BAB : 51

1330 Kata
Reza menghentikan laju mobilnya di dekat sebuah taman, kemudian menatap fokus pada Zila yang duduk di sampingnya ... masih memberikan tatapan penuh kekesalan. Oke, ia tahu kok apa salahnya, hanya saja sekarang saatnya memberikan sebuah penjelasan atas sikapnya barusan. “Maaf,” ucapnya singkat. “Nggak akan!” “Aku serius, loh, minta maaf.” “Aku juga serius nggak mau memaafkan!” “Meskipun ku berikan sebuah penjelasan?” “Tergantung, kamu memberikan penjelasan yang masuk akal atau tidak,” balas Zila tak mau kalah. Tadinya berpikir kalau Reza lumayan lah, tak semenakutkan menghadapi Darrel. Tapi sekarang ia paham, cowok ini dan Darrel tak jauh berbeda tingkat menyebalkan mereka. Bak pinang dibelah dua. “Jangan mencoba mengomentari apapun yang dilakukan Darrel pada Kinara. Termasuk masalah Nara dan orang tua dia, yang sedang diurus oleh Darrel.” “Aku nggak pernah komentar,” balas Zila tak terima ketika Reza menuduhnya sesuatu yang tak ia lakukan. “Oke, kamu nggak pernah komentar ... tapi bisakah kamu jangan ikut campur dengan apa yang dilakukan Darrel terhadap Nara? Aku tahu, kamu pasti berpikir untuk bisa membuat Nara dekat dengan orang tua dia, kan?” Seolah niatnya diketahui secara gampang oleh Reza. Matanya yang tadi masih berani menatap pandangan Reza, kini seolah memilih untuk menghindari itu. “Aku tahu, kamu pasti berpikir jika Kinara itu butuh sosok orang tua yang seharusnya dia dapatkan. Sebagai seseorang yang lama dekat dengan Nara, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Sama-sama memiliki orang tua yang terlalu mengejar dunia, hingga lupa akan status. Hanya saja kali ini situasinya berbeda, Zil. Tolong pahami itu.” Kembali menatap Reza, seolah dengan seksama mendengarkan. Dan lagi, bagaimana dia bisa mengetahui jika dirinya dan Nara sama-sama berada di situasi yang sejalan? “Sebuah perasaan tertahan, hingga mengakibatkan sebuah tekanan akan membuat otak seolah dipaksa untuk berpikir keras. Pertama mungkin masih mampu untuk menahan, tapi jika sudah tak tahan ... rasa sakit, tertekan, benci, sedih, semuanya bercampur menjadi satu hingga menimbulkan depressi.” Tadinya mau berkomentar, bahkan sudah mempersiapkan komentar panjang, hanya saja setelah mendengar penjelasan Reza seolah komentarnya tak mampu ia lontarkan. “Tapi, Nara bilang dia akan lakuin apapun asal orang tuanya senang. Jadi, apa itu dia lakukan dalam rasa tertekan.” “Bisa jadi.” “Tapi ...” “Maaf, kamu bilang sahabatnya Kinara, kan? Lalu, kenapa kamu seolah tak tahu menahu dengan apa yang sebenarnya dia inginkan?” Zila menghempaskan punggungnya dengan kasar, kemudian membuang pandangannya keluar kaca mobil. Seakan-akan dirinya sedang didepak habis oleh semua perkataan dan penjelasan Reza. “Udah selesai menceramahiku, kan? Ayo jalan.” “Temani aku makan, ya?” “Jangan lama, aku ada kelas siang ini.” “Kuliah?” Tadinya sudah membuang muka, tapi mendengar respon Reza membuat pandangannya kembali mengarah pada sosok cowok yang berada di kursi sampingnya itu. “Ya kuliah, kamu pikir aku anak SD?” Langsung ngegas. “Kirain masih SMA. Masih terlihat ...” Reza menghentikan kata-katanya saat tatapan tajam Zila sudah lebih dulu memberikan peringatan padanya. “Baiklah, kita makan.” Langsung kembali menyalakan mesin mobil dan lanjut pada tujuan awal. “Nanti berikan alamat rumahmu padaku, ya. Biar ku minta supir mengantar mobilmu.” “Kamu yang amke, kenapa malah supir yang kamu suruh antar?” “Iya, iya ... baiklah. Nanti kalau ada waktu, aku yang antar. Puas?” “Jangan lupa, kalau datang ... bawa makanan.,” saran Zila. Bukan apa-apa, hanya saja tiap orang yang datang ke rumahnya, ia berharap ada makanan juga yang datang. “Kamu pikir aku pacarmu, yang datang ngapelin sambil bawa makanan.” “Pelit!” “Iya, ku bawakan suntikan biar mulutmu tak terus mengoceh panjang lebar.” Sedangkan di rumah sakit, Nara dan Darrel masih berada di pikiran masing-masing. Nara memikirkan bagaimana kehidupannya selanjutnya, dan Darrel justru berpikir bagaimana cara agar Nara bisa terus bersamanya. “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Nara memecah keheningan di antara mereka berdua. “Ada masalah pekerjaan kah?" “Aku mikirin kamu.” “Aku nggak bisa membayarmu karena menghabiskan waktu hanya untuk memikirkanku.” “Bayar pake hatimu saja, bisa?” Nara malah terkekeh mendengar perkataan Darrel. Padahal ia lagi serius, loh ... tapi Darrel malah terus memberikan balasan yang seakan membuatnya baper tingkat dewa. “Aku serius, Ra.” “Hmm, apa?” “Orang tuamu datang menemuiku” Wajah Nara yang barusan masih terlihat senyuman yang terukir, seketika berubah sebaliknya. “Kamu beneran mau melakukan hal itu?” “Tentu saja,” jawab Darrel cepat. “Nggak boleh!” “Kenapa?” “Aku nggak mau kamu terus berada di sekitarku, Darrel. Aku nggak mau jika mereka menyakitimu, apalagi sampai menghancurkan kehidupanmu.” Darrel menangkup wajah Kinara, membuat dia fokus menatap ke arahnya. “Dengar, Ra. Apapun yang akan kamu katakan dan apapun yang sedang kamu pikirkan, itu nggak akan membuatku merubah keputusan. Aku inginkan kamu, jadi jika aku melepaskan apapun yang ku miliki demi kamu, bukankah itu hal yang wajar?” Nara menggeleng cepat. “Aku akan pergi darimu, jika itu benar-benar kamu lakukan, Darrel.” “Sebelum kamu pergi, akan ku lakukan sesuatu yang nggak akan membuatmu bisa pergi dari tanganku.” “Maksudmu apa?” Darrel semakin mendekat pada Nara yang posisinya masih tiduran. Dengan kedua tangannya yang berada di sisi kiri dan kanan gadis itu. “Mau melakukannya sekarang? Jika kamu mau, kita akan memulai semua ini.” “Kamu mau ngapain?” “Membuatmu jadi milikku,” bisik Darrel. Jawaban Darrel membuat Nara kaget. Spontan, mendorong cowok yang ada dihadapannya ini agar menjauh. Bukannya berhasil, malah dia seolah tak bergerak sama sekali. “Pliss deh, jangan bertindak bodoh.” “Kamu belum tahu sepintar apa aku. Tapi jika sudah berhasil, aku mau kamu berikan sesuatu padaku.” “Iya, dan akan ku berikan kamu ucapan selamat.” Mencoba memberikan candaan, tapi aslinya otaknya dibuat tak waras oleh sikap dan perkataan-perkataan Darrel. Ia benar-benar sedang dibuat gila oleh cowok ini. Di saat yang bersamaan, ponsel milik Kinara yang ada di dalam laci nakas berdering. Pandangan keduanya beradu, seolah berada di pertanyaan masing-masing. “Ponselku ada di sini?” “Memang ada. Aku yang pegang sebelumnya.” “Setidaknya isinya aman dari tanganmu,” balas Nara sedikit tenang karena untuk membuka isi ponselnya butuh password. Tapi senyuman Darrel membuat kelegaan Nara seketika buyar. Seolah dia sedang menertawakan kebodohannya. “Jangan bilang kalau kamu membobol isi ponselku?” Darrel yang awalnya masih mengunci Nara dengan tubuhnya, kini beranjak. Mengambil benda pipih yang berada di dalam laci nakas. “Bukan membobol, tapi maaf ... salahmu juga karena terlalu gampang ditebak menggunakan password,” ungkap Darrel menyodorkan benda pipih itu pada Nara. Nara langsung dengan cepat mengambil alih ponsel miliknya dari tangan Darrel. Memeriksa isi ponselnya. Awalnya masih mode aman, tapi seketika otaknya seolah mau meledak saat kenyataan buruk harus ia terima. Benar kata Darrel, karena dia memang berhasil masuk. Makin menjelajah, hingga matanya dibuat seakan keluar dari sarangnya, saat mendapati sebuah foto. Menurutnya, ini foto parah. Seakan bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Nara ketika melihat sesuatu di layar datar itu. pasti ekspressi kaget. “Maaf, aku mau kirim foto itu ke ponselku, eh malah nggak sengaja terkirim ke nomer ... si cowok yang. Aku nggak perduli nama dia, tapi yang harus kamu tahu, aku benci ketika dia berada dekat denganmu.” “Astaga! Darrel ... kamu beneran mau bikin aku makin stress, ya? kamu tahu nggak, kalau foto ini sampai kesebar, aku bisa ...” “Itu lebih baik,” timpal Darrel langsung. “Iya, dan sekarang jawabanmu itu sudah membuktikan kalau foto ini sengaja kamu kirim. Apaan bilangnya nggak sengaja terkirim, padahal niatmu memang begitu,” omel Nara seakan berada di tingkat kekesalan maksimal. Ketika dirinya mengomel dengan serius, bisa-bisanya dia merespon dengan senyuman layaknya tak terjadi apa-apa. Heran dengan apa yang sebenarnya direncanakan oleh Darrel. Iya kalau berhasil, kalau tidak bagaimana? Jujur, dirinya memang mencintai Darrel, tapi jika semua perasaannya itu harus menumbalkan dia, lebih baik perasaannya saja yang jadi korban. Jangan Darrel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN