Apa yang terjadi saat ini? Marion dan Tiara yang posisinya sudah berada di pekerjaan masing-masing, kini kembali ke rumah karena ulah putri satu-satunya yang bikin semua pekerjaan jadi berantakan.
Sedangkan Kinara, apalagi yang ia lakukan kalau bukan menangis. Jujur, ya ... ini kakinya beneran sakit. Sakitnya melebihi putus cinta. Karena saat putus dari beberapa mantan terdahulu, ia tak pernah sampai menangis.
“Ini karma karena kamu selalu membantah kata-kata Mama sama Papa, Nara.”
Berharap dapat belaian sayang atau sebuah bujukan agar tak menangis, tapi justru sebaliknya. Sampai di rumah, malah dapat omelan panjang.
“Kapan kamu pulang? Bukannya semalam ...”
“Ma, ini kaki ku lagi sakit, loh. Bisa nggak, sih ... ngomelnya ditunda dulu untuk beberapa waktu. Terserah, ntar kalian mau ngomong apapun.”
“I-iya, Tuan, Nyonya ... sebaiknya Non segera dibawa ke rumah sakit. Biar nggak makin parah sakitnya.” Bik asih sampai harus ikut bicara untuk membuat suasana sedikit adem. Tapi yang ia katakan memang benar, kan. Kalau terkilir, ada baiknya segera diobati. Takut, jika malah makin parah.
Jadilah, Marion dan Tiara segera membawa Nara ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Hanya fisik yang yang bersama nara, tapi pemikiran keduanya seolah ditinggalkan di pekerjaan masing-masing. Bahkan selama dalam perjalanan ke rumah sakit saja, ponsel tak jauh dari tatapan keduanya.
Kinara menyenderkan punggungnya pasrah, saat sikap kedua orang tuanya makin hari justru makin menjadi-jadi. Ia paham dan mengerti jika semua ini sudah terjadi jauh-jauh hari, bahkan semenjak dirinya kecil. Tapi sekedar berharap semua berubah, boleh, kan?
Sampai di rumah sakit, langsung memasuki sebuah ruangan seorang dokter yang sudah terlebih dahulu dihubungi oleh Marion. Untungnya punya kenalan teman seorang dokter, jadi ia bisa lebih cepat menyelesaikan perkara putrinya.
“Gimana, Om?” tanya Nara pada dokter yang sepantaran dengan papanya itu.
“Kamu ngapain, sih, tadi ... bisa sampai begini?” tanyanya pada Nara, sambil membalut pergelangan kaki gadis itu.
“Bangun kesiangan, lupa kalau hari ini ada kuliah pagi. Trus, jatuh dari tempat tidur,” jelasnya dengan ringisan tertahan saat pergelangan kakinya terasa seakan mau putus.
Serius, ya ... ini rasanya ngilu, nyut-nyutan dan semua sudah campur aduk jadi satu hingga membuat otaknya ikut terasa sakit. Ditambah lagi dengan mama dan papanya yang seolah lebih pusing dari dari dirinya. Tentunya dengan versi yang berbeda, karena yang mereka pusingkan justru perkara kerjaan.
“Nggak apa-apa, kok. Hasil rotgen udah juga lihat kan barusan. Nggak ada tulang yang retak, apalagi sampai ada adegan amputasi seperti pikiran kamu barusan. Ini murni hanya tulangmu yang sedikit mengalami pergeseran.”
“Sembuhnya kapan?”
“Selama beberapa hari ke depan, kaki kamu akan dililit agar posisinya kembali normal. Yang penting, jangan lompat-lompat lagi.”
Yang awalnya dalam posisi duduk di atas tempat tidur, seketika menghempaskan punggungnya di kasur. Menghela napasnya panjang, seakan sedang mengeluarkan uneg-uneg yang tertahan.
“Om, bisa nggak ... aku dirawat di sini saja? Serius, aku males pulang ke rumah.”
“Nara!” Tentu saja Marion kesal mendengar permintaan putrinya yang aneh-aneh itu. “Kamu ngomong apa, sih. Harusnya bersyukur, kaki kamu nggak terluka parah. Itu artinya ...”
“Itu artinya Mama sama Papa nggak terlalu mengkhawatirkan ku. Dan itu artinya, kembali ke pekerjaan yang jadi fokus utama. Gitu, kan? Ah, pintarnya aku yang dengan mudah bisa menebak.”
Terkekeh sendiri. Tiba-tiba bangga saat pikiran orang tuanya solah sudah bersarang di dalam kepalanya.
Marion tak mendengarkan Kinara. Karena ia tahu, anaknya ini makin dilawan justru makin menjadi-jadi. Bisa-bisa malah bikin heboh di satu rumah sakit ini.
Setelah berobat, ketiganya kembali ke rumah. Ya, berlaku buat Nara. Karena Marion dan Tiara justru sebaliknya. Meminta supir untuk mengantarkan Kinara pulang, sementara mereka berdua kembali ke kantor dengan menggunakan taksi.
Jujur, ia bukanlah seorang gadis kuat seperti kebanyakan pemeran dalam sinetron gadis yang tersakiti. Karena apa? Ia juga menangis saat sedih, marah saat kesal dan membantah saat apa yang terjadi tak sesuai dengan yang sebenarnya.
Turun dari mobil, dibantu oleh pak supir dan juga Bik Imah yang sudah menunggu di dekat teras. Perlahan, berjalan memasuki rumah yang terasa sekali kesunyiannya.
“Non langsung ke kamar aja, ya ... biar istirahat,” ujar BIk Imah menyarankan.
“Hmm,” angguknya.
Biasanya menaiki dan menuruni anak tangga bisa dengan berlari, tapi sekarang? Jangankan lari, untuk jalan aja is sudah ngos-ngosan. Kalau nggak dibantu sama Bibik, mungkin ia akan ngesot ke atas.
“Apa kata dokter, Non?” tanya Bik Imah saat membantu Nara untuk berbaring.
“Nggak apa-apa, Bik. Cuman terkilir.”
“Syukurlah, Non,” leganya. “Tapi, kok Non cemberut?”
Nara menatap Bik Imah tajam, seolah banyak kata yang akan ia berikan pada wanita paruh baya yang bahkan sudah bersamanya sedari ia bayi. Entah mana yang harus ia hormati sekarang, mamanya atau justru Bik Imah yang memiliki banyak waktu dengannya di rumah.
“Bik, dulu saat aku lahir ... Mama sama Papa bahagia nggak, sih?”
Wanita paruh baya itu langsung tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan padanya.
“Loh, kok Non nanyanya kayak gitu? Ya jelas mereka bahagia dong, Non. Setiap orang tua, pasti bahagia saat anaknya lahir ke dunia. Termasuk Tuan dan Nyonya.”
Nara memutar pandangannya menghadap jendela kamar yang tirainya melayang dihembus angin dari luar.
“Nggak juga, Bik. Lihat di berita, banyak orang tua yang bahkan dengan sengaja membuang bayi mereka setelah dilahirkan. Apa itu bentuk dari sebuah rasa bahagia juga?”
Bik Imah paham kemana arah pembicaraan Kinara saat ini. apalagi kalau bukan perkara sikap Marion dan Tiara yang menurutnya terlalu mengabaikan putri mereka. Mereka hanya memiliki satu orang anak, tapi tetap saja tak memberikan kasih sayang yang sesuai takarannya.
“Non, kebahagiaan itu nggak harus diperlihatkan, kan. Nggak semua bayi yang dibuang itu, dilakukan orang tua dia karena niat buruk. Bisa saja, karena ekonomi mereka yang tidak mendukung. Atau justru takut jika sang anak ikut mereka, justru membawa ke kehidupan yang lebih buruk.”
“Jangan-jangan aku ini hanya anak yang dibuang oleh orang tua kandungku, terus dipungut oleh mama papa.”
Sontak, Bik Imah dibuat kaget dengan pemikiran gadis ini. Ia tahu jika sikap orang tua yang diterima Nara tak sesuai keinginan dia, tapi kenapa juga sampai memikirkan kalau dirinya anak pungut.
“Benar begitu, Bik?”
“Non itu anak kandung Tuan dan Nyonya. Jangan berpikir terlalu buruk, Non.”
“tapi, Bik ...”
Perkataannya terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering. Saat ia cek, ternyata dari Darrel. Sebenarnya ia sedang nggak mood untuk bicara, tapi kembali teringat kalau saat meninggalkan rumah cowok itu, dia sedang sakit. Bahkan saat pulang saja ia tak pamit.
“Bik, tinggalin aku sendiri, ya. Aku mau istirahat.”
“Iya, Non.”
Bik Imah segera beralu dari sana.
Segera menghubungi Darrel balik. Agar cowok itu tak berpikir aneh lagi karena dirinya tak menjawab panggilan telepon dari dia.