BAB : 44

1389 Kata
Selesai bicara di telepon, seperti yang ia niatkan barusan ... apalagi kalau bukan menyerang Darrel dengan cubitannya. Ngeselin banget dia, berasa mau ia tendang, tapi apa daya badan masih tergolek di atas tempat tidur. “Maaf, maaf ... aku cuman mau menguji nyalimu saja, Ra. Ternyata kua juga.” “Kuat apanya, hem? Astaga! Darrel, kalau aku nggak lagi sakit, nggak lagi butuh kamu di sini. Udah aku ... “ Menghentikan kata-katanya. “Dahlah, intinya aku kesal padamu.” Ingin mengubah posisi tidurnya untuk memunggungi Darrel, tapi lupa kalau tangannya lagi sakit. Alhasil, malah nggak sengaja ketarik gitu saja. Memicingkan kedua matanya seketika, saat perih itu kembali terasa. “Kamu, sih ... udah tahu tangan masih sakit, pake acara mau ngambek padaku segala.” Mengelus lembut pergelangan tangan Nara dan sesekali meniup-niup agar rasanya kembali nyaman. “Ya ampun, kamu bikin gregetan banget, sih. Berasa mau makan orang aku,” gerutu Nara tertahan karena menahan sakit di tangannya yang berada dalam pegangan Darrel. Sesaat kemudian Nara masih memakai mode ngambek, tapi jujur saja ... ngambeknya dia manis kelihatan manis kok di matanya. Dia ngambek, tapi saat ia sentuh masih diberi ijin. Apa seperti ini, ya, jika seseorang merasa nyaman, meskipun kesal atau marah, tetap saja tak akan bisa jauh-jauh atau menunjukkan rasa marah itu. “Jadi, gimana?” “Apanya yang gimana?” “Mamaku bilang apa?” Memutar bola matanya seolah mencoba mengingat-ingat perkataan mamanya Darrel barusan. Aslinya ingat, cuman pura-pura sedikit berpikir saja. Padahal di pikirannya justru malah terngiang-ngiang. “Mama kamu besok mau ke sini.” “Trus?” tanya Darrel berharap kelanjutan. “Aku kesal, Reza malah mengatakan hal yang tidak-tidak sama mama kamu tentang hubungan kita.” “Trus?” “Trus? Ya itu doang. Nggak ada lagi.” “Dan aku nggak terima saat kamu bilang kalau hubungan kita hanya sekadar teman. Maksud kamu apa bicara begitu? Melupakan begitu saja kalau aku ...” “Darrel, memang kenyataannya begitu, kan? Kita memang nggak ada hubungan apa-apa. Sampai detik ini hanya sekadar teman biasa. Aku nggak salah, kan, bicara seperti itu sama mama kamu.” Darrel menatap fokus pada Nara yang juga memberikan tatapan serius padanya. Tahu tidak, baru kalai ini ada gadis yang berani menatapnya seintens ini, rasanya seolah menembus hatinya. Meletakkan kedua tangannya di antara posisi Kinara yang masih tidur, membuat keduanya semakin beradu pandang dalam jarak dekat. “K-kamu mau ngapain?” Mulai panik. Bukan apa-apa, ia punya pengalaman satu kali mendapat sikap yang bikin kaget dari darrel. Jadi, wajar jika kali ini dirinya terlihat was-was. “Ra, bisa nggak, sih, kamu menganggap semua yang ku lakukan dan ku katakan padamu itu sebagai sebuah keseriusan? Aku tahu, semua butuh waktu ... termasuk perasaan yang nyatanya terlalu sensitive. Hanya saja, bolehkah aku meminta darimu untuk menerimaku tanpa menunggu waktu yang lama?” Jantung Kinara terasa mau copot, ketika berhadapan dengan Darrel. Sepertinya jika gadis lain pun yang berada di posisinya ini, juga akan merasakan hal yang sama. Entahlah, rasanya Darrel itu sejenis cowok seperti sebuah maghnet, yang suka menarik dan tak bisa mengelak. Kinara menalihkan pandangannya ke arah samping, karena tak berani lagi jika berhadapan dengan Darrel. Makin lama, justru terasa makin menusuk matanya. “Aku sedang bicara padamu ... bisa, kan, lihat aku?” Nara mencengekeram pinggiran selimut, demi menahan rasa takut. Kemudian kembali menatap dua bola mata yang sedang menunggunya untuk bicara. “Sudah ku katakan padamu, apa alasanku, kan?” “Selain itu?” Kinara menggeleng. “Hanya itu yang membuatku nggak menerima kamu. Aku nggak mau jika bersamaku, membuatmu justru rugi. Aku nggak mau jika kamu disakiti oleh orang tuaku. Tahu, kan, niat mereka untuk mendekatkanku padamu apa? Dan sekarang kita benar-benar dekat. Apa menurutmu aku akan lanjutkan perasaan ini? Enggak, Darrel.” Darrel tersenyum, seolah jawaban Kinara sudah membuka ijin dirinya untuk masuk. Lebih tepatnya, melakukan sesuatu yang mungkin akan sedikit mengagetkan dia, atau bahkan semua orang. “Jangan tersenyum.” “Ada apa dengan senyumanku?” “Mengandung sebuah rencana yang ..” “Hmm, kamu benar.” Mata Nara membola, saat mendapatkan jawaban seperti itu dari Darrel. “Kamu merencanakan apa? Jangan aneh-aneh, loh.” Darrel tak menjawab, beranjak dari posisinya karena tak mau memberikan info tentang niatnya itu. Hanya saja semua malah