BAB : 49

1295 Kata
Sampai di depan ruangan di mana Kinara dirawat inap. Tak langsung masuk, tapi ketika sampai di depan pintu dengan dua orang penjaga, Darrel menghentikan langkahnya. Menatap fokus pada dua gadis yang kini berada dihadapannya, bersiap untuk ikut masuk bertemu Nara. “Kalian berdua temannya, bukan?” Tadinya sebelum tahu sifat asli Darrel, Faye masih berpikir untuk membantah jika kata-kata Darrel terasa menyebalkan. Hanya saja saat ini ia sudah tahu seperti apa aslinya cowok dia. Jangankan membantah, untuk berkomentar saja rasanya masih mikir panjang. Zila dan Faye tak memberikan balasan, hanya anggukan paham yang diberikan keduanya secara bersamaan. Apalagi Zila, yang mungkin lebih paham situasi Nara. Darrel lebih dulu masuk, kemudian diikuti oleh Zila dan Faye. Saat sampai di dalam tampak Kinara ternyata sudah sadar, dia terlihat sedang mengobrol dengan Amira dan juga Eras. Sementara Reza, terlihat duduk di sofa. Lebih tepatnya dia duduk bersandar dengan kedua mata terpejam. “Ya ampun, cogan,” gumam Faye melirik Reza. Alhasil, sikapnya malah dapat cubitan di lengannya dari Zila. Entah apa salahnya. Padahal ia kan hanya memuji, bukan berniat ingin memiliki juga. Darrel menghampiri orang tuanya yang duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Nara, “Akhirnya kamu balik,” ujar Eras. “Maaf, Pa,” ucapnya. Faye tampak kaget atas panggilan yang digunakan Darrel pada Eras. Kemudian menatap Zila yang ada di sampingnya dengan raut bingung. “J-jadi, Darrel itu putra dari Eras Wijaksono, pengusaha sukses yang terkenal di kalangan para bisnismen?” “Sssttt ...” Bukannya menjawab pertanyaan dan rasa penasaran Faye, Zila justru memintanya untuk berhenti bicara. Darrel menatap fokus pada Kinara, dan hal yang paling membuatnya tenang adalah ketika kedatangannya disambut senyuman manis itu. Tadi berasa cemas ketika meninggalkan dia dalam keadaan belum sadar, takut ketika sadar malah masih drop. Tapi senyuman itu menepis semua rasanya. Mendekat, kemudian meletakkan telapak tangannya di pucuk kepala Nara, sembari mengelus lembut. “Sudah sadar.” “Ku pikir kamu akan pulang malam hari.” Darrel tak membalas lagi. Dia tahu sekali kebiasaannya yang suka pulang malam dari kantor. “Tidak lagi,” balas Darrel. Zila yang antusias, seketika ikut mendekati Nara. “Ra, lo baik-baik aja, kan?” Fokus Kinara yang tadinya hanya pada Darrel, kini beralih pada Zila. Kembali mengumbar senyuman, saat mendapati ada sahabatnya di di sini. “Ya ampun, Ra ... lo benar-benar ngelakuin hal yang paling bodoh tahu, nggak. Kenapa, sih ... sampai nyakitin diri sendiri hanya karena ...” “Diam!” Bentakan Darrel seketika membuat perkataan Faye terhenti. Bukan hanya Faye, tapi semua yang ada di ruangan itu dibuat kaget. Termasuk Reza yang posisinya sedang tidur, malah ikut terbangun. Reza mengucek-ngucek matanya agar tatapannya semakin jernih. Terlihat Darrel sudah datang. “Ya ampun, ini singa jantan kenapa lagi, sih, teriak-teriak nggak jelas,” umpatnya karena merasa tidurnya terganggu. Iya, semua orang tak tahu saja kalau semalam dirinya tak mendapatkan istirahat yang cukup karena ada tugas. Senyuman Kinara langsung hilang, berganti dengan raut sendu yang langsung tercetak saat itu juga. Ia tahu betul apa yang akan dikatakan oleh Faye, meskipun tak sampai menyelesaikan kata-kata itu. Faye yang kena labrak oleh Darrel, tapi efeknya sampai dirasakan oleh Zila. Ia yang berdiri di samping Faye, bahkan bisa merasakan efek takut yang dirasakan sobatnya. Kinara menyambar tangan Darrel dengan cepat, ketika dia hendak menghampiri Faye. Hanya saja dia malah mengelakkan sentuhannya itu. Darrel berjalan mendekati Faye yang tampak gugup. Berdiri dihadapan gadis yang dianggap oleh Kinara sebagai sahabat, tapi entah bagi mereka memposisikan Nara sebagai apa. “A-aku hanya ...” “Sudah ku katakan, bukan ... jika hanya untuk memperkeruh suasana, tak perlu membuang waktu untuk datang ke sini.” “Jangan emosi begitu,” komentar Amira atas sikap putranya. “Aku nggak emosi. Hanya saja aku tak suka ketika apa yang ku peringatkan, malah diabaikan. Beranggapan kalau apa yang dia katakan hanya biasa, tapi tak berpikir efeknya bagi orang lain.” Masih dengan tatapan tajam yang terfokus pada Faye. Faye dibuat tak berkutik oleh Darrel. Nyalinya yang dikenal suka bicara asal nyablak, seolah terkunci rapat tanpa mampu untuk mengeluarkan kata-kata. “Mereka sahabatku, kami biasa bercanda. Jangan terlalu dipikirkan kata-kata barusan,” ujar Nara berusaha meredam emosi Darrel. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Darrel, hingga dengan begitu gampang emosi karena dirinya. “Dan mulai detik ini, buang jauh-jauh candaan yang tak bermanfaat itu!” Kinara yang bicara, tapi tatapan Darrel masih tetap pada Faye. Seolah apa yang ia katakan, lebih tertuju pada dia. "Terlihat biasa, tapi tak semua orang tahu jika kalimat itu bisa menyakiti.” Reza beranjak dari posisi duduknya, kemudian menghampiri semua orang yang tampak serius. Ia paham apa yang terjadi pada Kinara, begitu juga dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Darrel. Dan semua itu wajar terjadi. Terlebih Darrel yang begitu menjaga kondisi pikiran Nara. “Apa aku melewatkan sesuatu?” Reza yang tiba-tiba muncul dan bicara dari arah belakang Zila, sontak membuat gadis itu kaget dan tangannya reflek merespon. Alhasil, sebuah sikutan menerpa dadanya. “Astaga! Ya ampun, Maaf-maaf ... aku nggak sengaja. Kamunya muncul tiba-tiba di belakangku gitu. Jadinya aku kaget dan spontan mukul,” jelas Zila meminta maaf atas sikapnya. Meskipun menyadari kalau ini tak sepenuhnya juga salahnya. “Iya, iya ... dan kamu tepat menyerang hatiku.” “Dih, nggak jelas banget kamu,” umpat Zila dengan kata-kata Reza. Reza mengarahkan pandangannya pada Eras dan Amira. “Om, Tante ... kita makan di luar, yok.” Tahu tidak, apa alasannya membawa Eras dan Amira pergi dari situasi ini? Pertama, ia berpikir jika ini bukanlah masalah yang harus ikut campur tangan mereka. Kedua, Sebagai orang tua, mereka tak pernah tahu seperti apa watak asli seorang Darrel. Terlihat jadi anak baik dan super kalem, bukan berarti aslinya dia begitu, ya. Karena jika berada dalam tingkat emosi yang naik, Darrel itu lebih mirip seperti pembunuh berdarah dingin. Ayolah, sebagai seorang yang berkeliaran dalam kehidupan Darrel, ia tahu betul dia aslinya. Amira masih diam, tapi sepertinya Eras seakan memahami apa yang sedang terjadi. “Papa tahu jika kamu menjaga Kinara, tapi kamu juga harus ingat, Nak ... nggak semua orang memahami dan tahu apa yang kamu rasakan. Jadi, jika berbeda pendapat, itu wajar, kan,” jelas Eras berusaha menenangkan. “Wajar menurut mereka, tapi tidak denganku. Maka dari itu, ada baiknya mereka tak usaha tahu sekalian.” Eras mengarahkan pandangannya pada Reza, seolah sedang berdiskusi. Lebih tepatnya, Reza memohon agar Eras tak terus mengeluarkan pendapat dulu. Karena saat ini, pendapat apapun tak akan membuat Darrel mengubah pandangannya. Eras menyentuh pundak putranya, seolah sedang menguatkan dan mengingatkan untuk tetap sabar dan tenang. “Papa sama Mama keluar dulu, ya.” Amira tak langsung mengikuti langkah suaminya, tapi ia mendekati Nara dan berbisik. “Nak, tolong jangan biarkan Darrel emosi, ya.” Nara mengangguk paham. Ia memang tak mengenal Darrel selama sekian tahun, tapi dari beberapa waktu kenal, setidaknya ia sudah memahami sikap dan sifat asli Darrel. Amira dan Eras sudah berlalu keluar terlebih dahulu. Reza menarik napasnya panjang, ketika harus melihat Darrel dalam mode menyebalkan seperti ini. Mau memukul pun percuma rasanya. Dia tak akan merasa kesakitan, tapi justru nantinya malah tangannya sendiri yang sakit. “Aku keluar dulu, lapar.” Reza segera berlalu dari sana, tapi baru sampai di dekat pintu ia malah menghentikan langkahnya. Berbalik badan dan kembali pada Darrel yang sudah tampak mempersiapkan serangan pada Faye dan juga Zila. “Kenapa?” tanya Zila pada Reza. Reza tak menjawab, tapi justru menyambar pergelangan tangan Zila dan menarik gadis itu untuk segera mengikuti langkahnya pergi dari sana. “Temani aku makan.” “T-tapi ...” Mendapati dirinya sendirian yang harus menghadapi Darrel, otomatis Faye dengan langkah cepat memilih ikut pergi dari sana. Sudahlah, lain kali ia tak akan lagi berurusan dengan dia. “Kamu marah-marah begini, aku merasa takut padamu,” ujar Kinara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN