Beberapa hari ini Kinara dirawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan juga sudah menunjukkan kalau kondisi dia juga lebih cepat membaik. Seperti yang sudah diperingatkan oleh dokter yang menanganinya, kalau kondisi Nara tergantung bagaimana suasana hati dan pikiran dia sendiri. Itulah sebabnya, orang-orang di sekitar adalah salah satu yang mempengaruhi. Dan Darrel, melakukan itu semua dengan ketat.
“Bagaimana dokter?” tanya Darrel sesaat setelah dokter memeriksa.
“Baik,” jawab wanita paruh baya itu. “Anda melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang laki-laki pada kekasihnya.”
“Jadi?”
“Siang ini pasien sudah diperbolehkan pulang,” ungkap dokter dengan iringan senyuman simpul di bibirnya.
Bukan hanya Darrel yang senang mendengar kabar ini, tapi juga Kinara. Bagaimana tidak, berhari-hari ia seolah dikerangkeng di rumah sakit ini, terutama dalam cengkeraman Darrel ... hingga akhirnya sekarang dirinya sudah boleh pulang. Itu artinya ia bisa bebas.
“Baik dokter, kalau begitu terimakasih banyak atas bantuannya selama di sini,” ucap Darrel.
“Sama-sama.”
Dokter itu segera berlalu keluar dari sana, begitupun dengan seorang suster yang ikut bersama dia. Meninggalkan Darrel dan juga Kinara berdua.
“Sudah boleh pulang, kan?” tanya Nara.
Bukan tak mendengar perkataan dokter barusan, hanya ingin memastikan ... karena otak Darrel terkadang suka tak terima dengan sebuah keputusan jika itu membuat dia tak tenang.
Darrel duduk di samping Kinara yang posisi dia duduk bersandar dengan sebuah bantal sebagai penyangga punggung. Menatap gadis itu cermat, seolah berat sekali untuk mengatakan kalau kondisi dia baik-baik saja.
“Iya, sudah boleh pulang.”
Makin tergambar bingkai bahagia di wajah Nara saat mendapatkan jawaban itu dari Darrel. Tapi seketika dalam hitungan detik, raut bahagia itu pudar.
Darrel menyibakkan helaian rambut yang tergerai, hingga menutupi wajah yang sudah tampak lebih segar itu.
“Kenapa?”
“Eng-nggak kenapa-kenapa,” jawabnya singkat.
Darrel memang bisa dikatakan baru dalam kehidupan Kinara, hanya saja dirinya justru jauh lebih cepat mengenal dan juga memasuki hati Nara. Ia tahu kapan dia senang dan kini pun saat raut tak biasa yang tertera di wajah dia, ia pun juga tahu kalau dia sedang memikirkan sesuatu.
“Jangan berpikir untuk menjauhiku, karena aku nggak akan menerima keputusan bodoh mu itu,” ujar Darrel langsung.
Mata Kinara yang tadinya berusaha memandang ke arah lain, mencoba menjauhkan dari tatapan Darrel, akhirnya kini berakhir di pandangan itu juga.
“Kita nggak akan ...”
“Kita akan sama-sama terus,” timpal Darrel langsung. “Jangan pernah berpikir kalau aku akan melepaskanmu begitu saja dari tanganku. Karena aku nggak akan setuju!”
“Kamu harus ingat, kalau orang tuaku.” Perkataan Nara terhenti, matanya terpicing seolah ada sesuatu yang sedang menusuk otaknya ketika memikirkan orang tuanya sendiri. Entah ada apa, tapi rasanya terasa sakit saja. Tapi belaian Darrel di kepalanya membuat rasa itu perlahan sirna.
“Jangan pikirkan apa yang menyakitimu.”
“Aku nggak mau kalau kamu sampai jadi korban,” lanjutnya. “Kamu tahu, kan ... aku ini anak perempuan. Apapun masalahnya, tetap saja mau tidak mau aku berada dalam cengkraman orang ... maksudku, mereka.”
“Kamu pikir aku orang seperti apa? Menerima begitu saja dan pasrah, gitu?
Kinara menggeleng cepat. Karena ia tahu pasti Darrel bukan sosok yang gampang untuk pasrah. Apalagi ketika kemauan dia begitu tinggi, mungkin cara singkat pun akan dia pilih.
“Jadi, bisakah kamu melakukan apa yang ku perintahkan?”
“Enggak,” jawab Nara.
“Ra ...”
“Aku nggak mau,” tolaknya.
Mencoba menahan hatinya untuk tenang, agar Kinara tak merasa kalau dia dipaksa.
“Aku dan orang tuamu sudah membuat keputusan. Sekarang, mau nggak mau kamu harus bersamaku.”
“Jangan lakukan, Darrel.”
Darrel beranjak dari posisi duduknya. Berniat pergi, tapi Nara menahan tangannya hingga niatnya terhenti.
“Aku mau kamu, tapi kamu terus mengelak. Aku ikhlas memberikan semuanya pada mereka, asalkan kamu jadi milikku ... sekarang justru kamu seolah tak menghargai apa yang ku lakukan.”
“Bukan begitu, tapi aku nggak mau jika kamu korbankan semuanya demi aku.”
Darrel melepaskan pegangan Nara di tangannya, kemudian mengecup lembut dahi gadis itu.
“Tunggu di sini, ya. Aku urus berkas-berkas kepulanganmu,” ujar Darrel seolah tak mengubris perkataan Kinara.
“Minta supir untuk siapin mobil!”
Nara mendengar perintah itu diberikan Darrel pada penjaga yang selalu berada di depan pintu masuk. Itu artinya tak ada lagi yang menjaga di sana untuk beberapa saat.
“Darrel sepertinya tetap pada keputusan dia dan aku, tentu saja nggak bisa biarin ini terjadi,” gumam Nara langsung beranjak dari posisi tempat tidur dan bergegas mengganti pakaiannya.
Menyambar ponsel miliknya yang berada di nakas, kemudian berjalan menuju pintu keluar. Perlahan ia buka pintu, kemudian mengintip keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, barulah dengan cepat ia melarikan diri dari sana. Untung saja yang sakit adalah tangannya, bukan kakinya. Hingga masih dengan gampang bisa berlari cepat menjauh dari rumah sakit ini.
Sampai di luar rumah sakit, nyaris saja ia ketahuan dan terlihat oleh penjaga yang ternyata sudah hendak kembali masuk. Syukurnya dirinya terhalang oleh beberapa perawat yang berlalu lalang, hingga akhirnya bisa lolos.
Sampai di depan, menghentikan sebuah taksi yang lewat. Kemudian dengan cepat pergi dari sana. Napasnya berasa ngos-ngosan. Ia tahu kalau Darrel begitu baik padanya, tapi ia juga tak ingin jika dia terjerumus ke dalam perangkap orang tuanya.
Memberikan sebuah alamat pada supir taksi, kemudian segera menelepon seseorang saat dalam perjalanan.
“Hallo.”
“Zila, lo di mana?”
“Ini siapa?”
Terdengar suara serak layaknya orang bangun tidur. Iya, pastilah. Ini masih pagi, tentu saja Zila pun masih berada di alam bawah sadar dia alias tidur.
“Ini siapa, ini siapa? Ini gue, Nara!”
“Astaga! Elo, Ra?”
“Lo di mana?”
“Gue di rumah lah.”
“Gue ke sana, ya. Tunggu di depan pagar. Gue pake taksi.”
“Yakinlah, ini pasti kagak bawa dompet,” balas Zila yang seketika membuat Nara terkekeh.
Percakapan berakhir, kemudian langsung ia non-aktifkan ponselnya. Karena apa? Karena Darrel pasti akan mencarinya, termasuk menghubunginya lewat telepon. Nyari aman, sih, lebih tepatnya.
Sampai di depan rumah Zila, dari kejauhan sudah terlihat gadis itu menunggu di depan pagar rumah, seperti yang ia pinta tadi.
Turun dari taksi, Zila segera membayar ongkos taksi dan mengajak Kinara masuk ke dalam rumah. Serius, ya ... ini otaknya dibuat mumet seketika oleh sobatnya. Masih pagi loh ini, dan dia sudah bikin dunia kocar kacir.
Sampai di ruang utama, keduanya berpapasan dengan Indira, mamanya Zila yang kebetulan hendak berangkat ke kantor.
“Hai, Tante,” sapa Nara menyambar dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Loh, Nara ... bukannya kamu lagi sakit, ya?”
Indira sampai bingung mendapati Nara tiba-tiba datang. Padahal setahunya dari Zila kalau gadis itu sedang tak sehat.
“Udah sehat kok, Tan,” ungkapnya.
“Yasudah, kalau gitu Tante berangkat ke kantor dulu, ya.” Kemudian mengarahkan pandangannya pada Zila. “Nanti kalau Papa kamu telepon, bilang saja Mama nggak kasih ijin, ya.”
“Ijin apa, Ma?” tanya Zila bingung.
“Nggak perlu kamu tahu. Yang jelas, kamu tinggal katakan saja seperti apa yang Mama pinta.”
“Hmm,” angguk Zila.
Keduanya menuju kamar kamar Zila yang berada di lantai atas, kemudian duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidur. Apalagi Zila, di otaknya sekarang banyak pertanyaan yang sedang bergerayang.
“Ya ampun, Ra, lo ngapain, sih, pagi-pagi ke sini? Udah baik-baik aja, kan? Jangan bilang kalau lo kabur dari rumah sakit.”
“Ketebabk, ya?” tanya Nara dengan senyuman simpul.
“Lo nggak bawa duit, gimana gue nggak bisa nebak.”
“Ada masalah.”
“Tentang?”
“Darrel.”
“Jujur, ya, Ra ... kalau urusannya udah sama Darrel. Otak gue seakan gelindingan di lantai, seolah buntu ide. Jadi, lo sekarang kenapa? Darrel baik, kan?”
Iya, saking baiknya bahkan ia seolah dibuat tertahan kadang jika ingin bertemu dengan Nara. Niat dia memang melindungi Nara, hanya saja terlalu over protektive.