jadi berubah alur ketika Kinara malah menariknya cepat. Tak tertahan, malah membuatnya kembali jatuh tepat dihadapan Nara. Kali ini bukan hanya sekadar jatuh, karena adegan yang tadinya tak berharap terjadi, justru seolah terjadi begitu saja. Mata Nara terbuka lebar, saat sentuhan di bibirnya lagi-lagi terjadi tanpa persetujuan darinya. Dan untuk kedua kalinya, masih Darrel lah yang jadi pelaku utama. Rasanya, seolah waktu sedang mempermainkan keduanya perkara hati dan perasaan. Memicingkan kedua matanya, kemudian dengan cepat mendorong Darrel dari hadapannya hingga ciuman tak terencana itu berakhir dan memasang wajah kesal. “Darrel! Kamu ...” “Ini bukan salahku, kamu yang menarikku, kan,” timpal Darrel langsung ketika Nara berniat menyalahkannya. Masih berada dihadapan Nara, kemudian tersenyum puas. “Tapi, setidaknya waktu seolah menyetujui semua itu terjadi, kan.” Kinara menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan karena merasa malu. Iya, malu karena apa yang dikatakan Darrel memang benar. Yang barusan terjadi memang salahnya. Ia yang menarik cowok ini hingga jatuh padanya. “Aku mau tidur.” “Ra ...” “Aku mau tidur, Darrel,” ulangnya. Jadilah, Darrel beranjak dari posisinya. Ingin tertawa rasanya melihat sikap dia, tapi tertahan karena kalau ia ledek justru membuat Nara malah makin kesal. Apanya yang mau tidur, sudah jelas-jelas dia baru saja bangun tidur. “Baiklah,” respon Darrel. “T-tapi, jangan pergi ... jangan kemana-mana.” Dahi Darrel berkerut mendengar perkataan Kinara. “Jangan meninggalkanku di sini sendirian. Aku takut,” tambahnya bergumam. “Baiklah,” sahut Darrel. Jadilah, keduanya hanya diam seolah tak ada bahan untuk dibicarakan. Darrel bukan bingung, tapi ia seolah sedang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kinara. Karena terlihat jelas di wajah dia seakan ingin bicara, tapi malah mencoba menahan. “Ra, kamu mau bicara sesuatu padaku?” Kinara menggeleng. “Kalau memang ada yang mau kamu bicarakan, katakanlah.” Ini bukan hal yang besar, hanya saja Nara justru merasa tak enak hati untuk berkata. Bukan karena dirinya sudah berbuat sesuatu yang salah, tapi karena malu ketika berhadapan dengan Darrel. “Maaf, ya.” “Lagi?” “Aku minta maaf dengan sikap burukku ini. Maaf, kamu harus merasa direpotkan. Mungkin kamu berpikir aku begitu bodoh, atau sejenis gadis yang seolah tanpa pikir panjang dulu sebelum bertindak. Iya, benar ... aku memang begitu. Lebih tepatnya, aku capek untuk menyelesaikan. Ada jalan pintas, berpikir mungkin akan lebih baik.” Darrel menyambar tangan Kinara, menautkan jemarinya dengan jemari gadis itu. Kemudian mencium pergelangan tangan berbalut luka itu. “Masih sakit?” “Kinara mengangguk.” “Sebenarnya aku marah saat kamu melakukan tindakan ini. Marah, kenapa, sih harus dengan jalan pintas. Tak bisakah kamu belajar untuk menyelesaikan semua masalah dengan tenang?” “Aku bukan kamu, yang saat bermasalah terlihat biasa saja.” “Nah, itu kamu tahu. Aku terlihat tenang. Iya, hanya sekadar yang orang lain lihat. Mereka dan semua orang, termasuk kamu, tak tahu sebenarnya apa yang sedang ku rasakan dan hadapi.” Pandangan fokus nara tertuju pada darrel. Seolah sedang menerina setiap kata-kata yang dia utarakan. “Kalau kamu lengah dan terlihat lemah, otomatis orang lain atau masalah itu sendiri akan dengan mudah menguasaimu. Maka dari itu, biasakan dirimu untuk tak memperlihatkan masalah yang ada pada dirimu di depan semua orang. Bukan mendapatkan simpatik, tapi itu justru akan membuatmu sakit,” jelas Darrel. “Kecuali padaku. Karena aku lebih suka kamu terbuka dan bicara padaku tentang semua masalahmu.” “Aku sudah biasa, jadi ...” “Berjanjilah padaku kalau ini adalah yang terakhir kalinya,” pinta Darrel. “Kamu pikir aku tenang dengan kondisimu yang sampai kritis begitu? Bahkan kalau kamu nggak selamat, aku akan membunuh orang tuamu dengan tanganku sendiri.” Tahu tidak apa yang dirasakannya saat ini? Yap, sebuah rasa haru. Karena sebelumnya tak ada satupun orang yang sebegitu besar memerhatikannya, menjaganya, dan khawatir ketika dirinya terluka. Tiba-tiba sekarang Darrel datang dan memberikan semua itu. Bagaimana hatinya tak goyah. Iya, dulu orang tuanya memang tak sejahat ini, tapi untuk perhatian dan kasih sayang, mereka masih seperti saat ini. Mengabaikan dirinya demi pekerjaan. Tapi sekarang justru lebih parah, mereka seolah melupakan dirinya yang berstatus sebagai seorang anak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN