Kinara menggeser layar ponselnya, untuk menjawab panggilan telepon dari Darrel.
“H-hallo.”
“Kamu baik-baik saja, kan?”
Sontak, mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Darrel, membuat Nara bingung sampai dahinya berkerut. Heran, Darrel yang sudah ia cap sebagai seorang yang masuk list manusia menyebalkan di kamusnya, tiba-tiba menanyakan keadaannya.
“Kinara.”
“Ah, eh ... iya. Aku nggak apa-apa.” Mencoba berusaha tenang. Meskipun hatinya merasa ada sedikit perubahan yang mengagetkan dari sikap Darrel.
“Maaf, harusnya kamu nggak pulang begitu saja malam-malam. Kamu ada di rumahku, itu artinya kamu adalah tanggung jawabku. Tapi ...”
“Sudah, sudah ... jangan terlalu berlebihan sampai harus membahas tanggung jawab segala,” timpal Nara. “Aku baik-baik saja. Sampai di rumah dengan aman.”
Nggak menyangka, dia bakalan bilang maaf. Kemarin saja seolah anti banget dengan kata itu.
“Sudah baikan, kan?”
“Sudah. Ini lagi di kantor.”
“What!”
“Hmm, kenapa?”
“Kamu ...” Sampai bingung sama manusia ini. Dia lagi sakit, kan ... kenapa sekarang malah tiba-tiba ada di kantor. “Kamu kan lagi sakit. Kenapa udah nyampe kantor aja.”
“Banyak pekerjaan,” jawabnya. “Sudah, ya.”
Baru juga Nara ingin mengeluarkan omelannya layaknya emak-emak yang mode lahar panas, eh ... dia malah menutup percakapan begitu saja. Asli, ini njih bagian paling nyebelin saat menelepon. Ia belum bicara, main matiin aja.
Meletakkan ponselnya di kasur. Masih bingung dengan siapa Darrel, seperti apa sikap dia, dan lihatlah barusan ... kenapa tiba-tiba jadi mode kalem begitu?
“Gue jadi bingung harus bersikap seperti apa sama dia. Jangan-jangan yang nelepon barusan bukan Darrel, tapi justru setan yang menyamar jadi dia.”
Mohon maaf, efek kebanyakan menonton serial televisi membuat otaknya yang nyata jadi sampai mikir ke dunia halu.
Sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk. Tangannya kembali menyambar ponsel yang baru saja ia letakkan di kasur.
“Lo nggak masuk?”
Ternyata dari Faye.
“Enggak. Gue lagi nggak enak badan. Barusan juga habis kejengkang di tempat tidur. Kaki gue sampai terkilir nggak bisa dibawa jalan.”
“Eh, serius?”
“Iya.”
“Nanti sore kita ke rumah, ya. Nggak janji dulu. Lihat situasi di rumah lo entar. Ngaeri sama Om marion.”
Nara tak membalas lagi. Udah ketebak, sih, apa yang akan dikatakan Faye bahkan Zila sekalipun. Keduanya kalau mau datang ke rumah, itu lihat situasi dulu. Kalau Marion dan Tiara dalam mode kalem, mereka berani datang. Tapi kalau mode banyak masalah, tentu saja tidak.
Kembali ke mode rebahan. Harusnya sekarang ia merasa senang, karena nggak harus masuk kuliah. Hanya saja posisi kakinya yang seperti ini ... membuat langkahnya walau hanya ke kamar mandi saja terasa begitu jauh hingga butuh tenaga yang ekstra hati-hati.
Sedangkan Darrel di kantor, seperti yang ia katakan pada nara di telepon. Pekerjaan begitu banyak, hingga tak ada yang namanya waktu untuk istirahat. Apalagi istirahat total.
Reza sudah memperingatkan dirinya agar tak terlalu menggunakan waktu untuk pekerjaan, hanya saja karena terbiasa dihadapkan pada situasi sibuk, ya mana bisa ia lakukan itu. Justru dengan istirahat tanpa pikiran apapun yang membuatnya stress.
Pintu diketuk dari arah luar. Tanpa mengarahkan pandangan ke arah sana, ia berikan ijin untuk masuk. saat ijin itu diterima, barulah pintu dibuka dari arah luar.
Seorang wanita berjalan menghampiri meja Darrel.
“Maaf, Pak ... di bawah ada Bapak Marion dari PT. Sentosa ingin bertemu dengan Anda. Apakah bisa?”
Awalnya tak terlalu mengubris, tapi ketika wanita yang berstatus sebagai sekretarisnya menyebutkan nama itu, membuat fokusnya beralih dari layar laptop dihadapannya.
Tak menjawab pertanyaan itu, tapi Darrel langsung saja beranjak dari posisi duduknya dan berjalan keluar dari sana.
“Tapi, Pak ...”
Langkah Darrel terhenti seketika.
“Beberapa menit lagi ada meeting di luar, Pak.”
Melirik waktu di jam yang ada di pergelangan tangannya.
“Undur satu jam untuk semua acara hari ini, ya.”
“Baik, pak.”
Melanjutkan langkahnya untuk menemui Marion. Siapa lagi kalau bukan orang tua dari Kinara. Entah apa yang membawa laki-laki paruh baya itu menemuinya di saat jam kerja begini. Seperti bukan seorang pebisnis yang handal saja.
Benar, ternyata saat sampai di loby, terlihat Marion sudah menunggu di kursi sofa yang diperuntukkan untuk tamu. Mengumbar senyuman hangat saat dirinya datang.
“Maaf, jika kedatangan saya ke sini di jam sibuk. Hanya saja saya merasa nggak enak kalau bicara lewat telepon. Kan, kesannya berasa nggak sopan.”
Masih mode diam. Seakan hanya menunggu Marion memberikan penjelasan perihal kedatangan dia di sini.
“Lalu?”
“Saya hanya ingin minta maaf dengan kejadian semalam. Harusnya nggak meminta kamu untuk ikut mencari Nara.”
“Hanya itu?”
Terlihat raut tak senang tercetak di wajah Marion dengan respon dingin yang diberikan oleh Darrel. Tapi tetap berusaha bersikap agar terlihat baik-baik saja.
“Saya juga minta maaf, untuk beberapa hari ke depan Nara nggak bisa masuk kerja dulu. Kakinya cedera, karena jatuh di kamar.”
Tadinya masih mode kulkas dua belas pintu, saat nama Nara disebut ... ditambah lagi dengan kabar tentang kondisi dia, malah membuat otaknya langsung bekerja.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Darrel.
“Tak terlalu parah, hanya saja pergelangan kakinya terkilir. Jadi harus istirahat beberapa hari dulu untuk mengembalikan tulangnya ke posisi awal.”
“Anda memarahinya?”
“Boleh saya bertanya sesuatu?” tanya Darrel.
“Ya.”
“Dia ada di sini karena terpaksa atau justru karena dia yang ingin melakukan?”
Berasa dihantam oleh pertanyaan yang diajukan Darrel padanya. Mau berbohong, tapi sepertinya kali ini terasa begitu sulit. Karena apa? Benar kata orang ... dihadapan seorang Darrel jangankan berbohong, bersikap buruk saja dia seolah langsung memberikan cap buruk.
“Apa Nara mengatakan sesuatu padamu?”
“Tidak. Makanya saya bertanya.”
Tatapan tajam Darrel membuatnya takut saja untuk berbohong.
“I-iya, sebenarnya nara di sini bukan karena keinginan dia sendiri. Bahkan menolak keras saat saya meminta. Tapi saya dan mamanya melakukan itu semua demi kehidupan dia nantinya. Tahu sendiri, kan, anak-anak sekarang begitu susah untuk dikendalikan. Termasuk Kinara. Pergaulannya begitu bebas, bahkan sikap dia ikutan terbawa arus luar yang tak baik.”
Darrel mencerna satu-persatu penjelasan Marion tentang Kinara.
“Dan efeknya bagi dia jika tetap di sini, apa?”
“Saya sudah minta maaf tentang kejadian kemarin. Jika semua pertanyaan-pertanyaan ini masih ada sangkut pautnya dengan sikap buruk dia.”
Darrel menggeleng. “Bahkan saya sudah tak ingat lagi dengan kejadian kemarin. Tapi saat ini, yang jadi pertanyaan adalah ... kenapa memaksa dia melakukan sesuatu hal yang justru tak dia sukai?”
“Dia nggak menolak, hanya saja ...”
“Anda tahu betul, kan. Sesuatu yang dikerjakan tanpa rasa suka, akan menghasilkan apa? Sebagai seorang yang juga bergelut di dunia bisnis, itu efeknya bahkan bisa buruk. Sekarang, Anda meminta Nara melakukan hal itu. Jadi, apakah sudah yakin dengan hasilnya nanti?”
Seperti salah waktu menemui Darrel. Niat meminta maaf hingga mendapatkan rasa simpatik, malah yang ia dapat justru sebaliknya. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Kinara. Gadis yang baru berusia belasan tahun itu sudah membuat dirinya harus menghadapi perkataan-perkataan menohok dari Darrel.