Kinara bukan bermaksud untuk mempermainkan perasaan Darrel, tapi apa yang dikatakannya barusan adalah benar adanya. Mencintai Darrel, tapi seolah tak akan mungkin bisa bersama. Bukan karena tak cinta, tapi justru tak ingin jika dia tersiksa kalau bersamanya. Lebih tepatnya lagi, karena orang tuanya menginginkan kekuasaan Darrel, kebayang apa yang akan terjadi jika keduanya bersama.
“Dan kamu tahu apa keputusanku? Aku tetap akan melakukan apa yang membuatku bahagia. Percuma, kan, harta berlimpah, tapi perasaan tak tenang dan bahagia.”
“Kamu tolong pahami aku dong.” Nara kembali menangis. Bagaimana tidak, ancamannya seolah dianggap tak ada artinya saja oleh Darrel. Ya, bahkan ia sendiripun tak akan sanggup melakukan itu, hanya saja tak bisakah dia sedikit merasa takut dengan ancaman yang ia berikan.
“Memintaku memahamimu, tapi kamu paham nggak dengan perasaanku?”
“Kamu sedih, aku juga. Kamu sakit hati, aku juga merasakannya. Jadi, apa kita akan adu nasib, hem?”
Kinara diam, ia lebih memilih untuk kembali merebahkan badannya di kasur, dengan posisi memunggungi Darrel. Bingung, itulah situasi yang dialaminya kini.
“Bisakah menghargai aku yang juga punya perasaan?”
“Aku lagi sakit, kamu nggak bisakah berhenti membahas semua itu?”
“Nggak akan sebelum apa yang ku inginkan dan dapatkan bisa tercapai. Tahu aku, kan ... kamu pikir bisa menghindar dan pergi begitu saja dariku?”
Kinara yang tadinya berusaha menghindari dan berharap kalau Darrel bisa menghentikan semua pembahasan ini, akhirnya merasa kalah. Kembali tidur menghadap Darrel yang masih berada di sampingnya.
“Berjanji padaku.”
“Aku janji.”
“Aku belum mengutarakan apa yang ku mau.”
“Terserah, apapun itu aku setuju dan aku janji.”
“Janji, kalau sudah memulai, jangan berpikir untuk mundur. Karena kalau sampai itu terjadi, itu artinya kamu hanya mempermainkan perasaanku.”
“Aku janji.”
Kinara menyambar tangan Darrel. “Aku mau istirahat. Kepalaku sakit, jangan pergi kemanapun selama aku tidur.”
Darrel mengangguk.
Benar sekali, hanya selang beberapa saat kedua mata itu terpejam. Berpikir kalau dia hanya pura-pura untuk tidur, tapi ternyata beneran. Terbukti dari hembusan napas teratur yang berhembus, menerpa wajahnya.
“Aku tahu apa yang kamu rasakan, jadi jangan pernah membohongiku tentang apapun itu. Memaksaku pergi, sementara kamu akan terus berada dalam cengkeraman orang tuamu yang seolah membunuhmu secara perlahan. Itu menyakitkan, Nara. Dan aku tentu saja nggak akan membiarkan kamu melewati itu semua.”
Membelai lembut pucuk kepala dia, seolah memberikan sentuhan dan kenyamanan.
Sementara Zila dan Reza saat ini berada di ruangan praktek Reza. Tentu saja adegan darah tadi masih jadi penyebab gadis itu masih pusing.
“Kamu beneran takut darah?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Aku nggak takut, cuman ... penampakannya itu bikin aku ual dan ... ah, sudahlah. Bikin makanan yang baru saja ku makan, seolah ingin keluar saja.”
Ia yang awalnya rebahan di sofa, dengan mata terpejam, kembali duduk. Asli, darah berserakan tadi bikin bumi seakan sedang bergoncang hebat. Tapi sesaat kemudian kembali ke mode rebahan.
“Kalau belum pulih, istirahat aja dulu.”
“Sepertinya ini akan lama,” gumamnya meutupi wajahnya dengan menggunakan sebuah sweater yang ia sambar. Ya, siapa lagi pemiliknya kalau bukan Reza, si pemilik ruangan.
Maaf, ya ... bukan sok cemas. Cuman sedikit kasihan saja melihat dia seperti itu. Beranjak dari posisi duduknya, kemudian menyambar alat tensi dan duduk di sofa yang ada di samping Zila yang masih tiduran.
“Mau ngapain?” tanya Zila saat Reza menyambar lengannya.
“Coba ku periksa tekanan darahmu.”
“Biasanya kalau sudah begini, tensiku langsung naik,” ujar Zila.
Reza memeriksa tekanan darah Zila dan ternyata benar adanya. Lumayan tinggi untuk gadis seusia dia.
“Kamu butuh istirahat yang lama,” ujar Reza. “Ke sini pake mobil pribadi kah?”
“Iya,” jawab Zila.
“Aku antar pulang, ya. Karena kalau nggak dibawa istirahat total, ini tekanan darahmu bisa nambah naik, loh.”
“Bentar lagi pasti mendingan.”
“Kupastikan dalam dua jam ke depan, belum ada perubahan sama sekali dengan kondisimu.”
“Astaga! Jahat banget, sih. Kamu nyumpahin aku?!” Kesal Zila dengan perkataan Reza yang seolah sedang membuatnya beneran sembuh di durasi dua jam kemudian.
“Bukan nyumpahin, tapi justru kamu sedang membohongiku. Mana ada yang dengan secepat kilat tensi tinggi, langsung down. Bisa-bisa kamu juga ikutan down dibuatnya.”
Reza menyambar sweater miliknya yang menutupi wajah Zila, kemudian meminta dia untuk segera bangun.
“Ayo, cepetan. Aku antar pulang.”
“Sudah ku bilang, aku bawa mobil, Reza.”
“Tumben memakai namaku saat memanggil,” komentar Reza.
Zila hanya bisa menghembuskan napasnya panjang dan lelah, saat Reza tiba-tiba kumat kayak orang stress.
“Mau ku panggil dengan panggilan dokter m***m aja?”
Jadilah, keduanya keluar dari sana berjalan melewati lorog-lorong rumah sakit. Dengan Zila yang masih pusing, yang mau tak mau akhirnya ia bertumpu pada lengan Reza sebagai pegangan. Mungkin bagi orang yang tak tahu, akan berpikir jika keduanya adalah sepasang kekasih yang lagi gabut jalan-jalan di lorong rumah sakit di malam hari.
“Maaf, ya ... aku jadi ngerepotin kamu?”
“Sadar diri juga ternyata,” balas Reza.
“Aku lagi mode nggak punya senjata, nih ... jadi jangan ngajakin perang. Ntar kapan-kapan lain waktu, bisalah kita lanjutkan.”
Reza hanya mengumbar senyum menaggapi pernyataan Zila. Entah apa yang lucu, tapi kali ini ia puas sekali meledek. Ditambah lagi dengan dia yang bergelayut di lengannya. Ayolah, tak semua gadis bisa menyentuhnya seperti ini. Dan lagi, Zila juga termasuk gadis pertama yang mendapat ciuman itu.
Sampai di parkiran, Zila menyodorkan kunci mobil miliknya pada Reza yang akan mengemudi.
Keduanya meninggalkan area parkiran rumah sakit, tapi baru juga setengah perjalanan, ponsel milik Reza berdering. Saat ia lirik, ternyata dari mamanya Darrel yang juga tantenya.
“Hallo, Tante.”
“Za, Darrel kemana? Ini Om sama Tante udah nungguin, loh, dari tadi.”
Reza menepuk dahinya saat lupa kalau wanita paruh baya itu untuk menjemput ke bandara.
“Ya ampun, maaf, Tante. Aku lupa bilang sama Darrel tadi.”
“Astaga! Reza! Kamu gimana, sih ... masa Om sama Tante disuruh nginep di bandara. Gitu?”
“Maaf, Tante ... kalau gitu bisa tunggu di sana beberapa menit? Ini aku lagi nganterin seseorang yang lagi sekarat.”
Zila mencubit lengan Reza yang ternyata tepat sasaran, hingga cowok itu mengaduh akan sikapnya.
“Siapa yang kamu bilang sekarat, hem?”
“Kamu sama seorang gadis di dalam mobil, za?”
“Eng-gak, Tante. Mungkin Tante salah dengar saja.”
“Tante sama Om tungguin di sini, ya. Cepat, loh, Za.”
“Iya.”
Jadilah percakapan itu berakhir. Kemudian mengarahkan pandangan sesaat pada Zila yang duduk di kursi sebelah.
“mau jemput siapa?”
“Orang tuanya Darrel.”
“Orang tuanya darrel? Memang dari mana?”
“Darrel orang tuanya kan bermukim di Amerika. Jadi, sekali sebulan paling cepat, mereka datang ke indonesia. Atau di saat mendapatkan kabar kalau Darrel sakit atau ... ya sejenisnya, sih.”
“Aku lihat di berita. Apa benar perusahaan-perusahaan itu milik keluarga dia?”
“Kalau yang ada di sini, lebih tepatnya itu punya dia pribadi.”
“Serius?”
“Ya, serius. Kamu nggak lihat di beritakah? Itu semuda dia yang kelola.”
Dari sini Zila juga berpikir, tentu saja Tiara dan Marion begitu kukuh agar hubungan Darrel dan Nara bisa bersatu. Karena saat keduanya punya hubungan yang ... ke pelaminan misalnya. Marion dan Tiara akan jauh lebih cepat lagi bisa menguasai perusahaan itu.
“Pantas saja jika orang tua Nara ngebet banget berharap kalau Nara dan Darrel jadian. Enggak bisa mode sehat, malah membuat Nara dan Darrel berada di antara sebuah masalah.”
Sampai di kediaman Zila, keduanya langsung turun. Seperti biasa, ia hanya sendirian di rumah. Lebih tepanya, hanya dengan seorang asisten rumah tangga dan pak satpam yang berada di dekat pagar depan.
Sebagai anak dari pebisnis, ia juga merasakan hal yang sama seperti Nara. Hanya saja sedikit bersyukur, orang tuanya tak memiliki sikap seperti orang tua Nara. Karena untuk circle pertemanan, ia masih bisa diberi kebebasan, asalkan aman dan nyaman. Termasuk dengan Nara sekalipun, ia masih diberi ijin.
Seorang wanita paruh baya datang dari arah dalam.
“Non kenapa?” tanya wanita paruh baya itu.
“Biasa, ngadepin darah.”
“Dari kejadian ini membuktikan kalau kamu nggak akan cocok jika memiliki pasangan seorang dokter,” ujar Reza sekaan sedang meledek.
“Sayang sekali, aku juga nggak berminat kalau pasanganku seorang dokter. Itu menakutkan.”
Reza menarik napasnya panjang, kemudian bersiap untuk pergi. Menyodorkan kunci mobil pada nara.
“Ini, kunci mobil.”
“Bukannya mau jemput orang tuanya Darrel?”
“Iya.”
“Kalau gitu, pake aja mobilku dulu. Kelamaan kalau kamu muter dan balik lagii ngambil mibil.”
“Serius, nih?" tanya Reza.
"Iya."
Jadilah, Reza kembali berlalu pergi dengan menggunakan mobil milik Zila. Setidaknya benar, sih ... ia tak perlu lagi muter-muter untuk mengambil mobil.
Sedangkan Zila? apalagi yang ia lakukan kalau bukan rebahan untuk beberapa waktu ke depan.