Rehan Aditya "Oy ... Rehan." Aku sedang mengeluarkan motor dari garasi, saat Dion menyapa. Ia bersama motor kaleng yang super duper berisik itu berhenti di hadapanku. Biasanya setelah Dion pergi, Istrinya Bang Ridan akan marah-marah di dalam rumah karena kesal dengan suara kendaraan Dion yang bising. Ingin protes, tapi tidak bisa. Karena Mbak Tika dan Bang Ridan kan bukan penduduk asli, alias perantau. Nanti akan ada masalah dengan embel embel pribumi yang menjadi senjata andalan, jika Mbak Tika berani protes. "Motornya udah bener lagi?" tanyaku basa-basi. Semua orang hanya ku anggap basa-basi. Aku hampir tak memiliki teman yang benar-benar berarti untuk saat ini. "Udah lah. Ini Abangmu yang benerin, lumayan cepet juga. Ayo berangkat!" ajaknya. "Entar lah, kamu duluan aja," tolakku.

