BAB : 15

1160 Kata
“Maksudnya?” “Kamu bilang, mendekatiku, kan? Yasudah, lanjutkan saja apa yang memang seharusnya kamu lakukan. Endingnya akan seperti apa, nggak ada yang tahu, kan.” Kinara malah tersenyum heran dengan sikap Darrel. Dia tahu kalau papanya memintanya untuk masuk ke perusahaan dia hanya demi mendongkrak bisnis, agar kena imbas dalam dunia bisnis. Dikira saat tahu, darrel bakalan kesal atau marah. Apalagi dengan sikap dia yang tahulah, ya, seperti apa. Tapi yang terjadi justru malah di luar dugaan. “Kamu sehat, kan?” tanya Nara. “Kenapa?” “Paham, kan, apa yang ku katakan? Aku masuk ke perusahaanmu, itu karena niat buruk dari orang tuaku yang ingin mendongkrak popularitas. Atau, bahkan niat yang lebih buruk lagi entahlah aku juga nggak paham. Sekarang saat tahu, malah memintaku untuk melanjutkan.” Darrel menghela napasnya panjang, ketika Nara malah memandangnya layaknya seorang manusia yang begitu bodoh. “Bagaimana kondisi kakimu?” tanya Darrel mengalihkan pembicaraan. Karena kalau terus dilanjutkan, ia justru benar-benar akan dibuat berpikiran bodoh oleh gadis ini. Kinara mengerucutkan bibirnya. “Sangat tidak baik,” ungkapnya. “Baru juga sehari masuk kerja dan kamu sudah berniat mengambil jadwal liburan?” Nah, ini, nih ... sikap Darrel yang bikin jantung berasa mau meledak karena emosi. Barusan dia bersikap dan berlagak sok bijak. Dan sekarang, kembali ke mode asli sikapnya yang menyebalkan. “Aku kan sudah bilang, katakan saja pada orang tuaku kalau kamu nggak menyukaiku. Atau, bilang saja kalau aku enggak becus mengerjakan appaun pekerjaan di kantor. Gampang, kan? Kita sama-sama selamat dari sebuah hal yang mengerikan.” Benar, kan, apa yang ia katakan. Dirinya bisa bebas, begitupun Darrel yang tentu saja tak harus susah-susah mengurus dirinya di kantor. Dan lagi, dia nggak perlu lah harus berurusan dengan kedua orang tuanya yang seolah terus haus akan harta dan popularitas. “Jangan bahas itu lagi. Sudah ku katakan, bukan ... lakukan saja seperti apa yang mereka minta. Bukankah seorang anak akan melakukan apa saja demi kebahagiaan orang tuanya.” “Mereka bahagia, aku tidak. Anggaplah aku sebagai seorang anak yang nggak berbakti pada orang tuanya, tapi kalau mereka salah jalan, aku juga nggak akan mau mengikutinya.” Darrel terdiam mendengar penuturan Kinara. Bukan apa-apa, selama sekian tahun ia hidup ... baru kali ini bertemu gadis yang tak memikirkan perkara harta. “Jangan berpikir kalau aku nggak memikirkan harta, ya. Aku nggak sebaik itu juga. Uang bukan segalanya, tapi hidup juga butuh uang, kan. Hanya saja, jika harus mengorbankan perasaan, aku nggak akan memilih harta ataupun kekuasaan.” Menyenderkan punggungnya di sandaran tempat tidur, seolah merasa capek dalam kehidupannya sendiri. “Bagaimana pendapatmu tentang harta dan cinta?” Anggap saja saat ini bukan dirinya yang sedang bertanya pada Kinara. Bisa-bisanya menanyakan perihal hal sedetail itu pada gadis yang bahkan baru ia kenal. “Maksudmu?” “Kamu mau pilih yang mana, cinta atau harta?” “Sama seperti yang ku katakan, kan. Bukankah cinta termasuk perasaan. Jika harus memilih, tentu saja aku memilih cinta. Tapi jika dikaji untuk kelangsungan hidup yang aman, tentu saja keduanya berharap bisa berjalan dengan seimbang.” Darrel tersenyum sinis saat mendengar penjelasan Kinara. Seolah menolak keras pemikiran dia. “Kenapa?” “Hanya tak percaya saja dengan semua yang kamu katakan. Itu hanya ada dalam pikiranmu, karena yang sebenarnya adalah wanita itu bukanlah memilih pasangan dengan perasaan, tapi justru menjadikan harta yang utama.” “Aku seorang wanita, jadi aku paham dengan semua itu. Cowok kebanyakan kan hanya melihat dari segi perasaan mereka saja, tanpa mengetahui dan memikirkan apa yang sedang wanita butuhkan.” “Contohnya?” “Sepasang kekasih yang cowoknya hanya fokus dengan pekerjaan, memberikan materi yang cukup pada ceweknya. Dia berpikir jika semua itu cukup, tapi tak tahukah dia kalau ceweknya juga butuh dia di sampingnya. Bukan hanya sekadar menikmati harta yang seolah jatuh dari langit, tanpa tahu siapa yang menjatuhkan. Tapi di saat wanita ini mencari kenyamanan dengan cara lain, malah di bilang tak pengertian.” Darrel yang awalnya seolah meledek kata-kata Kinara tadi, kini seolah disindir langsung ke dalam hatinya. “Sebenarnya seorang wanita itu akan baik, tergantung pasangannya juga. Ya, meskipun nggak semua wanita seperti itu. Pandangan laki-laki kan berbeda. Saat bermasalah, yang dilihat justru semua kesalahan si wanita. Makanya, setiap permasalahan dalam rumah tangga ataupun pasangan kekasih, kebanyakan pada bilang wanita selalu salah.” Darrel menatap fokus pada Kinara. Seolah sedang menelisik jauh ke dalam manik mata gadis itu. Bukan apa-apa, ia hanya ingin tahu lebih jelas seperti apa dia sebenarnya. “Jangan menatapku seperti itu,” gerutu Nara. “Ulurkan tanganmu,” pinta Darrel. “Eh, buat apa?” Aneh, kan, dia. “Ingin merasakan sesuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya.” “Ngomong apa, sih?” Makin dibuat bingung. Bisa-bisanya Darrel mengatakan hal yang ia tak pahami. “Aku tahu jika kamu badan aku baru mengenal. Tapi, bisakah membantuku kali ini. Tenang saja, aku nggak akan melakukan hal-hal aneh seperti yang ada di pikiranmu saat ini.” Nara yang tadinya duduk bersandar, kini langsung duduk tegak ... dengan posisi yang sedikit menjauh dari Darrel. Yang benar saja, dia memintanya mengulurkan tangan. Ini kamarnya, jangan bilang kalau dia berniat melakukan sesuatu yang seperti di film-film. “Darrel, kamu jangan macam-macam, ya. Aku bakalan teriak, loh, ini.” “Kenapa? Aku nggak akan melakukan hal aneh. Aku hanya minta bantuan padamu. Bukan, lebih tepatnya aku hanya penasaran, kenapa kamu bisa melakukannya?” “Melakukan apa?” “Kenapa bisa menyentuhku?” Ingin tertawa rasanya saat mendengar pertanyaan yang diajukan darrel. Tapi takut, jika cowok ini benar-benar kesal dan melakukan sesuatu yang tak baik. “Kamu manusia, kan, jelas saja aku bisa bersentuhan denganmu. Udah, deh, Darrel ... jangan berpikiran seperti seseorang yang hilang indera perasa.” “Kamu benar.” “Benar apa?” “Aku nggak punya perasaan.” “Iya, dan kamu lakukan itu padaku di awal pertemuan. Udah, dan sekarang apalagi?” Ingin kabur dari kamar ini rasanya, tapi nggak mungkin terjadi. karena kakinya masih sakit. jangankan lari, gerak sedikit saja rasanya begitu ngilu. Darrel bingung juga harus memulai penjelasan dari mana. Takut jika dia salah prasangka. Dan sekarang saat dirinya bersikap begini saja, Nara malah tampak ketakutan. Padahal ia kan hanya ingin minta tolong demi sebuah kepastian perasaan. “Ada carter?” “Heh, buat apa? Jangan bilang kalau kamu mau membunuhku.” Memasang muka ketakutan. “Darrel, serius ... aku nggak ada niatan buat bikin kamu kesal dan sejenisnya. Tapi, pliss jangan sampai ada adegan bunuh-bunuhan. Ingat, hidup di penjara itu nggak enak.” Tak merespon perkataan Kinara, Darrel justru beranjak dari posisi duduknya. Berjalan menuju meja belajar Nara. Mencari sesuatu di sana, kemudian kembali pada Nara dengan sebuah pisau carter. “I-itu buat apaan?” “Mau menunjukkan sesuatu sama kamu. Karena lewat penjelasan saja ku yakin kamu nggak akan paham.” Belum juga Nara membalas perkataan Darrel, cowok itu langsung membuat Nara kaget dengan apa yang dia lakukan, hingga dirinya nyaris berteriak. Hanya saja tertahan karena ia menutup mulut dengan telapak tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN