BAB : 53

1376 Kata
“Iya, Darrel itu baik banget, Zil. Tapi masalahnya sekarang bukan perkara sikapnya, tapi justru tentang.”| Nara menghentikan sejenak kata-katanya. ‘Tentang orang tua gue,” lanjutnya sedikir merasa .. entahlah, kalau sudah memikirkan mereka, rasanya seperti ada yang mengganjal dalam dadanya. “Maksudnya?” “Jadi sebenarnya, niat awal mereka ngirim gue ke perusahaannya Darrel, semata-mata bukan agar gue memahami bisnis. Tapi justru dengan niat lain.” “Niat apa?” “Berharap kalau gue bisa mendekati Darrel. Lebih tepatnya, kalau gue dekat dengan dia, itu artinya berpengaruh pada bisnis keluarga gue.” “Trus?” “Darrel tahu itu dari awal, bahkan gue juga udah bilang sendiri sama dia. Hanya saja ... semuanya seolah sudah terlanjur.” Mata Zila seketika membola saat mendengar penjelasan Nara. “Jangan bilang kalau elo sama Darrel udah ngelakuin sesuatu yang bikin.” Zila memperagakan tangannya di perut, layaknya seorang wanita hamil. “Bukan, elah,” umpat Nara. “Lo pikir gue cewek apaan, unboxing duluan sebelum halal.” Secinta apapun ia pada Darrel, jauhkanlah dirinya dari sebuah khilaf yang berujung hal tak bermoral seperti itu. Dan lagi, meskipun Darrel jenis cowok yang ... kalem di awal, tapi panas saat sudah mengenal, ia meyakini jika cowok itu adalah cowok baik-baik. “Kan gue cuman mikir doang, nggak nuduh,” balas Zila tertawa lebar. “Darrel mau lakuin apa yang diminta sama orang tua gue. Bahkan dia udah mutusin hal sebesar itu tanpa ngasih tahu gue.” Zila menghentikan penjelasan Nara tiba-tiba. “Bentar bentar, ini gue bingung. Darrel minta elo sama Om Marion dan Tante Tiara itu sebagai apa?” memberikan lirikan dengan tatapan bingung. “Jangan bilang kalau lo sama Darrel beneran punya hubungan seperti apa yang dikatakan Reza.” Nara mengangguk perlahan. “Hmm, benar.” “Serius, Ra?! Lo jadian sama Darrel? Cowok keren, ganteng, tajir melintir tujuh tanjakan, sembilan tikungan, sepuluh belokan itu?” Haruskah di saat seperti ini Zila bersikap begitu? Ini posisinya lagi genting, loh ... masih sempat-sempatnya dia memikirkan kegantengan dan ketajiran seorang Darrel. “Bisa nggak, sih ... serius kali ini?” “Oke, gue bantuin. Jadi, lo mau apa?” “Menjauh dari kehidupan Darrel.” “Ra, itu namanya elo nyari mati dan ngajakin gue ikut mati.” Zila sampai shock. “Gue nggak mau,” lanjutnya menolak sambil mengangkat kedua tangan pertanda mundur dari niatnya membantu. Perkara menjenguk dan ketemuan sama Nara saja di rumah sakit, ia seolah harus menghadapi Darrel dengan segala sikap over protektif cowok itu. Dan sekarang bisa-bisanya Nara malah memintanya untuk membantu kabur dari dia? Ayolah, ia masih muda ... nggak mau lenyap dari muka bumi ini sebelum menikah. “Ayolah, Zila. Kalau bukan elo, gue minta bantuan sama siapa lagi? Di sini posisinya elo lebih tahu gue daripada Faye. Dan lagi, Faye sepertinya juga kesal sama gue karena sikap Darrel.” “Lo pikir gue nggak kesal sama Darrel?” “Jadi lo beneran nggak mau bantuin?” Zila menggeleng cepat. Wajah Kinara langsung bereaksi sendu. Iya, berpikir kemana lagi ia akan meminat bantuan. Bukan apa-apa, hanya meminta mencarikan tempat saja, kok. Bukan hal lain. Beranjak dari posisi duduknya, kemudian tersenyum singkat. “Nggak apa-apa kalau lo nggak mau bantuin, tapi tolong jangan bilang sama Darrel kalau gue ke sini. Bukan karena gue, tapi karena nanti elo yang jadi sasaran dia kalau emosi.” “Lo mau kemana?” “Yang jelas, pergi.” Zila menyambar dompetnya, kemudian mengambil satu lembar kartu kredit di dalam sana dan menyodorkan benda itu pada Kinara. “Buat apa?” “Lo pegang buat jaga-jaga. Pin nya gue kirim lewat chat.” Berpikir jika Kinara akan menerima, tapi ternyata dia justru menolak. “Gue mau menjauh dari Darrel, bukan mau belanja.” Menyambar dompet milik Zila, kemudian mengambil beberapa lembar uang kertas di sana. ‘Gue butuh segini aja buat ongkos taksi.” Tiba-tiba Zila malah merengek. “Ra, lo serius mau pergi? Trus kuliah gimana, lo mau tinggal di mana, ntar makan apa?” Tak membalas perkataan Zila, Nara langsung saja berbalik badan dan berlalu pergi begitu saja dari sana. “Ya ampun, dia benar-benar pergi,” gumam Zila langsung beranjak dari posisi duduknya dan berjalan cepat menyusul Nara yang sudah berlalu pergi. Malah dia cepat banget jalannya, hingga sampai di halaman depan nyaris saja tak terkejar. “Ra, lo mau kemana, sih?” Menyambar tangan Nara, membuat langkah dia terhenti saat mencapai pagar. “Jangan kayak gini dong. Gue bukannya nggak mau bantu, tapi gue takut kalau elo kenapa-kenapa di luaran sana. Kondisi lo masih belum pulih, Ra.” “Gue baik-baik aja, Zil. Tapi kalau gue tetap dekat Darrel, justru hidup dia yang nggak akan baik. Gue nggak mau itu terjadi.’ Sebuah taksi berhenti saat Nara melambaikan tangannya. “Nara! Gue marah kalau lo benar-benar pergi!” Perkataan dan ancamannya bahkan tak digubris oleh Kinara. Dia langsung masuk ke dalam taksi dan dalam sekejap kendaraan itu langsung menghilang dari pandangannya. Bingung, kesal, sedih, semua rasanya saat ini sedang bercampur aduk. Posisinya di mata Nara pastilah seperti seorang sahabat yang bahkan tak memberikan bantuan, tapi jika ia bantu, itu artinya sama saja dengan dirinya membiarkan Nara pergi dalam kondisi dia yang tak baik. “Oke, dan gue bingung sekarang harus ngapain,” umpatnya gregetan sendiri. Mondar-mandir di depan pagar layaknya sebuah setrikaan, bahkan ini saja dirinya baru bangun tidur, loh. Belum mandi, belum cuci muka, bahkan masih mengenakan tanktop dan celana tidur pendek. Karena saat Nara menghubungi tadi, dirinya masih tidur. Segera kembali memasuki area rumah dengan sedikit berlari. Pagi ini ada kuliah dan sekarang otaknya harus berjibaku dengan masalah Kinara. Ada-ada saja masalah sahabatnya yang satu ini. Kemarin nyaris nyawa dia tak tertolong dan sekarang masalah baru bermunculan. Kembali ke kamar. Mengikat rambutnya jadi satu, kemudian mengenakan hodie. Berniat untuk sarapan, karena dari semalam juga belum makan, tapi lagi-lagi ia merasa makan akan membutuhkan waktu sekian menit lagi. Menyambar ponsel miliknya yang ada di nakas, kemudian mencari kontak seseorang. “Hallo.” “Reza, kamu di mana?” “Baru keluar dari ruang bedah. Kenapa?” “Ya ampun.” Ia sampai menghela napas panjang. “Kenapa, sih?” “Mending sekarang kamu ketemu sama Darrel. Cari dia. Pasti lagi panic attack.” Zila langsung memutus percakapan dengan Reza. Bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan. Karena beberapa detik lagi pasti dia juga ketemu sama Darrel. Segera berlari keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat. Sampai di luar, tiba-tiba menghentakkan kaki saat mengingat kalau mobilnya masih ada pada Reza. Ya ampun, ingin makan orang rasanya. Ponselnya berdering, terlihat nama Reza yang menelepon. Berdecak kesal dan langsung menjawab panggilan telepon itu. “Za, mobilku!” pekiknya. Saking gregetannya, ia seakan menggigit ponselnya sendiri. “Kamu nggak tahu, kan, seperti apa emosinya Darrel saat ini.” Terdengar helaan napas panjang Reza sesaat. “Dan kamu nggak tahu, kan ... ini aku mau ngejar Kinara! Kesal tahu, nggak. Nggak ada mobil, nggak ada taksi yang lewat!” “Apa? Kinara?” “Iya, barusan Nara ke sini. Dan sekarang dia pergi. Aku udah berusaha menahan, tapi dia kukuh untuk pergi. Sekarang, aku nggak tahu lagi dia akan kemana dan ada di mana.” Menghentakkan bokongnya duduk di anak tangga. “Nara beneran sama kamu barusan, kan?” “Iya, Reza ... iya. Aku nggak bisa ngejar dia karena nggak ada kendaraan.” “Aku ke sana sekarang, ya.” “Jangan ke sini. Kamu cari ke tempat lain dulu. Biar aku nunggu taksi bentar, trus nanyain ke Faye atau ke siapa ntar.” “Hmm, baiklah. Nanti kabari aku.” Akhirnya Zila berjalan menuju pagar depan, menunggu taksi yang lewat. Lumayan, sekitar lima belas menit menunggu akhirnya taksi datang juga. Di perjalanan, ia mencoba menelepon Nara ... hanya saja dia seolah bisa menebak kalau orang-orang pasti akan menghubungi lewat telepon, hingga dengan sengaja dia non-aktifkan benda itu. “Ya ampun, dia gercep sekali mencari aman.” Lanjut, ia menghubungi Faye. Hanya saja sobatnya yang satu itu malah tak menjawab panggilannya. Nomer dia aktif, hanya saja tak merespon. Entah dia masih tidur, tapi sepertinya tidak lagi. Karena pagi ini ada kuliah. Akhirnya Zila mengarahkan supir taksi untuk menuju ke kampus. Ya, siapa tahu Nara ada di sana. Sekalian, kalau ketemu Faye juga bisa minta bantuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN