BAB : 45

1481 Kata
“Orang tua kamu tadi ke sini,” ujar Darrel. “S-serius?” tanya Nara memastikan. “Mereka datang menemuiku saat belum sadar, atau kapan?” Darrel menggeleng perlahan. “Mereka nggak akan berani datang apalagi bertemu denganmu. Karena aku melarang.” “Itu lebih baik,” respon Nara lagi. Dahi Darrel sedikit berkerut saat mendapatkan respon dari Kinara. “Kamu nggak mau ketemu sama mereka kah? Nggak marah saat aku melarang mereka untuk datang?” “Ini memang sulit, tapi setelah sembuh, aku mungkin akan pergi dari semua masalah ini. Aku nggak mau jadi boneka yang hanya bisa diperintah dan melakukan hal-hal yang nggak ku inginkan.” “Aku nggak setuju.” “Terserah. Siapa kamu yang bisa mengaturku.” “Kamu beneran mau membantah dan melakukan hal itu, meskipun aku nggak setuju?” Kinara mengangguk. “Tahu alasanku melakukan semua itu, kan? Itu artinya, kamu setidaknya harus setuju dan mendukung semua keputusanku, Darrel.” “Enggak! Karena aku sudah membuat sebuah rencana. Rencana yang akan membuat kamu benar-benar jadi milikku.” “Ish, apaan, sih. Jangan membuatku berpikiran yang tidak-tidak dengan rencana gila mu itu,” gerutu Nara. Kinara memang tak tahu rencana apa yang sedang dipikirkan dan diatur oleh Darrel, tapi melihat kepintaran dia dalam dunia bisnis dan berpikir. Ia yakini jika dia memiliki rencana yang menggila. “Benar,” sahut Darrel. “Ini memang sedikit di luar batas, tapi setidaknya dengan begini aku bisa mendapatkanmu.” “Maksud kamu apa?” Darrel tersenyum simpul. Bukannya menjawab pertanyaan Nara, ia justru beranjak dari posisi duduknya, kemudian mencium dahi gadis itu sekilas. “Sekarang kamu istirahat, ya. Udah jam sebelas malam. Besok kita bicara lagi.” Menarik selimut dan menutupi tubuh Nara dengan benda itu hingga menutupi d**a. “Aku nggak mau sampai hal yang kamu lakuin, bisa bikin hidup kamu jadi kena imbasnya, Darrel. Aku nggak mau kayak gitu. Bisa nggak, sih, jangan melakukan tindakan yang diminta oleh orang tuaku. Aku nggak mau dan aku nggak setuju itu.” Darrel yang duduk di kursi, seolah diserang oleh omelan Nara yang begitu panjang. Entah dia sedang memikirkan apa, hingga bisa bicara sebegitu lancarnya. “Kamu mikir apa, sih, hem?” Meletakkan telapak tangannya di pucuk kepala gadis itu, kemudian mengelusnya lembut. “Aku nggak sebodoh itu, Ra ... sampai melakukan hal yang membuatku rugi. Iya, aku memang inginkan kamu, tapi aku punya cara sendiri agar kedua hal penting itu tetap jadi milikku.” “Katakan padaku.” “Cukup ikuti alur yang ku ciptakan. Bisa?” Entah apa yang sedang direncanakan Darrel. Ia memang takut dan juga cemas. Bukan memikirkan dirinya, tapi justru memikirkan Darrel. Hanya saja entah kenapa, ia seolah ditarik oleh sebuah rasa untuk setuju dengan apa yang sedang dia rencanakan. “Hmm,” angguk Kinara. “Bagus,” balas Darrel tersenyum. “Sekarang, kamu tidur.” “Kamu?” “Aku akan tetap di sini sama kamu.” Jadilah, malam itu Darrel menginap di rumah sakit untuk menjaga Kinara. Bukan karena takut Marion atau Tiara tiba-tiba datang, toh ada orang suruhannya juga yang menjaga di sekitar rumah sakit ini. Tapi justru ia merasa tak tenang saja jika meninggalkan dia sendiri. Terlebih peringatan-peringatan yang diberikan dokter tadi, sebelum dia sadar. Itu semua membuat tingkat cemasnya semakin menjadi-jadi. Dan itu pulalah yang membuat dirinya semakin menginginkan Kinara lebih cepat menjadi miliknya. Matanya terbuka perlahan, ketika sentuhan lembut itu terasa di wajahnya. Bukan hanya lembut, tapi juga hangat. Entah ini pengaruh obat atau apa, tapi sekarang tulang-tulang dan persendiannya terasa begitu remuk. Padahal semalam kondisinya mulai membaik. Sedikit heran, karena setahunya sentuhan Darrel biasanya dingin, layaknya sebuah es, tapi ini berbeda. Rasanya begitu hangat. Seperti sentuhan tangan seorang wanita. Mungkin lebih mirip sentuhan mamanya, dulu. Sebelum semua berubah. Menatap langit-langit, kemudian memutar pandangannya ke arah samping. Tampak seorang wanita memandanginya dengan raut hangat dan senyuman terarah padanya. Tak mengenal, bahkan ia tak tahu siapa wanita paruh baya yang kini sedang berhadapan dengannya. Tapi fokusnya kini beralih pada sosok yang sangat ia kenal. “Darrel,” gumamnya. “Ya.” Memang tak langsung bertanya, tapi Darrel seakan paham dan mengerti pertanyaan apa yang sedang dipikirkan oleh Kinara. Dan itu terlihat begitu jelas dari raut wajah yang dia tunjukkan. “Ini mamaku,” ujar Darrel langsung memperkenalkan wanita paruh baya yang duduk di kursi, samping tempat tidur Nara. “Hah?” Memasang wajah kaget. Berasa dihadapkan padan sesuatu yang dadakan. Bagaimana tidak, ini mamanya Darrel tiba-tiba muncul, di saat dirinya masih tidur. Ya ampun, ia merasa begitu malu. “Mama kamu?” “Iya,” jawab Darrel. Tersenyum dengan sedikit bingung. Iya, bingung harus bersikap bagaimana. Intinya, ia takut salah sikap. Nara menyambar tangan wanita paruh baya itu, kemudian lanjut menciumnya. “Maaf, Tante ... aku merasa bersalah. Bukannya mengunjungi, malah aku yang disamperin ke sini,” ujar Nara tak enak. Sebagai seorang Ibu yang tentunya menjunjung tinggi sebuah rasa hormat dan sopan santun, mendapatkan sikap seperti itu dari Kinara jujur saja membuatnya simpatik. “Loh, kok harus minta maaf? Kamu lagi sakit di sini, mana mungkin Tante minta untuk datang ke rumah atau ketemuan di tempat lain,” balas wanita paruh baya yang bernama Amira itu. “Aku merasa nggak enak.” “Nggak apa-apa, semua itu kan tergantung situasi dan kondisi,” terang Amira. Bagaikan berdiri di atas mimbar, dengan banyak penonton. Itulah yang dirasakannya kini. “Jadi, kamu yang semalam bicara sama Tante?” Nara tersenyum. “Iya, Tante,” jawabnya. “Terlalu manis, ya, aslinya,” tawa Amira seakan puas dengan bayangannya akan sosok Kinara. “Suara kamu pas bicara di telepon, bikin nagih.” Di saat yang bersamaan, tiba-tiba pintu didobrak begitu saja dari arah luar. Membuat ketiganya kaget, karena sedang mengobrol. Tampak dua orang masuk dengan wajah penuh emosi. Ketebak, kan, siapa pelakunya? Siapa lagi kalau bukan Marion dan juga Tiara, orang tuanya Nara. “Apa-apaan melarang kami menemui Kinara!” bentak Marion. “Ingat, Darrel! Nara itu putri kami. Jadi, kami berhak atas dia!” Tiara menambahkan. Langsung, mendapatkan kejadian seperti itu, membuat Nara seketika drop. Tangannya mencengekeram pinggiran tempat tidur, dengan tatapan fokus pada dua orang yang seolah sedang mendekat untuk membunuhnya. Badannya terasa bergetar, hingga keringat seakan sedang membanjiri badannya. “Maaf, Bos. Mereka berdua memaksa masuk,” ujar salah satu bawahan Darrel berusaha membawa Marion dan juga Tiara untuk segera keluar. Darrel tak berkata apa-apa, tapi dari raut wajahnya seakan menunjukkan kalau kali ini emosinya berada di tingkat paling atas. Bahkan dengan sengaja ia memaksa sepasang suami istri itu untuk keluar dari sana, tanpa memandang kalau keduanya adalah orang tua dari Nara. “Tenang, ya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja, ada Darrel yang akan menjaga kamu,” bisik Amira saat mendapati kondisi Nara justru seketika drop dengan kejadian barusan. Entah apa yang tengah dialami gadis ini, ia bahkan belum mengetahui. Hanya saja dari kecemasan dia, terlihat sekali kalau dua orang barusan jadi moment menakutkan dalam pikiran dia. Sampai di luar, dua orang bawahan Darrel datang. Membuat Marion dan Tiara makin tak berkutik, tapi seolah berusaha untuk tetap pada pendirian mereka. “Sudah ku katakan, kan ... jangan pernah menemui Kinara tanpa ijin dariku!” “Dan kamu harus ingat, Darrel. Kinara itu anak kami. Kamu nggak berhak mengatur kehidupan dia! Dan tentang niat kami di awal, semuanya anggap saja omong kosong. Percuma, kami juga tak akan mendapatkan apa-apa dari kamu! Sekarang, kembalikan Nara pada kami dan silakan pergi dari kehidupan kami!” Darrel tersenyum sinis mendengar perkataan Marion. Bisa-bisanya, setelah membuat Nara jatuh dan masuk ke dalam hati dan kehidupannya, kini malah meminta dirinya untuk melepaskan begitu saja. Ayolah, ia bukanlah seorang manusia yang diciptakan untuk mengembalikan sesuatu yang membuatnya merasa nyaman. Seketika senyuman itu hilang, berganti dengan tatapan tajam seakan menusuk. “Jangan bercanda denganku!” “Jangan mengancam. Kami hanya ingin kembalikan Kinara! Terserah, kamu mau apalagi. Yang jelas, kehidupan dia masih di tangan kami, orang tuanya.” Sebenarnya baik Marion ataupun Tiara tak seberani itu bicara pada Darrel. Keduanya tahu betul siapa Darrel, dan seperti apa pengaruh dia dalam dunia bisnis. Hanya saja, memaksakan diri untuk terlihat berani. Karena keduanya tahu, kini Darrel pasti benar-benar menginginkan Nara. “Dengarkan aku baik-baik! Kinara memang anak kalian, tapi dia lebih nyaman bersamaku. Setuju atau tidak, terserah kalian. Karena sebagai orang tua, kalian tak memberikan sebuah kasih sayang pada dia, tapi justru menciptakan sebuah trauma mendalam bagi pikirannya.” “Kamu ...” “Mau menempuh jalur hukum? Silakan. Karena aku pastikan, meskipun status kalian adalah orang tua kandung, itu nggak akan menjamin kalau dia akan berakhir di tangan kalian!” Darrel memberikan kode pada ketiga orang suruhannya, kemudian ia kembali masuk ke dalam ruangan di mana Kinara dirawat. “Darrel!” Masih terdengar teriakan tak terima Marion dan Tiara, hanya saja semua itu hilang perlahan ketika orang-orang berbadan besar itu memaksa keduanya pergi dari sana. Darrel bergegas masuk dan menghampiri Kinara, karena kondisi gadis itu kembali drop efek kejadian barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN