Reza masih memasang muka dingin, membuat Zila ikut dibuat takut menghadapi bahkan untuk memulai pembicaraan. Tapi kalau bukan dirinya yang bicara, sepertinya Reza tak akan bicara duluan. Muka dia layaknya kain yang kusut minta disetrika. “Maaf,” ucap Zila singkat. Tak ada tanggapan dari Reza. Dia seolah mengabaikan dan hanya fokus pada jalanan. Tapi ia yakin kalau Reza mendegarkan perkataannya. Hanya saja seolah pura-pura tak mendengar. “Reza, aku minta maaf. Aku salah karena membuatmu menunggu. Padahal situasinya lagi kayak gini,” jelas Zila langsung menyadari kesalahannya. Aneh, kan. Bukan siapa-siapa Reza, tapi kalau diberikan sikap dingin dari dia, berasa diabaikan sama orang tercinta. Mohon maaf, otaknya kelewat halu. Efek kebanyakan nonton drama perbuchinan. “Za,” rengeknya tak

