Sepuluh Jurus Penghinaan

633 Kata
Sepuluh Jurus Penghinaan “Jurus ketiga!” Teriakan Ferry meledak bersamaan dengan tendangan menyambar dari arah belakang. Ali kembali meloncat ke kiri, nyaris lolos namun sebelum sempat menata napas dan memutar tubuhnya kembali, suara itu terdengar lagi, lebih keras dan menekan. “Jurus keempat!” Pukulan Ferry meluncur deras ke arah pinggang. Gerakannya cepat dan bertenaga. Ali terkejut, namun insting dan dasar latihannya masih menyelamatkan nyawa. Ia menjatuhkan diri ke belakang, berguling, lalu berjungkir-balik dan meloncat sejauh lebih dari satu meter setengah, menjauh dari jangkauan lawan. Ia lolos tipis. Serangan Ferry tak berhenti. Bertubi-tubi, cepat, tanpa memberi celah. Namun secara mengejutkan, meski terus terdesak, Ali masih mampu bertahan. Satu jurus… Dua jurus… Tujuh jurus berlalu. Sorak sorai pun meledak dari murid-murid perguruan. Mereka berseru bangga, memuji ketangguhan Ali yang mampu bertahan sejauh itu dari seorang petarung sekelas Ferry. Sorakan itu justru menyulut amarah. Wajah Ferry mengeras. Matanya menyipit. Jika ia gagal merobohkan pemuda ini dalam sepuluh jurus, maka rasa malu itulah yang akan menelanjanginya di hadapan semua orang. Maka ia mengubah gaya. Kini gerakannya berbeda lebih halus, lebih licik, lebih mematikan. Ferry mengalirkan teknik penguncian dan totokan tingkat tinggi, gabungan seni kuncian dan serangan saraf khas aliran keras yang telah ia kuasai bertahun-tahun. “Jurus kedelapan!” Tangan kanan Ferry mencengkeram ke arah leher, sementara tangan kirinya menyambar pundak dengan totokan tajam. Ali menyadari bahaya ini. Ia segera memiringkan tubuh, menghindari totokan pertama, dan terpaksa menangkis cengkeraman leher. Namun itulah jebakannya. Serangan Ferry berubah dalam sekejap. Tangan kiri yang semula menyerang pundak berbalik menghantam lambung dari samping, sementara tangan kanan yang tadi ditangkis justru berputar dan menekan titik saraf di pundak. Ali terlambat. “AAARGH!” Jeritan keras pecah saat tubuhnya ambruk. Seluruh tenaganya lenyap seketika. Ia roboh dengan tubuh lemas, tak mampu menggerakkan tangan maupun kaki. Ferry tertawa puas. “Ha! Baru sembilan jurus saja kau sudah tumbang,” katanya mengejek. “Dan ini yang kalian sebut latihan bagus?” Ia melangkah ke depan pintu, menatap papan besar bertuliskan ‘Guru Bela Diri Nomor Satu Pramesta’. Dengan satu lompatan ringan, Ferry menotok papan itu dengan dua jari. TAK! Kayu tebal itu berlubang. “Tak pantas,” katanya dingin, “menyandang gelar nomor satu.” Lalu ia pergi, meninggalkan halaman dalam keheningan yang membara. Para murid segera mengerumuni Ali, namun tubuhnya masih lumpuh oleh efek totokan. Ia terpaksa digotong masuk dan dibaringkan. Nadine berdiri dengan wajah tegang, rahangnya mengeras. “Penghinaan ini,” katanya lirih tapi tajam, “harus dibalas.” Ketika murid-murid memeriksa papan nama, mereka terdiam ngeri. Lubang itu nyata, dalam dan bersih. “Jangan-jangan… orang itu lebih hebat dari Suhu,” gumam seseorang. Tak lama kemudian Adin datang dan terkejut mendengar kejadian itu. Ia memeriksa Ali dan segera tahu ini totokan tingkat tinggi, bukan serangan sembarangan. Ia tak mampu menyembuhkannya. Saat Irfan Sofyan akhirnya pulang, wajahnya berubah saat melihat papan nama rusak dan murid kesayangannya terbaring tak berdaya. Dengan tenang ia membuka lengan baju, menekan dan memijat titik-titik tertentu. Tak lama kemudian, Ali bisa bergerak lagi. Ali berlutut. Menuturkan semua kejadian dengan jujur. Irfan menghela napas panjang. “Ali, kerasnya hatimu hampir mencelakakan dirimu sendiri. Ini pelajaran. Bukan semua hinaan harus dibalas dengan emosi.” Namun Nadine tak bisa menahan amarahnya. “Dia datang menghina perguruanmu! Dan kau malah menegur muridmu sendiri?” Irfan tersenyum tipis. “Nadine… menurutmu, apa yang seharusnya kulakukan?” “Cari dia. Sekarang. Dan balas!” Irfan menggeleng pelan. “Sudah sepuluh tahun aku hidup dalam ketenangan. Haruskah semuanya runtuh hanya karena kesombongan?” Ia lalu menatap Ali. “Ceritakan lagi, dari awal.” Setelah mendengar semuanya, Irfan berkata tenang, “Papan nama itu memang memancing salah paham. Dia datang ingin bertemu, ingin mengenal. Ia melihat kesalahan—dan murid-muridku justru menantang.” Ia menghela napas. “Dalam hal ini… kita tidak sepenuhnya benar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN