Irfan menggerakkan tangannya santai.
Dua benda hitam meluncur dari telapak tangannya, dilempar pelan, tapi kecepatannya seperti dua proyektil baja. Keduanya melesat lurus ke arah Adin, satu mengarah ke bahu kiri, satu ke bahu kanan.
Penonton terkejut.
Adin langsung merendahkan tubuhnya. Kedua lengannya terangkat bersamaan dan
CLAK!
Dua batang metal spike pendek, mirip pena baja taktis, sudah berada di tangannya.
Tepuk tangan dan sorakan meledak.
Bukan sorak kagum biasa, ini sorakan orang-orang arena ilegal yang tahu betul seberapa sulit menangkap lemparan seakurat itu.
Adin menenangkan napas, lalu menatap lawannya.
“Aku sudah dapat izin,” kata Adin dingin.
“Dan aku sudah pegang alat. Sekarang giliranmu.”
Lawan di depannya, Aufa sebagai petarung utama Ferry, tersenyum tipis.
Tanpa banyak bicara, ia menarik golok pendek berkilau dari balik jaketnya. Baja itu memantulkan lampu arena.
“Awas,” katanya sambil mengayun ringan.
“Pisau.”
Ia menyerang lebih dulu, tusukan lurus ke arah ulu hati, cepat dan mematikan.
Namun Adin tak kalah cepat.
Kedua spike di tangannya disilangkan, menjepit bilah golok tepat di tengah. Baja beradu baja, dan untuk sesaat s*****a itu terkunci.
Beberapa penonton menahan napas.
Kalau tekanan diteruskan, ujung golok itu bisa retak.
Aufa sadar bahaya itu.
Ia menarik senjatanya secepat kilat, lalu membabat ke arah kaki Adin. Adin meloncat, bilah golok menyapu kosong di bawah telapak kakinya.
Dalam satu gerakan lanjutan, Adin menyerang balik.
Spike kanan mengarah ke mata.
Spike kiri menusuk ke d**a kiri.
Lawan merendahkan tubuh dan menangkis tusukan d**a dengan goloknya.
TRANG!
Percikan api menyambar. Keduanya terpental mundur setengah langkah, mengatur ulang jarak.
Pertarungan kini jauh lebih brutal dari sebelumnya.
Ini bukan sekadar adu cepat, ini adu pengalaman, nyali, dan kendali emosi.
Aufa jelas bukan orang sembarangan. Ia telah menyerap hampir seluruh teknik inti ajaran Ferry, ia kuat, rapi, penuh tekanan. Napasnya stabil, langkahnya mantap.
Namun Adin juga bukan anak baru.
Ia terbiasa hidup di jalanan keras, berkelahi bertahun-tahun, keluar masuk arena ilegal. Spike di tangannya bukan pajangan, itu perpanjangan instingnya.
Serangan demi serangan terjadi.
Cepat. Brutal. Nyaris tak terlihat mata awam.
Bagi penonton biasa, mereka tampak seperti dua bayangan yang saling melompat dan berputar.
Namun bagi Irfan dan Ferry, jelas terlihat
Adin mulai menekan.
Di bawah arena, suasana tak kalah panas.
Dua orang yang sejak awal bertaruh mulai ribut lagi.
Satu mempertaruhkan motor sport 250 cc, yang lain membawa uang puluhan juta.
“Hitungannya jumlah menang!” bentak si pemilik tanah.
“Sekarang imbang satu-satu!”
“Ngaco!” balas si pemilik uang.
“Yang dihitung duel utama. Bukan anak buah!”
“Lo mau curang, ya?”
“Kau duluan yang ngarang aturan!”
Suasana hampir meledak kalau saja penonton lain tidak ikut menengahi.
“WOI! DIAM!”
“LIATIN ARENANYA!”
Akhirnya mereka terpaksa menutup mulut, meski mata masih saling melotot.
Di arena, pertarungan sudah melewati puluhan pertukaran.
Adin melihat celah.
Spike kanan menusuk cepat ke arah perut sambil ia membentak keras. Lawannya panik dan mengangkat golok untuk menangkis dari bawah.
Terlambat.
Itu umpan.
Spike kiri Adin melesat dan menancap tepat di bahu kanan lawannya.
“ARGH!”
Golok terlepas, melayang ke udara. Lawan masih cukup sigap untuk berguling menjauh, lalu meloncat bangun dan menangkap kembali goloknya saat jatuh.
Sorakan penonton membahana.
Namun saat ia hendak memindahkan golok ke tangan kanan
ia terdiam.
Bahunya mati rasa.
Lengannya tak mau bergerak.
Aufa menatap Adin, lalu menunduk singkat.
“Kau menang,” katanya pelan.
“Aku menyerah.”
Ia turun dari arena, menghampiri Ferry yang langsung memeriksa bahunya.
Di sisi lain, petaruh yang memihak Irfan tertawa puas.
“Sekarang imbang,” katanya mengejek.
“Guru lawan guru yang tentuin.”
Pemilik tanah mendengus marah, tapi tak bisa membantah.
Penonton kembali fokus.
Karena pada saat itu Irfan sudah melangkah ke tengah arena.
Sorot matanya dingin.
Dan semua orang tahu
duel terakhir akan menentukan segalanya.