Dari pagi, hingga kini sore menjelang, Kinara hanya bisa mendekam di dalam kamar. Ya mau apalagi, bahkan berjalan di kamar saja kakinya begitu sulit. Gimana mau turun, yang harus menuruni anak tangga dulu.
Nonton Tv, main HP, baca buku ... hanya itu yang bisa ia lakukan. Menghubungi mamanya lewat telepon saja, bahkan tak mendapatkan jawaban. Heran, ini dirinya seorang anak sedang sakit, malah nggak diperhatikan sama sekali. Benar-benar kalah oleh pekerjaan.
Di saat pikirannya mampet, ponsel miliknya berdering. Berharap dari mama atau papanya yang menanyakan kabar atau apalah ... ternyata dirinya salah. Karena apa? Justru orang yang tak ia duga malah meneleponnya.
“Darrel,” gumamnya melihat nama yang tertera di layar datar itu.
Malas menjawab, tapi ia juga tak ingin sikapnya jadi masalah lagi. Terutama untuk kedua orang tuanya.
“Ya.”
“Sudah makan?”
“Heh?” Tiba-tiba tak percaya dengan pertanyaan yang menerpanya. Serius, seorang Darrel bertanya tentang dirinya?
“Nara.”
“Ah, i-iya. Apa?”
“Kamu sudah makan atau belum?”
“Sudah, tadi.”
“baguslah.”
“Lalu?” tanya Nara lagi.
“Lalu apa?”
“Tiba-tiba menunjukkan sikap perhatian. Mencurigakan,” responnya.
“Kamu kan bawahanku, wajar kalau seorang atasan menanyakan dan mengkhawatirkan kesehatan bawahannya, kan? Kalau terjadi hal yang buruk, itu juga berpengaruh pada kinerja kamu nantinya. Dan itu artinya, juga berefek pada perusahaan. Aku nggak mau rugi gara-gara itu.”
Tadinya merasa baper karena diperhatiakan. Bahkan kaget, seolah tak percaya. Eh, sekarang sikap aslinya dia muncul lagi. Menyebalkan.
“Kamu hanya ingin mengatakan hal itu?”
“Apalagi?”
“Makasih perhatiannya. Bye!”
Memberengut kesal atas sikap Darrel. Iya, dirinya tahu betul dia seperti apa. Tapi barusan di awal malah membuatnya baper, trus pada udah teromabng ambing dalam perasaan, malah dibikin naik darah.
“Berasa mau ku patahain kaki tu orang!” emosinya malah memukuli bantal. Berdiri tegak, langsung meringis menahan sakit. Efek gregetan sama Darrel, lupa kalau kakinya lagi sakit.
Dari pagi, hingga sore. Bahkan sekarang sudah malam hari. Malas mandi dengan kondisi memprohatikan begini, tapi alamat nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak mandi. Baru keluar dari kamar mandi, pintu diketuk dari arah luar.
“Non!”
“Ya, Bik! Masuk aja.”
Mendapat balasan itu, pintu dibuka dari arah luar. Menampakkan sosok Bik Imah yang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.
“Non, di bawah ada tamu,” ujarnya.
“Tamu?”
“Lah, trus hubungannya sama aku apa, Bik? Tamuku paling Zeli atau nggak, ya, Faye. Dan sekarang siapa? Tamu mama atau papa, mungkin. Jadi, bilangnya sama mereka saja.”
“Bukan, Non. Kali ini bukan tamu Tuan ataupun Nyonya, tapi tamunya Non Nara. Cowok.”
“Cowok?”
“I-iya, Non.”
Saat masih berpikir, ponselnya berdering. Tampak lagi-lagi nama Darrel yang tertera. Heran, ini cowok jadi aneh. hari ini sudah berapa kali meneleponnya.
“Apalagi?”
“Keterlaluan. Aku datang jauh-jauh, malah nggak ada sambutan apa-apa.”
“Apa maksudmu, Darrel?”
“Ayo turun, aku ada di bawah.”
“Di bawah? Kamu ada di rumahku?” Auto mode kaget diaktifkan.
“Hmm.”
Kembali ke pikiran positif thinking.
“Yasudah, silakan temui orang tuaku saja. Kamu ada keperluan sama mereka, kan. Jadi, nggak ada hubungannya denganku. Aku sibuk, aku capek, pengin tidur. Bye!”
“Trus, gimana, Non?” tanya Bik Imah langsung dengan muka bingung.
“Ya Bibik bilang sama Mama atau Papa aja. Aku males nemuin dia.”
“Tuan sama Nyonya kan belum pulang, Non.”
Kinara melirik waktu di jam yang ada di layar ponselnya. Terlihat jarum jam berada di angka delapan. Heran, ya ... pada betah sama kerjaan di luar sana. Nggak tahu anak udah makan atau belum, baik-baik saja atau tidak. Padahal mereka tahu jika dirinya sedang tak baik. Seolah tak ada niatan untuk sekadar menelepon, demi memastikan keadaannya.
“Jadi, Non?”
“Suruh dia pulang saja. Aku lagi bad mood. Tahu, kan, kalau mood ku lagi anjlok. Bisa-bisa aku makan daging manusia, Bik.”
Langsung berlalu dari hadapan Nara. Bener, sih ... Kinara itu kalau mood nya hancur-hancuran, ngomel dan marahnya nggak pandang status. Makanya suka adu argument dengan Marion ataupun Tiara. Karena tiga orang itu memiliki gen yang sama. Sama-sama berdarah panas, yang kalau diadu, bikin meledak.
Bik Imah segera kembali turun menuju lantai bawah dan lanjut menuju ruang tamu, di mana Darrel berada. Bingung juga, sih, apa hubungan cowok ini dengan majikannya. Karena ini pertama kalinya dia bertamu.
“Maaf, Den ... Non Nara nya mau tidur. katanya capek.”
“Kakinya masih sakit?”
“Masih, Itu saja dari tadi pagi belum keluar-keluar dari kamar,” ungkapnya.
Menghela napasnya panjang, ketika pernyataan Bibik membuatnya seolah makin penasaran. Tanpa banyak bicara, ia langsung saja berlalu dari sana melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas.
“Loh, Aden mau kemana?”
Bik Imah langsung heboh, karena Darrel tiba-tiba saja berlalu dari hadapannya. Dikira hendak pergi, tapi ternyata malah menuju ke lantai atas. Saat hendak melangkah memasuki kamar Kinara, ia segera menghadang.
“Aduh, Den ... kalau Tuan sama Nyoba tahu, Bibik bakalan dicekek, nih.”
Gimana enggak, Darrel yang bahkan ia saja tak kenal. Malah membiarkan dia seenaknya menerobos masuk ke dalam kamar Kinara, sang majikan. Bisa-bisa kepalanya dipenggal nanti.
“Bapak Marion nggak akan melarang saya melakukan ini.”
“Tapi, Den ...”
Belum juga selesai bicara, dirinya malah dengan gampangnya dielakkan, hingga akhirnya dia berhasil membuka pintu kamar Kinara. Langsung kebuka lah, toh gadis itu tak pernah mengunci pintu kamarnya kalau bukan karena mau kabur.
Si pemilik kamar masih diam di posisi dia yang beridiri di dekat jendela kamar. menatap jauh ke luaran sana tanpa tujuan dan akhir.
“Den ...”
“Bibik tenang aja. Saya hanya mau bicara sebentar sama Nara. Kalau Bibik nggak percaya, boleh hubungi orang tua dia untuk emmastikan siapa saya.”
Awalnya masih ragu-ragu, tapi balik lagi, ya ... dilihat-lihat dari sikap dan penampilan Darrel, memang tak mencerminkan sosok laki-laki jahat, sih. Hanya saja sisi kalem dan dingin terlalu kental di tutur bahasa dia, jadinya malah kayak kaku.
“Baik, Den.”
Bik Imah yang tadinya masih kukuh melarang darrel masuk, apalagi sampai menemui Kinara di dalam kamar, akhirnya luluh juga. Entahlah, pesona orang baik bikin dirinya memberikan ijin itu.
Berlalu pergi dari sana, meninggalkan Darrel yang berjalan menghampiri Kinara yang posisi dia masih diam di dekat jendela. Wajar jika Nara tak mengetahui apalagi mendengar kedatangannya, kedua telinga dia saja tertutupi oleh headset.
Tak langsung bicara, seolah penampakan indah itu sedang memberikan dirinya waktu untuk menikmati. Angin malah yang berhembus memasuki jendela kamar, membuat helaian rambut panjang itu tersibak. Jujur, entah perasaan apa ini. melihat hal itu saja rasanay benar-benar manis.
Tangannya berniat menyentuh dari arah belakang, tapi lagi-lagi tak berani. Hingga kembali menarik niatnya itu. Sepertia sebuah rasa aneh yang muncul dalam pikirannya.
Tapi tiba-tiba Kinara berbalik badan. Darrel yang posisinya tepat di belakang dia, otomatis langsung jadi tempat dia bersandar.