Damai yang Dipaksa, Dendam yang Ditahan

603 Kata
Kepada salah satu anak buahnya, Ferry meminta laporan lengkap tentang bentrokan di lapangan itu. Anak buah tersebut menceritakan semuanya apa adanya, tanpa dilebih-lebihkan. Bagaimana Irfan Sofyan sebenarnya hanya meminta kelompok Asrul mencari tempat latihan lain, berbicara tenang, tanpa merendahkan atau memprovokasi. Ketika Ferry mendengar bahwa Asrul justru mencabut golok, sementara Irfan tetap menghadapi dengan tangan kosong, ia terdiam cukup lama. Ia paham betul arti pilihan itu. Dalam dunia jalanan, menghadapi s*****a tajam tanpa s*****a berarti percaya penuh pada kemampuan dan kontrol diri. Diam-diam Ferry mengakui bahwa tindakan Irfan bukan keterlaluan, melainkan respons terpaksa demi melumpuhkan, bukan membunuh. Berkat ketenangan Nadine, istrinya, emosi Ferry akhirnya mereda. Bentrokan besar pun berhasil dicegah. Ferry menahan diri untuk tidak mendatangi Irfan demi balas dendam atas luka harga diri Asrul. Namun kedamaian itu rapuh. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada pertemuan langsung. Tidak ada saling pengenalan. Yang ada hanyalah dua kubu besar yang sama-sama menahan ego, sambil diam-diam membangun pengaruh masing-masing di Pramesta. Ferry dan Irfan sama-sama terlalu bangga untuk datang lebih dulu. Apa yang mereka lupa hanyalah satu hal: Anak buah mereka masih muda. Panas darah. Haus pengakuan. Di dunia gangster, nama pemimpin adalah tameng dan s*****a. Dan seperti biasa, anak buah selalu merasa perguruannya paling kuat, paling disegani. Suatu sore, dua kelompok anak buah Irfan dan anak buah Ferry berpapasan di jalan sempit dekat kawasan ruko kosong. Awalnya hanya saling lirik, lalu senyum mengejek. Kata-kata sindiran berubah menjadi makian terang-terangan. Tak ada yang mau mundur. Satu pukulan mendarat. Pukulan lain menyusul. Keributan pun pecah tak terelakkan. Kabar bentrokan itu sampai hampir bersamaan ke telinga Irfan, Ferry, dan kepala lingkungan setempat. Irfan dan Ferry tiba hampir bersamaan. Begitu melihat kedua pemimpin muncul, para anak buah langsung berhenti, ketakutan tanpa perlu diperintah. Kini, dua sosok besar itu berdiri saling berhadapan. Tatapan mereka tajam dan dingin, seperti dua predator yang saling mengukur kekuatan. Ini pertama kalinya mereka bertatap muka secara langsung. Tak ada aura damai. Tak ada senyum tulus. Ferry, meski amarahnya membara, sadar Irfan lebih tua. Ia melangkah maju setengah langkah, tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip ejekan. “Jadi lo Irfan Sofyan,” katanya. “Katanya jagoan nomor satu Pramesta?” Namun bersamaan dengan gestur hormat seadanya itu, Ferry melepaskan tekanan tenaga dalamnya, dorongan mental yang cukup kuat untuk menjatuhkan orang dari jarak dekat, teknik yang hanya dikuasai petarung level tinggi. Irfan sudah siap. Dengan gerakan tenang, ia mengangkat kedua tangan, memutar tenaga dari bawah ke atas. Dorongan Ferry mentah, terurai sebelum menyentuh dadanya. “Hebat,” ujar Irfan dingin. “Tapi murid lo perlu diajarin kontrol.” Ferry tertawa pendek, penuh sinis. “Ngomong soal salah orang lain selalu lebih gampang.” Mereka saling menaikkan tensi, siap bentrok langsung, sampai kepala lingkungan datang bersama aparat dan warga. “Cukup!” teriaknya. “Kami larang perkelahian terbuka di wilayah ini. Siapa melanggar, berurusan dengan hukum!” Keduanya terpaksa menahan diri. Bukan karena takut tapi karena konsekuensi. Mereka pergi dengan perasaan sama-sama tersinggung. Ferry akhirnya mencari jalan lain. Ia tak berani menyerang langsung itu berarti melanggar hukum. Maka ia menyusun langkah cerdas: tantangan resmi. Ia meminjam lokasi netral, membangun arena duel tertutup, dan mengirim undangan langsung kepada Irfan. Sebuah adu nama. Adu reputasi. Adu kehormatan. Namun di perjalanan menuju arena itu, Irfan justru diliputi penyesalan. Bukan takut melainkan teringat masa lalu. Permusuhan lama. Luka lama. Anak yang hilang. “Akibat apa lagi yang bakal muncul…,” pikirnya. Adin, murid seniornya, membaca kegelisahan itu. “Suhu,” katanya pelan, “kami pun tak suka ribut. Tapi kehormatan itu harga mati. Tanpa kehormatan, kita bukan apa-apa.” Irfan terdiam. Di Pramesta, kehormatan dan k*******n sering berdiri di garis yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN