolah sedang memaksamu, Ra. Itu karena aku nggak ingin jika kamu jatuh kepada orang yang salah. Aku nggak ikhlas jika orang lain yang memilikimu selain aku. Aku nggak mau, cintamu justru orang lain yang mendapatkan. Aku mau ... berikan hatimu itu padaku.” “Darrel, aku ...” “Aku mohon, Nara. Bisa, kan ... berikan hatimu padaku. Aku janji, akan menjaga sebak mungkin. Aku janji, nggak pernah membuat kamu sedih, apalagi sampai terluka.” Darrel seakan mengeluarkan semua perasaan yang berusaha ia pendam, tapi rasanya malah justru menyakitinya sendiri. Seakar saat semua sudah ia utarakan, berharap kalau Nara mau menerimanya. “Kamu sedang memaksaku?” “Iya, aku memaksamu.” “Kamu jahat.” “Terserah, tapi aku memang menginginkanmu, Nara.” “Aku ... nggak bisa,” respon Kinara mendorong Darrel dari hadapannya dengan kuat, hingga rengkuhan Darrel di badannya terpaksa lepas. Terlihat, raut tak terima langsung terukir jelas di wajah Darrel ketika mendapat balasan seperti itu darinya. Ia memang baru mengenal sosok Darrel selama beberapa hari, tapi ia sudah mengenal betul kapan cowok ini akan kesal, marah, serius ataupun bercanda. “Kenapa?” “Karena aku ...” “Memikirkan perihal dunia bisnis? Itu urusanku, kamu jangan khawatir.” “Kamu menginginkanku yang nyatanya orang tuaku ingin menghancurkanmu, Darrel. Jadi, apa menurutmu aku tega mengajakmu dalam kehidupanku yang seolah membawamu pada orang tuaku sendiri?” “Aku nggak perduli.” “Tapi aku perduli.” “Kamu nggak kasihan padaku?” “Enggak,” jawab Nara cepat. “Karena aku bukan menaruh rasa kasihan padamu, tapi justru aku menaruh hati padamu.” Berpikir kalau perasannya yang ditolak oleh Nara, tapi ternyata tidak. Dia memilih menahan agar dirinya aman dan nggak bisa disentuh oleh orang tua dia. “Aku nggak mau, seseorang yang ku berikan cinta dan kasih, disakiti oleh orang tuaku sendiri. Aku nggak akan pernah lakukan itu, Darrel.” “Bagaimana dengan aku?” “Untuk itulah, kita nggak bisa bersama. Karena saat kamu bersamaku, berarti kamu akan hancur di tangan orang tuaku.” “Siapa orang tuamu yang bisa membuatku hancur!” Kinara menyentuh lembut wajah Darrel. “Darrel, aku tahu kamu bisa melakukan apapun juga. Aku tahu itu. Tapi satu hal yang kamu nggak bisa lakukan dan ubah, yaitu hubungan darah antara orang tua dan anak. Seberapa baik, cinta dan sayangnya kamu padaku, kalau bukan tanpa restu mereka, aku nggak akan bisa jatuh ke tanganmu dan jadi milikmu. Kamu harus tahu itu, Darrel.” Kinara sampai menangis memberikan penjelasan itu pada Darrel. Iya, karena merasa kata-kata dan penjelasannya pasti akan membuat dia merasa kalah. “Kinara, aku nggak bisa kamu berikan keputusan seperti ini. Aku nggak bisa terima!” “Ku mohon pengertian darimu, Darrel. Ini bukan perkara aku cinta atau tidak. Bahkan kemungkinan besar kamu pun akan tahu seperti apa perasaanku padamu, tanpa ku utarakan sekalipun. Hanya saja, kita memang tak akan bisa bersama.” “Benarkah seperti itu?” “Hmm,” angguk Nara. Darrel merasa hatinya seolah sedang porak-poranda. Dia bilang cinta, tapi tak mau bersamanya karena tak ingin dirinya harus berhadapan dengan Marion dan Tiara. “Haruskah aku menggunakan jalur nekad?” “Apa maksudmu?” “Orang tuamu menginginkan bisnis dan harta, kan?” “Jangan melakukan hal yang membuatmu rugi, Darrel.” Memberi peringatan pada Darrel, ketika niat dia seolah bisa ia tebak. “Aku nggak rugi, jika dengan melepas semua itu, aku bisa mendapatkanmu.” “Kalau kamu lakukan itu, bukan hanya melepaskan semua yang kamu miliki, bahkan akupun akan memilih menjauh darimu. Ingat itu, Darrel!” “Jangan menjebakku dengan semua ancaman.” “Lakukan, jika kamu berpikir perkataanku hanya sekadar ancaman. Tapi jangan berharap banyak kalau aku masih akan berada di sekitarmu seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan aku akan memilih untuk semakin menjauh darimu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN