Seperti yang sudah dijanjikan, saat ini Darrel sedang berhadap-hadapan dengan seorang laki-laki paruh baya yang baginya hanyalah seorang manusia tak berharga. Tapi karena menghormati Kinara, sikap buruknya ia coba untuk tahan.
Hatinya aslinya sedang tak tenang, karena meninggalkan Nara di rumah sakit. Bukan karena tak percaya pada orang tuanya, tapi hanya takut jika dia sadar masih dengan kondisi seperti tadi.
“Waktuku tak banyak,” ujar Darrel singkat, ketika Marion seolah masih berada di dalam pikiran dia. Benar-benar membuang waktunya saja.
“Kembalikan Kinara pada kami.”
“Kalau aku tak setuju?”
“Kami orang tuanya, apa hak mu melarang dan tak setuju?”
Darrel tersenyum sinis, saat mendengar pertanyaan yang diajukan Marion. Entah dia tak memiliki rasa malu, atau justru rasa malu itu yang sudah hilang di diri dia.
“Setelah kejadian ini, Anda masih berpikir tentang status?” tanya Darrel. “Aku heran, sebenarnya sebagai orang tua, tugas Anda apa, sih?”
“Jaga bicaramu!”
Mendapati majikannya dibentak seperti itu, membuat seorang bodyguard yang berada di sekitarnya bereaksi. Tapi saat hendak memberikan pelajaran atas sikap Marion, Darrel menahan. Membuat niat dia terhenti.
Darrel memasang wajah dingin. Tadinya ia masih mode tenang dan sedikit rasa hormat, tapi sepertinya itu tak ada harganya di mata Marion.
“Sebagai seorang ayah yang jadi panutan bagi anaknya, Anda sudah gagal! Gagal, sekaligus jadi seseorang yang justru mendapatkan posisi buruk di mata anak sendiri!”
“Jangan sok tahu!”
“Tahu tidak, apa yang terjadi pada Kinara? Dia depressi, akibat menahan semua perlakuan yang terjadi. Lihat tadi pagi, kan ... bahkan ketika kalian mendekat saja, kondisinya langsung drop. Jadi, masihkah berpikir untuk memaksa dia kembali?”
“Maumu apa sebenarnya, hah?”
“Ku berikan apa yang kalian inginkan, tapi sebagai gantinya berikan Kinara padaku!”
Marion tertawa, layaknya sebuah rencana di awal seolah sedang menunjukkan hasil yang sempurna. Hanya saja, untuk sekarang tentu ia tak semudah itu bilang iya. Apalagi, kalau bukan karena Darrel tampaknya benar-benar jatuh cinta pada Nara. Itu artinya, peluang untuk mendapatkan hasil lebih besar dari rencana, justru terbuka lebar.
“Kinara itu anak kami satu-satunya, enggak segampang itu bisa diambil layaknya sebuah barang. Tahu, kan ... seperti apa ganti ruginya dan seberapa banyak hal yang kami korbankan untuk dia hingga saat ini.”
Seolah begitu mudah terbaca oleh pikiran Darrel. Sudah ketebak, pasti balasan Marion akan seperti ini. Layaknya sebuah bisnis, anak pun akan dia jadikan ladang usaha. Tiba-tiba jiwa psikopatnya seakan ingin melenyapkan Marion detik ini juga.
“Jadi?”
“Kami akan memberikan Kinara padamu. Terserah mau kamu apakan juga. Tapi, sebagai gantinya ... setengah dari harta kekayaanmu, jadi milik kami,” ungkap Marion memberikan sebuah tawaran pada Darrel.
Ia tentu saja tak ingin melepaskan kesempatan sebesar ini. Perkara Kinara jadi milik Darrel, justru lebih baik. Setidaknya, Darrel mencintai gadis itu.
Darrel mengangguk perlahan, seolah sedang meresapi tawaran yang diajukan oleh Marion padanya.
“Hanya itu?” tanya Darrel seolah menunggu hal lain yang akan diutarakan Marion.
“Ya, hanya itu.”
Darrel mengangguk perlahan, kemudian beranjak dari posisi duduknya dengan kedua tangan yang berada di saku celana.
Memasang wajah dingin, dengan tatapan tajam terarah pada laki-laki paruh baya yang masih duduk. “Akan ku kabari secepatnya. Untuk beberapa waktu, biarkan Kinara bersamaku agar kondisinya sedikit lebih baik.”
“Lebih cepat, lebih baik,” balas Marion seakan tak sabaran mendapatkan apa yang ia mau.
Tak menanggapi perkataan Marion, Darrel segera melangkah dan berlalu pergi dari sana. Inti dari pembicaraannya dan Marion sudah didapatkan, ia tak mau berlama-lama dihadapkan pada sosok yang jadi orang paling dicari oleh emosinya.
Bodyguard membukakan pintu mobil untuknya, dengan seorang supir yang sudah siap di kursi kemudi. Saat dalam perjalanan, ponselnya berdering. Terlihat nama Reza yang tertera di layar datar itu. Dahinya berkerut, bukan karena bingung ... justru rasa khawatir dan cemas seketika menghantuinya.
“Hallo, Za.”
“Lo di mana?”
“Nara baik-baik saja, kan? Apa dia sudah sadar? Kondisinya gimana sekarang?”
