BAB : 14

1098 Kata
Terdiam, dengan raut kaget yang jelas kentara tercetak di wajah Nara saat dirinya dihadapkan pada seseorang yang kini berada tepat dihadapannya. Ayolah, pertahanannya sebagai seorang wanita jelas saja runtuh dengan mudahnya jika posisinya begini. Langsung tersadar, saat mendapati Darrel dihadapannya. Awalnya masih bergelayut di lengan dia, kini spontan saja melepaskaan diri dan menjauh dari dia. Tapi melupakan kakinya yang sakit hingga nyaris jatuh. Lagi-lagi, dia kembali menariknya. Tak hanya menariknya agar tak jatuh, tapi justru dia dengan seenaknya lmenggendongnya. “Darrel, lepasin aku!” teriaknya spontan dengan sikap yang dilakukan cowok ini padanya. Parahnya, bukan mendegarkan apa yang ia pinta, tapi malah solah mengabaikan perkataannya. Mendudukkan Kinara di tempat tidur, kemudian menatap foksu pada kedua manik mata gadis yang kini tepat berada dihadapannya. Seakan sedang menelisik jauh ke dalam bola mata dia yang begitu indah. Sikap darrel benar-benar membuat Nara takut. Langsung mendorong dia dari hadapaannya agar menjauh. Dia pikir sirinya nyaman diberikan sikap seperti itu? Bahkan jantungnya seakan mau berhent berdetak gara-gara pandangan tak biasa itu. “Kamu ngapian masuk kamar ku tanpa ijin? Seoreang tamu, harus bersikap layaknya tamu. Ini kamu malah ...” “Iya, kamu juga begitu saat di rumahku. Masuk kamarku seenaknya, tanpa ketuk pintu dan mendapatkan ijin. Jadi, enggak ada salahnya, kan, jika sekarang aku lakukan hal yang sama.” Kinara mmeberengut kesal atas balasan yang diberikan darrel. Iya, ia paham, kok. Tapi, ia cewek ... yakali dia masuk kamar seorang cewek secara bebas. “Terserah,” balas Nara tak ingin memperpanjang urusan dengan Darrel. “Kamu ke sini mau ketemu sama orang tua ku, kan. Jadi, silakan temui mereka saja. Karena urusan pekerjaan atau apalah itu, nggak ada hubungannya denganku.” “Termasuk kamu sebagai seorang anak?” Kinara menghela napsanya berat. Sejujurnya ia tak ingin memberitahukan apapun pada darrel. Hanya saja ia kelewat kesal juga pada orang tuanya yang seolah sedang memperalat dirinya untuk mencapai sebuah kekuasaan. “Kenapa diam?” tanya Darrel menuntut pertanyaan yang ia ajukan. “Tadinya berpikir jika semua ini adalah hal yang serius, tapi ternyata justru semua itu dilakukan untuk mencapai sesuatu deratjat yang lebih tinggi.” “Lebih detail.” “Maaf, dengan sikap orang tuaku padamu.” “Yang mana?” tanya Darrel. Memahami, hanya saja ia ingin lihat seperti apa penjelasan yang akan diberikan Nara padanya. Setidaknya bisa ia lihat juga, sebesar apa kejujuran dia dihdapannya. “Aku nggak mau mengikuti saran papaku untuk kerja di perusahaanmu.” Darrel tersenyum getir mendengar pengakuan Kinara. “Aku mau bicara jujur padamu, karena aku nggak tahan jika harus melakukan apa yang disuruh sama papa.” “Bukankah seorang anak akan melakukan apapun untuk kebahagiaan orang tuanya?” “Tapi tidak dengan mengorbankan perasaanku dan juga kamu.” “Kenapa aku?” tanya Darrel balik. “Tadinya Papa memintaku kerja denganmu, itu agar aku paham artinya hidup yang nggak hanya modal meminta uang pada orang tua. Meskipun berat, apalagi dihadapkan pada manusia sepertimu .” Melirik Darrel dengan pandangan menyebalkan. Teringat saat hari pertama masuk kerja, dia malah mempermainkannya. “Tapi sekarang aku sadar dan tahu jika semua itu hanya tipu daya orang tuaku saja.” “Seorang anak ditipu oleh orang tuanya?’ “Mereka menirimku padamu itu dengan niat lain. Bukan agar aku paham artinya lkerja keras, tapi justru mengharapkanku bisa dekat denganmu.” Tak kaget, tapi Darrel malah tersenyum di sudut bibirnya. “Kamu nggak kaget?” “Kaget?” “Hmm.” “Ini dunia bisnis, jadi apa yang harus dikagetkan dengan hal semacam ini. Kecurangan, pendekatan, tutur bahasa yang manis, padahal aslinya seperti mata pisau yang sudah siap menyerang.” Menghela napasnya panjang. “Aku tidak mempercayai satu orang pun yang ku kenal. Karena apa? Dunia di sekitarku hanya kebohongan belaka. Semua yang nyata tertutupi oleh harta dan tahta.” “Kamu nggak percaya padaku?” “Hanya hitungan jam, menurutmu aku bisa mempercayaimu?” Kesal dong diberikan pernyataan seperti itu. Menyambar bantal dan melempar darrel dengan benda itu. Ia sudah berusaha untuk jujur, meskipun efeknya dirinya nanti bakalan kena omel. Tapi apa? Darrel seolah tak melihat kejujurannya yang benar-benar jujur. “Kenapa malah memukulku?” “Sana kamu pulang! Kita hanya kenal beberapa jam saja. Iya, mana mau kamu percaya padaku!” Hanya bercanda, kenapa Kinara sebegitu kesalnya padanya. “Aku benar-benar malas padamu. Pergi!” teriaknya. “Maaf, aku nggak bermaksud membuatmu kesal.” Darrel menarik napasnya panjang, kemudian menatap jauh ke luar jendela kamar. “Kamu tahu, kehidupanku itu semuanya urusan bisnis. Bahkan apapun itu, seolah otrang-orang di sekitarku hanyalah seperti manusia yang haus akan materi. Ketika porang tuamu menyatakan diri untuk mengirimmu ke perusahaanku, jujur saja aku sudah merasakan feeling yang tak baik.” “Kalau tahu begitu kenapa kamu malah menerima saja. Ya ampun. Aku baru tahu ternyata selain kata orang Darrel itu pintar, tahunya ada sisik bodohnya juga.” “Bukan bodoh, Nara ... lebih tepatnya pura-pura tidak tahu, untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Menyerang di awal, itu tak akan berasa. Ada baiknya ikuti arus yang ada, ikuti permainana yang sedang berlangsung, saat puas, buatlah ending yang menyenangkan.” Tadinya berpikir kalau Darrel begitu bodoh, tapi saat dia bicara begitu, aura psikopat seketika terlihat jelas dari sorot mata dan nada bicara dia seakan sedang memberikan sebuah ancaman. “Tahu, kan sebuah pribahasa ‘diam itu emas, bicara itu perak’. Sama dengan, diam-diam menikmati alur, saat puas bikin akhir yang memuaskan. “Apa yang mau kamu lakukan pada orang tuaku?” tanya Nara penasaran. Ia memang kesal pada kedua orang tuanya, terutama papanya. Hanya saja ketika mendengar kata-kata Darrel barusan, membuat rasa takutnya juga muncul. “Tidak ada yang akan ku lakukan. Sudah ku katakan, kan ... nikmati saja alurnya. Urusan akhir, kita tidak bisa menduganya, kan.” “Bisa tidak, kamu katakan pada mereka kalau aku melakukan kesalahan terbesar. Terserah, apapun itu. Pokoknya agar mereka menarikku lagi untuk ke kehidupan normal ku. Aku masih kuliah, benar-benar berat sekali rasanya melakukan semua tugas itu dalam waktu bersamaan.” “Kalau aku nggak mau?” “Aku selalu emmbuatmu kesal, kan. Bahkan baru sehari kenal, aku sudah beberapa kali merepotkanmu. Jadi, itu bisa jadi alasan. Di satu sisi, aku juga nggak mau jadi seorang gadis yang hanya dijadikan sebuah tumbah.” “Tumbal?” “tentu saja tumbal. Kau dimasukkan ke perusahaannmu demi bisnis. Kemudian kalau sudah dekat, memintamu untuk kerja sama dnegan perusahaan papaku. Paham nggak, sih, apa yang ku katakan?” Darrel terdiam sejenak, seolah sedang berpikir panjang perihal kata-kata Kinara. Bukan hanya saat ini, bahkan dari kemarin ia sudah memikirkan. ‘Lanjutkan saja,” ujar Darrel. “Apanya?” “Mendekatiku, kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN