Sampai di luar, Zila masih berada dalam pegangan Reza. Beberapa saat berjalan dengan dirinya yang ditarik layaknya kuda betina, dengan kuat melepaskan tangan yang membelenggu pergelangan tangannya hingga lepas.
Keduanya terhenti, dengan tatapan kekesalan yang ditunjukkan Zila pada Reza.
“Apa-apaan, sih, kamu ... menarikku seperti itu? Tahu, nggak ... aku dan Faye itu datang ke sini untuk ketemu sama Nara. Sedangkan kamu, malah menyeretku keluar!”
Zila langsung mengomel panjang. Padahal ia tadi sudah mendapatkan ijin dari Darrel, dan sekarang gara-gara Reza semuanya seolah harus kembali ke awal lagi. Dikira gampang dapat ijin dari cowok seperti Darrel.
Reza bersidekap d**a, dengan senyuman segelintir yang menghinggapi sudut bibirnya hingga tampak sedikit terangkat.
“Kamu yakin datang untuk ketemu Nara sebagai seorang sahabat?”
“Maksud kamu apa?” Tampak tak terima atas pertanyaan yang diajukan Reza padanya. Seolah-olah di sini dirinya punya niat tersembunyi saja.
“Bukan kamu, lebih tepatnya gadis yang tadi datang bersamamu.”
“Faye?”
“Aku tak perduli siapa namanya, tapi dari cara dia bicara aku sudah memberikan bintang satu untuk dia. Terutama di bagian sikap.”
Kini giliran Zila yang ikut bersidekap d**a dihadapan Reza. Memasang ekspressi tak puas bahkan kesal dengan penuturan Reza tentang Faye.
“Dan asal kamu tahu, Za ... gadis yang kamu bilang itu, dia sahabatnya Kinara. Dan kami bertiga sahabatan. Bisa-bisanya sekarang kamu secara gamblang bilang nggak suka?”
Reza tak langsung membalas, matanya terlihat terarah pada sosok di kejauhan yang tampak bingung dengan pandangan ke sekitar seolah sedang mencari seseorang. Yap, siapa lagi kalau bukan Faye yang pastinya sedang mencari Zila.
“Temani aku makan,” ujar Reza kembali dengan tingkahnya. Menyambar tangan Zila dan membawa gadis itu dengan cepat mengikuti langkahnya.
“Reza!” heboh Zila karena Reza kembali lagi dengan ulahnya. Kali ini ia biarkan cowok ini menyeretnya hingga sampai keluar area rumah sakit. Bahkan sampai berakhir di parkiran, barulah tangannya dia lepaskan.
Ingin mengamuk dan menendang tulang kering cowok ini rasanya, hanya saja tertahan ketika di sana juga ada orang tuanya Darrel.
“Om, Tante ... mau makan di mana?” tanya Darrel pada sepasang suami istri itu. “Biar ku antar.”
“Kamu nggak ada tugas, Za?”
“Nanti sore, Om.”
Marion mengarahkan pandangannya pada Amira, sang istri untuk meminta pendapat. Meskipun tak memberikan jawaban, tapi ekspressi dia seolah sudah bisa ia terka.
“Gini, Za ... Om sama Tante mau pergi dulu sebentar. Ada urusan mendadak. Jadi, sepertinya kami nanti makan setelah hal itu selesai.”
Reza mengangguk paham dengan penjelasan Marion. Ya, mungkin mereka memang ada urusan, atau justru sedang menolak ajakannya secara tidak langsung? Entahlah, yang jelas ia sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang keponakan, kan.
Jadilah, Marion dan Amira pergi dan berlalu dari hadapan Reza dan juga Zila.
Seperginya pasangan suami istri itu, Zila beralih dan berdiri pindah ke hadapan Reza. Menatap tajam pada cowok berperawakan tinggi yang membuat hatinya kesal berkali-kali lipat.
“Hmm, kenapa?”
“Dokter Reza, Anda masih tanya kenapa?”
Reza maju satu langkah, yang spontan membuat Zila kaget dan malah mundur satu langkah.
“Kamu menyebalkan!” umpat Zila.
Tadinya berniat menendang tulang kering Reza saking kesalnya, tapi kini tiba-tiba saja nyalinya malah ciut dan pergi entah kemana. Langsung berniat melangkah pergi, tapi Reza malah menghambat langkahnya dengan sengaja.
“Za!” pekiknya karena tingkah Reza yang makin bikin naik darah.
“Aku sudah bilang tadi, kan ... temani aku makan.”
“Aku nggak mau,” tolaknya dengan cepat.
“Dan aku memaksa,” balas Reza tak mau kalah.
Membuka kunci mobil secara otomatis dan memaksa Zila untuk ikut dengannya. Sampai di depan pintu masuk mobil, dia tetap kukuh tak mau ... hanya saja seperti perkataannya barusan, ia memaksa.
Kini di dalam ruangan rawat Kinara, hanya tingga keduanya. Masih diam-diaman layaknya pasangan kekasih yang sedang cek-cok perkara orang ketiga. Hanya saja situasinya sekarang yang jadi orang ketika justru sahabat dari Kinara.
Darrel tak tampak kesal pada Nara, justru di sini Nara lah yang kesal pada Darrel.
“Kamu beneran marah padaku?”
“Aku mengikuti kebiasaanmu. Ketika marah, aku juga nggak pernah bercanda,” respon Kinara dengan raut kesal yang terlihat jelas di wajahnya.
Darrel menyentuh wajah Nara, hanya saja dia justru mengelakkan tangannya.
“Maaf, jika sikapku tadi salah di matamu,” ucap Darrel.
Pandangan Nara yang awalnya menghindari Darrel, kini beralih menatap fokus pada cowok yang duduk di sampingnya itu.
“Ia, benar-benar salah,” sahut Nara. “Aku tahu kalau kamu berusaha menjagaku, tapi bukan dengan cara menjauhkanku dari teman-teman terdekatku, Darrel. Kamu tahu, Faye berkata seperti itu hanya sekadar candaan belaka. Tapi kamu begitu serius menanggapinya.”
“Dia tak melihat situasi dan kondisi saat ini. Mungkin sebelumnya hanya biasa bagimu, tapi sekarang tidak lagi. Bahkan setiap perkataan yang akan dikeluarkan orang-orang di sekitarmu, itu bisa membuatmu drop, Nara. Dan aku nggak mau itu terjadi.
Kinara terdiam mendengar penjelasan panjang Darrel. Tapi setidaknya satu hal yang bisa ia resapi dari semua itu, ketika dia begitu memerhatikan keadaannya bahkan dari hal yang terkecil sekalipun.
“Tapi bukan seperti tadi caranya.”
“Untuk yang satu itu aku punya alasan tersendiri. Dalam melakukan sesuatu tindakan, aku bukan orang yang main asal ambil keputusan dan tindakan. Kamu bilang mereka sahabat. Apa benar? Kamu yakin?”
Kinara hendak bangun dari posisi tidurnya, tapi Darrel malah dengan cepat menahan agar dirinya tak bergerak.
“Aku mau bangun.”
“Nggak boleh.”
Dengan helaan napas panjang, Nara lagi-lagi harus menurut pada perintah si bos besar ini.
“Boleh aku jujur tentang satu hal?”
“Kejujuran yang nyebelin atau bukan?”
“Menurutku tidak, entah menurutmu jika sudah mendengarnya.”
Nara mengangguk.
“Aku tahu jika mereka berdua adalah sahabatmu. Oke, bahkan ku akui jika aku mungkin bukan apa-apa di matamu dibandingkan mereka berdua.”
“Kenapa bicaranya begitu,” gumam Nara seolah tak terima ketika Darrel malah berkata begitu.
“Pertama, mereka memiliki waktu yang jauh lebih lama bersamamu. Sedangkan aku, bahkan bisa dikatakan baru beberapa hari bersamamu. Kedua, kamu bilang mereka ada di saat kamu butuh. Entah itu benar atau tidak, tapi kamu bilang iya. Sedangkan aku ...”
“Kamu juga,” timpal Nara langsung melanjutkan perkataan Darrel.
“Bukan hanya di saat kamu butuh, bahkan aku menginginkan setiap waktu bersamamu. Agar saat kamu sedih, aku tak harus bertanya tentang penyebabnya. Karena otomatis aku akan tahu, karena terus berada di sisimu.”
Tak ingin baper, tapi jujur saja ... perkataan Darrel spontan membuatnya tersenyum sumringah. Sudahlah, jika berhadapan dengan cowok ini, rasa kesal, sedih atau apapun seolah lenyap.
“Ketiga.”
“Masih ada lagi?”
“Kamu bilang mereka adalah sahabat. Aku tanya satu hal padamu. Pernahkah mereka bertanya perihal keadaanmu? Lebih tepatnya, ketika kamu bermasalah dengan orang tuamu, apakah mereka berada di dekatmu?”
Senyuman Nara seketika pudar, perlahan raut dingin menghiasi wajah yang masih tampak sedikit pucat itu. Pertanyaan Darrel memang tak salah sama sekali, hanya saja pikirannya sekarang yang bingung sendiri.
Darrel tersenyum sinis melihat ekspressi Nara ketika mendapat pertanyaan darinya. Di list kedua, dia bilang kalau mereka ada di saat butuh, tapi klu ketiga justru membantah jawaban dia di klu kedua.
“Ra, aku nggak menahan kamu bergaul dengan siapapun. Hanya saja, aku nggak mau jika kamu tersakiti oleh perasaan yang kamu ciptakan sendiri. Menganggap sahabat, tapi tak dipahami. Hanya karena dekat dan kenal dalam waktu yang lama, itu tak menjamin arti dari seorang sahabat.”
“Kamu juga?”
“Jangankan perasaanku, kalau bisa bertukar posisi denganmu, aku lebih baik yang sakit daripada melihatmu sakit.”
“Berminat jadi sahabatku?”
“Status itu tidak berlaku untuk aku dan kamu.”
Kinara berdecak dan menyikut lengan Darrel karena kata-kata yang dia ucapkan.
“Jadi sahabat, dilarang pake rasa cinta. Masalahnya sekarang, kita punya rasa itu, Nara.”
“Dan kamu juga harus ingat, Darrel. Aku dan kamu nggak pernah ...”
“Akan ku lakukan apa yang sudah ku ucapkan,” timpal Darrel langsung seolah paham saja kemana arah perkataan Nara. “Ku bilang kamu adalah milikku, itu artinya itu akan terjadi.”
“Kamu bukan Tuhan.”
“Memang bukan, hanya saja setiap usaha pasti akan membuahkan hasil, kan. Aku sedang berusaha, tinggal menunggu hasilnya saja lagi.”
Kalau sudah adu pendapat dengan Darrel, sudahlah ... jangan berniat untuk maju lagi. Karena pada dasarnya dia memiliki otak yang cerdas, hingga akan mendapatkan titik terang untuk menjatuhkan lawan bicaranya.
“Mau lanjut berdebat denganku, hem?”
Kinara mengulurkan tangannya ke arah Darrel, lengkap dengan muka cemberutnya.
“Apa?”
“Berdamai dengan keadaan,” ujar Nara.
Darrel tersenyum menanggapi perkataan dan sikap Kinara. Menyambut uluran tangan dia, tapi ketika Nara menarik tangannya justru tak berniat ia lepas.
“Darrel,” rengeknya.
Kinara seketika langsung kaget, saat Darrel tiba-tiba mencium jemarinya dengan lembut. Ayolah, moment yang terlihat biasa bagi orang-orang yang mungkin sudah biasa mendapatkan sikap ini. Hanya saja bagi dirinya yang baru pertama kali mengalami, itu justru seakan membuat jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak. Saking kaget dan bapernya.