Geng yang Datang Membawa Nama

708 Kata
Anak-anak yang masih cupu yang cuma ikut ekskul buat foto IG langsung disuruh minggir. Yang boleh masuk ke lingkaran depan cuma mereka yang punya nama di dunia bawah SMA Garuda Jaya: anggota inti ekskul, anak geng, dan para penjudi nekat. Begitu rombongan Coach Ferry muncul lengkap dengan murid-murid intinya, suasana langsung berubah. Bukan cuma rapi. Bukan cuma gagah. Tapi ngeri. Aura mereka beda. Langkah mereka kompak, mata fokus, postur tegak. Bukan gaya anak sekolah biasa lebih mirip kru street fighter yang biasa beresin masalah tanpa banyak omong. Seorang siswa kelas sebelas anak juragan bengkel, yang nekat pasang motor sport second milik bokapnya buat taruhan langsung senyum lebar. “Fix… gue cuan gede hari ini,” gumamnya sambil mengepalkan tangan. Di kepalanya sudah terbayang motor balik nama, plus traktiran bakso sekelas buat gebetannya. Dia lompat-lompat kegirangan bareng beberapa temannya yang juga pasang taruhan di pihak Coach Ferry. Sebaliknya, cowok yang masang taruhan ke Coach Irfan langsung pucat. Tangannya dingin. Keringat dingin turun di pelipis. Namun dia berusaha nyengir dan nyolot ke lawannya. “Belum tentu. Jangan sok senang dulu. Tunggu Irfan muncul.” “Hah?” lawannya ketawa mengejek. “Coach Irfan? Yang badannya kurus, pendiam, jarang nongol itu? Kena satu combo murid Ferry aja bisa mental keluar ring.” Muka cowok itu langsung merah. “Jaga mulut lo.” “Kenapa? Takut?” “Coach Irfan bakal bikin mereka sujud.” “Ngimpi! Ferry Sensei itu mesin. Muridnya aja udah kayak monster, apalagi orangnya.” “Dengan satu tangan doang, Coach Irfan bisa ngerem mereka!” “Bullshit! Kalau Irfan menang, gue traktir lo sebulan!” “Kalau Ferry kalah, lo jual HP lo ke gue!” Keributan makin panas. Suara makin tinggi. Dorong-dorongan mulai terjadi. Kalau bukan karena beberapa senior turun tangan, dua anak itu sudah saling tonjok sebelum pertandingan dimulai. “Denger ya!” bentak si anak bengkel. “Kalau Coach Irfan kalah, lo jangan kabur!” “Tenang,” balas lawannya dingin. “Kalau Ferry tumbang, motor bokap lo resmi pindah tangan.” Akhirnya tiga siswa senior maju jadi saksi taruhan. Bukan hitam di atas putih, tapi janji geng. Dan di Garuda Jaya, janji geng lebih berat dari tanda tangan. Rombongan Coach Ferry bergerak ke sisi kiri Arena Atap, area khusus yang sudah disiapkan. Coach Ferry duduk paling depan. Di sampingnya, Celine. Tatapan para siswa langsung terkunci ke arah gadis itu. Bukan karena cantik manja. Tapi karena dingin. Tatapan tajam, bahu tegap, dan aura kapten yang bikin siapa pun mikir dua kali buat goda. Di belakang mereka, Rafi “Yellow Dragon” dan Dion “Black Dragon” berdiri seperti dua patung penjaga neraka. Murid lain berdiri berlapis di belakang rapi, diam, siap. Mereka kini jadi tontonan utama. Tapi satu hal yang ditunggu semua orang… Coach Irfan belum muncul. Sementara itu di sisi lain kota Di sebuah rumah sederhana di Kota Pramesta, persiapan sudah dilakukan sejak pagi. Rumah itu bukan rumah mewah. Catnya kusam. Tapi halaman depannya luas dipakai sebagai tempat latihan bela diri kecil-kecilan. Di gerbang besi tergantung papan nama hitam: IRFAN SOFYAN — Mixed Combat Training — Coach Irfan usia mendekati lima puluh duduk di ruang tengah. Tubuhnya tinggi tapi kurus. Rambutnya mulai memutih. Wajahnya keras, penuh bekas hidup. Bukan wajah orang sukses. Wajah orang yang sudah terlalu sering kehilangan. Hidupnya sederhana. Mengajar bela diri, kadang jadi bodyguard lepas, kadang ngawal pengiriman barang mahal. Dunia keras. Dunia gelap. Tapi dia bertahan. Julukannya di kalangan bawah tanah dulu: “Dua Bilah Penentu Hidup.” Karena skill s*****a ganda yang mematikan. Di depannya duduk istrinya. Wanita yang dulu kabur dari keluarga pejabat demi menikah dengannya. Usianya hampir sama, tapi kecantikannya belum benar-benar pudar. Tatapannya tenang. Kuat. “Kamu kelihatan kepikiran,” ucap sang istri pelan. “Takut?” tanyanya setengah bercanda. Coach Irfan tersenyum tipis. “Bukan Ferry yang kupikirkan.” “Lalu?” “…Kayla.” Nama itu seperti pisau. Istrinya terdiam sesaat, lalu menarik napas panjang. “Ini bukan saatnya mengingat itu,” katanya lembut tapi tegas. “Kamu bukan sendirian. Dan kamu tidak akan kalah.” Coach Irfan menatapnya lama. Dalam pikirannya, kenangan lama kembali tentang seorang anak perempuan kecil, tentang masa lalu yang belum selesai. Dan sore itu… di Arena Atap SMA Garuda Jaya, semua luka lama perlahan menuju satu titik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN