BAB : 47

1184 Kata
Darrel masih setia menunggui Kinara di rumah sakit. Tapi kali ini mau tidak mau ia harus meninggalkan gadis itu di saat dia tertidur, karena sebuah pekerjaan yang harus ditangani langsung. Berat? Tentunya. Hanya saja karena saat ini ada orang tuanya yang menggantikannya, jadi rasa cemasnya sedikit berkurang. Masih dalam pengaruh obat penenang, ini sudah satu jam an Nara tidur. “Kamu yakin mau ke kantor? Atau, gimana kalau Papa aja yang ngurusin,” ujar Eras memberikan pilihan pada putranya. Bukan tak percaya pada putranya urusan pekerjaan, hanya saja ia justru tak yakin jika Kinara akan tenang ketika di terbangun nanti. Tadi saja dengan adanya Darrel dia masih sehisteris itu, bagaimana jika nanti kondisi itu terulang lagi. “Kinara nggak akan kenapa-kenapa, Pa. Kejadian tadi, itu karena ada yang membuatnya shock, makanya dia drop.” Jadilah, Darrel segera berlalu pergi dan menitipkan Nara pada kedua orang tuanya. Yang jelas, ia percaya pada orang tuanya daripada orang lain. Mau meminta bantuan Reza pun sepertinya bukan saat yang tepat. Meskipun berstatus sepupu, tapi dia juga punya kehidupan pribadi. Bergegas menuju kantor, dengan seorang supir yang sudah siap mengantarnya. Tak langsung ke lokasi, tapi justru pulang dulu ke rumah untuk berbenah diri. Sudah dari semalam ia tak mandi dan rasanya itu benar-benar tak enak. Dalam perjalanan menuju kantor, ponselnya berdering. Tak ada nama yang tertera di layar datar itu, hanya deretan nomer tak dikenal yang terlihat. Itu artinya si pelaku adalah orang yang tak penting. Karena apa? Hanya orang penting yang ia save kontaknya dan jika mengganti nomer kontak sekalipun, pasti akan ada pesan singkat sebelum menghubunginya. Meriject panggilan itu. Berpikir kalau hanya sekali, tapi justru panggilan kedua malah langsung datang. Hingga akhirnya ia aktifkan mode silent pada benda pipih itu. Sampai di kantor, padahal sedang bergegas untuk menyelesaikan sebuah permasalahan pekerjaan, tapi yang menyambutnya justru membuat mood nya seketika hancur. Tahu dengan siapa ia berhadapan saat ini? Yap, seseorang yang membuat Kinara harus mengalami sebuah depressi. Siapa lagi kalau bukan Marion. Niatnya datang ke kantor adalah untuk bisnisnya, bukan bertemu dengan orang yang saat ini masuk ke dalam list manusia yang jadi hal buruk di matanya. Hingga mencoba berlalu dari hadapan dia yang sepertinya memang sedang menunggunya. “Kembalikan Kinara!” Emosi Marion langsung saat Darrel hanya mengabaikan dirinya dan berniat pergi begitu saja tanpa kata. Padahal dia pasti tahu untuk apa niatnya datang. “Kinara itu anak saya, kamu nggak berhak atas dia.” Beberapa karyawannya yang berada di sana, sedikit terfokus pada bentakan Marion pada atasan mereka. Apalagi kalimat yang dia gunakan sedikit terdengar tak baik. Darrel menghentikan langkahnya. Berpikir untuk mengabaikan, tapi ternyata Marion benar-benar sedang berniat mencari sebuah masalah dengannya, apalagi dengan berani datang ke kantornya. Menarik napasnya panjang, kemudian berbalik badan dan berjalan menghampiri laki-laki paruh baya itu. Menatap sepasang bola mata yang sedang melihatnya kesal. “Dua jam lagi kita bicara, saya sedang ada kerjaan penting.” Menunggu respon dari Marion hingga beberapa saat berlalu, akhirnya dia pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Tersenyum licik, melihat sikap laki-laki paruh baya itu. Berusaha berani dan sok emosi, padahal terlihat jelas di mata dia rasa takut itu. Bahkan saat pergi pun lupa untuk meninggalkan sebuah kata. Darrel segera melanjutkan langkahnya yang tertunda, segera menuju ruangannya. Sementara Darrel sibuk di kantor, Amira dan Eras melakukan apa yang dimintai tolong oleh putranya. Menjaga Kinara, apalagi ketika dia mulai tersadar untuk sebisa mungkin menenangkan hati dia. Satu jam berlalu, tiba-tiba pintu dibuka dari arah luar oleh seseorang ... membuat pandangan sepasang suami istri itu langsung terarah pada sosok yang masuk. “Loh, Om sama Tante kok di sini?” Dikira siapa, ternyata justru Reza yang datang. “Darrel lagi ke kantor. Ada kerjaan yang harus dia tangani langsung. Jadi, kami di sini,” jelas Amira pada Reza. Reza menghampiri Kinara yang masih dalam tidurnya, memeriksa kondisi gadis itu mulai dari tekanan darah dan lain-lain. “Darrel udah pergi lama, Om?” tanyanya pada Eras. “Udah satu jam an.” “Detak jantungnya masih belum stabil. Ada kemungkinan kalau dia cepat sadar, kondisinya masih drop,” jelas Reza pada Eras dan Tiara. Tentu saja penjelasan Reza membuat keduanya sedikit bingung. Iya,bingung harus melakukan apa nanti jika Kinara tersadar sebelum Darrel datang. Karena yakinlah, yang jadi tempat terbaik saat ini bagi dia adalah Darrel. “Dia nggak bisa diberikan obat-obatan terus-menerus. Iya, memang membuat kondisinya tenang sesaat. Hanya saja itu tak baik, karena justru membuat dia jadi ketergantungan, padahal obat itu bukan solusi.” “Jadi, kalau dia sadar sebelum Darrel kembali, bagaimana, Za?” tanya Amira. “Tante seorang Ibu, kan. Setidaknya saat seorang anak merasa cemas, khawatir, takut dan tak nyaman, pasti bisalah menenangkan dengan mudah,” terang Reza memberikan sebuah solusi. Bukan solusi, sih ... justru lebih tepatnya seperti gambaran cara mengatasi jika Nara kembali drop saat sadar. Amira terdiam. Ya, meskipun memahami ... tapi ia bingung untuk melakukan itu. Terlebih, anak perempuan akan lebih sensitive daripada anak laki-laki. Eras menghampiri Reza, seakan sedang memikirkan sebuah pertanyaan besar dalam benaknya. “Za, m boleh tanya sesuatu sama kamu?” Reza mengangguk. “Seberapa spesial posisi Kinara di mata Darrel? Tenang saja, ini hanya sebuah pertanyaan yang terlalu nggak penting, mungkin. Hanya saja Om penasaran. Karena selama ini, nggak pernah melihat Darrel sampai melakukan sesuatu yang ... ini terlalu over saat berhubungan dengan seorang wanita.” Reza malah tersenyum simpul ketika mendengar rasa penasaran yang diutarakan oleh Eras. Ya, ia tahu juga, kok ... sebagai seorang ayah, Eras bukanlah tipe ayah yang emosian, apalagi memberikan sebuah larangan pada Darrel. Bagi dia, apapun yang membuat Darrel bahagia, apalagi sampai tersenyum ... itu adalah sebuah pencapaian terbesar dalam kehidupan. Ini bukan hanya sebuah tebakan, tapi karena berstatus sebagai sepupu dan orang terdekat di keluarga mereka, membuatnya tahu semua itu. “Om, Darrel itu bisa dikatakan salah satu manusia yang ... jujur, ya, menurutku dia spesial. Karena apa? Sebagai manusia dia seolah tak bisa merasakan sakit dan aku sempat iri loh. Hanya saja, bertahun-tahun mengenal, ternyata apa yang dia alami tak semenarik apa yang ada di pikiranku hingga rasa iri itu seketika hilang.” Eras mengangguk perlahan, seolah paham apa yang di maksud oleh Reza,. “Dia nggak akan merasakan sakit, lebih tepatnya mati rasa. Om juga tahu itu, kan. Tapi, ketika sebuah sentuhan dia rasakan, apa menurut Om itu tak membuatnya tersentak kaget?” Penjelasan Reza semakin membuat Erza bingung. Bahkan Amira yang tadinya fokus pada Nara, seakan dibuat ikut berpikir. “Darrel itu seperti tersesat dalam labirint tak berujung, tiba-tiba menemukan secercah cahaya yang membawa dia ke pintu keluar. Itulah yang sedang dia alami. Rasanya yang tadinya mati, tiba-tiba bisa merasakan semuanya ketika Kinara melakukannya.” “Apa?!” Reza mengangguk. “Darrel bisa merasakan sentuhan dari Kinara. Itulah, kenapa dia begitu menginginkan Nara. Bukan hanya sentuhan fisik, tapi juga menyentuh hatinya.” Tadinya Amira dan Eras hanya berpikir jika Nara hanya sebatas gadis biasa yang mampir dalam kehidupan Darrel karena memang sudah takdir. Tak lebih seperti gadis-gadis yang beberapa kali pernah berada di sekitar dia. Ya, ternyata memang benar. Takdir yang seolah memang diperuntukkan untuk seorang anak tanpa rasa, kini seolah bisa merasakan sentuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN