Kakinya lagi sakit, bahkan untuk bergerak saja rasanya ngilu. Tapi sikap dan tindakan darrel membuatnya sontak bereaksi.
Beranjak dari posisi duduknya menuju nakas dan menyambar kotak tisu dari sana.
“Apa yang kamu lakukan!” emosinya menyambar tangan Darrel dan menutupi objek itu dengan tumpukan tisu.
Bagaimana ia tak dibuat panik, dihadapannya, di depan matanya Darrel mala menyayat telapak tangannya menggunakan pisau carter. Apa dia sudah tak waras? Kalau berniat mau bunuh diri, jangan dihadapannya jugalah.
“Kamu mau bunuh diri, ya?! Benar-benar bikin aku ...” Tak mampu berkata-kata lagi, saking kesal dan gregetannya ia akan kelakuan Darrel.
Masih memegangi tangan Darrel, dengan tumpukan tisu di objek luka itu. Bukan sok khawatir, tapi kalau ada apa-apa sama dia kan ia juga yang kena getahnya.
Menatap Darrel dengan tatapan tajam, laksana pisau carter yang akan menyayat. Parahnya, cowok ini malah membalas sikap khawatirnya itu dengan senyuman simpul.
“Kamu keterlaluan, ya. Kalau memang berniat untuk bunuh diri, jangan di depanku. Kalau kamu mati gimana? Aku nggak mau tertuduh jadi tersangka.” Langsung mengoceh panjang kali lebar.
Tangan Kinara sampai bergetar memegangi tangan Darrel. Bukan hanya rasa kaget, tapi entah kenapa ia tiba-tiba khawatir saja pada dia.
“Apakah sakit?” tanyanya lembut.
“Nggak,” jawa Darrel santai.
“Aku serius, darrel. Apa lukanya sakit?”
“Aku nggak merasakan apa-apa. Justru aku malah merasakan sentuhanmu, bukan rasa rasa sakit.”
Tak membalas perkataan Darrel, karena itu pasti akan membuat dirinya semakin bingung. Membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidur, kemudian mengambil sebuah sapu tangan dari sana.
Perlahan, membukla dan menyingkirkan tisu yang ia gunakan untuk amenutupi dan menghentikan darah yang mengalir dari bekas luka yang diperbuaat oleh darrel.
“Lihat, kan, lukanya,” tunjuk Nara pada Darrel, pada objek yang tampak bekas sayatan di telapak tangan dia. “Kamu nggak waras, ya.” Lagi-lagi ingin mengumpat rasanya.
Darah sudah berhenti keluar dari luka itu. Membalut telapak tangan Darrel dengan sapu tangan miliknya. Andai orang tuanya melihat adegan ini tanpa mendengar penjelasan, pasti dirinya juga yang akan kena karena tertuduh melukai Darrel.
“Jelaskan padaku sekarang!”
Sebenarnya Darrel sendiri pun merasa bingung dan heran akan perasaannya yang tiba-tiba jadi aneh ketika bersama Kinara. Padahal baru mengenal dan bahkan ia tahu seperti apa aslinya orang tua dia. Tapi tetap saja, perasaannya seolah membenarkan begitu saja.
Melirik telapak tangannya yang sudah berbalut sapu tangan. Ya, meskipun percuma juga, sih ... tapi setidaknya menghindari dari kotoran saja.
“Darrel!”
Mentaap fokus pada Kinara, dengan raut penuh keseriusan.
“Percaya tidak, jika seseorang mengatakn kalau dirinya tak punya perasaan?”
“Ketika sikap dia terlalu buruk kah?”
“Bukan,” jawab Darrel saat perkataannnya disalahartikan oleh Nara.
“Lalu?”
“Maksudku, saat semua indera tak berfungsi dengan semestinya.”
Mulai paham dengan maksud perkataan Darrel, hanya saja ia tak mempercayai itu. Bukan tak percaya, lebih tepatnya ia belum pernah menemukan hal itu secara langsung.
Menggeleng perlahan. “Aku belum pernah menemukan hal semacam itu.”
“Yang barusan kamu lihat, udah, kan.”
“Apa?”
“Lihat luka di tanganku, kan? Apa kamu lihat reaksi sakit atau kaget ketika pisau itu ku sayat di telapak tanganku?”
Tiba-tiba otaknya ngelag dengan semua kata-kata dan pernyataan Darrel. Mencoba mencerna setiap penjelasan, tetap saja ia bingung.
“Bisa lebih detail? Aku nggak paham apa maksudmu.”
“Kemarin, kamu emlemparku dengan sepatu ... hingga dahiku terluka.”
Nara seketika mengerucutkan bibirnya, saat Darrel malah membahas kesalahan yang pernah ia lakukan. “Aku nggak sengaja, itupun gara-gara sikapmu yang bikin kesal.”
“Tapi aku nggak merasakan apa-apa, apalagi rasa sakit. Makanya sikapku biasa saja. Tapi justu sentuhanmu yang membuatku kaget.”
Kinara kembali mengingat hal yang terjadi di hari itu. hari di mana sikap darrel malah emmbuatnya merasa bingung sendiri.
“Sekarang pun juga sama. Saat pisau ini menyayat telapak tanganku, aku juga nggak merasakan apa-apa. Tapi, sentuhanmu malah yang ku rasakan.”
Tadinya masih berpikir kalau darrel membicarakan hal yang tak terllau penting, tapi makin jauh penjelasan dia, membuatnya mencerna satu-persatu apa yang dia katakan.
“M-maksudmu apa?” tanya Nara. “Maaf, jika aku waktu itu aku bilang kalau kamu nggak punya perasaan. Tapi sekarang, aku jadi merasa ...”
“Aku memang nggak punya perasaan apapun. Lebih tepatnya, aku seolah mati rasa.”
“Hah?!”
“Aku nggak merasakan rasa sakit, termasuk saat kamu lempar, atatup[un barusan ketika pisau ini melukaiku.”
Tadinya tak berpikir sampai sejauh ini, tapi penjelasan Darrel ditambah lagi dengan dirinya yang berada di tempat kejadian, membuatnya tiba-tiba yakin saja.
“Mati rasa?”
“Hmm,” angguk Darrel perlahan. “Sebagai seorang manusia, aku nggak bisa merasakan apapun. Baik ketika terluka, ataupun dibunuh sekalipun mungkin aku akan tetap biasa saja. Paling hanya mati bersama rasa yang hilang itu.”
“A-aku nggak percaya,” respon Nara. Buakn tak percaya, lebih tepanya ia tak yakin jika ada manusia yang memiliki kriteria semacam itu. Lalu, bagaimana caranya hidup dengan normal, kalau perasaan saja tak punya.
Darrel menyambar pisau carter yang berada di sampingnya, kemudian menyodorkan ke arah Kinara. “Mau mencoba membuktikannya sendiri?”
“Kamu memintaku melukaimu?”
“Kan biar kamu percaya.”
Kinara menggeleng cepat. Yakali dirinya mau dan setega itu melukai Darrel, hanya untuk sebuah rasa penasaran. Toh, luka yang dia buat dengan sengaja tadi masih membekas dalam otaknya.
“Tapi, Darrel ...”
“Tapi kenapa saat kamu menyentuhku, aku bisa merasakan sentuhan itu?” tanya Darrel langsung menimpali perkataan Kinara.
“Mana ku tahu,” respon Nara.
Darrel menyodorkan telapak tangannya ke arah Kinara. Tadi di awal, dia tak mau memberikan tangannya, tapi sekarang tanpa ia minta gadis ini seolah tahu apa yang ia inginkan.
Masih seperti beberapa kali sebelumnya. Jujur, ia bingung sendiri dengan semua ini. Lagi-lagi sentuhan nara ia rasakan. Hangat, seakan rasa hangatnya menembus ke dalam hatinya yang selama ini terasa dingin.
Kinara hendak menarik tangannya dari genggaman Darrel, tapi dia seolah menahan.
“lepasin,” pinta Nara.
“Bisakah memberikanku ijin untuk merasakan hal lain?”
“Apa?!”
Kaget dong dengan permintaan Darrel. Jujur saja, ia seorang gadis normal. Saat seorang cowok mengatakan hal yang aneh seperti itu di dalam kamarnya, apalagi tatapan Darrel yang seolah menusuk pandangan matanya, tentu saja otaknya seakan sedang berselancar ke pikiran buruk.
“Bisakah sebentar saja membantuku untuk merasakan hal lain?”
“Aku ...” Dengan kuat menarik tangannya lagi dari genggaman Darrel, tapi hanya saja kali ini bukan menahannya agar tak menjauh. Justru Darrel menariknya hingga ia jatuh ke dalam pelukan dia.