Reza terdengar mendengus menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Darrel, seolah semua itu sudah berada di pikiran dia sejak dari tadi.
“Za!”
“Rel, kalau elo ada dihadapan gue ... hal pertama yang bakalan gue lakuin adalah menonjok ulu hati elo.”
“Kinara baik-baik aja, kan?”
“Ya ampun,” umpat Reza. “Iya, iya ... dia baik-baik saja. Dan gue nelepon elo bukan karena perkara sebab dan akibat Kinara.” Giliran Reza yang bicara seketika panjang.
“Ada apa?”
“Masih lama nggak, nih? Gue mau makan di luar.”
“Cuman itu?”
“Ya, apalagi?”
Darrel langsung saja menutup percakapan dengan Reza secara mendadak. Padahal ia berpikir ada sesuatu yang terjadi pada Kinara, atau mungkin dia sudah sadar dengan kondisi yang masih belum baik-baik saja. Tenyata hanya keisengan Reza perkara rasa lapar yang dia utarakan.
Sampai di rumah sakit, saat turun dari mobil justru ia malah berpapasan dengan dua orang gadis yang juga baru turun dari mobil. Meskipun tahu salah satu di antara keduanya, tapi seolah tak berniat untuk menyapa. Hingga sebuah panggilan pun terdengar.
“Kinara bagaimana?”
Darrel tak langsung menjawab. Ia justru malah fokus dan menelisik pada gadis yang satu lagi. Bukan hanya curiga, tapi ia justru tak pernah bertemu dengan dia sebelumnya.
“Ini Faye, kita berdua temannya Kinara,” ujar Zila seolah paham betul dengan pikiran yang sedang berada di otak Darrel. Terlihat sekali, raut penuh telisik yang dia tunjukkan saat menatap Faye.
“Haii,” sapa Faye tersenyum simpul.
Pertama, ini memang sikapnya saat berkenalan dengan siapa saja. Kedua, jujurly ... Darrel itu seperti sebuah batu meteor. Terlihat asing, tapi begitu berharga untuk diabaikan. Ketiga, siapapun gadisnya, saat ditanya perihal Darrel pasti akan memberikan kesan ‘tampan’.
“Ada apalagi datang ke sini?”
“Nggak boleh?”
“Tentu tidak.”
Faye yang baru pertama kali bertemu, berbicara bahkan mendengar Darrel ketika berbicara ... tentu saja tampak kaget. Di matanya, seorang Darrel mungkin terkesan huru-hara layaknya cowok-cowok pada umumnya. Tapi setelah berhadapan langsung, semua pemikiran itu seolah terpental jauh.
“K-kenapa nggak boleh? Apa salahnya kalau kita mau ketemu sama Nara.”
Zila yang sudah paham bagaimana watak asli Darrel, menyikut lengan Faye ketika sobatnya ini malah semakin memperburuk keadaan. Ini kalau Darrel kesal, bukannya membiarkan keduanya bertemu Nara, justru malah sebaliknya. Lupa, harusnya tadi sebelum bertemu Darrel, ia beri kata-kata nasehat dulu untuk Faye agar dia tak gegabah.
Darrel semakin menatap dingin ke arah Faye. Bukan apa-apa, hanya saja feelingnya mengatakan ada sesuatu yang tak baik.
“Itu aturanku. Kenapa? Mau membantah?”
Zila mulai tegang, sementara Faye justru seakan mengamuk. Jujur, ya ... Faye dan Zila punya sikap yang berbeda. Zila, lebih terkesan lebih girly dan masih manis dalam bersikap. Sementara Faye, dia lebih dewasa. Termasuk ketika dia kesal justru malah langsung keluar, seperti tak bisa mengontrol.
“Kita ke sini beneran mau ketemu dan mastiin kondisi Nara saja, kok. Enggak lebih. Mungkin hanya beberapa saat bicara, setelah itu kita akan pergi,” terang Zila mencairkan suasana.
Darrel mulai diam, kemudian langsung saja berlalu dari hadapan keduanya tanpa sepatah katapun. Zila menarik lengan Faye, ketika paham maksud dari sikap Darrel.
“Lain kali jangan terbawa emosi,” bisik Zila pada Faye saat berjalan di lorong rumah sakit menuju ruangan di mana Kinara dirawat. Sementara Darrel, berjalan beberapa langkah mendahului mereka, dengan seorang bodyguard yang berada di sekitarnya.
Faye masih memasang muka cemberut.
“Lah, emang sikap gue tadi salah, ya?” Masih tak terima. Padahal ia bersikap biasa saja, Darrel nya saja yang terlalu protek.
“Harus elo ketahui, Sista. Benar di mata kita, belum tentu benar di mata seorang Darrel. Dan elo harus tahu lebih banyak tentang dia mulai sekarang, jika masih ingin tetap temenan sama Kinara.”
Faye menatap aneh ke arah Zila, dengan langkah yang masih beriringan.
“Lo yakin, jika Darrel itu manusia?”
“Bukan, sebenarnya Darrel ini aslinya adalah zombie yang berwujud manusia ganteng dengan segala pesonanya,” terang Zila dengan muka serius.
“Serius?!”
“Lama-lama malah elo yang makin bego daripada gue,” geram Zila dengan ekspressi muka Faye yang tampak begitu percaya dengan penjelasan mengada-ngada darinya.