Darrel menghampiri Kinara yang tampak tak baik-baik saja bersama mamanya yang berusaha menenangkan dia. Terbukti, apa yang sudah diperkirakan dan diperingatkan oleh dokter benar-benar terjadi. Dia seolah sedang menghadapi sebuah rasa tak tenang hingga berujung rasa takut yang terlalu berlebihan.
“Tenanglah, ku mohon,” ujar Darrel menenangkan Kinara dengan wajah tampak pucat dan keringat yang membasahi wajah dia.
Di saat yang bersamaan, pintu dibuka dari arah luar. Membuat pandangan ketiganya, terutama Nara dengan cepat terarah pada sosok yang baru masuk. Darrel juga sudah berpikiran buruk, tapi ternyata yang datang adalah sosok yang ia kenal. Eras, yang merupakan papanya sendiri.
Pandangan Kinara masih berkeliling, seolah sedang menelisik hal-hal yang membuatnya tak tenang.
“Aku ... a-aku nggak mau,” gumamnya masih dengan wajah cemas.
Eras yang baru datang, justru dihadapkan pada situasi yang tampak tak baik-baik saja. Tentu itu membuatnya merasa bingung dengan entah apa yang telah terjadi barusan.
“Ada apa ini?” tanya Eras pada anak dan istrinya.
Amira memberikan kode pada suaminya untuk tak bicara dulu.
Darrel dengan cepat menarik Kinara ke pelukannya, agar rasa yang sedang dia hadapi hilang dan lenyap.
“Ada aku di sini. Jangan takut dan cemas. Oke.”
Amira tak tahu apa yang terjadi pada gadis ini, tapi melihat dia histeris dan ketakutan, membuatnya ikut khawatir. Memberi kode pada Darrel untuk segera memanggil dokter. Setelah mendapatkan anggukan dari putranya, barulah ia segera beranjak dari posisinya dan berlalu keluar dari sana. Sedangkan Eras, masih memasang raut bingung.
Darrel mengeratkan pelukannya pada Nara yang seolah masih berada di dalam pikiran takut dan cemas itu.
“Ra, aku di sini denganmu. Ku mohon jangan fokus pada pikiran takut dan cemas itu,” bisik Darrel pada gadis yang berada dalam dekapannya. “Tolong, tetap tenang.”
Nara bahkan tak membalas pelukan Darrel, seolah jiwa dan pikiran dia berada di dua tempat yang berlainan. Tapi tiba-tiba dia menangis sesegukan dan memeluk Darrel erat. Bahkan menenggelamkan wajah itu di dalam dekapan Darrel.
“Aku akan pergi jauh setelah ini, aku nggak akan pernah muncul di sini lagi,” isaknya terus mengoceh.
“Kamu nggak akan kemana-mana. Sudah ku bilang, kan ... ada aku yang selalu menjagamu. Kamu harus tahu itu, Ra.”
Terus menangis, seolah memang mengeluarkan semua perasaannya dalam pelukan Darrel.
Pintu dibuka dari arah luar, tampak Amira kembali dengan seorang dokter dan suster. Lengkap dengan beberapa obat-obatan yang keduanya bawa.
Dokter menyiapkan sebuah jarum suntik, mengisi benda itu dengan sebotol cairan obat. Kemudian menyuntikkan benda itu pada tabung infus. Karena otomatis, obat itu akan langsung masuk ke dalam selang yang mengalir ke dalam tubuh Nara.
Pelukan Nara yang tadinya erat di badan Darrel, perlahan mulai longgar. Diiringi oleh gumamannya yang mulai terdengar pelan ... hingga akhirnya tubuh dia benar-benar lemas dan langsung tak sadarkan diri dalam dekapan Darrel.
Darrel menghapus air mata yang membasahi pipi Nara dan lanjut menidurkan dia, kemudian dokter segera memeriksa kondisi dia. Memastikan kalau baik-baik saja pasca kejadian barusan.
“Gimana, dokter?” tanya Darrel penasaran sesaat setelah Dokter melakukan pemeriksaan
“Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ini benar-benar terjadi, kan. Kondisinya sedang drop. Rasa takut dan cemas jadi satu, hingga pikiran dia seolah hilang dari badannya dan hanya bertumpu pada dua rasa itu saja,” jelas Dokter.
Amira dan Eras sedikit bingung dengan penjelasan yang diberikan dokter. Jujur, keduanya tak tahu apa yang sedang dialami oleh Kinara, karena Darrel belum menceritakaan apapun pada mereka perihal kondisi Nara. Yang keduanya ketahui, Nara masuk rumah sakit karena mencoba untuk bunuh diri. Tapi perkara sebabnya, belum tahu secara rinci.
“Jadi, solusinya bagaimana dokter?” tanya Darrel lebih lanjut.
“Sudah saya katakan sebelumnya, kan ... ini bukan penyakit, jadi tentu saja tak akan ada obatnya. Adapun, itu hanyalah sejenis penenang sesaat, tapi tidak untuk mengobati hingga pulih. Yang dialami oleh Kinara adalah tekanan bathin dan mentalnya. Itu artinya, yang hanya bisa dilakukan adalah mencengah agar perasaan itu tak muncul.”
Dahi Darrel sedikit berkerut ketika mendengar penjelasan dokter di bagian akhir.
“Maksud dokter?”
“Hindarkan dia dari semua penyebab rasa takut dan cemas itu untuk sementara. Karena kalau terus dihadapkan, apalagi secara mendadak dan paksaan untuk terus melawan, bukannya malah membaik, justru itu terus menyiksa pikiran dia. Suntikan ataupun obat penenang, tentu saja itu juga nggak baik, bukan ... untuk terus digunakan.”
Darrel tak membalas lagi. Bukan karena tak paham, justru karena ia terlalu memahami, hingga bingung bagaimana tindakan yang harus ia lakukan.
“Bagaimana dengan lukanya, Dokter?” Giliran Amira ikut bertanya. Karena ia takut, pergerakan spontan Kinara tadi membuat luka di pergelangan tangan dia ikut kena imbas.
Dokter tersenyum pada wanita paruh baya itu. “Semua baik. Hanya saja tadi perbannya sedikit bergeser dan suster juga sudah memperbaikinya.”
“Makasih, Dok,” ucap Darrel.
Setelah semuanya selesai, dokter dan suster itu segera berlalu dari sana ... meninggalkan Darrel dan kedua orang tuanya, dengan Kinara yang sedang istirahat. Lebih tepatnya, dipaksa untuk beristirahat. Karena kalau dalam kondisi sadar, ada kemungkinan tekanan itu semakin dia rasakan.
Darrel duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Kinara, sedangkan Amira dan Eras berada di kursi yang tak jauh dari posisi itu ... lengkap dengan rasa penasaran yang seolah ingin keduanya sampaikan.
“Nak, sebenarnya apa yang terjadi sama dia? Ceritakan sama kami,” ujar Amira buka suara.
Darrel menyenderkan punggungnya di kursi, dengan satu tangan yang berada di pucuk kepala Nara yang tengah tidur.
“Tunggu dulu,” bantah Eras pada pertanyaan istrinya. “Gadis inikah yang kamu maksud?” tanyanya pada Darrel.
Darrel mengangguk.
“Kamu yakin?”
“Kenapa Papa mempertanyakan hal itu?”
“Karena Papa nggak ingin, jika kamu justru jatuh ke tangan seorang yang tak tepat. Tahu, kan, apa yang Papa maksud?”
Darrel tersenyum tipis menanggapi perkataan dan peringatan yang diberikan oleh papanya. Ia paham, hanya saja itulah yang justru tengah terjadi. Jadi, ia bisa apalagi kalau bukan menghadapi semuanya. Anggap saja itu sebagai tantangan hidup yang ternyata tak semulus anggapan orang tentang kehidupannya.
“Papa benar.”
“Maksud kamu?”
“Awalnya dia memang datang padaku demi sebuah misi yang dipaksakan oleh orang tuanya. Dan aku tahu itu dari awal,” ungkap Darrel.
“Jadi?”
Darrel menceritakan semua dari awal pada kedua orang tuanya. Agar mereka tak langsung berpikiran buruk pada Kinara yang nyatanya di sini juga merupakan korban.
“Jadi benar, apa yang dikatakan Reza?” Eras memastikan.
“Berhubung aku percaya sama Reza, jadi ku pastikan apa yang dia katakan pada Papa ataupun mama adalah kebenarannya.”
Pasangan suami istri itu saling pandang, seolah berada dalam rasa kaget yang sama. Bagaimana tidak, inilah yang keduanya cemaskah ... tapi ternyata Darrel malah sedang menghadapi semua itu.
“Tapi Mama juga ingin kamu yang bicara. Dan lagi, siapa pasangan yang tadi datang tiba-tiba dengan emosi?”
“Dua orang yang tadi datang adalah Marion dan Tiara. Mereka orang tuanya Kinara,” ungkap Darrel langsung.
“A-apa?!”
Jujur saja, Amira kaget dengan apa yang diutarakan Darrel. Putranya bilang kalau mereka adalah orang tua Kinara, tapi kenapa dia justru setakut dan sehisteris itu dengan kedatangan mereka?
“Siapa?” tanya Eras.
“Tadi ada pasangan yang datang ke sini. Marah-marah,” jelasnya pada sang suami. Kemudian kembali fokus pada Darrel. “Tapi, kenapa reaksi Kinara justru seperti ini saat mereka datang?”
Jadilah, Darrel menceritakan semua kejadian pada kedua orang tuanya. Asal tahu saja, ia bukan termasuk seorang anak yang suka menyembunyikan sebuah masalah pada orang tuanya, terutama mamanya. Karena tahu diri, selama ini ia hidup justru karena pengorbanan yang mereka lakukan terhadapnya. Paham, kan ... ketika sebuah perbedaan dalam diri terjadi di antara orang-orang normal? Kalau bukan orang tuanya, siapa lagi yang perduli.
“Jadi, Kinara ini adalah anak dari seorang pengusaha yang ternyata ingin dekat denganmu karena ...”
“Ralat,” timpal Amira pada perkataan suaminya, lengkap dengan muka jutek yang langsung terpampang. “Sudah Darrel bilang, kan ... bukan keinginan dia melakukan semua itu, tapi atas paksaan orang tuanya.”
“Tetap saja dia melakukan itu, kan?”
“Pa, dia nggak melakukan apapun. Bahkan dia juga yang mengakui semua itu padaku, bahkan dari awal, sebelum semuanya terjadi. Jadi semenjak saat itu, aku dan dia dekat bukan lagi karena permintaan orang tua dia.”
Pikiran buruk Eras seketika sirna berkat penjelasan putranya. Ya, bukan apa-apa, ia hanya takut jika orang-orang yang berada di sekitar putranya, justru hanya mengambil kesempatan untuk bisnis saja. Tahu sendiri, kan ... dunia bisnis itu kejam. Seakan-akan musuh dan teman tak bisa dibedakan. Apalagi sekarang yang dihadapi oleh putranya justru adalah perkara cinta. Iya, sebuah rasa yang terkadang membutakan mata hati maupun pikiran.
Eras tersenyum. “It’s okay, Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Jika kamu bahagia dan yakin, lakukan saja.”
Lihat sendiri, kan, seperti apa sikap orang tuanya? Mungkin orang lain berpikir jika pasangan suami istri itu adalah jenis orang tua yang suka mengekang dan mengatur dirinya, tapi tidak sama sekali. Bahkan ia yang bisa dikatakan tak normal pun, seolah masih bisa bergerak bebas. Hanya saja, ketika berada dalam bisnis, justru akan berbanding terbalik. Siapa, sih ... yang tak mengenal sosok Eras Wijaksono, dalam dunia bisnis.