Menepati janjinya pada Nara untuk tetap menemani di saat dia tertidur. Iya, itu memang dilakukan oleh Darrel. Bahkan tak beranjak walau hanya sebentar dari posisi duduknya. Dan lagi, tangannya berada dalam genggaman Kinara ... bagaimana bisa dirinya pergi.
Sekitar satu jam kemudian, ponselnya berdering. Perlahan, ia merogoh sakunya untuk mengambil benda pipih itu. Perlahan menjawab panggilan yang ternyata dari Reza.
“Hallo, Za.”
“Masih di rumah sakit?”
“Iyalah,” jawab Darrel dengan suara pelan, karena tak ingin Kinara terbangun karena merasa terganggu dengan percakapannya di telepon. “Gimana, Za ... orang tua gue udah lo jemput, kan?”
“Udah,” jawab Reza. “Dan gue juga dapat bonus omelan.”
“Omelan kenapa? Lo udah bilang seperti apa yang gue minta, kan?”
“Udah, tapi mereka nggak percaya. Jadinya, gue ...”
“Jangan-jangan lo bilang kalau gue nungguin Nara di Rumah sakit.”
“Bukan.”
“Syukurlah,” lega Darrel menghembuskan napasnya dengan tenang.
“Tapi, gue bilang sama Om dan Tante kalau elo nunggu calon istri lo di rumah sakit.”
Seketika Darrel hendak berteriak saking geramnya dengan pengakuan Reza, hanya saja sikapnya itu tertahan saat menyadari di mana dirinya kini. Yang benar saja, bisa-bisa Nara bangun dan bertanya ada apa.
“Reza! Lo ...”
Terdengar tawa puas Reza saat mendengar reaksi Darrel, kemudian dengan sengaja menutup percakapan sepihak.
Darrel berdecak kesal, kemudian meletakkan ponselnya di nakas. Bisa-bisanya Reza mengatakan hal itu pada orang tuanya. Tahu, kan, bagaimana kelanjutannya? Apalagi kalau bukan menuntut dirinya untuk segera melangkah menuju sebuah keseriusan.
Tak lama, ponselnya kembali berdering. Berpikir kalau Reza lagi, tapi ternyata kali ini justru malah mamanya. Malas banget rasanya untuk menjawab, karena sudah bisa ditebak apa yang akan beliau bicarakan. Tapi kalau tak dijawab, justru malah makin runyam. Tahu sendiri, kan, emak-emak seperti apa?
Akhirnya ia riject panggilan dari mamanya dengan sengaja. Kemudian perlahan melepaskan pegangan tangan Nara di tangannya. Jangan sampai dia benar-benar bangun. Berhasil, kemudian ia berjalan ke arah dekat jendela untuk kembali memanggil ulang mamanya.
“Hallo, Ma.”
“Udah bisa main riject panggilan Mama ya, sekarang, hem?”
“Ma ...”
“Sampai lupa buat jemput orang tua dia Bandara,” lanjut wanita paruh baya itu.
Darrel menghela napasnya panjang.
“Yasudah, Mama lanjut ngomel dulu. Aku dengerin.”
“Darrel.”
“Aku punya alasan, dan lagi aku juga udah minta tolong kan sama Reza buat jemput Mama sama Papa. Jadi?”
“Jadi, siapa dia yang sedang kamu temani di rumah sakit? Beneran seperti apa yang Reza katakan?”
Darrel melirik ke arah Nara, masih aman. Dia masih tertidur dengan nyenyak. Bukan takut dia terbangun, hanya saja takut jika tanpa sadar dia melakukan pergerakan hingga berefek pada selang infus dan luka yang ada di pergelangan tangan.
“Memangnya Reza bilang apa, Ma?”
“Calon istri.”
Darrel malah tersenyum simpul menanggapi perkataan mamanya.
“Nak, ini Mama lagi bicara serius, loh, Kalau beneran, ya, bagus. Lebih baik lagi kalau kalian segera ...”
“Oke, ku akui kalau aku memang menginginkan dia sebagai calon istri, tapi semua itu nggak semudah itu, Ma.”
“Apa yang bikin kamu mikir panjang lagi, sih, Darrel?”
Darrel tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan mamanya, tapi justru bergegas menghampiri Kinara yang melakukan pergerakan. Saat sampai, langsung menggenggam tangan Nara agar dia tak merasa ditinggalkan.
Mata Kinara terbuka perlahan, menatap Darrel yang duduk di kursi di samping tempat tidurnya.
Tersenyum simpul saat mendapati Darrel benar-benar menepati janji untuk tak kemana-mana. “Masih di sini,” gumamnya.
“Seperti yang kamu mau, kan.”
“Darrel, siapa itu? Apa dia gadis yang di maksud Reza?”
“Ma, besok kita ketemuan, ya. Dahh.”
“Darrel!”
Langsung menutup sambungan telepon dengan mamanya, daripada harus bicara panjang lebar yang ujung-ujungnya tetap saja memaksanya untuk langsung ke mode serius. Entahlah, mamanya seolah sudah menganggapnya sebagai seorang cowok tua bangka yang tak laku-laku, hingga saat didekati seorang wanita malah memintanya untuk langsung sikat.
Dahi Kinara berkerut saat melihat reaksi Darrel di telepon dengan seseorang.
“Aku ganggu kamu bicara di telepon?”
“Enggak.”
“Kenapa tiba-tiba ditutup?”
“Itu barusan dari mamaku.”
“Maaf, pasti karena aku menghabiskan waktumu di sini, jadinya ...”
“Kamu benar.”
Kinara melepaskan tangan Darrel yang menggenggam tangannya, kemudian menatap cowok itu serius.
“Maaf, aku malah menahanmu di sini, seolah-olah kamu itu milikku. Padahal kamu juga kehidupan pribadi. Sekarang mending kamu pulang aja, aku udah nggak apa-apa, kok,” jelas Nara tersenyum, merasa tak enak.
Apalagi pada orang tua Darrel. Jujur, ia benar-benar tak enak hati. Seolah sedang menahan anak orang tanpa ijin. Padahal dia juga punya kehidupan pribadi.
“Beneran mau minta maaf?”
“Hmm,” angguk Nara.
Darrel menyambar kembali ponsel yang ia letakkan di nakas, kemudian menghubungi seseorang. Tak lam, setelah panggilannya terhubung, ia posisikan benda pipih itu di telinga Nara.
“Kamu telepon siapa, Darrel?”
“Mau minta maaf, kan?”
“Iya, Tapi ...”
“Kalau Mama lagi bicara, jangan main tutup aja dong, Darrel. Kebiasaan banget kamu, bikin orang tua snewen.”
Kinara tiba-tiba memasang muka bingung, saat pendengarannya mendengar seorang wanita sedang mengomel. Mengarahkan pandangannya pada Darrel, bukannya memberikan jawaban, tapi malah hanya meliriknya.
“Bicaralah,” pinta Darrel.
Berasa dihadapkan pada sebuah adegan yang membingungkan. Dia meminta dirinya bicara. Mau bicara apa, coba?
“Siapa?” tanya Nara dengan gerakan bibir.
“Mamaku,” jawab Darrel.
Seketika itu juga muka Kinara langsung kaget. Bisa-bisanya Darrel malah menelepon orang tua dia untuk bicara dengannya. Malah langsung mengomel lagi. Jadi sekarang ia harus apa? Ya, apalagi kalau bukan memberanikan diri untuk bicara.
“Hallo, Tante,” sahut Nara perlahan.
Seketika yang tadinya mengomel, langsung mode diam.
“Loh, ini siapa?”
Nara masih mode cemas saat bicara. Takut, jika kata-kata yang ia gunakan salah posisi. Menarik Darrel untuk meminta dia yang bicara, eh malah memaksanya. Baru kali ini ia dihadapkan pada orang tua seorang cowok yang dekat dengannya. Bahkan Vano yang sudah ia kenal beberapa tahun, tak pernah tuh bicara dengannya.
“A-aku Kinara, Tante,” ungkapnya.
“Kinara?”
“Hmm,” sahut Nara.
“Kamu siapa nya Darrel?”
Melirik ke arah Darrel. “Aku temannya Darrel,” jawabnya.
Lihatlah, wajah tak terima Darrel saat dirinya mengaku sebagai teman. Enggak salah, kan, jawaban yang ia berikan. Karena antara keduanya memang nggak ada hubungan khusus ... hanya sekadar teman biasa.
“Yakin hanya teman biasa?”
“Iya.”
“Jadi?”
“Hmm, Tante ... aku mau minta maaf, karena gara-gara nemenin aku di rumah sakit, bikin Darrel buang-buang waktunya di sini. Sungguh, aku nggak ada niatan buat ...”
“Jadi kamu yang di maksud Reza?”
Kembali melirik Darrel dengan lirikan tajam. Entah apa saja yang sudah dia bicarakan dengan orang tua dia, hingga sampai membuatnya merasa kelabakan sendiri menghadapi ini.
“Maksudnya apa, Tante?”
“Reza bilang kalau kamu calon istrinya Darrel.”
“Calon istri?!”
Jujur saja, ia merasa kaget dengan semua ini. Apa maksud mengatakannya calon istri Darrel?
Memasang tatapan tajam pada cowok yang ada di sampingnya. Dirinya mode panik, lah dia malah tampak tersenyum sumringah dengan semua itu. Apa Darrel memang sengaja berniat untuk membuat dirinya panik?
“Iya, kamu calon istrinya Darrel, ya? Itu artinya calon menantu Tante dong.”
Terkekeh dengan berat hati. Ingin menutup percakapan, tapi rasanya nggak sopan. Alhasil, hanya menahan rasa kesal yang nanti akan ia lampiaskan pada Darrel.
“Siapa yang bilang begitu, Tante. Semuanya nggak benar, kok. Si Dokter Reza nya itu aja yang nyebelin, suka ngasih info yang nggak benar.”
“Tapi masalahnya Tante juga dengar sendiri dari pengakuan Darrel. Jadi, Darrel juga bohong?”
Kinara bingung harus bicara apalagi. Ditambah dengan Darrel yang malah menghadapkannya pada orang tua dia secara tiba-tiba. Rasanya seolah kehabisan kosakata untuk bicara.
“Tante maafi aku, kan, karena udah menahan dia di sini?”
“Iya, Tante maafin. Tapi dengan satu syarat.”
“Syarat?”
“Besok Tante ke rumah sakit, ya, jengukin kamu. Reza bilang kamu lagi sakit, makanya Darrel harus nemenin.”
“T-tapi ...”
“Boleh, kan?”
Menghela napasnya panjang, ketika ia merasa saat Ibu dan anak seolah memiliki sikap dan sifat yang sama. Sama-sama memaksa ketika ada maunya.
“Hmm, iya. Boleh, Tante.”
“Kalau gitu, kamu istirahat, ya. Biar cepat pulih dan sehat.”
“Iya.”
Percakapan selesai, endingnya adalah menyerang Darrel dengan cubitannya. Kesal, serius. Ketika dirinya bingung harus bicara apa, Darrel malah terus memaksa dirinya bicara.
“Sakit, Ra,” komentar Darrel saat cubitan itu menyerang badannya. Selalu saja begitu ... kalau kesal, pasti dengan sengaja menyerangnya. Seolah tahu saja kelemahannya ada di tangan dia.